Merana Jadi Lulusan SMA Jalur Corona

Merana Jadi Lulusan SMA Jalur Corona
KHAS | 15 Mei 2020 07:02 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Dua bulan sudah kelas-kelas di tiap sekolah sepi tak berpenghuni. Lama tak terdengar langkah sepatu para guru dan keramaian suara siswa-siswi. Mereka terpaksa dirumahkan. Termasuk meniadakan ujian nasional (UN) sebagai salah satu syarat kelulusan.

Kebijakan pemerintah meniadakan UN tahun ini, demi menekan angka penyebaran wabah pandemi virus corona di Indonesia. Bagi para pelajar tentu bak sisi mata uang. Ada yang tetap bahagia, namun tak sedikit juga mereka harus menahan kecewa.

Rasa sedih dan kecewa begitu dirasakan para pelajar. Bukan hanya tentang ada atau tidak digelarnya UN. Banyak di antara mereka harus menahan rindu bertemu teman-teman maupun guru di akhir masa sekolah.

Tidak ada kesan akhir yang menyenangkan bagi mereka. Khususnya bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Tahun ini mereka meninggalkan status pelajar tanpa ada pesta perpisahan.

Semua perasaan itu sedang dirasakan Rahma Ayu. Wajahnya selalu murung. Hanya bisa bersedih tiap hari.

Siswi SMA Negeri 34 Jakarta itu harus menelan pil kecewa semua rencana batal. Padahal berbagai persiapan sudah dilakukan. Mulai dari belajar untuk UN sampai menyiapkan malam perpisahan.

Sebagai pelajar di Jakarta, tentu menjadi sesuatu berarti bila ada gelaran malam perpisahan. Di momen itu akan selalu menjadi kenangan seru untuk mereka sampai tua nanti.

Keluarga tidak tega melihat Rahma terus menahan pilu. Tidak ingin larut dalam kesedihan, mereka membuat rencana. Mencoba sedikit mengobati rasa kecewa salah satu putri kesayangannya.

"Sedih lihat adik aku. Dia sering sedih. Mulai dari wisuda sampai malam perpisahan, semua dibatalkan," ujar Rai menceritakan tentang kondisi adiknya kepada kami, Senin lalu.

rahma ayu merayakan kelulusan sma di rumah

Rahma Ayu (kanan) berfoto bersama Sang Kakak, Rai (kiri), ketika merayakan kelulusan SMA di rumah ©2020 Merdeka.com

Rai bersama sang ibu kemudian membuat pesta kelulusan kecil-kecilan. Mereka memesan bunga dan beragam makanan. Semua dipersiapkan dengan sederhana agar bisa merayakan kelulusan Rahma meski hanya di rumah.

Perayaan kelulusan di rumah pun digelar. Seluruh keluarga berdandan. Bak merayakan wisuda, tak lupa bunga diberikan kepada Rahma.

Pesta sederhana malam itu berhasil. Wajah Rahma langsung berbinar. Terlihat rona bahagia bisa merayakan dengan keluarga di rumah.

Seluruh keluarga dipeluk satu per satu. Lumayan bisa mengobati perasaannya yang tengah pilu di hati perempuan muda tersebut.

"Kita berfoto di rumah. Kelihatan sekali adik aku bahagia meski perayaan sederhana," ungkap Rai.

1 dari 2 halaman

Menantian Kepastian

Keputusan meniadakan UN diambil Presiden Joko Widodo usai menggelar rapat terbatas terkait Ujian Nasional di tengah pandemi Covid-19 pada Selasa, 24 Maret 2020. Adapun keputusan itu diambil sebagai bagian social distancing (pembatasan sosial) merespons wabah Covid-19 di Indonesia.

Kebijakan ini berlaku di tingkat SMA atau setingkat Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau setingkat Madrasah Tsnawiyah (MTs), dan Sekolah Dasar (SD) atau setingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga menganggarkan dana UN dialokasikan untuk pencegahan virus corona di Indonesia. Ini sekaligus untuk memfasilitasi banyak sekolah untuk melakukan sistem belajar online.

Selama pandemi corona, semua sistem pendidikan memang berubah menjadi online. Langkah itu dirasa paling maksimal sejauh ini. Selain mencegah penyebaran virus, para peserta didik juga tetap mendapat bimbingan pelajaran.

Cara tersebut juga diterapkan banyak lembaga bimbingan belajar. Seperti dirasakan Raihan Rifandika, siswa Kelas 12 di SMA Islam Al Azhar 2 Pejaten, Jakarta Selatan.

Demi mimpinya berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan mengambil jurusan teknik industri, Raihan sudah jauh hari mengambil paket bimbingan belajar di bilangan Fatmawati.

Seharusnya dia bisa bertatap muka dengan para pengajar. Sayangnya karena pandemi corona, semua harus dilakukan secara online.

"Lebih enak belajar tatap muka langsung sama guru. Lebih jelas, lebih mengerti. Jadi lebih interaktif juga kan, kalau virtual jadi kurang," kata Raihan mengeluh saat bercerita kepada merdeka.com, Selasa lalu.

2 dari 2 halaman

Raihan termasuk siswa yang bernasib sama dengan Rahma. Banyak rencana perpisahan sekolah tidak bisa digelar. Semua terpaksa dilakukan via media sosial untuk menyampaikan ucapan selamat kepada banyak teman sekolahnya.

Sedih sudah pasti. Tidak ada kenangan spesial seperti angkatan lainnya. Justru cap 'Lulusan Jalur Corona' terkadang membuatnya makin sedih. Meski harus disadari itu hanya candaan.

Tanpa mau dibawa perasaan terlalu jauh, ledekan itu kadang tidak terlalu dipikirkan. Dirinya kini malah sedang ketar-ketir menunggu kejelasan untuk ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Menurut dia, banyak temannya yang sudah lolos seleksi nasional masuk PTN. Sehingga sudah jelas akan lanjut kuliah di mana. Tapi, masih banyak juga masih berjuang melalui ujian mandiri. Termasuk dirinya.

Keadaan tanpa kejelasan ini tentu membuat orang tua Raihan cemas. Tiap hari mempertanyakan bagaimana nasib sang anak.

"Orang tua aku khawatirkan. Jadi bukan perkara ada wisuda atau enggak. Kalau itu orang tuaku tidak terlalu masalah, tapi orang tua aku memikirkan ujian-ujian masuk perguruan tinggi," ungkap dia

Kementerian Pendidikan dan Budaya menegaskan bahwa Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tetap diselenggarakan meski sedang pandemi corona. Kepastian itu merupakan jawaban setelah waktu pelaksanaan yang rencananya pada Mei 2020, diundur menjadi Juli 2020.

Untuk pendaftaran dijadwalkan akan digelar pada 2-20 Juni 2020. Adapun untuk pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) direncanakan pada 5-12 Juli 2020 dan pengumuman hasil pada 25 Juli 2020. (mdk/ang)

Baca juga:
VIDEO: Curhat Siswa Lulus Tanpa Ujian Nasional
3 Fakta Peniadaan Ujian Nasional yang Dilakukan Lebih Cepat, Gara-gara Corona
Kemenag: UN dan UAMBN Madrasah Ditiadakan, Belajar di Rumah sesuai Kebijakan Pemda
UN dibatalkan, Komisi X Harap Kemendikbud Segera Keluarkan Juknis
UN 2020 Batal, Ini Panduan Kemendikbud untuk Menentukan Kelulusan Siswa
Mendikbud akan Relokasi Anggaran UN 2020 untuk Penanganan Virus Corona

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami