Mengembalikan kesenian daerah ke tempat terhormat

KHAS | 3 Oktober 2016 08:09 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Menangkap dan melarang para seniman yang menggunakan kesenian tradisional untuk mengamen dinilai bukan langkah yang tepat. Pemerintah justru harus memberi ruang bagi mereka untuk tetap eksis sekaligus melestarikan budaya agar kesenian daerah itu kembali ke tempat yang terhormat.

Pengamat dan pemerhati kebudayaan Joe Marbun mengakui fenomena kesenian tradisional digunakan untuk mengamen dipicu oleh persoalan sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya mereka yang berjuang hidup di ibu kota.

"Ini kita lihat sebuah persoalan sosial di mana seni digunakan untuk mencari penghasilan bertahan hidup," kata Joe kepada merdeka.com, Selasa (27/9).

Joe menilai, pemerintah harus membuat larangan terkait hal ini namun di sisi lain harus bertanggung jawab terhadap upaya pelestarian kesenian itu sendiri. "Itu harus dilarang, artinya ketika ini menjadi kesenian (jalanan), maka berdampak pada kelestarian budaya. Padahal dalam konsep pelestarian budaya yang merupakan pengetahuan, ini kan pengetahuan merupakan sekaligus kreativitas yang harus dilihat dan dijaga. Tapi ini persoalannya tidak, ini harus dijawab pemerintah bagaimana memperjuangkan hak sosial mereka melestarikan kebudayaan tadi," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus memberikan ruang dan adanya kerjasama yang baik dengan para pengamen kesenian tadi. Hal itu bertujuan agar komunikasi terjalin baik antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya masyarakat menengah bawah yang kerap melakukan kesenian jalanan sebagai pilihan akhir mendapatkan uang.

"Kalau kita serta merta melarang tanpa ada ruang baru atau komunikasi lebih lanjut, itu tidak adil. Maka kebutuhan itu harus dijawab pemerintah (kebutuhan sosial ekonomi). Selain ruang, pemerintah juga harus mempertimbangkan atau menempatkan kebudayaan itu menjadi penting dalam masyarakat, sehingga akan lebih baik jika kita lestarikan dan menggali kebudayaan itu, mendorong semua pihak untuk berkreasi dan memberikan penghargaan kepada masyarakat," paparnya.

Dalam hal ini, Joe menganggap kurangnya langkah pemerintah dalam melestarikan kebudayaan dikarenakan belum satu hati atau satu pemikiran antara pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

kuda lumping 2012 Merdeka.com/dok

"Pemerintah kenapa tak selesai-selesai menggodok RUU Kebudayaan? Karena pemerintah dan DPR belum satu hati. Hal itu terlihat ketika mereka meributkan RUU Kebudayaan dan dianggap menjadi suatu yang urgent. Dari urgent itu lah mereka membuat aturan main yang katanya karena ada krisis kebudayaan, karena kebudayaan tak lagi menjadi tempat yang baik di masyarakat, karena seni sudah menjadi sedemikian buruknya. Padahal seharusnya dengan problem itu, mempermudahkan pemerintah merumuskan kebijakan apa yang akan diambil dan dilakukan untuk menjawab problem kesenian tadi," ujarnya.

Karena pemerintah juga belum bisa menjawab persoalan yang muncul di masyarakat tersebut, lanjut Joe, sehingga mereka khususnya kalangan bawah mengambil pilihan menjadikan kebudayaan sebagai ajang cari uang tersebut. "Ini sebenarnya harus dijawab pemerintah, ini permasalahan serius ketika seni menjadi ranah kebangsaan yang kini malah menjadi hal tersebut (ajang ngamen)," tutupnya.

Berbeda dengan Joe, Sejarawan JJ Rizal, justru menganggap jika berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya dan mendapatkan uang tersebut memang ciri asli kesenian itu sendiri. Dalam hal ini, Rizal mencontohkan seperti halnya ondel-ondel.

Pengamen kesenian tradisional 2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

"Ondel-ondel memang menurut tradisi dan sejarahnya berkeliling kampung karena fungsinya adalah tolak bala, untuk jasanya itu dia diberi imbalan sawer. Jadi kalau kini dia keluar masuk kampung dan disebut mengamen, dia kembali ke tradisi aslinya," kata JJ Rizal kepada merdeka.com.

Menurut Rizal, yang membedakan ondel-ondel asli dengan yang saat ini, tidak lagi berkait dengan ilmu bela diri seperti tolak bala, mengamankan kampung dan masyarakat dari kekuatan jahat, tetapi untuk bertahan hidup sebagai seni tradisi. Sehingga tak ada larangan akan ondel-ondel yang bersifat mengamen.

"Dan dalam hal ini, pelarangan bukan tindakan yang bijak dan tidak pas dengan tradisinya ondel-ondel, jangan-jangan malah dengan ngamen itulah sebagai seni tradisi ondel-ondel bisa bertahan sebagai seni tradisi. Hanya saja diperlukan semacam pelatihan seni tradisi agar jangan jauh penampilannya dari yang mentradisi dan dikenalin kearifannya," tutup Rizal.

(mdk/bal)