Wawancara Khusus

Ketua IDI: Jangan Tunggu Lama, Segera Isolasi Jika Hasil Rapid Test Positif Corona

Ketua IDI: Jangan Tunggu Lama, Segera Isolasi Jika Hasil Rapid Test Positif Corona
KHAS | 25 Maret 2020 09:55 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Rapid test atau tes cepat Covid-19 mulai dilakukan beberapa daerah. Harapan tes ini dilakukan sebagai deteksi dini kondisi seseorang terhadap virus corona. Tentu dengan harapan memutus mata rantai penularan.

Belum ditemukannya obat ampuh virus corona, membuat banyak negara melakukan rapid test. Langkah itu dirasa pilihan bijak. Dengan banyak mendeteksi warga terinfeksi Covid-19, tentu penanganan medis segera diberikan.

Negara Korea Selatan cukup berhasil menekan angka penyebaran virus corona dengan rapid test. Sebanyak 10.000 warga per hari melakukan rapid test. Dengan metode itu, Korsel berhasil menurunkan penyebaran pandemi tanpa lockdown. Korea Selatan pun membalikkan tren penurunan infeksi kurang dari 20 hari.

Sedangkan Indonesia baru mendatangkan alat rapid test. Rencana pemeriksaan besar-besaran tersebut segera dilakukan. Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr. Daeng M Faqih, SH, MH, melihat ini langkah yang bijak di masa ini. Apalagi belum ditemukannya obat ampuh sembuhkan virus corona.

Berikut petikan wawancara Dr Daeng M Faqih kepada jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adilah via telepon pada Selasa, 24 Maret 2020:

1 dari 3 halaman

Bagaimana penjelasan rapid test dirasa efektif untuk menekan penyebaran virus corona?

Jadi begini. Ini bukan kondisi normal. Kondisi yang harus cepat, harus luas. Kalau mengandalkan PCR (Polymerase Chain Reaction) kecepatan dan keluasannya terbatas. Kalau itu dilakukan, nanti menunggu hasilnya lama sekali, sehingga kalau lama menyebabkan penangan terlambat dan penyebaran semakin cepat.

Karena saat orang-orang gejalanya ringan, menunggu positif atau tidak, masih jalan-jalan. Karena belum dinyatakan positif. Dengan rapid test maka memperluas dan mempercepat pemeriksaan. Ini supaya cepat, luas, tidak menumpuk dan tidak menunggu lama tentunya dengan protokol yang baik.

Bicara tentang wabah, apalagi yang disebabkan oleh virus baru ini. Belum ada hasil penelitiannya belum ada, jadi bukan pemeriksaannya saja tapi pengobatannya juga belum ada yang spesifik.

Jadi yang dilakukan itu bukan bicara soal penelitian ilmiah. Karena kalau menunggu hasil penelitian ilmiah, kapan kita mau bergerak? Berdasarkan bukti empirik, yaitu bukti-bukti yang sudah dilakukan di negara lain dan hasilnya baik adalah rapid test. Ini dilakukan di seluruh negara, dengan tujuan bisa mendeteksi kasus ini secara luas dan cepat.

Kalau cepat dan luas bisa mendeteksi, harapannya bisa melokalisir atau mengendalikan penyebaran infeksi. Bisa segera memberikan penanganan-penanganan. Kalau yang positif, misalnya harus diisolasi di rumah sakit bila kondisinya sudah parah.

Sedangkan positif tapi gejalanya ringan, nantinya mereka wajib isolasi di wisma atlet. Kalau masih negatif, tentu lebih baik egera karantina di rumah sendiri. Yang diobservasi pertugas kesehatan kalau negatif tapi pernah berhubungan sama orang, harus segera karantina di rumah tapi diawasi.

Pembagian-pembagian semacam ini penting segera dilakukan melalui rapid test. Jangan menunggu PCR karena lama. Kalau lama, nanti orang yang seharusnya diisolasi wajib, diawasi, diisolasi di rumah di awasi, nanti mereka malah tidak diisolasi secara cepat.

Melihat besarnya jumlah masyarakat yang akan rapid test, bagaimana dengan kabar nantinya para mahasiswa calon dokter juga diajak turun tangan untuk membantu?

Rapid test dilakukan oleh tenaga medis profesional. Bagi tenaga medis yang bisa membantu melakukan pemeriksaan, didorong untuk diperuntukkan. Namun, sesuai dengan kemampuannya.

Kalau dokter muda atau koas, harus sesuai. Barangkali kalau mengambil darah tepi atau mengambil swap, boleh diperbantukan. Namun, kalau penanganannya harus oleh dokter umum atau dokter spesialis.

Intinya diperbantukan boleh, tapi mereka petugas kesehatan harus dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD). Jika tidak dilengkapi APD sama saja menyerahkan petugas kesehatan dan langsung menjadi pasien karena mereka terpapar.

2 dari 3 halaman

Bagaimana dengan prosedur rapid test nanti yang dikhawatirkan justru mempercepat penyebaran virus corona?

Rapid test harus dibuat protokolnya, sebenarnya tujuan rapid test itu kan supaya memberikan saluran. Selama ini kan orang berbondong-berbondong, ke rumah sakit rujukan untuk minta periksa. Sudah berjubel-jubel, antre lama, hasilnya juga lama.

Rapid test itu supaya mereka tidak berjubel-jubel. Makanya nanti alurnya itu diatur, alurnya. Tidak ditempatkan di satu tempat seperti stadion. Itu tidak menyelesaikan masalah.

rapid test

Ilustrasi Rapid Test 2020 merdeka.com/liputan6.com

Yang betul nanti pemerintah daerah nanti menyebarkan, menunjuk banyak fasilitas kesehatan atau laboratorium, dibagi-bagi. Nanti masyarakat dibagi lagi. Semacam ada call centernya atau tempat informasinya.

Misalnya, yang daerah depok telepon, nanti diarahkan oleh call centernya ke yang paling dekat. Kalau diatur seperti itu nanti tidak akan berjubel.

Pembahasan antara PB IDI dan pemerintah, rencananya kapan protokol rapid test segera dijalankan?

Sebenarnya Pengurus Besar IDI sudah membantu membuat protokol itu sebenarnya. Sudah diserahkan ke BNPB. Kami berharap, protokol itu segera diputuskan oleh pemerintah dan diberikan ke masyarakat melalui Pemda setempat. Supaya Pemda setempat segera membagi-bagi tempat pemeriksaan agar tidak berjubel-jubel.

Alur-alur seperti itu harus segera dibuat oleh pemerintah, kalau tidak segera dibuat, masyarakat yang animonya ingin diperiksa segera, tidak akan tersalurkan dan terbagi dengan baik.

Alur ini harus segera disosialisasikan oleh masyarakat, pemerintah harus segera membuat protokol rapid test ini.

Berkaca ketika beberapa rumah sakit dijadikan rujukan, banyak masyarakat berbondong-bondong ke sana. Bukankah ada kekhawatiran kondisi itu membuat penyebaran semakin meluas lantaran belum memiliki prosedur yang tepat?

Seharusnya tidak seperti itu. Itu sama saja tidak menyelesaikan masalah. Mereka tetap berkumpul di situ, dengan mereka berkumpul di situ apalagi di rumah sakit yang merawat pasien positif corona, risiko tertularnya besar.

Sehingga seharusnya segera dibuat protokol, PB IDI sudah bantu, mudah-mudahan protokol yang sudah diserahkan oleh PB IDI segera diputuskan dan cepat dijalankan.

Kita sudah berdiskusi dengan semua dokter spesialis dari semua perhimpunan yang terkait. Semoga cepat dijalankan.

Tunjuk call centernya, tunjuk di mana tempat pemeriksaannya di berbagai daerah, supaya masyarakat bisa periksa rapid test ke tempat paling dekat, apakah itu laboratorium yang mampu melakukan, apakah puskesmas, klinik swasta yang ditunjuk, atau rumah sakit daerah yang melakukan rapid test. Supaya semuanya siap, semoga terbagi dengan baik.

3 dari 3 halaman

Jumlah pasien positif virus corona hingga 24 Maret 2020, meningkat menjadi 686 pasien. Dari kondisi ini, sebenarnya seperti apa sistem tracing di Indonesia dan alasan angkanya terus melonjak?

IDI sudah meminta agar data orang-orang yang terpapar kontak harusnya dibuka. Itu kan metode pelacakan, dibuka. Itu bagaimana bisa di-tracing kalau datanya tidak dibuka? Kalau test seperti itu tidak bisa dilakukan oleh petugas saja, namun harus didampingi oleh ketua RT dan RW serta diawasi oleh TNI dan Polri.

Ketua RT dan RW harus tahu kalau warganya ODP yang diharuskan untuk dikarantina di rumah. Kalau mereka tidak tahu, siapa yang mengawasi orang ini? Kalau hanya diserahkan dengan kesadaran sendiri dan kepeduliannya sendiri untuk tinggal di rumah, kadang-kadang, orang-orang ini tidak memahami. Karena mereka merasa tidak sakit maka mereka tetap jalan-jalan.

ilustrasi corona

Ilustrasi rapid test corona 2020 Merdeka.com/liputan6.com

Namun kalau RT dan RW mengawasi serta TNI Babinkamtibnas dilibatkan, nanti kan mereka bisa sama-sama mengawasi dan mengingatkan agar tidak terlalu dekat melakukan kontak dengan ODP.

Kalau semuanya melakukan seperti itu, mudah-mudahan Indonesia cepat pulih, tapi kalau petugas kesehatan dibiarkan sendiri, tidak didampingi RT dan RW serta aparat keamanan maka tidak terlalu efektif karena tidak ada pengawasan.

Bagaimana penjelasan kabar bahwa bahwa anak muda tidak menimbulkan gejala sama sekali ketika terinveksi virus corona?

Jadi memang, kami sudah mengusulkan akan hal itu dengan istilah Orang Tanpa Gejala (OTG). Selama ini kan tidak dikenal OTG. Saat ini kan hanya ada ODP (Orang Dlaam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dlaam Pengawasan). Kemarin dalam rangka tracing dan menyusul protokol rapid test, IDI mengusulkan ada istilah baru, pembagian baru, yaitu OTG.

Orang Tanpa Gejala yang pernah terpapar atau kontak dekat dengan pasien yang positif tapi tidak menimbulkan gejala. ini yang paling penting ditelusuri, kenapa? karena dia tidak merasa rasa sakit kan? padahal dia sudah pernah kontak. kemungkinan besar dia sudah mengandung virus. Kalau dia mengandung virus, maka dia sangat berpotensi menularkan.

Coba Anda bayangkan, dia berpotensi menularkan tapi dia tidak merasa sakit? Kemungkinan mereka masih keluyuran ke mana saja, dia tidak merasa bisa menularkan, kemudian orang yang didekati juga tidak merasa akan tertular. Karena tidak ada gejala sama sekali.

Ini yang paling berbahaya karena sifatnya silent, tersembunyi padahal sebenarnya dia bisa menular dan menyebabkan bahaya. Yang kaya begitu sangat sangat perlu di-tracing.

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami