Membaca Perjodohan Capres - Cawapres 2024

Membaca Perjodohan Capres - Cawapres 2024
Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. ©2020 Merdeka.com
KHAS | 14 Juni 2021 07:03 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Dua meja dengan ornamen kayu berukuran satu meter disejajarkan. Di belakang meja, hadir lima orang berbaju hitam. Bermasker merah putih. Mereka pendukung fanatik Ganjar Pranowo. Rabu 9 Juni 2021, Tegar alias Teman Ganjar deklarasi mendukung Gubernur Jateng tersebut maju sebagai Capres 2024.

Dukungan terhadap Politikus PDIP Ganjar Pranowo kian mengalir deras. Sebelum Tegar, sudah lebih dulu Dulur Ganjar Pranowo (DGP). Nama Ganjar memang selalu masuk tiga besar dalam survei opini publik soal calon presiden.

Peneliti Litbang Kompas, Toto Suryaningtyas tidak menutup mata. Ganjar Pranowo sebagai sosok paling nyentrik ketimbang tokoh capres potensial lainnya. Meskipun posisi elektabilitas Ganjar masih di bawah Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Toto melihat, dari cakupan dukungan potensial, tidak ada bakal calon presiden yang memiliki pendukung berwarna seperti yang dimiliki Ganjar saat ini.

"Ini saya buka saja sedikit ya. Sebetulnya dukungan heterogenitas paling bagus itu Ganjar, meskipun angka nominalnya dia nomor 3 (di bawah Prabowo dan Anies), relatif kecil rankingnya. Itulah makanya dia 'digebukin'. Kalau surveyor (sudah) tahu, ini barang yang paling bagus di sini. Makanya dia digebukin," kata Toto saat berbincang dengan merdeka.com tengah pekan lalu.

Ganjar 'dipukuli' koleganya sendiri di kandang banteng. Adalah Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) yang juga Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto. Popularitas dan aktivitas Ganjar di Media Sosial dianggap 'berbahaya'. Mengingat Ketua DPP PDIP yang juga Ketua DPR RI Puan Maharani juga digadang-gadang maju Pilpres 2024. Intrik politik pun terjadi.

Persaingan panas Puan dan Ganjar semakin terbuka di mata publik. Bahkan, sumber merdeka.com di internal PDIP memberi bocoran, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri marah dengan kondisi itu. Mega meminta semua kader fokus bekerja. Sebab, urusan calon presiden adalah hak penuh ketua umum.

Hasil penelitian Litbang Kompas, nama Ganjar masih berada di urutan ketiga capres potensial. Tapi cenderung lebih mudah naik ketimbang nama lainnya. Semisal Prabowo, Anies atau Ridwan Kamil. Sebab, warna yang dimiliki Ganjar lebih beragam.

"Ada warna merah, biru, kuning. Begitu nanti kamu maju, meskipun modal mulut dikit, tapi kan warnamu lebih lengkap. Kamu tidak punya problem dengan kelompok-kelompok itu. Tinggal dikampanyekan saja pasti nanti naik itu. Sementara kalau warna kamu hijau saja misalnya, ya susah. Dapatnya cuma hijau saja," jelas Toto.

Peta Dukungan Ganjar

Mengutip survei Litbang Kompas. Pemilih Ganjar mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Sebesar 59,1 persen. Dari latar belakang usia, pemilih kategori muda atau 23 tahun ke bawah, relatif sedikit. Hanya 22,7 persen. Sedangkan pemilih usia 24-40 tahun mencapai 35,3 persen dan usia 40-60 tahun sebesar 42,0 persen setuju Ganjar presiden.

Berdasarkan domisili, Ganjar didukung oleh 80,5 persen pemilih Jawa. 19,5 persen dari luar Pulau Jawa. Sementara berdasarkan Suku, Ganjar dipilih 85,9 persen dari suku Jawa. Suku lain 14,1 persen.

Dilihat dari dukungan partai politik, 29,4 persen pendukung PDIP memilih Ganjar. Pemilih NasDem 4,7 persen, Golkar 5,9 persen, PKB 7,1 persen, Gerindra 11,8 persen dan Demokrat 2,4 persen serta PKS 5,9 persen.

Soal keberpihakan, 83,0 persen pemilih yang pro terhadap pemerintah Jokowi mendukung Ganjar sebagai presiden. Sisanya, 17,0 persen yang merasa tak puas dengan kinerja pemerintah mendukung Ganjar.

Meski dukungan terhadap Ganjar cukup kuat, sampai hari ini belum ada capres yang bisa dipastikan menang mutlak. Semua masih berpeluang. Karena elektabilitasnya masih di bawah 20 persen. Prabowo yang berada di urutan paling atas, elektabilitasnya masih di kisaran 17 persen.

Ditambah, dari survei Litbang Kompas, jumlah kelompok yang menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden juga masih tinggi. Kisaran angkanya 24 persen.

"Apalagi kita belum ngomong soal ketua umum parpol mau apa tidak (dukung). Jadi itu hampir sebuah upaya yang sulit diketahui (pemenang), nanti lah itu masih terlalu jauh," tegasnya.

Politikus PDIP Utut Adianto menyarankan seluruh kader partai untuk fokus bekerja. Sesuai instruksi Megawati Soekarnputri. Ini berlaku untuk semua, termasuk Puan Maharani maupun tokoh lain yang disebut dalam survei capres.

"Kalau saran saya, semua konsentrasi kepada pekerjaan masing-masing," kata Utut di Gedung DPR.

Relawan Tegar, Rinto Wardhana juga memahami posisi Ganjar. Dia tak bisa memaksakan PDIP mengusung jagoannya di Pemilu 2024. Deklarasi Tegar merupakan langkah untuk memunculkan tokoh yang dinilai layak memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

"Kita mengusung seorang Ganjar bukan membenturkan partainya, atau dengan kandidat di partai itu ataupun kandidat lain yang diusung partai itu. Kita hanya menghimpun segenap aspirasi dari bawah, karena kita terbentuk bukan karena perintah dari atas," ujar Rinto di cafe bilangan Jakarta.

Peluang Penguasa Parpol

Nama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tak pernah absen dalam survei bursa calon presiden. Anies selalu berada di posisi lima besar. Versi berbagai lembaga survei.

Tidak heran, kunjungannya bertemu dengan sejumlah tokoh politik menuai beragam spekulasi. Teranyar, potretnya saat Salat Subuh berjemaah dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Sumedang. Sebelum itu, pertemuan Anies dengan Ketum Demokrat Agus Harimurti (AHY). Aktivitasnya bertemu tokoh politik negeri ini memicu berbagai opini.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi salah satu parpol yang melirik gerak gerik Anies. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera pun tak segan mengakui ketertarikan partainya pada sang gubernur.

"Mas Anies di antara nama yang mengemuka di internal PKS. Dan komunikasi kami sangat baik. Tapi kami dorong beliau fokus membangun DKI dulu," kata Mardani saat dihubungi merdeka.com.

anies dan ridwan kamil
anies baswedan dan ridwan kamil©2021 Merdeka.com

Urusan calon presiden dari PKS sedang digodok Majelis Syuro Partai. Seolah tak ingin kalah cepat, PKS bakal segera mengumumkan tokoh yang bakal diusung dalam waktu dekat. "Insya Allah sebelum Maret 2022," kata Mardani.

Selain Anies, ada nama lain yang juga cukup moncer dari hasil survei Capres 2024. Sebut saja Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Hanya saja, para capres potensial yang belum memiliki kendaraan politik, peluangnya kecil mendapatkan tiket. Nasibnya tergantung para penguasa partai.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno melihat, capres yang paling realistis dan berpeluang mengantongi tiket adalah mereka yang memiliki kendaraan politik. Sekalipun elektabilitasnya masih kecil. Seperti Prabowo Subianto, Puan Maharani, Airlangga Hartarto hingga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Ada yang punya kendaraan partai, tinggal partai yang usung sekalipun elektabilitas seadanya. Ada yang menjulang elektabilitasnya, tapi susah cari partai," jelas Adi.

Parameter Politik Indonesia dalam surveinya membuat empat skenario pertarungan pasangan calon. Prabowo - Ganjar disimulasikan menghadapi Anies Baswedan - Sandiaga Uno yang pernah berpasangan di Pilgub DKI 2018. Hasilnya, Prabowo - Ganjar menang tipis dari Anies - Sandi. Prabowo - Ganjar dipilih responden sebesar 35,7 persen. Sementara Anies - Sandi mendapatkan 32,1 persen. Namun masih ada 32,2 persen yang ragu/tidak menjawab.

Simulasi lain. Prabowo dipasangkan dengan Puan disimulasikan melawan pasangan Anies dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Prabowo - Puan yang mengantongi 21,8 persen kalah dari pasangan Anies - AHY yang mendapatkan suara 35,9 persen. Responden tidak menjawab/ragu 42,3 persen.

Parameter juga membuat skenario jika Puan dijodohkan dengan Anies. Seperti yang diusulkan politikus PDIP Effendi Simbolon. Disimulasikan Puan - Anies melawan Prabowo - Sandi yang pernah berpasangan di Pilpres 2019. Hasilnya Puan - Anies dengan perolehan suara 25,1 persen, kalah melawan Prabowo - Sandi 37,7 persen.

Jika Puan 'dikawinkan' dengan AHY pada skenario melawan Prabowo - Anies. Puan - AHY hanya 13,9 persen. Kalah telak melawan Prabowo - Anies yang mendapat 43,8 persen. Sementara yang belum memilih 42,3 persen.

Survei Parameter Politik Indonesia memiliki sampel sebanyak 1.200 responden. Survei ini dilakukan melalui wawancara telepon pada 23-28 Mei 2021. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Presiden Harapan Rakyat

Lembaga KedaiKOPI pada April lalu merilis hasil survei ihwal harapan masyarakat tentang calon presiden dan calon wakil presiden. Responden ingin sosok presiden dan wakil presiden yang tegas dan bijak.

"Tegas dan bijaksana itu tertinggi. Merakyat dan pro rakyat itu kedua, lalu ketiga jujur," kata Peneliti KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo saat dihubungi merdeka.com.

Survei juga memotret latar belakang calon presiden dan wakil presiden. Hasilnya, responden lebih memilih capres dari militer yang disandingkan dengan cawapres dari kalangan sipil. Kolaborasi antara militer - sipil, memiliki angka paling tinggi.

Kemudian di urutan kedua, responden memilih presiden dari sipil dan wakil presiden dari militer. Di urutan ketiga, pasangan dari kelompok sipil, meskipun selisih dengan sipil - militer tidak terlalu jauh.

Duet Prabowo dan AHY yang sama - sama memiliki latar belakang militer, punya peluang. "Atau bahkan pak Gatot Nurmantyo, walaupun enggak punya partai tapi mungkin bisa didorong ketika dinamika politik bergeser,” jelas Kunto.

Jika dilihat dari latar belakang suku, responden masih menyukai presiden dari Jawa. Lalu kemudian, kader parpol dianggap lebih punya potensi daripada mereka yang bukan tokoh atau kader parpol.

Dari situ dia melihat peluang Prabowo Subianto paling besar untuk memenangkan pertarungan di Pemilu 2024. Soal pengalaman Prabowo, tak perlu diragukan. Ini berpengaruh terhadap tingkat popularitasnya ketimbang calon lain seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

"Cuma ada mungkin kekurangannya Pak Prabowo lebih sepuh gitu kan, dan walaupun dianggap tegas tapi ternyata dia sendiri juga enggak terlalu banyak komentar dan tidak terlalu banyak menunjukkan performance dalam pemerintahan Pak Jokowi ini," tambahnya.

Sementara untuk peluang Ganjar, kecil kemungkinan bagi Gubernur Jateng ini untuk bisa diusung PDIP. Sebab, internal PDIP dianggap akan lebih memilih trah Soekarno untuk maju ketimbang orang lain.

Begitu juga dengan Sandiaga. Dari kacamatanya, hampir tidak mungkin Sandi dicalonkan oleh Gerindra. Tapi bukan tidak mungkin, nantinya Sandi akan maju justru bukan menggunakan kendaraan Gerindra. Sebab sosok Sandiaga lebih fleksibel. Dia bisa diusung oleh PKS atau PAN. Dua partai tersebut butuh tokoh untuk mendongkrak elektoral.

"Kalau mas Sandi memang peluangnya nyaris nol di Gerindra," ucap Kunto.

Senada dengan Litbang Kompas, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) dalam survei terbarunya, memotret tokoh yang punya peluang lebih mudah meningkatkan elektabliitas. Hal ini dilihat dari tingkat kedikenalan tokoh dan kesukaan responden.

Tokoh seperti Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini dan Khofifah Indar Parawansa disebut lebih mudah meningkatkan elektoral ketimbang Prabowo Subianto.

Manajer Program SMRC Saidiman Ahmad menjelaskan, implikasi dari tingkat disukai dan dikenal adalah memperlihatkan tokoh yang paling kompetitif untuk dikampanyekan. Mereka adalah Ridwan Kamil, Sandiaga, Ganjar, Risma, dan Khofifah.

"Karena untuk dipilih seorang yang dikenal harus disukai maka untuk sementara yang paling kompetitif untuk dikampanyekan adalah: Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, dan Khofifah," katanya saat rilis secara daring, Minggu (13/6).

Survei SMRC menyatakan, Prabowo Subianto paling dikenal publik sampai 98 persen. Namun, tingkat disukainya hanya 78 persen. Kedua paling dikenal adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 83 persen. Namun tingkat disuka publik juga lebih rendah yaitu 75 persen.

Berikutnya yang dikenal paling tinggi adalah Menparekraf Sandiaga Uno di angka 83 persen. Tingkat disukai cukup tinggi yaitu 85 persen.

Menariknya tokoh seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang memiliki elektabilitas capres tinggi, tingkat diketahui hanya 57 persen. Namun disukai masyarakat hingga 84 persen.

Begitu juga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil lebih tinggi tingkat disukai mencapai 85 persen. Tapi tingkat dikenalnya hanya 65 persen.

Tokoh lain yang serupa adalah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan disukai mencapai 81 persen, tetapi diketahui hanya 48 persen. Mensos Tri Rismaharini juga demikian disukai sampai 84 persen tapi dikenal 54 persen.

Saidiman mengatakan, kenaikan kedikenalan berpotensi menaikan elektabilitas karena punya resistensi lebih kecil dibanding nama lain.

"Mereka kalau disosialisasikan secara intensif kemungkinan akan mendapat elektabilitas lebih baik daripada nama-nama lain," katanya.

SMRC menggelar survei nasional melalui wawancara lapangan pada 21-28 Mei 2021. Responden dipilih dengan metode multistage random sampling sebesar 1220 responden. Margin of error survei sebesar kurang lebih 3,05 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (mdk/rnd)

Baca juga:
Ganjar - Sandiaga di Lintasan 2024
Jokowi Cerita Relawannya Sudah Dirayu Dukung Kandidat Capres di 2024
Jokowi Minta Relawannya Tak Buru-buru Dukung Capres 2024
Survei SMRC: Prabowo Unggul di Pemilih yang Tak Puas dengan Jokowi
Survei SMRC: Ganjar, Sandi, RK Lebih Mudah Naikkan Elektabilitas
Survei SMRC: Tanpa Pemilih PDIP, Ganjar Bisa Unggul dari Prabowo dan Anies
Survei SMRC: Elektabilitas Prabowo-Ganjar Naik, Anies di Posisi Ketiga

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami