Langkah Pertama Para Menteri Baru

KHAS | 1 November 2019 09:28 Reporter : Angga Yudha Pratomo

Merdeka.com - Air muka Nadiem Makarim memperlihatkan keyakinan. Senyum selalu mengembang lebar, tatapan matanya menunjukkan rasa optimis ke depan. Di hadapan Nadiem, sejumlah birokrat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menunggu arahan. Mereka mencoba membaca cara anak muda itu untuk membangun negara.

Berkemeja putih lengan panjang, Nadiem mengumpulkan para pejabat kementerian di hari kedua sebagai menteri pada Kamis sore, 24 Oktober 2019. Menteri berusia 35 tahun itu meminta para pejabat eselon 1 memaparkan fungsi kerja masing-masing. Tiap orang diberi waktu 15 menit memaparkan.

Tidak terlihat rona lelah di wajah Nadiem. Padahal beberapa jam sebelumnya baru selesai menggelar rapat kabinet perdana bersama seluruh menteri dan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Dirinya ingin memanfaatkan waktu di awal masa jabatan ini mengenal lebih dalam kementerian dipimpinnya.

"Saya murid yang cukup baik, dan saya belajar cepat," ujar Nadiem dalam pertemuan dengan para pejabat kementerian.

Kata murid memang sengaja dipakai Nadiem. Dia merasa bukan guru. Perlu belajar dari nol untuk memahami beragam persoalan. Apalagi dirinya memimpin institusi negara yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu bukan tugas main-main.

Sikap ditunjukan Nadiem di awal kepemimpinan bukan berarti tidak memiliki persiapan. Bekas CEO Gojek itu mengaku hanya perlu waktu. "Tapi selama ini saya sudah mempersiapkan diri."

Nadiem Makariem ©2019Liputan6.com/Angga Yuniar

Ada alasan khusus Presiden Jokowi memercayakan dunia pendidikan Indonesia ke tangan anak muda ini. Sebagai kepala negara, dia percaya kemampuan bidang teknologi dimiliki Nadiem dapat mempermudah beragam hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Sehingga bisa mewujudkan visi misi presiden di bidang pendidikan.

"Itu kenapa dipilih Nadiem Makarim," kata dia. Di samping itu, Jokowi mengaku Nadiem telah bercerita banyak tentang apa saja akan dikerjakan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sosok Nadiem bukan satu-satunya menteri ditunjuk Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam Kabinet Indonesia Maju. Banyak nama baru berlatar belakang profesional maupun politisi yang belum tersentuh birokrasi kementerian.

Ada perbedaan cukup signifikan dalam mengelola pekerjaan. Bila di perusahaan, mereka mungkin dengan mudah memberi perintah dan menabrak aturan dengan posisi sebagai bos. Sedangkan di kementerian, tentu ada segudang aturan harus ditaati karena status mereka merupakan pejabat publik.

Erick Thohir sadar posisinya kini. Menjabat sebagai menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dia memastikan menjadi sosok terbuka pada semua masukan dari anak buah. Target dirinya melakukan perbaikan kualitas serta manajemen di lingkungan kementerian.

Sebagai komitmen sikap terbuka, Erick menyebarkan nomor ponsel kepada segenap jajaran agar komunikasi berjalan lancar. "Saya tidak sempurna, saya sangat terbuka," ungkap Erick.

Bos Mahaka itu juga meminta seluruh jajarannya jangan ragu memberikan protes. Selanjutnya juga harus memberikan masukan untuk menemukan jalan keluar. "Tapi kalau hanya komplain terus, malas dengarnya."

Erick Thohir ©2019 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Di depan para jajaran pejabat kementerian BUMN, Erick Thohir lumayan mampu beradaptasi. Dia berhasil melontarkan canda yang mengundang tawa. Menurut dia, ada satu hal yang tidak boleh dilakukan sebagai menteri BUMN, yakni pakai anggaran untuk membeli klub sepak bola.

Memang sebelum memulai karier politik, Erick Thohir dulunya dikenal sebagai pengusaha yang menginventasikan uangnya di klub olahraga Inter Milan. Erick resmi menjadi salah satu pemilik Inter Milan setelah membeli saham 70 persen milik Massimo Moratti.

"Saya enggak boleh beli klub bola pakai uang BUMN. Jadi yang lain boleh. Kalau saya lupa tolong diingatkan Pak Sekjen," celetuk Erick usai melakukan serah terima jabatan pada Rabu, 23 Oktober 2019.

1 dari 1 halaman

Bikin Gebrakan

Para menteri di Kabinet Indonesia Maju sudah sepekan ini mulai menunjukkan beragam gebrakan. Sikap ini sekaligus tanda ke mana mereka diperintah Presiden Jokowi demi terwujudnya visi misi.

Seperti dilakukan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang berjanji memberikan gaji pertama dan tunjangan kinerjanya kepada BPJS Kesehatan. Ini merupakan upaya dirinya memulai gerakan moral untuk membantu defisit Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Mantan kepala RSPAD Gatot Subroto ini mengungkapkan, banyak masyarakat yang sedang memiliki masalah dan menderita karena persoalan yang menimpa BPJS Kesehatan. Terawan merasa tergerak hati untuk berkontribusi membantu

"Gaji pertama itu buat seseorang, adalah gaji yang seharusnya diserahkan kepada Yang Kuasa," katanya di Kantor Pusat BPJS Kesehatan Jakarta, Jumat pekan lalu.

Gebrakan juga dilakukan Menteri Agama Fachrul Razi. Walau berbau kontroversial, dia mewacanakan melarang wanita menggunakan niqab atau cadar bila masuk instansi pemerintah.

 /></p>
<p style=Menag Fachrul Razi 2019 Merdeka.com

Mantan Wakil Panglima TNI itu menyebut pemakaian cadar atau tidak bukan menjadi tolak ukur ketakwaan seseorang. Bahkan menurut dia, tidak ada ayat yang mewajibkan penggunaan cadar.

Fachrul Razi mengungkapkan, wacana mempertimbangkan melarang penggunaan cadar karena faktor keamanan. Dia mencontohkan bagi orang yang masuk lingkup instansi pemerintahan diwajibkan melepas jaket dan helm.

Begitu pula apabila diberlakukan bagi orang memakai cadar. Menurut dia, agar wajah mereka dapat terlihat jelas."Jadi betul dari sisi keamanan, kalau ada orang bertamu ke saya enggak tunjukin muka, ya enggak mau saya," kata dia menegaskan. (mdk/ang)

Baca juga:
Jokowi Minta Menteri Kerja Habis-habisan Lima Tahun ke Depan
Tiga Target Menko PMK di Periode Kedua Presiden Jokowi
Mendikbud Nadiem Makarim Belajar Regulasi dengan Pakar Pendidikan
Menteri-menteri Jokowi Ini Urus Partai di Jam Kerja, Bolehkah?
Jokowi Minta Menteri Jelaskan ke Publik Setiap Ada Perubahan Kebijakan
Keakraban Sri Mulyani dan Prabowo Sebelum Rapat Terbatas dengan Jokowi