Wawancara Direktur Blue Bird 2

Marak Uber dan Grab Taxi, Blue Bird tak merasa tersaingi

KHAS | 12 Juni 2015 11:12 Reporter : Anwar Khumaini

Merdeka.com - Akhir-akhir ini marak aplikasi pesan taksi menggunakan smartphone, sepert Uber Taxi dan Grab Taxi. Bahkan, ada juga pesan ojek menggunakan aplikasi, yang kini lagi ramai-ramainya: Gojek.

Sebagai salah satu pemain jasa transportasi, Blue Bird menganggap Uber Taxi dan Grab Tai bukan menjadi saingan. Alasannya, mereka adalah perusahaan aplikasi, sementara Blue Bird adalah perusahaan transportasi.

Selain itu, sejak 2011 lalu, Blue Bird sendiri ternyata juga sudah memiliki aplikasi untuk pemesanan taksi menggunakan Blackberry. Jumlah pelanggannya pun tidak sedikit. Pada 2014 lalu, jumlah pelanggan yang memanfaatkan aplikasi Blacberry tersebut telah mencapai 20 persen dari total pelanggan Blue Bird.

"Kita tidak merasa tersaingi, mereka perusahaan aplikasi. Kita punya aplikasinya, yang sudah memadai lah. Apa yang membuat mereka menyaingi, mereka bukan kompetitor," ujar Direktur Blue Bird Adrianto Djokosoetono saat wawancara khusus dengan merdeka.com belum lama ini di bilangan Jakarta Selatan.

Berikut wawancara lengkap merdeka.com dengan Adrianto Djokosoetono yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Organda masa bhakti 2015-2020:

Bagaimana Blue Bird mengadapi persaingan yang belakangan makin marak dengan adanya aplikasi-aplikasi taksi semacam Uber atau Grab Taxi?

Mungkin dari sisi aplikasi kita terima kasih mereka ada. Kita ada contoh aplikasi yang memang kita bisa belajar, oh seperti ini tampilan-tampilannya. Tapi kita bukan perusahaan aplikasi, kita adalah perusahaan transportasi, passanger transportation. Saya pikir, selain dia punya pengaruh positif kita bisa meng-upgrade aplikasi kita. Kita juga mendapat boster karena semakin banyak, sekarang banyak yang aware bahwa taksi itu bukan cuma telepon atau stop di jalan, tapi aplikasi ada. Kita mendapatkan benefit sih.

Blue Bird sendiri sudah punya aplikasi?

Kita sejak 2011 sudah punya aplikasi taxi reservation, bahkan pada saat kita launch, kita yang pertama di dunia, perusahaan taksi yang memiliki aplikasi Blackberry, aplikasi taksi Blackberry pertama di dunia. Itu dari RIM sendiri yang kasih tahu ke kita.

Berapa jumlah pelanggan yang memanfaatkan aplikasi di blue bird?

Kita saat ini masih black out, ada data yang belum bisa kita share.

Tahun lalu?

per tahun lalu, sekitar 20 persen sudah melalui aplikasi, cukup banyak peningkatannya. Justru semakin banyak yang pakai aplikasi justru setelah adanya heboh-heboh ini (Uber). Pastinya orang makin banyak pakai smart phone.

Targetnya berapa persen pelanggan Blue Bird melalui aplikasi?

Kita terus berinovasi, kita upgrade terus sistem kita, supaya kita lihat dari segi teknologi, apakah ada fitur-fitur baru lainnya itu jadi bench mark saja. Itu sesuatu yang kita bisa upgrade, outsorch, develop sendiri. Kita tentunya akan terus upgrade layanan kita, kendaraan kita, peralatan yang menunjang, itu yang akan kita upgrade.

Sebagai orang Organda dan Blue Bird, Uber secara regulasi menurut anda seperti apa?

Kalau dilihat dari aturannya dan apa yang mereka terapkan dari bisnis modelnya, mereka sudah melakukan jasa transportasi penumpang umum, sehingga secara aturan pemerintah hal itu tidak boleh dilakukan. Apalagi mereka tidak punya identity di sini. Pemerintah bikin regulasi agar pengguna jasa terlindungi, bukan hanya segi tarif. Mereka campaign, kan murah bahkan gratis, free rate. Kalau mereka menjalankan transportasi darat itu jelas dilarang, itu jelas melanggar.

Di negeri lain kan juga mulai menjamur Uber Taxi?

Di Amerika sendiri banyak agains terhadap sistem ini. Ada negara asalnya sendiri, negara bagian yang melarang, melakukan tuntutan kepada mereka karena tidak patuhnya mereka terhadap aturan bahkan di negerinya sendiri. Itu kan pemerintah tidak bisa melindungi ujungnya (pengguna jasa). Saya pikir dari sisi Organda, pemerintah kita sudah bilang jelas melanggar. Pak Gubernur DKI Jakarta sendiri mengatakan, ini (Uber) kegiatan ilegal, izinnya saja tidak ada.

Secara perusahaan merasa tersaingi?

Kita tidak merasa tersaingi, mereka perusahaan aplikasi. Kita punya aplikasinya, yang sudah memadai lah. Apa yang membuat mereka menyaingi, mereka bukan kompetitor. Walaipun mereka melakukan free rate, itu yang melanggar aturan.

Taksi itu angkutan umum, door to door. Taksi ini kan diatur tarifnya, tarifnya pasti. Ini kan bagian dari kenapa ada regulasi, untuk melindungi masyarakat. transparan, harusnya seperti ini.

Tarif mereka (Uber) kan menarik?

Memang saat ini terkadang lebih murah. Tapi ketika adanya ketidakpastian itu yang sebenernya dilanggar.

Ada yang ingin disampaikan lagi?

Terkait aplikasi ini, kalau dari Blue Bird tidak khawatir karena menjadi value kita kita punya 3 pilar inovasi, product excelence, process excelence, dan people excelence. Dari dulu sampai sekarang kita terus berinovasi. Ke depannya kita akan mengembangkan yang lebih baik lagi, pemesanan lebih mudah, loyality kita kaitkan di situ juga, jadi banyak hal yang kita lakukan di Apps kita. Jadi 3 pilar itulah yang jadi dasar Blue Bird terus berinovasi. Kalau kita lihat dari awal 43 tahun kita berdiri, kita dari dulu ingin menciptakan standar industri. Dulu awalnya nggak ada GPS kita akhirnya pakai, Argo juga. Inovasi-inovasi berikutnya bakal akan terus ada. (mdk/war)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.