Wawancara Khusus Menkop UMKM

Menteri Koperasi UMKM Teten Masduki: Persoalan UMKM Bukan PHK Tapi Usahanya Hilang

Menteri Koperasi UMKM Teten Masduki: Persoalan UMKM Bukan PHK Tapi Usahanya Hilang
KHAS | 6 Mei 2020 07:04 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Pandemi Corona atau Covid-19 memukul sendi kehidupan manusia. Tidak hanya kehidupan sosial, yang terparah adalah sektor ekonomi warga. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Sektor UMKM juga punya masalah sendiri.

"Kalau di sektor UMKM tidak dikenal PHK karena dikerjakan sendiri lewat anggota keluarga. Tapi justru usahanya yang mati," ujar Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Tidak semua UMKM gulung tikar. Kebanyakan dari mereka berinovasi, beradaptasi dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat. Mereka yang mampu beradaptasi justru memiliki peluang untuk tetap bertahan. Apalagi jika mereka mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang selama ini dikuasai produk impor.

Pembatasan barang impor membuka peluang baru. Tantangan saat ini bagi UMKM adalah mengisi ceruk pasar itu. Di sisi lain, kewajiban pemerintah untuk menjaga dan melindungi pelaku UMKM dari ancaman gulung tikar.

Kepada jurnalis merdeka.com Anisyah Al Faqir, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki berbincang mengenai kondisi UMKM di tengah pandemi, peran pemerintah, hingga skenario terburuk yang disiapkan. Berikut petikan wawancaranya.

Hampir semua pelaku UMKM terdampak akibat Covid-19. Bagaimana kondisi mereka saat ini dan berapa lama mereka bisa bertahan?

Saya kira yang paling terdampak memang UMKM. Termasuk juga koperasi simpan pinjam yang anggotanya kebanyakan UMKM. Saat ini juga mengalami kesulitan likuiditas karena para anggotanya yang pinjam di koperasi simpan pinjam mengalami kesulitan bayar. Ini yang sedang kita telusuri.

Kalau kita kelompokkan ada dua. Pertama memang mikro dan ultra mikro yang biasanya pendapatan harian. Ini yang paling terpukul. Sehingga mereka sekarang ini sebenarnya boleh dikategorikan kelompok miskin baru. Mereka tidak bisa jualan sehingga kita dorong untuk dimasukkan ke program bantuan sosial. Nanti ketika masuk tahap fase recovery, ketika sosial distancing dikendorkan, PSB sudah dikendorkan, artinya orang sudah bisa beraktivitas kembali, kita perlu segera didorong pembiayaan untuk mereka.

Sementara itu ada sebagian UMKM yang justru ada opportunity untuk bisa tetap bertahan. Misalnya di sektor makanan, minuman dan beberapa yang sekarang konveksi-konveksi kecil, banting setir untuk memproduksi masker kain. Karena permintaan masker sekarang sedang tinggi.

Ada juga yang memproduksi hand sanitizer, minuman-minuman herbal dan sebagainya. Grocery juga mulai meningkat yang seperti sayur-sayur, jualan online juga meningkat. Ini yang saya kira masih bisa diselesaikan dalam mekanisme ekonomi. Karena itu program di pemerintah khususnya untuk UKM selain ada kebijakan relaksasi pembiayaan itu mencakup, penundaan cicilan selama 6 bulan dan penghapusan bunga kredit sebesar nol persen selama 3 bulan dan 50 persen untuk 3 bulan selanjutnya. Kemudian penghapusan pajak UMKM.

umkm

Saya kira ini bisa membantu masalah fiskal atau cash flow mereka. Selain itu juga sekarang sudah keluar Permenko Perekonomian mengenai KUR. Saya kira termasuk UKM yang sudah menerima KUR ini dimudahkan untuk mendapatkan perpanjangan kredit maupun yang baru juga dipermudah. Jadi kira-kira seperti itu stimulus ekonomi.

Kedua yang memang sudah tidak bisa usaha kita dorong untuk masuk untuk perluasan program bantuan sosial. Tapi Saya kira tidak bisa sampai di situ saja. Karena dalam kajian Kami memang ini setelah pandemi Covid-19 ini selain permintaan mereka menurun, penjualan mereka menurun. Tapi disisi lain juga bahan baku harganya naik, karena itu memang saya kira selain pembiayaan, daya beli masyarakat Kita perbaiki.

Sekarang ini dengan program bantuan sosial yang begitu besar, lalu program keluarga harapan juga diperluas. Lalu kartu sembako ada 10 juta. Lalu yang belum juga saya kira ini akan ditambah lagi. Kalau yang BLT saya lupa angkanya.

Nah ini akan memperkuat daya beli masyarakat. Tetapi juga perlu segera diintegrasikan dengan pengadaan sembako murah. Sebab kalau daya beli diperkuat dengan digelontorkan bantuan sosial yang besar, tetapi kalau kemudian harga pangan yang meningkat, karena kita tahu orang-orang kecil ini kan 95 persen uangnya dibelanjakan untuk makan. Ini juga sudah kita pikirkan.

Integrasi program sembako murah bantuan sosial dengan warung-warung sebagai distributornya sembako, ini sedang kita bahas oleh lintas Kementerian agar memungkinkan. Seperti warung-warung sembako bisa terus berputar ekonominya. Kira-kira seperti itu.

Nah di sisi lain permintaannya juga harus kita dorong. Beruntung pemerintah, Pak Presiden sudah melakukan supaya belanja kementerian dan lembaga itu memprioritaskan produk UMKM. Jadi ini saya kira penting dan kita juga perlu ada gerakan di masyarakat untuk kita membeli produk-produk lokal, membeli produk brand lokal yang diproduksi UMKM. Ini saatnya kita membangun solidaritas.

Dari data Kementerian Koperasi dan UKM, berapa UMKM yang terdampak Covid-19? Sejauh ini sudah berapa banyak UMKM yang gulung tikar?

Kita tidak mudah mendapatkan data UMKM karena besar sekali dan menyangkut 64 juta usaha. Kebanyakan di sektor UMKM, data itu sangat dinamis. Buka tutup usaha itu adalah hal yang biasa. Jadi kami agak kesulitan tapi yang kami pakai sekarang itu data yang terhubung dengan sistem pajak dan kredit di perbankan maupun di Badan layanan Umum (BLU) Pemerintah. Nah kita sudah mengkalkulasi sekitar ada 65 juta nasabah.

Nanti dengan stimulus ekonomi lewat membuka pembiayaan baru yang mudah ini akan terlihat. Tapi yang kita khawatirkan adalah UMKM yang ultra miro yang tidak terhubung dengan perbankan dan tidak terhubung dengan sistem perpajakan. Ini yang sulit dilacak. Kami terus berkoordinasi dengan daerah, dengan berbagai asosiasi simpan pinjam. Memang yang ultra mikro ini sudah terpukul. Mereka sudah tidak bisa usaha. Sehingga kita ingin dorong percepat supaya masuk di dalam program jaminan sosial.

Program jaminan sosial itu kan ada program keluarga harapan (PKH) yaitu sistem jaminan sosial. Kartu Indonesia Pintar, bantuan pangan uang tunai. Ada yang baru yang siap jadi program yaitu program kartu Pra Kerja.

Dana desa juga digeser ke program sosial. Jadi saya kira dengan berbagai itu mudah-mudahan akan tercover. Termasuk pelaksanaan program-program pemerintah lewat padat karya. Saya kira ini paling tidak bisa menjadi di landscape besar dan juga jadi bumper perekonomian.

umkm

Saat ini persentasenya lebih UMKM banyak yang belum terdaftar atau UMKM yang sudah terdaftar?

Sebagian besar sudah tercover. Ada sebagian kecil yang memang belum punya KTP jadi tidak terhubung dan tidak pernah pinjam uang ke bank atau ke koperasi, itu lebih sedikit. Dari angka yang ada, Saya kira sudah ada 65 juta yang pinjamannya di bawah Rp500 juta. Kalau kita lihat statistik UMKM kan 65 juta. Jadi saya kira sudah tercover sebagian besar.

Selama ini produk UMKM selalu kalah saing dengan produk impor. Di tengah pandemi ini banyak negara yang melakukan pembatasan dan pergerakan. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana peluang produk UMKM kita bisa masuk mengisi pasar yang selama ini dikuasai impor?

Sekarang sebenarnya sudah terjadi. Di mana produk UMKM sudah mengisi market dalam negeri karena impornya sudah disetop. Jadi misalnya impor grocery sayur-sayuran, buah-buahan, jamur, itu kan banyak sekali. Nah sekarang kan sudah tidak bisa masuk lagi, nanti diisi dari dalam negeri.

Saya kira juga banyak yang sekarang jualan secara online. Baik dalam skala nasional maupun dalam skala antarkota atau di dalam kota. Jadi bukan persoalan sekarang bagaimana meningkatkan kualitasnya dulu, tetapi karena demand yang tinggi.

Kalau ke depan kita harus menyiapkan UMKM kita punya kemampuan daya saing dengan produk dari luar. Termasuk di dalam negeri karena lewat jejaring online sekarang jadi lebih mudah untuk produk dari luar masuk market dalam negeri.

1 dari 3 halaman

Berapa banyak UMKM yang mengubah lini bisnisnya? Lalu bagaimana peran pemerintah?

Saya kira hampir merata dan kita sudah menerbitkan 2 katalog produk APD masker dan hand sanitizer. Ada yang sudah dikurasi juga oleh PT Daruma untuk quality control. Supaya memenuhi standar kesehatan. Di Jabodetabek Saya kira yang sudah masuk dalam katalog ada 60 UMKM yang memproduksi ini.

Lalu kami juga menerbitkan 300 UMKM yang memproduksi ini di 16 provinsi. Nah ini memang belum dikurasi tapi saya kira yang dibutuhkan sekarang masker kain, tidak perlu bukan masker medis. Nah ini juga sudah kita lumayan bagus responsnya karena lewat penerbitan katalog produk UMKM itu kemudian permintaan jadi banyak.

Kami juga sedang mencari kerjasama-kerjasama dengan aplikasi-aplikasi untuk menghubungkan petani. Misalnya dengan market di tingkat lokal maupun di tingkat nasional. Kami coba terus membantu bagaimana produk-produk UMKM termasuk sektor pertanian itu bisa diserap oleh market. Nah di sisi lain kami juga sudah mendorong agar ASN juga belanja produk UMKM.

Saya kira sekarang kan, saya sendiri di rumah juga belanja lewat warung-warung, lewat by phone. Jadi ini opportunity dan saya kira ketika pada tahap development setelah sekarang untuk survival, lalu recovery dan nanti pada tahap development.

Digitalisasi UMKM satu hal yang mutlak. Karena yang selamat justru penjualan meningkat itu yang sudah terhubung dengan online. Dengan diterapkannya sosial distancing, jaga jarak, PSBB itu justru yang online. Selama ini kan banyak divisi UMKM termasuk koperasi masih ragu-ragu dan khawatir takut dihisap oleh perusahaan besar. Tapi sekarang saya kira ini satu pelajaran penting bahwa penjualan di online, apalagi cashless ini aman dalam situasi yang wabah seperti saat ini.

masker kulit buatan garut

Dalam kondisi seperti ini bagaimana pelaku usaha bisa bertahan, khususnya untuk mereka yang belum beralih ke penjualan online?

Kita, ketika wabah Covid-19 ini sudah melakukan pendataan lewat call center kami. Kita juga sudah mulai melakukan lewat call center kami jadi kita tahu apa masalahnya dan bagaimana kita harus berlaku. Lalu kami juga melakukan berbagai pelatihan untuk Bagaimana UMKM melakukan perubahan dan menangkap peluang-peluang baru.

Saya kira di UMKM ini kan sangat fleksibel. Seperti konveksi tukang bendera yang biasanya sibuk membuat bendera untuk 17 Agustusan, sekarang kita geser mereka untuk membuat masker kain. Jadi kita bikin pelatihan-pelatihan seperti itu. Bagaimana di setiap sektor seperti di makanan, di sektor fashion dan yang lainnya, kita membuat tutorial gratis secara online. Lewat SMESCO, juga mengedukasi UMKM supaya mereka bisa memanfaatkan peluang yang masih ada.

Saya kira itu yang masih bisa kita lakukan karena pelatihan-pelatihan offline kan hampir tidak mungkin, untuk menjaga sosial distancing agar virusnya tidak menyebar.

2 dari 3 halaman

Dari data Kementerian Koperasi dan UKM, berapa banyak pelaku usaha yang melakukan PHK dan berapa jumlah karyawan yang di PHK?

Seperti yang Anda tahu, UMKM terutama yang paling besar itu 63 juta usahanya itu mikro dan ultra mikro. Di sektor mikro ini rata-rata dikerjakan sendiri atau melibatkan kerabat dan keluarga. Jadi saya kira isu PHK UMKM itu tidak menonjol. Tapi justru usahanya yang mati dan kemudian mereka tidak punya.

Jadi mungkin isu PHK lebih ke menengah dan itu pendataannya sedang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan itu sudah masuk sektor formal. Kalau di sektor UMKM tidak dikenal PHK karena dikerjakan sendiri lewat anggota keluarga. Jadi jumlahnya kecil. Karena itu maka kita masukkan mereka ke dalam program bantuan sosial.

Bagaimana skenario terburuk yang disiapkan Kementerian Koperasi dan UKM jika pandemi ini berlangsung lama? Bagaimana strategi Anda menyelamatkan UMKM?

Kita pemerintah sudah menyiapkan stimulus ekonomi bantuan sosial dan program kartu Pra Kerja ini pun dengan perubahan Perppu karena terjadi defisit anggaran yang lebih dari 3 persen. Saya boleh mengatakan, sekarang kita punya cukup uang untuk program jaminan sosial maupun stimulus ekonomi.

Tapi kalau kemudian kita tidak disiplin, menganggap remeh sehingga pandemi Covid-19 ini berlanjut ke tahun depan, itu saya kira akan berat secara fiskal. Karena itu penting bahwa tokoh agama, tokoh masyarakat, kita semua disiplin dan tidak menganggap remeh ini. Kita harapkan dalam tiga sampai enam bulan ini kita masih punya resources yang cukup jadi Covid-19 ini bisa selesai.

Memang mencari utang baru untuk menutupi fiskal karena di dalam negeri pajak juga dikurangi. Artinya pendapatan negara dikurangi dari pajak tapi belanja sosial dan belanja ekonomi tinggi. Lalu dari mana defisitnya ditutupi? Nah Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) menyampaikan, sekarang mencari pinjaman baru itu tidak mudah. Menerbitkan surat utang juga tidak mudah karena semua negara sama dan sekali lagi, makanya penting kita melakukan disiplin dalam tiga sampai enam bulan dan harus dipastikan selesai.

Yang kita khawatirkan itu nanti di kota-kota besar sudah mulai terorganisasi dengan baik, kesadaran masyarakat ini sudah baik, tapi menyebar ke daerah dan terus secara estafet. Nah ini yang paling berbahaya menurut saya secara ekonomi. Karena itu kita khawatir angka pengangguran akan bertambah. Angka kemiskinan akan bertambah. Ekonomi juga saya kira akan berat untuk recovery-nya, jadi ini perlu disiplin semua pihak.

umkm naik kelas lewat bri

Bagaimana strategi Kementerian untuk meningkatkan kualitas produk UMKM setelah pandemi Covid-19?

Kalau saya kira kita belajar banyak dari covid-19 ini. Jadi nanti pada fase development setelah fase survival dan recovery ini kita lakukan, ada banyak hal yang mesti kita beresin.

Pertama big data. Big data untuk UMKM kan menyebar di 18 kementerian, lembaga dan juga daerah. Ini sulit sekali untuk mendapatkan by name by address. Jadi big data ini harus kita beresin supaya kebijakan pemerintah bisa tepat sasaran ,bisa cepat. Nah sekarang ini kan tidak mudah.

Kedua, pembiayaan ini juga berkaitan juga dengan big data. Kalau untuk UMKM ini kan terlalu banyak. Ada di 18 kementerian lembaga termasuk di daerah. Jadi ini kita harus beresin, lebih disederhanakan.

Ketiga, ini memang tadi digitalisasi UMKM. Ini sekarang jadi mutlak. Jadi kita bisa mengambil hikmahnya dan mungkin semua pelaku usaha kecil dan menengah sekarang menyadari bahwa digitalisasi atau penjualan lewat market online ini menjadi penting.

Kebetulan memang digitalisasi UMKM ini kan sudah menjadi program prioritas kita. Selebihnya, bagaimana UMKM kita punya kemampuan daya saing dengan kualitas produk.

Ini yang Saya kira saat ini harus jadi kesadaran semua. Karena kita punya perjanjian perdagangan yang bebas dengan MEA. Pasar dalam negeri kita juga masih diserbu produk asing. Konsumen di dalam negeri dengan mudah pesan produk dari luar, dari online.

Karena itu maka UMKM saatnya membangun untuk meningkatkan kewirausahaannya. Supaya jadi lebih baik dan efisien. Lebih bisa membangun kualitas produknya. Pendekatan-pendekatan yang kami lakukan itu lewat rumah-rumah produksi. Saya kira itu akan kita lakukan mendorong UMKM masuk ke sektor-sektor unggulan dan tidak hanya jual produk biasa secara market.

3 dari 3 halaman

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengusaha yang terdampak Covid-19?

Saya kira pasti ini situasi yang tidak mudah untuk semua. Termasuk untuk pelaku usaha kecil dan menengah. Nah ini saatnya memang kita bekerja sama antara pemerintah dan juga para pelaku usaha kecil dan menengah. Pemerintah berusaha mencari jalan keluar. Dari kesulitan pembiayaan misalnya dengan program relaksasi pinjaman. Termasuk kemudahan pinjaman baru menghilangkan bunga cicilan dan juga menghapuskan pajak.

Tapi sisi lain kita juga menyiapkan bantuan sosial untuk pelaku mikro dan ultra mikro yang sudah tidak bisa lagi usaha. Tetapi ini kan pasti tidak akan memuaskan semua masyarakat.

Nah yang kita urus ini ada sekitar 64 juta pelaku usaha kecil dan menengah dan koperasi. Jadi membutuhkan biaya yang besar. Jadi berhenti mengeluh. Kita sekarang harus sedang berbuat dan optimum kan pembiayaan yang diberikan oleh pemerintah termasuk stimulus yang diberikan.

 

Berikut video wawancaranya:

  (mdk/noe)

Baca juga:
VIDEO: Skenario Teten Masduki Lindungi UMKM
Ratusan Ribu UMKM dan Koperasi di Sumut Terdampak Covid-19
Tips Ampuh untuk UMKM Bisa Bertahan di Tengah Hantaman Badai Corona
Sandiaga sebut Pandemi Covid-19 jadi Momentum Kebangkitan Sektor Agraria
Pembelian Makanan Online Meningkat 300 Persen Selama Corona
Alat Pelindung Diri Produksi UMKM Laku Keras di Pasaran

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami