Wawancara Khusus Menteri Agama

Menteri Agama Fachrul Razi: Agama Tidak Menyulitkan Umatnya

Menteri Agama Fachrul Razi: Agama Tidak Menyulitkan Umatnya
KHAS | 22 Mei 2020 03:29 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Ramadan dan Lebaran tahun ini berbeda. Kita menjalani ibadah puasa dan bersiap menyambut Lebaran, di tengah suasana Pandemi Corona. Ibadah dijalankan, kesehatan tetap diutamakan.

Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan imbauan. Salat Idul Fitri tahun ini, lebih baik dilakukan di rumah. Sama sekali tidak mengurangi pahala. Karena sejatinya Agama hadir bukan untuk menyulitkan umatnya.

Kami berbincang banyak hal dengan Menteri Agama Fachrul Razi. Mengenai cara memaknai Ramadan dan Idul Fitri di tengah Pandemi. Berikut petikan wawancara khusus jurnalis merdeka.com Lia Harahap dengan Menteri Agama Fachrul Razi.

Ini Ramadan pertama kita di tengah pandemi corona. Anda melihat situasi Ramadan tahun ini seperti apa dibanding tahun sebelumnya?

Jelas berbeda ya. Karena mau tidak mau kita harus mengantisipasi adanya Covid-19, tapi kita usahakan membalance supaya ibadah tetap jalan, tetap menghasilkan pahala yang lebih baik dibandingkan dari bulan-bulan lain. Tapi kita juga tidak terkena wabah Covid-19.

Untuk itu memang pemerintah sudah menganjurkan banyak hal. Satu misalnya tidak usah berjemaah di masjid, baik melaksanakan salat harian maupun salat tarawih. Kemudian tidak mudik, tidak melakukan ziarah kubur dan lain sebagainya. Dan itu memang kita imbau supaya yang utamanya supaya kita terhindar dari Covid-19.

Saya kira kalau ngomong pahalanya ya jelas kita paham pahalanya lebih tinggi kalau kita jamaah di masjid misalnya. Itikaf di masjid dan lain sebagainya. Tapi karena ada wabah penyakit ya kita pakai akal sehat kita lah.

Dan agama kebetulan tidak memberatkan. Lalu ada pilihan, contoh saja puasa wajib memang tapi bagi yang sakit, bagi yang dalam perjalanan kan ada pengecualian. Apalagi bagi yang tidak mampu sama sekali, yang sudah renta. Jadi kita gunakan akal sehat, jangan sampai keinginan untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya tapi justru mudarat yang didapat untuk kita maupun orang lain yang ada di sekitar kita.

Imbauan sudah sering disampaikan pemerintah tapi faktanya masih ada yang menjalankan ibadah berjemaah, mungkin karena pemahaman dan keyakinan berbeda. Bagaimana cara meyakinkan mereka?

Memang berat juga ya. Apalagi kalau ngomong kaitannya sama agama lagi tapi kami mencoba mengimbau berulang-ulang. Kemudian aparat keamanan juga turun tangan. Kepala daerah turun tangan dan kami punya ujung tombak sampai di lapangan sampai minta kepada penyuluh agama. Mereka juga turun tangan mengimbau. Ya kembali lagi seperti yang Mbak katakan ya ada juga yang tidak mau patuh karena mereka punya keyakinan yang lain.

Bukan jelek keyakinannya sih, keyakinannya baik juga. Mungkin menurut kami kurang mempertimbangkan tentang masalah risiko yang dia hadapi dengan adanya Covid-19 ini.

Jadi alasannya karena ingin memperoleh pahala atau merasa daerahnya belum terjangkit Covid-19?

Itu tadi yang Mbak bilang betul semua. Ada yang alasannya satu ingin mengambil nilai ibadah yang lebih tinggi dengan berjamaah. Berjamaahkan pahalanya lebih baik, lebih tinggi. Berjamaah jauh lebih baik dan sebaiknya. Ada juga yang mempunyai keyakinan bahwa di kampung kami belum ada yang kena, jadi kenapa mesti takut. Misalnya ada yang bilang begitu. Ada juga yang agak bandel-bandel gitu ya.

Itulah manusia. Tidak mungkin kita memaksakan orang untuk melakukan hal seperti itu sama seperti kita. Yang bisa kita lakukan ya utama mengimbau dan memberikan penjelasan-penjelasan dan kemudian kita juga mencoba menangkalnya di lapangan.

Misalnya pada saat mereka mau ke masjid sudah ditunggu di depan masjid diberikan penjelasan Janganlah, mungkin bapak-bapak sehat, orang lain mungkin kurang sehat. Bapak-bapak kelihatannya sehat mungkin sebetulnya kurang sehat, nanti bisa menularkan ke yang lain. Kalau menularkan ke yang lain nanti kita yang berdosa. Kalau mudaratnya lebih banyak ya janganlah.

Tapi kembali lagi upaya kita yang paling maksimal adalah mengimbau. Kalau dibandingkan persentasenya yang taat dengan yang tidak taat sangat jauh. Banyak yang taat.

muslim thailand laksanakan salat jumat dengan menerapkan jarak fisik

Ada data jumlah rumah ibadah yang sudah patuh dengan imbauan pemerintah?

Secara nasional tidak ada. Tapi saat sidang kabinet beberapa gubernur menyampaikan memang bervariasi sekali. Dan setiap saat berbeda. Jadi sulit menentukan.

Biasanya warga yang sulit mematuhi imbauan itu mereka yang tinggal di perkampungan atau di perkotaan?

Kalau di kampung lebih banyak motivasinya kepada satu hal. Tempat kami belum ada kok. Itu lebih banyak motivasinya ke sana. Yang merasa belum tersentuh Covid-19. Jadi kenapa kita mesti takut sekali. Kalau kita salat di masjid pahalanya lebih tinggi. Nah itu selalu yang memotivasi kalau di kampung, tidak ada yang lain.

Kemenag melibatkan penyuluhan di kampung untuk memberi imbauan?

Kalau tingkat atas kita koordinasi dengan MUI, dengan tokoh-tokoh ormas Islam, NU, Muhammadiyah dan sebagainya. Kalau di ujung tombak kita koordinasi dengan kiai-kiai kampung, ormas-ormas setempat, MUI setempat. Seperti yang saya katakan tadi kami punya ujung tombak sampai tingkat penyuluh agama.

Jadi kalau dibilang yang paling utama dirangkul kiai kampung, ya itu. Penyuluh agama itu yang turun tangan merangkul kiai kampung, ustaz-ustaz di kampung. Kalau ustaz-ustaz kampung ini selain juga pendekatan agamanya ada juga pendekatan pribadinya. Karena biasa setiap hari ketemu, setiap hari ajar ngaji pasti insya Allah wibawanya lebih tinggi.

1 dari 2 halaman

Salat Idul Fitri

salat idul fitri di masjid istiqlal

Tinggal hitungan hari kita menyambut Idul Fitri. Ada imbauan agar masyarakat tidak salat Id di lapangan?

Itu kami tetap mengimbau apalagi salat Id pengumpulan masa yang jauh lebih banyak di lapangan lagi ya. Kalau di masjid tidak terlalu begitu banyak. Ya kami mengimbau salat Id kali ini di rumah saja. Satu, hukumnya sunah, tidak dilakukan tidak berdosa. Tapi karena sunahnya sunah muakkad artinya yang dianjurkan. Dan Rasulullah kebetulan juga tidak pernah meninggalkan salat Id. Baiknya kita lakukan salat Id di rumah saja.

Di rumah, caranya juga mudah. Bisa dengan salat. Ya kembali, ini pendapat banyak ulama bisa dilakukan salat sunah dua rakaat seperti biasa. Bisa juga salat sunah dua rakaat seperti gaya salat Idul Fitri ada 7 takbir pada rakaat pertama, ada 5 takbir pada rakaat kedua. Bisa juga kemudian seperti Idul Fitri murni ada khotbah.

Jadi banyak pilihan karena agama tidak menyusahkan. Tapi memang karena ini sunnah yang saya katakan tadi ditinggalkan tidak berdosa. Tapi kalau kita ingin mencontohi Rasulullah, Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat Id. Malah memerintahkan wanita, termasuk remaja untuk salat Id maka memang sebaiknya kita salat Id di rumah bersama keluarga inti dengan pola tadi bisa dengan salat sunah biasa, bisa dengan seperti salat Id sesungguhnya, bisa juga ditambah khotbah seperti salat Id sesungguhnya.

Artinya dengan pemaparan tadi, pilihan salat Id tadi, tidak ada yang menyulitkan?

Tidak menyulitkan dan gampang.

Tidak mengurangi pahala sedikit pun?

Tidak mengurangi pahala. Malah itu termasuk sunah yang dianjurkan pahalanya tambah.

Sudah diimbau juga ke penyuluh di daerah-daerah supaya tidak salah berjamaah nanti?

Kita langsung teruskan ke bawah, sampai ke ujung tombak kita supaya langsung turun tangan. Ada yang masih kelihatan-kelihatan persiapan untuk salat Id di lapangan, kita datangi. Karena kalau salat Id di lapangan paling tidak satu hari sebelumnya ada persiapan pembuatan pembatasan. Arah kiblat dan lain-lain. Kan kita bisa lihat.

Kita bilang jangan lah, harus seperti ini. Apalagi memang kelihatannya naik turunnya tentang wabah ini juga masih belum bisa diprediksi fluktuasinya.

Jadi betul-betul kita waspadalah. Jangan sampai kita anggap enteng mengatakan 'Ah sudah kok sudah selesai'. Tidak, belum selesai. Kita perlu waspadai, kalau tidak waspadai dia langsung meningkat.

Karena kita tidak tahu orang-orang yang dekat sama kita apakah dia membawa virus atau tidak?

Betul. Tanpa gejala juga ada.

halal bihalal di kemenkeu

Untuk silaturahmi, maaf-maafan jabat tangan tidak boleh juga?

Ya kalau dalam rumah tangga, keluarga inti tentu seperti biasa lah. Tapi kalau dengan teman-teman lain di luar itu harus lewat media sosial yang kita punya atau HP. Itu memang harus kita lakukan.

Tapi kalau ngomong maaf memang itu kebiasaan kita sih ya. Sebetulnya dalam Islam mengatakan maaf itu mestinya dilakukan seketika tidak tunggu satu tahun. Dalam situasi seperti ini tetap lah maaf-maafan, silaturahmi kita lakukan saja melalui media sosial.

Apalagi sekarang kan semua sudah punya HP, paling tidak kalau tidak punya HP, di sampingnya punya HP bisa pinjam. Mudah-mudahan berjalan dengan baik, pahala tidak berkurang, kita bisa menikmati kehadiran Idul Fitri ini dengan baik.

Pandemi Covid-19 tidak boleh mengganggu kebahagiaan kita merayakan kembalinya kita kepada fitrah kita. Kita sudah menang melawan godaan selama puasa, kita lipatgandakan pahala kita selama puasa dan memohon ampunan selama puasa itu tidak boleh terganggu dengan adanya pandemi ini.

Yang diubah hanya caranya?

Ya semangatnya, orangnya tidak boleh terganggu. Kita punya anak-anak banyak, kalau saya punya cucu tetap kita berikan semangat. Kita semangat karena kita memang melawan godaan. Kalian batal puasa? Tidak kek. Alhamdulillah.

Kemarin pernyataan bapak sempat ramai soal pelonggaran ibadah, sebenarnya kita sudah bisa beribadah normal?

Ya memang itu mengemuka karena pada saat kemarin dulu ya raker dengan Komisi 8 DPR RI. Beberapa anggota dewan menanyakan, mengusulkan supaya ada relaksasi di rumah ibadah. Saya katakan ide itu baik.

Satu, kita bisa meningkatkan ibadah pahala kita. Kemudian kedua silaturahmi bertambah luas. Kemudian juga secara massif kita bisa memohon kepada Tuhan untuk mencabut wabah ini. Asal dilakukan dengan batas-batas yang sangat jelas. Sebagai contoh, hanya ada di zona hijau, kemudian bahwa harus jaga jarak, menggunakan masker, cuci tangan, tidak salaman, tidak cipika cipiki dan sebagainya. Tapi tentu itu kita sesuaikan dengan bagaimana situasi Covid-19 saat ini.

Sehingga saya katakan nanti saya lihat perkembangan, nanti saya akan coba ajukan kepada bapak Presiden. Jadi saya punya niat menyarankan itu kepada bapak Presiden akhirnya tidak jadi. Itu bukan untuk sekarang tapi untuk pemikiran sewaktu-waktu.

Sebagai Menteri Agama kan saya juga mempunyai kewajiban bagaimana dipikir sama-sama lah lebih baik kita melakukan relaksasi di rumah ibadah ini. Tapi begitu melihat data seperti itu saya tidak jadi.

Belum disampaikan ke Presiden?

Masa data melonjak gitu tinggi dari 233 jadi 484, ini Menteri Agama malah relaksasi rumah ibadah. Kan tidak elok. Saya mungkin selama Idul Fitri ini kita tunjukkan lah bagaimana pengamanan diri kita, pengamanan keluarga. Mudah-mudahan nanti selesai Idul Fitri jauh lebih membaik lagi kita mencoba sarankan relaksasi ini ya.

Kalau saya condong menggunakan revitalisasi ya. Kalau relaksasi yang kita maksudkan konsep kita itu sebetulnya tidak ada yang mengendorkan aturan-aturannya. Seperti yang saya katakan tadi, jaga jarak tetap, kita bolehnya di zona hijau, tetap cuci tangan, tetap juga kalau sakit tidak boleh ikut, dan sebagainya.

Jadi tidak ada relaksasi sedikit pun. Jadi saya menamakan itu revitalisasi rumah ibadah. Supaya rumah ibadah direvitalisasi lagi, tapi ya tidak bisa gegabah meskipun beberapa anggota dewan mendorong tetap kita pertimbangkan dengan matang. Dan saya kira saat ini belum waktunya lah.

Jadi tolong sama-sama kita coba di Idul Fitri nanti kita melakukannya dengan lebih baik. Mungkin setelah sekian lama Idul Fitri suasana lebih enak dan kita bisa katakan ajukan kepada bapak Presiden yang saya sebut revitalisasi rumah ibadah itu.

Apalagi seperti kasus di Tambora ya?

Ya betul. Jadi sudahlah. Tapi kembali lagi, niat itu baik. Bagaimana meningkatkan pahala kita, membuat lebih massif doa kita kepada Tuhan. Begitu juga agama lain pasti melakukan hal sama, tapi bagus itu kalau tidak serta merta dilakukan. Bagi kami tentu saja laporkan ke Presiden dulu tapi tentu melihat situasi kemarin saya mau mengajukan tapi tidak sampai hati.

Presiden juga bilang jelas soal pelonggaran harus hati-hati?

Betul. Memang beliau memikirkan beberapa kelonggaran terutama untuk membuat ekonomi jalan, jangan sampai ekonomi mandek. Kalau mandek semua kita susah.

Bagaimana untuk zakat?

Zakat aman, kalau ASN dipotong kebanyakan langsung. Badan Amil Zakat juga banyak membantu dalam kaitan dengan Covid-19.

Berarti tidak ada dampak penurunan zakat karena pandemi Covid-19?

Ya kalau situasi memang seperti itu. Kalau akal sehat kita mengatakan ada penurunan, ada. Tapi tidak begitu signifikan. Karena ada yang tadinya orang membayar zakat mungkin pada saat situasi sekarang pendapatannya berkurang sehingga zakatnya kecil.

2 dari 2 halaman

Haji 2020


jabal rahmah mulai dipadati jemaah haji

Bagaimana soal kelangsungan haji?

Kita lihat situasi di Saudi juga ada kemajuan tapi tidak signifikan. Tapi sampai saat ini kami masih menyiapkan tiga alternatif.

Satu, berangkat semua sesuai kuota. Kedua, kemungkinan tidak semua kuota hanya setengah kuota karena situasi untuk menjaga jarak dan lain sebagainya. Kemungkinan ketiga ya batalkan.

Tapi semua implikasi dari ketiga kemungkinan itu kami sudah siapkan dengan baik. Sebagai contoh, sampai sejauh ini tidak ada satu sen pun yang pernah kita keluarkan dalam kaitan dengan membayar uang muka kontrak. Baik kontrak angkutan darat, angkutan udara, makan, akomodasi dan lain sebagainya.

Membayar uang muka kontrak belum pernah. Tapi deal2 tetap. Kemudian uang jamaah nanti kami punya beberapa. Dan komisi 8 DPR juga menyarankan itu supaya BPIH dikelola secara terpisah oleh BPKH. Sehingga manfaatnya dimanfaatkan khusus untuk mereka ini. Kami setuju itu.

Supaya fairlah, adil lah gitu. Jadi jangan sampai bipih dia dikelola dan kemudian dimanfaatkan untuk semua. Ini kembali dan dipakai untuk mereka semua. Kita usahakan sebaik-baiknya dan saya yakin sekali optimis tidak akan ada jemaah yang dirugikan.

Masuk juga urutan kalau kali ini dia tidak berangkat, pasti nanti tahun depan urutan segitu juga. Kecuali ada yang mohon maaf ada yang meninggal yang di atas dia.

Artinya dengan dana yang sudah mereka bayarkan, tidak ada serupiah pun yang dirugikan meski gagal berangkat?

Memang kemarin ada salah pengertian sedikit dalam rapat minggu lalu. Kita sebutkan kalau seandainya tidak jadi berangkat haji, dana-dana yang ada kita bisa pakai untuk mendukung Covid-19. Tapi dana itu dana operasional untuk haji bukan dana jemaah. Kalau dana jemaah ya dzalim kalau kita gunakan, tidak boleh.

Kalau itu pasti, pasti aman. Dana operasional yang kita gunakan untuk haji mungkin kalau kita butuhkan untuk Covid-19 kita alihkan untuk Covid-19.

Kalau nantinya batal berangkat, bagaimana sistemnya? Apalagi tahun depan kan ada kuota juga. Apakah doubel atau seperti apa?

Kalau kuota tidak akan bisa ditambah. Karena kalau masalah utama kan di Mina. Setiap kita diskusi dengan Saudi tentang haji penambahan kuota mereka sampaikan alasan dan kita sudah tahu pasti masalah Mina. Mina kan tidak mungkin bisa diperluas lagi.

Sehingga ya, mungkin mundur satu tahun semua mundur setahun dan kita pernah mengalami.

Maksudnya waktu keberangkatan diundur jadi yang tahun ini jadi tahun depan, tahun depan diundur setahun lagi dan seterusnya?

Ya. Kita mengalami tiga kali, pada saat agresi Belanda 1946, 1947, 1948 kita tidak haji. Waktu itu jemaah haji tidak sebanyak seperti sekarang. Kalau dulu, orang batal tahun ini, tahun ini langsung berangkat.

Sekarang macam Banteng menunggu 42 tahun. Rata2 Indonesia nunggu 19 tahun.

Apakah opsi yang dibuat Kemenag sudah cukup baik?

Baik. Dan masing-masing implikasinya sudah kami siapkan. Artinya kalau begini apa yang harus dibuatkan, termasuk kalau jadi berangkat full.

Lalu bagaimana jika jadi berangkat?

Kalau full kuota atau setengah kuota tetap saja kita siapkan sistem pemeriksaan kesehatan lanjutan. Tidak bisa seperti dulu. Pada saat sebelum masuk pemanggilan sudah harus ada pemeriksaan lagi. Sebelum masuk Asrama Haji diperiksa lagi, sebelum berangkat periksa lagi. Sudah kita siapkan juga implikasi-implikasi seperti itu.

Bakal lebih ketat?

Betul.

Termasuk setelah di sana nanti ketemu banyak orang?

Ya di sana juga pasti ada persiapan. Di Saudi juga pasti melakukan hal yang sama.

Makkah sendiri masih kosong sampai saat ini?

Betul. Waktu itu pernah dibuka katanya tawaf tapi tawaf non umrah. Tapi dengar-dengar belakangan ditutup lagi. Kalau lihat situasi seperti itu kita sulit memprediksi bagaimana.

Komunikasi dengan pihak Arab Saudi tetap berjalan?

Iya betul. Dubes kita setiap saat kontak, tanyanya itu bagaimana kondisi di Masjidil Haram, Nabawi bagaimana? Indikatornya kan di sana. Harapan kita sama, semoga bisa berangkat semua kuota bisa berangkat. Kemudian pemeriksaan lebih ketat lagi. (mdk/noe)

Baca juga:
MTI Minta Pemerintah Lindungi Transportasi Umum Saat Masa New Normal
Bima Arya Harap RW Siaga Cegah Pemudik
Suasana PSBB di Bandung Jelang Lebaran, Warga Antre di Outlet Baju Hingga Kantor Pos
Dua Tenaga Medis di RSUP Dr Sardjito Positif Corona
Hasil Rapid Test 247 Warga Joyotakan Solo, 6 Orang Reaktif
Rapid Test 247 Warga Joyotakan Solo, 6 Orang Reaktif
Ada 266 Kasus Positif Covid-19 di Kaltim, 96 Orang Dinyatakan Sembuh

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami