Mesra PDIP-Gerindra, Pemanasan Pilpres 2024?

Mesra PDIP-Gerindra, Pemanasan Pilpres 2024?
KHAS | 3 Agustus 2020 12:09 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Kemesraan PDIP dan Gerindra di Pilkada 2020 menjadi sorotan. Berbagai spekulasi bermunculan. Duet di beberapa daerah dianggap sebagai ajang pemanasan mesin politik kedua partai di Pilpres 2024. Walau masih terlalu dini siapa calon presiden bakal mereka usung.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih berpotensi maju sebagai capres. Dua kali kalah dari Joko Widodo dalam pertarungan, kini dia bergabung ke dalam jajaran kabinet. Ditunjuk Presiden Jokowi sebagai menteri pertahanan.

Berbagai hasil dari lembaga survei menyebut bahwa Prabowo masih tertinggi. Dari hasil survei Indometer, menunjukkan elektabilitas Ketua Prabowo Subianto masih kokoh berada di puncak di antara tokoh lain berpeluang menjadi calon presiden pada 2024.

Elektabilitas Prabowo bertengger di angka 17,6 persen. Hasil ini turun dari sebelumnya 23,1 persen.

Sedangkan Survei Cyrus Network, Prabowo mendapatkan elektabilitas 18,8 persen.
Melihat trennya, elektabilitas Prabowo meningkat dari Juli 2019 sebesar 16 persen, peringkat ketiga di bawah Sandiaga dan Anies Baswedan.

Hasil positif ini tidak menutup kemungkinan bahwa Prabowo ke depan bakal menjadi calon kuat. Adapun untuk mendapat dukungan dari PDIP, itu masih dinamis. Apalagi di PDIP ada sejumlah kader punya modal elektoral kuat. Seperti Ketua DPR Puan Maharani hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Memang masih terlalu dini untuk menentukan siapa jago bakal diusung PDIP dan Gerindra dalam Pilpres 2024. Meski begitu, secara hubungan saat ini terjalin begitu erat. Apalagi koalisi di daerah sedang banyak dibangun bersama antara PDIP dan Gerindra.

"Secara chemistry kedua partai ini sangat mungkin untuk melakukan koalisi. Memang terlihat sekali dan salah satunya dari bagaimana mereka membangun pola koalisi di banyak Pilkada," kata Direktur Charta Politica Yunarto Wijaya kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Koalisi dibangun PDIP dan Gerindra pada pilkada 2020 merupakan sebuah langkah pemanasan untuk menguji kekuatan mesin partai. Secara psikologis, bagus kalau mereka berani mulai memposisikan diri mengambil sikap berbeda dengan partai koalisi lain. Termasuk berani melawan para petahana di Pilkada.

Dengan strategi ini, sekaligus pembuktian membuktikan apakah dua mesin politik terbesar ini ketika bergabung memang bisa memiliki nilai elektoral. "Terlepas menang atau kalah, ini pemanasan buat memanaskan mesin politik," ujar dia.

Jika menggunakan hasil Pemilu 2019, ada banyak daerah dikuasai dua partai ini. Di banyak daerah, PDIP dan Gerindra kerap bertukar posisi peringkat satu dan dua. Kecuali di Sumatera Barat maupun Aceh.

Atas dasar itulah, dua partai ini berpotensi bakal menjalin koalisi di beberapa daerah yang menjadi tempatnya mendulang banyak suara pada pemilu 2019. Meskipun belum bisa bisa melihat secara rinci peta koalisi PDIP dan Gerindra lantaran rekomendasi yang belum banyak dikeluarkan.

Yunarto melihat besar peluang dari dua partai ini bergabung dan menjadi kekuatan besar di daerah. Misalnya, di wilayah Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Di daerah tersebut, modal untuk koalisi dia nilai sudah cukup. Baik dari sisi psikologis karena kedekatan Mega dan Prabowo juga karena kekuatan elektoral.

"Tinggal tergantung bagaimana mereka bisa mendapatkan sosok yang kuat untuk dicalonkan," terang dia.

Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman mengaku belum bisa menyampaikan secara rinci daerah mana saja bakal berkoalisi dengan PDIP. Semua masih proses penentuan. Beberapa nama diusung partai belum final.

"Masih utak-atik ya masih banyak bisa terjadi perubahan sehingga belum bisa dihitung mana kader yang maju mana yang tidak," kata Habiburokhman.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wuryanto mengakui banyak bekerjasama dengan Partai Gerindra di Pilkada 2020. Alasannya karena hubungan baik antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.

Kebijakan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sangat mempengaruhi para pelaksana tugas partai di lapangan. "Bu Mega akrab dengan Pak Prabowo, kebijakan ke bawahnya kira-kira mengikuti. Kalau Ibu sedang tidak cocok, bawah juga mengikuti," ujar Bambang kepada wartawan.

Kendati demikian, Bambang mengatakan tidak ada perintah langsung dari Megawati kepada kadernya agar berkoalisi dengan Gerindra di Pilkada. Para kader melihat preferensi politik itu dari kedekatan dengan ketua umum. Dia mengakui keakraban Megawati dan Prabowo memberikan pengaruh kepada koalisi di daerah-daerah.

Baca Selanjutnya: Keakraban dua partai bisa dilihat...

Halaman

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami