Memutar uang hasil berlaga di arena

KHAS | 9 September 2016 06:03 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Dia memilih gantung raket sejak usianya menginjak 26 tahun. Saat itu, prestasinya memang mengilap dalam berbagai kemenangan di ajang kompetisi bulutangkis dunia. Medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona, Spanyol, pada 1992 juga disabetnya.

Lucia Francisca Susi Susanti, atau kerap disapa Susi Susanti, kini menggeluti kegiatan lain. Ibu tiga anak kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, tetap tak bisa jauh dari dunia membesarkan namanya.

Bersama sang suami juga peraih medali emas Olimpiade badminton tunggal putra, Alan Budikusuma, Susi membangun perusahaan bernama ASTEC. ASTEC merupakan kependekan dari Alan Susi Technology.

"Jadi kami dirikan ASTEC itu sudah kisaran 12 tahun lalu. Di situ kami jual alat-alat olahraga seperti raket bulutangkis, sepatu, dan peralatan lain yang kemudian kami sebar ke beberapa tempat yakni di Pasar Baru, Mangga Dua, dan sebagainya," kata Susi, kepada merdeka.com, Jumat (2/9) lalu.

Susi juga merasakan pundi-pundinya bertambah karena prestasinya. Duit itu mulanya dia putar buat investasi. Awalnya, Susi memilih membeli rumah dan apartemen, kemudian disewakan.

"Jadi selama berkarir, saya sempat investasi penghasilan untuk beli tanah dan penyewaan apartemen maupun rumah di Jakarta. Karena kalau tidak begitu, uang saya akan habis percuma. Jadi saya tanya ke keluarga saya, ke orang terdekat, baiknya investasi apa untuk jangka panjang. Kalau ada investasi itu, kan jadinya saya bisa minimal buat menikah uangnya, buat bangun rumah, buat kehidupan sehari-hari, yang penting ada dapur ngebul," ujar Susi.

Susi juga didapuk menjadi staf ahli Persatuan Badminton Seluruh Indonesia Bidang Pembinaan dan Prestasi. Usahanya melebar dengan membangun tempat spa di Jakarta. Dia mengakui semua bisnis dikelolanya bersama Alan buat menghidupi keluarga. Dari penghasilannya, Susi merasa hingga kini tak mengalami kesulitan keuangan.

"Saya juga kerap menjadi juri dalam ajang olahraga dengan peserta 1.200 orang, yang dibuat oleh Djarum di sembilan lokasi di Indonesia, yang salah satunya di Kudus. Saya dengan beberapa atlet lainnya ini masih ada hubungan dengan Djarum. Karena biar bagaimana pun, dulu kan pemerintah tidak menjamin atlet seperti sekarang. Justru perusahaan swasta yang membantu. Sehingga kita kerjasama dengan baik sampai saat ini," ucap Susi.

Tak cuma Susi. Mantan atlet badminton tunggal putra, Taufik Hidayat, juga bergelut dengan kegiatan lain setelah 17 tahun berlaga di arena. Menantu dari Agum Gumelar itu kini mengelola Taufik Hidayat Arena (THA). Sebuah kompleks olahraga di Kelapa Dua, Ciracas, Jakarta Timur, dibangun pada 2012 lalu. Dia juga menjadi staf di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Selain THA, ada lah bisnis lainnya. Intinya ya semua ini bisa lah saya jalanin, dan bisa untuk kebutuhan hidup," ucap Taufik.

Taufik menyarankan pentingnya ilmu mengelola keuangan bagi atlet. Sebab dia mengakui hal itu memang tidak mudah.

"Untuk pendidikan finansial itu menurut saya penting ya. Karena kan memang harus tahu bagaimana mengolah uang, seperti saya bangun THA. Jadi jangan sampai nanti uangnya hanya untuk foya-foya saja. Mereka kan harus mempersiapkan uang untuk masa depannya. Kan kita enggak ada yang tahu ke depan penghasilan mereka seperti apa," imbuh Taufik.

Lain lagi dengan jalan hidup Yohannes Christian John atau Chris John. Suami dari Anna Maria Megawati, itu dikaruniai dua anak, Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani.

Usai pensiun tiga tahun lalu, Chris mempergunakan duit diperolehnya sebagai modal mengelola usaha asuransi bersama sang istri di Semarang, Jawa Tengah.

"Awalnya sih itu asuransi istri dibuat tahun 2002, tapi saya bantu mengelola," kata Chris.

Meski sudah tak berlaga, Chris mengaku masih mendapat tawaran pekerjaan. Dia sibuk menjadi promotor acara tinju 'Indonesia Boxing Championship', di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta.

"Ya Alhamdulillah saat ini hidup ya bisa lah mencukupi kehidupan sehari-hari. Semua yang penting bagaimana kita bisa mengelola uang dengan baik," ucap Chris.

Baik Chris, Susi, dan Taufik menyatakan lega karena generasi atlet setelah mereka kehidupannya lebih terjamin. Dengan ganjaran imbalan jika berprestasi, ketiganya berharap bibit atlet terus muncul. Sehingga mereka tidak ragu lagi memilih olahraga sebagai jalan hidup.

Baca juga:

Atlet butuh 'kail' sebelum turun gelanggang

Terlecut curhat Susi Susanti

Terseok-seok demi mempertahankan sepakbola

(mdk/ary)