Kans Said Aqil dan Gus Yahya di Muktamar NU

Kans Said Aqil dan Gus Yahya di Muktamar NU
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj. ©2021 Antara
KHAS | 29 November 2021 07:01 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Sulawesi Selatan (Sulsel), KH Hamzah Harun Al Rasyid beberapa kali menghubungi Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Dia ingin memastikan terkait suksesi Ketua Umum PBNU. Namun keinginan Hamzah tidak kunjung terealisasi. Teleponnya tak berbalas.

Hamzah ingin mendapat kepastian. Dia melihat informasi yang berseliweran. Said Aqil sempat diisukan tidak akan maju lagi sebagai calon Ketum PBNU di Muktamar NU ke-34. Dia merujuk video Harlah Muslimat NU ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, awal 2019. Kala itu, Saiq Aqil memberi sinyal tidak akan maju. Terlebih berdasarkan hasil konsolidasi saat itu, Said Aqil memang belum pernah menyatakan siap maju.

"Tidak bisa dipungkiri Kiai Said meninggalkan segudang prestasi dan membawa NU besar dan betul-betul dirasakan," ujar Hamzah saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Said menjadi salah satu kandidat calon ketua umum untuk ketiga kalinya. Sementara penantangnya, Yahya Cholil Staquf. Kedua kubu mengklaim, telah didukung pemegang hak suara untuk maju di Muktamar NU.

Baik Kiai Said dan Gus Yahya merupakan sosok yang dikenal dekat dengan Presiden Jokowi. Namun dalam muktamar NU kali ini, Gus Yahya diyakini boleh lebih jemawa.

Dukungan kepada Gus Yahya menguat di daerah. "60-40 untuk Gus Yahya," kata salah seorang pengurus cabang NU saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Di satu sisi, desakan regenerasi masif didengungkan. Rapat konferensi PWNU Jawa Timur, disebut Hamzah, menghasilkan usulan masa kepemimpinan Ketum PBNU harus dibatasi sampai dua periode.

Said Aqil sudah menjabat sebagai ketua umum PBNU dua periode. Periode pertama pada 2010–2015 dan periode kedua 2015–2021. Analisis Hamzah, regenerasi pimpinan NU sebagai poin penting saat ini. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini membutuhkan sosok baru yang pas dan tepat untuk bisa melanjutkan 'warisan' prestasi Said Aqil.

PWNU Susel melihat sosok Katim Aam PBNU Kiai Haji Yahya Cholil Staquf. Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu dianggap memiliki semua yang dibutuhkan dan sosok yang bisa melanjutkan kepemimpinan PBNU. Keputusan diambil dari hasil rapat konsolidasi dengan seluruh pimpinan cabang di Sulawesi Selatan.

"Mereka sepakat dalam rapat konsolidasi mendukung Kiai Yahya Staquf," kata Hamzah.

Hamzah sekaligus mengonfirmasi kabar yang menyebut 17 PCNU di Sulsel mendukung Said Aqil. Dia sempat mengkonfirmasi kabar itu ke Abdul Hamid dari PCNU Takalar. Dari situ, terungkap, PCNU tidak tahu menahu. Mereka awalnya didatangi tim sukses dari kubu Said Aqil dan diminta membacakan konsep dukungan.

Begitu pula di Kabupaten Soppeng, Wajo, Luwu, Palopo. Hamzah menelepon pengurus satu persatu. Tidak ada yang menyatakan dukungan itu. Mereka sedang berada di Manado dan Bali. Sedangkan pertemuan dilakukan di Makassar.

Regenerasi kepemimpinan untuk mewujudkan pesan Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. NU sebagai organisasi mahal. Dalam arti, bisa menawarkan gagasan yang dirasakan umat muslim. "Jadi bukan menawarkan sesuatu sia-sia," terangnya.

Dukungan kepada Gus Yahya juga datang dari PWNU Jawa Timur. Lagi-lagi, pertimbangan utamanya adalah regenerasi. Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib menceritakan, dukungan ditetapkan lewat proses panjang. Awalnya muncul usulan sejumlah nama. Sebelum akhirnya dukungan bulat pada satu orang.

NU di bawah kepemimpinan Said bertabur prestasi. Namun Gus Yahya memiliki kunci memenangkan hati pengurus daerah. Yakni kepintaran menyentuh pemilik hak suara, menyampaikan gagasan-gagasan serta intensif berkomunikasi dengan PWNU lain.

"Yang sesuai kebutuhan organisasi, jatuhlah pilihan pada Gus Yahya dengan segala kelebihan dan kekurangannya," sebut Abdussalam.

Beberapa pengurus wilayah NU sudah menyatakan dukungan kepada Gus Yahya. Di antaranya Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Sumatera Utara, Sumatera Selatan (Sumsel). Namun ada pula yang masih malu-malu.

"Jateng (Jawa Tengah) lebih silent. Tapi saya menganalisa kompak kok ke sana juga (Gus Yahya)," kata Abdussalam.

Pernyataan Abdussalam ada benarnya. Ketua PWNU Jateng KH Ahmad Muzammil lebih santai dalam menyikapi kabar dukungan mereka untuk Gus Yahya. Bahkan dia mengaku belum ada pembahasan internal mengenai dukungan untuk Gus Yahya.

PWNU Jateng menilai, Said Aqil dan Gus Yahya sama-sama pribadi yang baik. Namun tersirat sebuah pesan. Regenerasi pimpinan sebagai hal penting dalam sebuah organisasi. Tidak terkecuali NU.

"Regenerasi sesuatu yang alami," ucap Muzammil.

"Kalau dukungan terhadap Gus Yahya itu bagus," tambahnya.

PWNU Jateng belum menentukan dukungan. Seolah tidak ingin terlihat buru-buru. Saat ini PWNU Jateng masih mengumpulkan semua informasi dan fakta. Mereka akan melihat perkembangan situasi.

KH Amiruddin Nahrawi biasa disapa Cak Amir, Ketua PWNU Sulsel, mengklaim sebagai yang pertama mendeklarasikan dukungan untuk Gus Yahya. Tepatnya 7 Oktober 2021. Ada 17 PCNU di Sumsel dan 1 PWNU Sumsel. Alasannya, Gus Yahya keturunan Nahdliyin yang memiliki silsilah dengan Wali Songo. Diakui di dunia internasional. Dalam pandangannya, Ketum PBNU harus lebih agresif dan dinamis.

"Tidak bisa ditawar lagi," tegas Cak Amir.

infografis calon ketum pbnu
©2021 Merdeka.com/Grafis: Amar Choiruddin

Cak Amir bercerita. Sempat ingin maju dalam Muktamar. Namun minimnya dukungan membuatnya sadar. Lalu mengurungkan niat. "Cari balak (masalah) saja," katanya.

Informasi yang diperolehnya, ada 27 dari 34 PWNU yang sepakat mendukung Gus Yahya. Begitu juga 485 PCNU. Menyampaikan aspirasi serupa. Dengan hitungan kantong dukungan untuk Gus Yahya di atas kertas, Cak Amir melihat tidak perlu strategi khusus memenangkan Gus Yahya di Muktamar.

"Yang lain boleh maju tapi hanya mencari malu saja, maju tapi malu. Ngapain mau maju tapi tidak ada pendukung," sindirnya.

Sindiran itu tak melunturkan niat PWNU Jawa Barat (Jabar) berbeda arah dukungan. PWNU Jabar memilih jalan berbeda dengan daerah lain. Ketua PWNU Jabar KH Juhandi Muhammad memastikan dukungannya untuk Said Aqil. Mengingat program kerja Said Aqil sesuai dengan kebutuhan NU. Salah satunya di sektor pendidikan.

"Salah satu programnya Pendidikannya yaitu dengan mendirikan Universitas NU (UN)," kata Juhandi.

Ada alasan lain. Kesamaan kedaerahan. Said Aqil merupakan kiai berasal dari Cirebon. Dia bergeming dengan berbagai desakan regenerasi dalam tubuh NU. Sebab, Said Aqil sudah menjabat dua periode. Bagi Juhandi tidak masalah. Terlebih di dalam AD/ART organisasi tidak ada larangan. Sebaliknya, pengalaman selama dua periode itu menjadi model Said Aqil untuk kembali memimpin.

"Gus Yahya juga punya potensi. Tapi kami dari warga Jawa Barat lima tahun ke depan masih membutuhkan beliau Kiai Said," tegas Juhandi.

Ada harapan yang dibawa pengurus PWNU Jabar. Jika Said Aqil kembali terpilih, bisa lebih memperhatikan ekonomi Nahdliyin. Terlebih warga NU mayoritas tinggal di pedesaan yang tingkat kesejahteraannya juga masih banyak di bawah.

Butuh sentuhan baik kebijakan Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Daerah. Dorongan untuk Pemerintah bisa datang dari organisasi masyarakat. Termasuk NU.

"Ormas sebesar NU ini sangat strategis dalam mendorong kebijakan pemerintah," tuturnya.

Dari negeri seberang, hiruk pikuk muktamar PBNU juga terdengar. Prof Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand ikut mengamati dari jauh. Termasuk dua kandidat yakni Kiai Said dan Gus Yahya.

Pria karib disapa Gus Nadir ini mengungkap, pertarungan di internal PBNU jelang muktamar. Isu yang dipakai oleh Gus Yahya dan pendukungnya adalah regenerasi. Sebab, Kiai Said sudah 10 tahun memimpin NU.

"Makanya mereka mengusulkan Kiai Said tidak lagi jadi Ketua Umum PBNU, tapi jadi wakil Rais Aam," kata Gus Nadir.

Dia melanjutkan, di sisi lawan merasa bahwa Kiai belum ada calon lain sekaliber Kiai Said. Mereka juga merasa Kiai Said orang yang sangat alim sehingga kalaupun mau diganti minimal memiliki kompetensi yang setara atau lebih.

Untuk menjawab isu regenerasi, kata dia, kubu Kiai Said beranggapan regenerasi memang perlu ada untuk suksesi kepemimpinan. Namun harus sosok yang mumpuni. Jangan hanya sekadar ganti pemimpin. Sehingga, kualitasnya tidak jomplang antara 10 tahun dipegang Kiai Said.

"Jadi mereka juga bilang kalau memang belum ada yang sekaliber Kiai Said ya kenapa harus diganti. Diteruskan saja dulu sampai 3 periode. Mudah-mudahan di 3 periode nanti ada tokoh lain yang sekaliber Kiai Said untuk menggantikannya," ujar dia.

Gus Nadir mengakui, regenerasi itu memang sunnatullah dan harus dilakukan. Menurut dia, organisasi yang sehat memang harus ada regenerasi. Tetapi masalahnya, yang pertama model regenerasinya seperti apa. Apakah kemudian Kiai Said memang mundur total atau masih berperan.

Kata dia, dari pihak Gus Yahya menganggap Kiai Said masih bisa berperan tapi di wakil Rais Aam. Di jajaran Syuriah. Bukan lagi di Tanfidziyah.

Sementara untuk kubunya Kiai Said, lanjut dia, regenerasi itu dipahami dengan Kiai Said tetap jadi ketua umum. Tapi nanti wakil ketua umum atau pengurus hariannya orang-orang muda. Hal ini untuk menyiapkan orang muda tersebut menjadi suksesi Kiai Said lima tahun lagi.

"Sebetulnya dua-duanya mau regenerasi. Cuma bagaimana memahami regenerasinya itu," kata Gus Nadir.

Kader Gus Dur

Pengurus Cabang NU (PCNU) Banyumas, Maulana Ahmad Hasan bicara sosok Kiai Said dan Gus Yahya sebagai calon ketua umum PBNU. Banyak torehan baik yang dilakukan Kiai Said selama memimpin PBNU. Salah satunya sukses mendirikan puluhan Universitas NU. Kemudian, di bawah komando Kiai Said, dilakukan penertiban administrasi aset-aset NU secara hukum. "Ini dilakukan zaman Kiai Said," katanya.

Sementara Gus Yahya, memang saat ini belum terlihat jasanya untuk PBNU. Menurut dia wajar, sebab belum masuk ke dalam struktur PBNU. Dia mengibaratkan orang membandingkan presiden dengan calon presiden, maka jasanya tentu saja berbeda.

"Maka mungkin nanti Gus Yahya pun akan membawa jargon baru tentu agar NU ini bisa lebih memberikan manfaat kepada umat manusia," katanya.

Menurutnya, antara kiai Said dan Gus Yahya sama-sama merupakan kader Gus Dur. Lantas dia bercerita saat Kiai Said pulang dari Saudi. Kiai Said langsung masuk jajaran pengurus PBNU. Itu berkat jasa Gus Dur. Padahal selama ini, Kiai Said tak pernah jadi ketua cabang atau ketua PWNU.

"Kalau KH Hasyim Muzadi dari bawah. Gus Yahya juga sama, kadernya Gus Dur juga," jelasnya.

Dia menambahkan, Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Gus Dur. Sehingga, antara Kiai Said dan Gus Yahya memiliki talenta masing-masing.

Tim Penulis: Ihwan Fajar, Erwin Yohanes, Danny Adriadhi Utama, Aksara Bebey, Ya'cob Billiocta, Ronald Chaniago, Wilfridus Setu Embu(mdk/rnd)

Baca juga:
Dari Balik Layar Muktamar PBNU
Warga Nahdliyin Minta Semua Pihak Jaga Marwah NU Jelang Muktamar
Polemik Jadwal Muktamar, Kader NU Ingatkan Waspada Upaya Pecah Belah
PWNU Jateng Minta Muktamar ke-34 Dimajukan Sesuai Aturan Muswil
Panitia Bantah Gus Ipul Soal Rais Aam NU Ingin Muktamar Digelar 17 Desember

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami