Menjadi Korban Kekerasan Dalam Pacaran
KHAS » MAKASSAR | 31 Desember 2018 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Awalnya hanya kagum. Perlahan dia jatuh cinta dan berakhir kecewa. Begitu kiranya dirasakan Ika ketika menjalani hubungan pacaran dengan BTA, pria idamannya. Semua dilalui bertahap. Tanpa terasa perasaan nyaman hinggap. Hatinya luluh. Sayang, hidupnya terbelenggu.

Wanita asal Sulawesi Tengah ini mengenal BTA lewat dunia kepenulisan. Meski bukan seorang penulis, pria idamannya itu merupakan fasilitator baik. Banyak petuah dan wejangan diberikan kepada Ika. Sebagai junior, dia selalu manut. Menuruti pelbagai ucapan BTA. Bak pujangga, semua kata seolah menyihir pikiran dan hati Ika.

Banyak saran diikuti. Salah satunya diajak ikut sebuah komunitas kepenulisan. Tempat belajar menulis dan berorganisasi. Di sana Ika begitu giat. Sebagai pemula, tulisannya banyak mendapat apresiasi. Tak kalah saing dengan banyak penulis senior. Hal ini membuat BTA bangga. Peran dari pria pujaannya begitu besar. "He's my hero," kenang Ika saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Semakin hari, mereka makin dekat. Benih cinta muncul. Entah sejak kapan. Rasa kagum Ika berubah jadi cinta. Banyak kegiatan mereka kerap berdua. Di mana ada Ika, di situ pasti ada BTA. Perlakuan spesial cukup mengisyaratkan BTA memiliki rasa sama.

Dari kedekatan itu, ucapan manis BTA seolah menghipnotis. Ika tanpa sadar, perlahan diatur. Mulai dari perilaku hingga cara bertutur. Dia diarahkan untuk jadi pribadi lemah lembut.

Berbagai narasi manis merasuk jiwanya. Membuat dia tidak bisa menolak perintah dirangkai dengan kata-kata indah. Ika seolah tunduk. Berbagai permintaan BTA selalu diikuti. Tanpa harus diawali negosiasi. Perlahan sikapnya berubah. Suaranya tidak lagi tinggi. Terutama ketika berbicara dengan BTA.

Hidupnya lalu diatur. Wajib lapor ke mana pun pergi. Bahkan menentukan dengan siapa saja boleh bergaul. Bahkan tidak boleh menelepon kalau bukan keadaan darurat. Sikap BTA mulai posesif. Namun, itu bisa diterima Ika. Bahkan perasaannya mengatakan sikap itu wujud resmi dia menjadi kekasih pria pujaannya.

"Saya sadar dia posesif dan saya menerima itu tanpa paksaan," ungkapnya.

Perasaannya makin besar. Ketika BTA memperlakukan dirinya spesial di hadapan banyak orang. Mulai dari kemesraan, hingga perhatian kecil membuat orang mengira mereka selaiknya pasangan kekasih. Nyaman. Begitu perasaan Ika kala itu.

Semua berjalan mulus hingga tahun kedua. Tahun 2014 menjadi tahun bergejolak untuknya. Ia mendapati fakta kekasihnya sudah beristri. Bahkan BTA memiliki 2 istri sekaligus dan 3 orang anak dari dua perkawinan tersebut. Hatinya hancur. Tahu harus berbuat apa setelah mengetahui itu. Namun, pada akhirnya dia selalu memaafkan kebohongan selama ini dibuat kekasihnya.

Rasa nyaman mendalam membuat Ika susah marah. Keduanya kembali menjalin asmara. Dengan pelbagai macam pertentangan. Paling besar dari orangtua. Perempuan 28 tahun itu sampai memutus komunikasi dengan keluarga demi bisa bersama BTA. Sampai memutuskan kabur dari rumah.

Kehidupan Ika bertumpu pada BTA. Jarak usia mereka memang cukup jauh. BTA kelahiran 1984. Walau begitu, Ika tetap merasa nyaman. Bahkan sudah tak ada rasa peduli meski kekasihnya beristri dua. Dia ikhlas menjalani itu. Bahkan sampai dilarang pun rela. Salah satunya ketika mendapatkan tawaran pekerjaan di Surabaya dari perusahaan besar.

Kesempatan itu disampaikan kepada kekasihnya. Berharap mendapat restu untuk bekerja di luar kota. Apalagi pekerjaannya jadi kesempatan untuk dia mengembangkan karir. Sayangnya, BTA tak mengizinkan Ika mengambil tawaran tersebut. Justru meminta Ika tetap bersamanya. Sejak saat itu dia mulai menyadari kalau dirinya mengalami tindak kekerasan dalam pacaran (KDP). Ika menyadari sikap posesif sang pacar menjadi gerbang utama dirinya mengalami kekerasan.

Serangan KDP secara psikis membuat korbannya selalu manut. Mulai dari membatasi pertemanan, keluarga, hingga pekerjaan. Membuat mereka seolah tak berdaya untuk melawan. Bahkan pelaku kerap memberikan berbagai penjelasan logika tak bisa dibantah.

Komunikasi sudah pasti berjalan satu arah. Melalui rangkaian kata halus dan diterima dengan baik oleh logika korban tanpa perlawanan. Bila berdebat, semua akan berakhir dengan pernyataan sang korban selalu melakukan kesalahan. Bahkan tak jarang di situasi itu korban mengalami tindak kekerasan.

Korban Aniaya Sang Pacar

Kurang lebih itu dialami Ika. Tak jarang pukulan didapatkan. BTA selalu punya alasan wanita pantas dipukul bila melakukan salah. "Dia selalu punya argumentasi kalau perempuan dipukul, artinya perempuan itu layak untuk dipukul karena kesalahannya," kata Ika.

Bukan sekali dua kali dia berpikir untuk lepas dari relasi tidak sehat itu. Namun, dia selalu diancam. Aibnya akan disebarnya. Kondisi itu membuat Ika kerap mengurungkan niatnya. Sebab dia terlalu bergantung pada BTA. Khawatir bila tanpa kekasihnya tak bisa berbuat apa-apa.

Akhir tahun 2017, tiba-tiba BTA tak bisa dihubungi. Pesannya tak kunjung dibalas. Telpon pun tak diangkat. Nomornya diblokir. Dia kehilangan kekasihnya. Kekhawatiran akan ditinggalkan akhirnya jadi kenyataan. Terbiasa bersama hampir enam tahun membuatnya depresi.

Biasa melakukan apapun atas izin BTA, membuatnya tak keluar kamar kos selama hampir 2 minggu. Sekalipun membeli makan di luar, dia tak berani. Sebab takut keluar rumah tanpa izin akan membuat sang pacar marah. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar rumah dengan tetap memberikan kabar lewat pesan tak berbalas.

Lima bulan berlalu. Ika mulai terbiasa hidup sendiri. Dia memutuskan untuk memulai kembali hidup tanpa BTA. Bertemu banyak orang yang selama ini tabu untuknya. Berkenalan dengan laki-laki lain. "Selama lima bulan itu saya membangun pertahanan diri untuk jadi kuat. Mengalihkan perhatian dengan hal lain," ujarnya.

Ilustrasi tindak kekerasan 2014 Merdeka.com/Shutterstock/Sinisha Karich


Hingga satu hari ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari BTA. Dalam pesannya, Ika diminta datang ke tempat biasa mereka bertemu. Benteng pertahanan dibangun Ika luruh seketika. Tangannya gemetar saat menerima pesan itu. Bingung. Harus bahagia dan sedih di waktu bersama.

Keputusan diambil. Ika akhirnya menemui BTA. Berbagai pertanyaan telah dia siapkan untuk dikonfirmasi kepada sang kekasih. Bahkan berniat memarahi lantaran menghilang tanpa jejak selama lima bulan. Sayangnya saat bertemu, semua narasi disiapkan hilang seketika. Semua berbalik. Ika selalu disalahkan. Dituding tak setia. Melakukan segala hal tanpa izin. Apalagi mengetahui kalau ada laki-laki lain tengah mendekati Ika.

Perdebatan tak terelakan. Tudingan perselingkuhan jadi pemicu kemarahan BTA. Merasa tak melakukan kesalahan, Ika beranikan diri mempertahankan diri. Mereka terlibat cekcok. Kekerasan fisik pun tak terhindarkan. Dalam keadaan luka di sekujur tubuh, Ika beranikan diri foto di kamar mandi. Lantas mengirimkan foto itu kepada teman lelakinya. Berharap mendapatkan bantuan untuk lepas dari jeratan BTA.

Pertengkaran belum usai. Kekerasan terus dilakukan. Bahkan Ika merasa kematian satu langkah lebih dekat. Permasalahan pun akhirnya kelar. Ika melawan. Menyetujui permintaan BTA agar berhenti menjadi penulis. Semua dilakukan agar bisa segera keluar dari jeratan.

Setelah kembali ke rumah, Ika bisa lebih lega. Namun, ponselnya pun terus berdering. Banyak panggilan masuk. Bahkan kedua orangtua Ika datang langsung dari Makassar. Rupanya, foto luka lebam akibat kekerasan fisik itu disampaikan teman lelakinya ke beberapa teman Ika dan orangtuanya. Berharap mereka bisa menyelamatkan wanita tersebut. Cara itu berhasil.

Namun, keadaan itu makin membuat BTA semakin kesal. Ika pun diteror. BTA Menyebarkan aib Ika selama ini ditutupi. Mau tak mau Ika harus menghadapi itu. Citra buruk pun melekat pada dirinya setelah itu. Tetapi dia tak mau ambil pusing. Akhirnya, demi lepas dari hubungan itu, Ika memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Mengambil tawaran kerja di kantor pusat tempat bekerja selama ini.

Di ibu kota, Ika harus menjalani perawatan khusus dari psikiater untuk menyembuhkan luka psikis. "Dokter memvonis saya mengalami depresi. Padahal saya merasa baik-baik saja. Tapi alam bawah sadar saya menyatakan saya depresi."

Lebih jauh, Ika menjelaskan depresi yang dialami adalah akumulasi terjadi selama enam tahun berpacaran dengan BTA. Tanpa disadari dia menjalani semua keinginan BTA dan melawan dirinya sendiri yang menolak melakukan berbagai hal perintah sang kekasih.

Empat bulan menjalani perawatan dari psikiater, perlahan hidupnya kembali utuh. Ika kembali menjadi dirinya sendiri. Wajahnya lebih cerah dan ceria setelah berhasil melewati gejolak kehidupan asmaranya. Sebagai penyintas, dia telah berhasil keluar dari lingkaran KDP. Menata hidupnya kembali dengan banyak orang baru. Paling penting mulai mencintai diri sendiri.

"Sekarang saya lebih mencintai diri sendiri, menghargai diri sendiri dan mengapresiasi diri atas pencapaian saya," ungkapnya.

Dukungan Orang Sekitar

Menjadi diri sendiri menjadi kunci keberhasilan korban KDP. Mereka harus sadar bahwa dunia tidak sempit. Bukan hanya ada mereka berdua. Dukungan orang sekitar juga penting. Semua demi menyadarkan maupun mengingatkan bahwa sepasang kekasih ini tetap makhluk sosial.

Psikolog Sri Juwita Kusumawardhani mengatakan KDP berada dalam payung besar kekerasan berbasis gender (Gender Based Violence). Relasi hubungan antara wanita dan pria sebagai pasangan kekasih disebut KDP bila adanya relasi kuasa yang tidak setara. Sehingga mengakibatkan adanya penyalahgunaan kekuasaan oleh salah satu pihak.

ilustrasi bahagia acornfinancialservices.com.au

Budaya patriarki mengajarkan, laki-laki kerap digambarkan untuk tidak menangis, menjadi pemimpin dan menjadikan kekerasan sebagai solusi. Sementara perempuan digambarkan sosok lemah lembut, tidak egois dan penurut.

Dalam relasi kuasa tidak setara ini biasanya pria menganggap dirinya memiliki hak kepemilikan kepada pasangannya. Sehingga laki-laki bersikap mengekang, mengatur dan merasa berhak untuk menghukum dengan kata-kata tidak pantas atau pukulan fisik ketika pasangannya tidak menuruti kemauannya.

"Para pria tidak diajarkan untuk mengelola kemarahan atau emosi negatif secara tepat guna dan berkomunikasi secara asertif. Sehingga memilih untuk melakukan kekerasan," kata Juwita kepada merdeka.com akhir pekan lalu.

Edukasi KDP sangat diperlukan untuk korban dan para penyintas agar lebih selektif dalam memilih pasangan. Peran dukungan jadi penentu berhasilnya korban KDP keluar dari jeratan relasi tidak sehat. Kehadiran keluarga dan teman-teman adalah sumber dukungan dan kekuatan sangat dibutuhkan para penyintas.

Ketika mereka memperoleh dukungan, akan lebih merasa layak untuk dicintai. Mereka jadi memiliki harapan akan hubungan dan hidup lebih positif setelah keluar dari hubungan tak sehat. Tidak ada standar durasi bisa dijadikan bagi para penyintas untuk siap memulai hubungan baru. Dampak psikologis setiap penyintas, resiliensi dan seberapa besar usahanya untuk dapat melanjutkan hidup semuanya berbeda-beda.

Hal terpenting perlu diperhatikan adalah kesadaran akan kondisi relasi yang sedang dialami. Mengetahui berbagai tanda KDP dalam suatu hubungan. Lalu berani mengambil sikap saat mengetahui diri tengah menjadi korban atau pelaku.

(mdk/ang)