Laga artis di panggung politik

KHAS | 23 April 2018 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Bingkai foto hitam putih terpajang rapi di sudut ruang tamu. Berjejer dengan foto berwarna. Bergambar seorang pria berkumis dan berjenggot. Sedang tersenyum. Duduk di atas tank tentara. Memakai topi rimba sambil memegang kamera.

Foto itu menarik perhatian kami ketika bertemu Giring Ganesha di kediamannya kawasan Pinang Residence, Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu. Sepintas sosok di foto lawas itu terlihat mirip dengan Giring. Benar saja. Itu adalah Djumaryo Imam, ayahnya. Nama itu juga dikenal sebagai jurnalis perang Kantor Berita Antara.

Siang itu, kami menemui Giring bukan kapasitasnya sebagai vokalis grup musik Nidji. Justru soal manuvernya. Kegiatan di industri musik tak mau disebut berhenti. Dia lebih nyaman bila menyebutnya sedang istirahat. Pilihannya bikin kaget lingkungan pergaulannya. Giring banting stir. Menjajal keberuntungan sebagai politisi dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Vokalis grup musik papan atas itu bercerita banyak tentang sosok ayahnya. Walau jurnalis perang, Djumaryo paham dunia politik. Akhirnya itu sering diperbincangkan. Terutama ketika di meja makan. Kuping Giring jadi akrab dengan pembahasan karut marut politik Indonesia. Semua karena ulah sang ayah.

"Jadi mau ngomongin apalagi karena dia wartawan, jurnalis perang, akhirnya hal itu yang membuat kita mencintai bangsa dan negara ini setengah mati," ujar Giring kepada kami.

Mengenal politik sejak dini tak lantas membuat Giring lekas jatuh hati. Giring justru sempat apatis. Apalagi ketika masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), masa di mana Indonesia berada dalam fase pasca orde. Dari situ, Giring muda memilih jalur bermusik. Hingga menyabet banyak prestasi dan sukses menjadi musisi papan atas. Di tambah dengan kemampuan menulis lagi dan banyak menelurkan karya akrab terdengar di telinga masyarakat Indonesia.

Setelah 15 tahun melanglang buana sebagai vokalis, Giring mulai berpikir. Menyuarakan kegelisahan lewat lagu ciptaannya tak membuatnya puas. Para elit politik tak banyak mendengar jeritan rakyat. Lewat lagu maupun berbagai aksi lain. Batinnya bergejolak. Giring pun merasa terpanggil. Merasa perlu turun tangan. Membantu mengatasi segudang masalah bangsa.

Persoalan menjadi fokusnya adalah pendidikan. Alumni Universitas Indonesia tersebut merasa itu bisa diperjuangkan bila dirinya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sambil duduk empuk di Komisi X DPR. Idenya tentang pendidikan, salah satunya menghapus Ujian Nasional. Sebab, itu dianggap tak lagi relevan dalam era keterbukaan informasi saat ini. Justru Giring menginginkan generasi muda Indonesia mendapat pendidikan sesuai bakat dan minat. Untuk itu, dia membawa satu gagasan mengganti Ujian Nasional menjadi Ujian Bakat.

Konsep itu juga diungkapkan ketika melakukan uji kelayakan sebagai bakal calon legislatif (Bacaleg) PSI. Gagasan itu dilontarkan kepada para panelis. Menurut Giring, salah seorang panelis Mari Elka Pangestu, mantan menteri era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengapresiasi idenya itu. Walhasil, Giring mendapatkan tiket untuk melenggang ke Pileg tahun depan. Kota Bandung dan Cimahi menjadi daerah pemilihannya.

"(Masuk) komisi X DPR, itu sudah jadi cita-cita. Saya bersyukurnya komisi X berbarengan juga dengan komisinya musik. Jadi alhamdulillah, semuanya bisa berkorelasi dengan berbarengan," ucapnya.

Memilih masuk PSI diakui Giring ada peran Grace Natalie, sang ketua umum. Grace merupakan teman lama. Bahkan sering berdiskusi banyak hal. Termasuk urusan politik. Dari berbagai diskusi itu dia berkesimpulan bila negara dikelola dengan baik dan benar maka semua permasalahan dapat diselesaikan. Dari urusan infrastruktur mandek hingga pendidikan. Itulah alasan membuat Giring mantap rehat sejenak dari dunia selebriti dan menjajal terjun ke dunia politik.

Giring Nidji di kantor PSI ©2017 Merdeka.com/hari ariyanti


Fenomena artis masuk dunia politik juga bukan hal baru. Hampir tiap partai politik di Indonesia memiliki artis. Mau baru maupun lawas. Cara mereka masuk juga berbeda-beda. Nama besar belum berarti laju mereka mulus. Tetap ada tahapan wajib dilalui.

Seperti dilakoni aktor Adly Fayruz tahun ini. Sama seperti Giring. Pria ini mencoba peruntungan di dunia politik. Namun, dia memilih partai lama. Sejak akhir tahun 2017, Adly resmi diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi calon legislatif. Adly diketahui akan mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah.

Sekertaris Jenderal (Sekjen) PKS, Mardani Ali Sera, mengaku Adly Fayruz bukanlah orang baru di partainya. Keluarga besar Adly dikenal dekat dengan PKS. Bahan karir politik dia di mulai sejak organisasi sayap partai, PKS Muda. Dalam organisasi itu, Adly masuk dalam struktur organisasi di bidang kreatif. Selain itu Adly juga didapuk sebagai maskot PKS Muda.

Sebagai maskot, Adly bertugas untuk mengajak anak muda untuk turut aktif di dunia politik. Caranya, melalui berbagai diskusi tentang musik, film dan olahraga. Apalagi kesempatan PKS membuka peluang begitu besar. Partai ini bahkan memberikan jatah 20 persen anak muda ingin terjun sebagai politisi.

"Beliau menyatakan minta (diusung) dan kami memang di PKS ada jatah 20 persen buat anak muda," kata Mardani kepada kami.

Meski berprofesi sebagai artis, mantan kekasih Shireen Sungkar ini tetap wajib mengikuti berbagai kegiatan pengkaderan. Mulai dari Liqo, Tarbiyah dan berbagai kegiatan kaderisasi. Hanya saja, Adly tak selalu datang. Namun, dalam seminggu mampu hadir dalam beberapa kegiatan partai.

Cerita berbeda datang pesinetron Tommy Kurniawan. Aktor tampan ini justru telah memulai peruntungannya di dunia politik lima tahun lalu. Perkenalannya dengan dunia politik berasal dari keluarga istri pertama Tommy, Fatimah Tania Nadira. Seperti diketahui, Tania adalah anak dari Fadel Muhammad Al Hadar. Politisi senior Partai Golkar.

Tommy bukan kader Partai Golkar. Melainkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia mengaku sebelum bergabung di PKB, banyak partai mencoba melamarnya. Seperti PAN dan Golkar. Hanya saja pilihannya jatuh pada PKB. "Saya merasa nyaman di PKB. Saya merasa ala santrinya sangat menyamankan. Terus saya juga bisa kenal dengan guru-guru yang secara keilmuan luar biasa," ujar Tommy ketika kami temui di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat pekan lalu.

Di PKB, dia mengaku tak direkrut untuk kepentingan meningkatkan elektabilitas partai. Sebelum bergabung dengan PKB, dirinya berkesempatan bertemu dengan salah seorang petinggi partai. Dalam perbincangan itu, dia mengaku mendapatkan saran bila dirinya berpeluang untuk menjadi anggota legislatif. Setelah berpikir panjang, Tommy resmi bergabung dengan PKB tahun 2013.

Setelah bergabung, Tommy mendapatkan tawaran untuk menjadi calon legislatif pada pemilu 2014 lalu. Kesempatan itu lalu diambil Tommy. Langkahnya menuju kursi parlemen pun terbilang lancar. Dan, berharap masih kuat bertarung dalam Komisi X DPR menjadi incarannya.

Tommy mengaku komisi X sangat cocok dengan dirinya. Sebagai artis dia merasa perlu untuk memperjuangkan nasib para artis kadang luput dari perhatian Pemerintah. Kala itu dirinya membawa misi untuk membuat aturan tentang sertifikasi pekerja seni. Hal ini menjadi penting baginya lantaran selama berkecimpung di dunia hiburan, hanya sedikit perusahaan yang memikirkan keselamatan kerja artis dan kru rumah produksi.

"Kita ingin ada sertifikasi yang jelas dalam rangka menjelang menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN," ungkap Tommy. Namun, misinya itu hanyalah kenangan. Niat baiknya belum bisa terwujud. Gagas tembus parlemen tahun 2014 silam. Lantaran menduduki peringkat kedua dari daerah pemilihannya di Banten III, yakni Tanggerang Selatan, Kota Tanggerang dan Kabupaten Tanggerang.

Walau pernah gagal, Tommy tetap memiliki hasrat untuk menjadi anggota legislatif. Namun hingga kini dia belum memutuskan akan kembali mencalonkan diri. Sebab dia telah berkaca dari Pileg 2014 lalu. Bahkan dirinya tak ingin bila terpilih hanya sebagai pemanis partai politik. Sehingga dia ingin menyuarakan tiap aspirasinya. "Masih 50:50, masih belum tahu. Saya masih mau lihat gimana petanya," kata Tommy.

Tommy Kurniawan di Solo ©2017 Merdeka.com


Dalam hitung-hitungan politik, tren artis terjun ke dunia politik tengah turun. Popularitas mereka belum laku dijual. Bahkan dicap memanfaatkan sambil pendongkrak partai politik. Kondisi itu juga terlihat dalam Pemilu 2014 lalu.

Pengamat politik Ray Rangkuti melihat ada dua faktor menyebabkan terjadinya penurunan tren tersebut. Pertama, kehadiran artis di partai politik tak serta merta meningkatkan elektabilitas partai. Kedua, artis dalam parlemen terlihat belum greget. Bahkan suaranya tak terdengar.

Apalagi saat ini, artis terjun ke dunia politik bukanlah sesuatu baru. Masyarakat pun meragukan kemampuan selebriti yang banting stir menjadi Politisi. "Ukuran orang sekarang bukan artis tapi soal kinerja, kemampuan dan sebagainya," ucap Ray.

"Mereka ini ikon di dunia artis, begitu masuk politik jadi enggak ada apa-apa. Dalam pengertian tidak terlihat prestasinya," Ray menambahkan.

Tak hanya itu, Pendiri Lingkaran Madani (Lima) itu juga menyebut para artis terjun ke dunia politik tak lantas mengubah citra. Peran mereka tak begitu terasa bagi masyarakat. Kemampuannya di bidang politik tak berbanding lurus dengan karier di politik. Sehingga masyarakat beranggapan artis di parlemen tak berdampak signifikan.


Gagal maju Pilkada Bandung Barat, artis Adly Fairuz masuk daftar caleg dari PKS
Musisi Kevin Aprilio mengaku tertarik jadi kader PAN
Optimisme dan impian Giring Nidji bawa perubahan lewat politik
Gabung PSI, Giring Nidji punya impian anak cucu bebas dari korupsi
Daftar caleg, Giring Nidji akan jadi kader Partai Solidaritas Indonesia
Giring Nidji daftar jadi caleg lewat PSI
Ramai artis nyaleg, musisi ini malah bete kepilih jadi anggota dewan

(mdk/ang)