Wawancara Khusus Menteri Agama

Menteri Agama Fachrul Razi: Agama Tidak Menyulitkan Umatnya

Menteri Agama Fachrul Razi: Agama Tidak Menyulitkan Umatnya
Fachrul Razi. ©2019 Merdeka.com
KHAS | 22 Mei 2020 03:29 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Ramadan dan Lebaran tahun ini berbeda. Kita menjalani ibadah puasa dan bersiap menyambut Lebaran, di tengah suasana Pandemi Corona. Ibadah dijalankan, kesehatan tetap diutamakan.

Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan imbauan. Salat Idul Fitri tahun ini, lebih baik dilakukan di rumah. Sama sekali tidak mengurangi pahala. Karena sejatinya Agama hadir bukan untuk menyulitkan umatnya.

Kami berbincang banyak hal dengan Menteri Agama Fachrul Razi. Mengenai cara memaknai Ramadan dan Idul Fitri di tengah Pandemi. Berikut petikan wawancara khusus jurnalis merdeka.com Lia Harahap dengan Menteri Agama Fachrul Razi.

Ini Ramadan pertama kita di tengah pandemi corona. Anda melihat situasi Ramadan tahun ini seperti apa dibanding tahun sebelumnya?

Jelas berbeda ya. Karena mau tidak mau kita harus mengantisipasi adanya Covid-19, tapi kita usahakan membalance supaya ibadah tetap jalan, tetap menghasilkan pahala yang lebih baik dibandingkan dari bulan-bulan lain. Tapi kita juga tidak terkena wabah Covid-19.

Untuk itu memang pemerintah sudah menganjurkan banyak hal. Satu misalnya tidak usah berjemaah di masjid, baik melaksanakan salat harian maupun salat tarawih. Kemudian tidak mudik, tidak melakukan ziarah kubur dan lain sebagainya. Dan itu memang kita imbau supaya yang utamanya supaya kita terhindar dari Covid-19.

Saya kira kalau ngomong pahalanya ya jelas kita paham pahalanya lebih tinggi kalau kita jamaah di masjid misalnya. Itikaf di masjid dan lain sebagainya. Tapi karena ada wabah penyakit ya kita pakai akal sehat kita lah.

Dan agama kebetulan tidak memberatkan. Lalu ada pilihan, contoh saja puasa wajib memang tapi bagi yang sakit, bagi yang dalam perjalanan kan ada pengecualian. Apalagi bagi yang tidak mampu sama sekali, yang sudah renta. Jadi kita gunakan akal sehat, jangan sampai keinginan untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya tapi justru mudarat yang didapat untuk kita maupun orang lain yang ada di sekitar kita.

Imbauan sudah sering disampaikan pemerintah tapi faktanya masih ada yang menjalankan ibadah berjemaah, mungkin karena pemahaman dan keyakinan berbeda. Bagaimana cara meyakinkan mereka?

Memang berat juga ya. Apalagi kalau ngomong kaitannya sama agama lagi tapi kami mencoba mengimbau berulang-ulang. Kemudian aparat keamanan juga turun tangan. Kepala daerah turun tangan dan kami punya ujung tombak sampai di lapangan sampai minta kepada penyuluh agama. Mereka juga turun tangan mengimbau. Ya kembali lagi seperti yang Mbak katakan ya ada juga yang tidak mau patuh karena mereka punya keyakinan yang lain.

Bukan jelek keyakinannya sih, keyakinannya baik juga. Mungkin menurut kami kurang mempertimbangkan tentang masalah risiko yang dia hadapi dengan adanya Covid-19 ini.

Jadi alasannya karena ingin memperoleh pahala atau merasa daerahnya belum terjangkit Covid-19?

Itu tadi yang Mbak bilang betul semua. Ada yang alasannya satu ingin mengambil nilai ibadah yang lebih tinggi dengan berjamaah. Berjamaahkan pahalanya lebih baik, lebih tinggi. Berjamaah jauh lebih baik dan sebaiknya. Ada juga yang mempunyai keyakinan bahwa di kampung kami belum ada yang kena, jadi kenapa mesti takut. Misalnya ada yang bilang begitu. Ada juga yang agak bandel-bandel gitu ya.

Itulah manusia. Tidak mungkin kita memaksakan orang untuk melakukan hal seperti itu sama seperti kita. Yang bisa kita lakukan ya utama mengimbau dan memberikan penjelasan-penjelasan dan kemudian kita juga mencoba menangkalnya di lapangan.

Misalnya pada saat mereka mau ke masjid sudah ditunggu di depan masjid diberikan penjelasan Janganlah, mungkin bapak-bapak sehat, orang lain mungkin kurang sehat. Bapak-bapak kelihatannya sehat mungkin sebetulnya kurang sehat, nanti bisa menularkan ke yang lain. Kalau menularkan ke yang lain nanti kita yang berdosa. Kalau mudaratnya lebih banyak ya janganlah.

Tapi kembali lagi upaya kita yang paling maksimal adalah mengimbau. Kalau dibandingkan persentasenya yang taat dengan yang tidak taat sangat jauh. Banyak yang taat.

muslim thailand laksanakan salat jumat dengan menerapkan jarak fisik

Ada data jumlah rumah ibadah yang sudah patuh dengan imbauan pemerintah?

Secara nasional tidak ada. Tapi saat sidang kabinet beberapa gubernur menyampaikan memang bervariasi sekali. Dan setiap saat berbeda. Jadi sulit menentukan.

Biasanya warga yang sulit mematuhi imbauan itu mereka yang tinggal di perkampungan atau di perkotaan?

Kalau di kampung lebih banyak motivasinya kepada satu hal. Tempat kami belum ada kok. Itu lebih banyak motivasinya ke sana. Yang merasa belum tersentuh Covid-19. Jadi kenapa kita mesti takut sekali. Kalau kita salat di masjid pahalanya lebih tinggi. Nah itu selalu yang memotivasi kalau di kampung, tidak ada yang lain.

Kemenag melibatkan penyuluhan di kampung untuk memberi imbauan?

Kalau tingkat atas kita koordinasi dengan MUI, dengan tokoh-tokoh ormas Islam, NU, Muhammadiyah dan sebagainya. Kalau di ujung tombak kita koordinasi dengan kiai-kiai kampung, ormas-ormas setempat, MUI setempat. Seperti yang saya katakan tadi kami punya ujung tombak sampai tingkat penyuluh agama.

Jadi kalau dibilang yang paling utama dirangkul kiai kampung, ya itu. Penyuluh agama itu yang turun tangan merangkul kiai kampung, ustaz-ustaz di kampung. Kalau ustaz-ustaz kampung ini selain juga pendekatan agamanya ada juga pendekatan pribadinya. Karena biasa setiap hari ketemu, setiap hari ajar ngaji pasti insya Allah wibawanya lebih tinggi.

Baca Selanjutnya: Salat Idul Fitri...

Halaman

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami