Mimpi Milenial Melenggang ke Senayan
KHAS | 21 Januari 2019 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Atikah sambil menggendong anaknya berusia balita. Lantang bicara ekonomi bangsa. Di sebuah warung makan sederhana milik keluarga. Berjarak kurang lebih 50 meter dari pintu kereta. Dekat Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Pada usia muda dia memilih jalur berbeda. Berani maju sebagai caleg muda.

Berpolitik bukan hal baru. Wanita 26 tahun ini, sudah terbiasa merasakan dinamika itu sejak kecil. Bahkan mendarah daging. Semua karena sang ayah. Sekaligus mentor politiknya. Membawa pengaruh besar. Hingga membulatkan hati bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mengikuti jejak orangtua.

Wanita bernama lengkap Atikah Shalihat ini membawa misi. Mendorong kekuatan ekonomi Islam. Pilihan itu dirasa sesuai bagi Indonesia. Sebab belakangan dirinya merasa resah. Melihat menjamurnya pinjaman online (financial Technology/fintech). Membuat banyak masyarakat, khususnya anak muda, terjebak dalam rayuan pinjaman. Padahal bunga pinjaman dipatok besar.

Pinjaman melalui fintech dirasa tak wajar. Namun, harus disadari juga bahwa uang pinjaman itu justru disalahgunakan. Kebanyakan memenuhi untuk gaya hidup. Bukan sebagai modal usaha. Alhasil di usia muda mereka terjerat utang dengan bunga tinggi. "Bila tak sanggup membayar cicilan, mereka lantas mendapat teror penagihan. Kan kasian," ujar Atikah kepada merdeka.com, pekan lalu.

Caleg muda PKS, Atikah Shalihat 2019 Merdeka.com/ PKS.id


Alasan membawa misi ekonomi islam lantaran itu merupakan ilmu dia pahami selama kuliah. Sehingga dia menawarkan agar adanya solusi bagi anak muda untuk memudahkan mendapat modal usaha. Sesuai ajaran agama dan tidak menyusahkan kehidupannya.

Sebelum menjadi caleg DPR dari dapil Kabupaten Bogor, Atikah sudah aktif berorganisasi. Dia membekali diri dengan beragam keahlian. Hingga akhirnya dilirik dan diajak ikut bergabung dengan PKS. Sudah hampir lima tahun menjadi kader resmi. Lalu diberi kesempatan sebagai caleg.

"PKS melihat track record saya sebagai aktivis mahasiswa, dan bisa dijadikan representasi milenial untuk ke DPR RI," ujar dia.

Penugasan partai ini lantas dijalankan tanpa beban. Meski sempat membuatnya kaget lantaran baru saja melahirkan, tapi tugas itu dia terima. Dia bersyukur bisa dipercaya partai untuk jadi calon wakil rakyat di Senayan. Izin dari suami sudah didapat. Apalagi sang ayah mertua adalah anggota dewan selama dua periode.

Caleg muda menjadi warna tersendiri dari kontestasi pemilihan legislatif. Deretan wajah para calon anggota dewan tak lagi didominasi para senior atau inkumben. Lebih segar. Memberikan nuansa berbeda. Mereka merupakan kaum milenial.

Kementerian dalam negeri mencatat dari jumlah pemilih 196,6 juta jiwa. Sebanyak 100 juta di antaranya adalah pemilih milenial. Mereka berusia 17 sampai 34 tahun. Bahkan data dari Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) menyebut ada 34,4 persen pemilih kategori milenial.

Dari jumlah tersebut, pada pileg April mendatang, mereka punya calon dari kalangan anak muda. Memiliki semangat perubahan. Para caleg muda beranggapan, politik di parlemen bukan hanya milik orang tua. Anak muda pun layak duduk di Senayan. Membuat aturan dan menciptakan perubahan. Adu gagasan perjuangkan suara rakyat. Serta semangat regenerasi politik.

Kalau Atikah ditunjuk langsung partai lantaran berprestasi. Zainul As'ari justru mendapat tawaran dari sang senior. Zai begitu dia dipanggil. Caleg muda usia 30 tahun dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Maju sebagai caleg DPR untuk daerah pemilihan (Dapil) VI Jawa Timur nomor urut 2. Meliputi wilayah Kota Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung.

Menjadi anggota DPR bukan impian Zai. Tetapi, tawaran itu begitu menggodanya. Sebagai aktivis muda, dia tertantang. Ingin ikut menyuarakan suara rakyat di parlemen. Apalagi dia melihat kehidupan petani di Blitar jauh dari kata sejahtera. Tawaran maju sebagai caleg pun tak dilewatkan. Berharap bisa membawa perubahan.

"Saya nyaleg agar suara milenial ada di pemerintahan. Saya ingin mewakili milenial di DPR," kata Zai saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu di kantor Bappilu Hanura, kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Caleg muda Partai Hanura, Zainul As'ari 2019 Merdeka.com/Muhamad Zul Atsari


Selama ini Zai belajar politik semenjak bergabung Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sering berdiskusi. Guna memahami pelbagai dinamika. Untuk itu, dia meminta para anak muda Indonesia tak boleh lagi apatis terhadap politik. Justru harus terjun. Sebab masa depan negara di tangan anak muda.

Sebagai anak petani, dia merasakan benar pemerintah saat ini masih belum hadir untuk rakyat kecil. Harga panen kerap anjlok. Bahkan harus bersaing dengan barang impor. Zai memang belum memiliki konsep utuh memperjuangkan nasib petani di desa. Namun, dari kekecewaan itu membuat dia ingin memperjuangkan nasib bagi para petani. "Harusnya pertanian digenjot lagi untuk anggarannya," ungkap Zai.

Belum lagi soal regenerasi petani. Anak muda lebih memilih merantau dan bekerja di luar daerah demi mendapatkan kepastian pendapatan. Maklum, bekerja sebagai petani dianggap tidak keren dan tidak memberikan kepastian pendapatan. Tidak instan.

Fokus Perjuangkan Pendidikan

Semangat caleg muda memang menggebu-gebu. Secara kondisi fisik, mereka lebih lincah. Mampu berkeliling ke pelbagai pelosok. Bertemu calon pemilih, memperkenalkan diri dan menyampaikan visi misi. Dijalani dengan semangat.

Pelbagai masalah ditemu. Tak sedikit di antara mereka masih cukup gugup ketika di lapangan. Kurang pengalaman. Bahkan belum dikenal. Justru itu tantangan utama haru dilewati untuk sukses menuju Senayan. Dengan membawa banyak janji dan memastikan bahwa itu bukan bualan.

Kalau Zai ingin memperjuangkan kesejahteraan petani, Siti Wulandari justru ingin dana reses anggota DPR turun sampai ke rakyat. Wulan adalah caleg muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) daerah pemilihan Jawa Tengah IV nomor urut 6. Meliputi Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen.

Gadis 26 tahun ini sempat ikut bekerja sama dengan salah satu anggota DPR. Saat itu dia melihat tiap anggota dewan mendapatkan dana serap aspirasi dari pemerintah. Dana itu seharusnya dikembalikan kepada masyarakat lewat program diperjuangkan. Sayangnya, tidak semua masyarakat menikmati uang itu.

Justru dia melihat, dana reses anggota DPR berhenti di masyarakat tertentu. Tidak tersalurkan dengan baik. Hal itu membuatnya geram. Bagaimana tidak, kata dia, setidaknya dana reses tiap anggota DPR sebanyak Rp 105 juta. Dalam satu tahun, ada lima kali reses. "Saya sebagai anak muda geram melihat ini," kata Wulan pekan lalu.

Caleg PSI Siti Wulandari 2019 instagram.com/psiwulan


Selain itu, Wulan juga memiliki keresahan tentang pendidikan kaum disabilitas. Menurutnya, keberadaan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus masih sangat jarang. Kalaupun ada, sekolah untuk penyandang disabilitas tidak murah. Alasan ini membuat banyak orangtua dengan anak berkebutuhan khusus tidak berani memasukkan anaknya ke sekolah khusus itu. Belum lagi soal ketersediaan lapangan pekerjaan bagi mereka. Masih terbatas.

Demi perjuangkan misi itu, pilihan menjadi caleg diambil. Berharap bisa mewujudkan lewat kebijakan dibuat bersama dengan pemerintah kelak. Wulan memilih berlabuh ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ini diambil lantaran partai tersebut digadang-gadang berisi banyak anak muda.

Kisah berbeda datang dari Astari Aslam. Caleg muda dari Partai Demokrat untuk daerah pemilihan Jawa Barat II nomor urut 2. Meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Tari, biasa dia disapa, maju jadi caleg justru karena ini balas jasa. Sebab, semasa hidupnya selalu mendapatkan beasiswa pendidikan dari pemerintah.

Di usianya baru 26 tahun, Tari merasa sudah waktunya untuk balas budi kepada negara. Dibesarkan tanpa Ayah membuatnya harus berusaha lebih keras menjadi pintar untuk tetap bersekolah tanpa biaya. Mengasah kemampuannya untuk menjadi terbaik dan mendapatkan beasiswa.

Hasilnya, sejak sekolah dasar hingga saat ini kuliah magister hasil dari beasiswa. Setelah dewasa dia sadar. Bukan hanya dirinya memiliki cerita hidup demikian. Banyak anak yatim piatu berusaha untuk sekolah dalam kondisi keterbatasan biaya. Dia ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh terhambat dengan alasan biaya.

Atas dasar itu dia sangat ingin memperjuangkan pendidikan gratis untuk anak Indonesia. Apalagi di Jawa Barat. Pendidikan gratis hanya bisa dinikmati sampai jenjang menengah pertama. Itu pun hanya pada sekolah negeri.

"Itu salah satu kontribusi saya buat negara, balas jasa saya untuk negara," kata Tari pekan lalu kepada merdeka.com.

Finalis Puteri Indonesia ini pun memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Sebab, dalam benaknya dengan menjadi anggota dewan, dia bisa membuat regulasi pendidikan gratis. Sehingga semua anak Indonesia bisa bersekolah tanpa perlu menyusahkan orang tua akan biaya pendidikan yang semakin mahal.

Caleg muda Partai Demokrat, Astari Aslam 2019 Merdeka.com/ instagram @astariaslam


Pilihannya lantas jatuh ke Partai Demokrat. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono. Tari menilai, pilihan kendaraan politik ini cocok untuk membawanya duduk di Senayan. Apalagi banyak senior politik membimbingnya. Di antaranya anggota DPR komisi X, Putu Supadma dan Ketua Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Tari menegaskan tak ada senioritas dan politik uang di Partai Demokrat. Baru satu tahun menjadi kader partai, dia mendapat kesempatan menjadi caleg dari kampung halamannya. "Saya merasa Demokrat ini kendaraan saya yang cocok untuk maju ke DPR," ungkapnya.

Baca juga:
Caleg Muda 'Nol Rupiah'
Paloh Minta Kader NasDem di Sumbar Sosialisasikan Program Partai dan Jokowi
22 Januari Belum Mundur dari Ketum Hanura, Nama OSO Tak Ada di Surat Suara
PDIP Target Curi Suara di Kantong PKS DKI Jakarta
Pemilu, KPU Siapkan 2 Persen Surat Suara Cadangan
Melihat Cara KPU Cek Kualitas Surat Suara Pilpres 2019 Usai Dicetak

(mdk/ang)