Success Story Warung Upnormal

Modal Patungan Hasil di Atas Normal

Modal Patungan Hasil di Atas Normal
KHAS | 13 Maret 2020 09:29 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - "Tantangan kami adalah menyatukan pikiran," kata Sarita Sutedja bercerita ketika membangun bisnis kuliner. Dia tidak sendirian, bersama sederet sahabatnya, mereka urunan demi membangun usaha. Bukan perkara mudah. Mereka kerap bersitegang sebagai proses untuk menghadirkan peluang.

Banyak kepala, bejibun ide, semua dicurahkan agar bisnis tidak salah jalan. Rex Marindo, Budiardi Supasentana, Stefanie Kurniadi, Danis Puntoadi, Pujiana Nurul Hikmah, dan Angga Nugraha, merupakan bagian pendiri Citra Rasa Prima (CRP) Group. Mereka bersama Sarita mendobrak melalui merek kuliner Nasi Goreng Mafia.

Konflik internal sering terjadi ketika awal mula merintis bisnis CRP Group. Semua harus dilalui demi mencapai satu visi. Bagi mereka, kondisi panas dalam adu pikiran bukan menjadi penghalang. Justru membulatkan hati agar terus bergerak maju.

sarita sutedja

Sarita Sutedja ©2020 Merdeka.com

Kesabaran dan hati-hati, menjadi kunci bagi Sarita. Sempat gagal 10 kali membangun usaha dan sudah banyak pil pahit dia telan. Apalagi pengalaman paling buruk ketika ditipu teman sendiri.

"Tapi bisa dibilang yang sekarang kita lakukan memang adalah hasil dari belajar dulu yang gagal itu," ucap dia.

Perasaan itu dia buang dulu ketika merasa yakin dengan para sahabatnya ketika membangun CRP Group. Justru pengalaman itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mencoba.

Hasil urun rembuk, Sarita dan para sahabatnya berhasil mengumpulkan modal kurang dari Rp100 juta. Uang tersebut, hanya bisa dipakai untuk menyewa ruko di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Sisanya dijadikan modal usaha. Kemudian mulai mencicil peralatan, bahan baku, hingga lainnya.

"Karena dulu yang penting kita merasa oke kita akan buka. Komitmen bareng ayo kita jalanin walaupun pada saat kita bentuk Nasi Goreng Mafia," ujar Sarita ketika bertemu merdeka.com di Upnormal Coffe Roasters, Jalan Cihampelas, Bandung, beberapa waktu lalu.

Nasi Goreng Mafia sendiri ada sejak 2013. Belum lama CRP Group berdiri, makanan yang hampir tersebar di kaki lima ini punya warna yang berbeda. Tak ingin seperti biasanya, Sarita dan kawan-kawan membuat nasi goreng dengan ciri khas berbeda. Aroma rempah yang mencolok menjadi daya tarik tersendiri.

1 dari 2 halaman

Satu tahun telah berjalan. Tak puas dengan Nasi Goreng Rempah, CRP Group kembali melebarkan sayap bisnisnya. Pada Juni 2014, muncul Warung Upnormal. Kata Upnormal punya arti sendiri bagi dirinya. Sarita dan kawan-kawan selalu sepakat ingin tidak normal, tapi selalu berusaha di atas normal.

Tempat makan mengusung konsep ala cafe kekinian ini berhasil merebut pasar generasi milenial. Saat ini sudah ada 112 outlet yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tempat nongkrong asik, bersih, nyaman, dan aman tentunya akan melekat bagi setiap orang yag berada di dalam Warung Upnormal.

Warung Upnormal muncul setelah setahun bergelut dengan Nasi Goreng Mafia. Tempat makan ini mengusung konsep ala cafe kekinian dan cukup berhasil merebut pasar generasi milineal.

Tercatat sudah sudah ada 112 outlet tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Mereka mengutamakan tempat nongkrong asyik, bersih, nyaman, dan aman. Kesan itu dirasa Sarita yang kerap melekat di hati para konsumen.

"Upnormal berangkat dari kebutuhan. Karena saat itu 2013 rasanya kan kita kita pernah merasakan jadi mahasiswa. Betul-betul merasa kita butuh tempat nongkrong, kita butuh saat itu lebih kebutuhan mie instan ya. Karena itu sahabat semua orang. Kita menangkap kebutuhan itu, menarget saat itu mahasiswa dan anak sekolah," jelas dia.

Sarita ternyata bukan orang baru dalam dunia bisnis. Sempat mengawali karir di bidang marketing sebagai konsultan pemasaran, kemudian memutuskan mendalami bisnis kuliner pada 2013. Sarita dan para sahabatnya memiliki latar belakang berbeda ketika membangun kerajaan bisnis kuliner CRP Group.

CRP Group saat ini tidak hanya membawahi Warung Upnormal dan Nasi Goreng Mafia. Bahkan sejumlah nama besar, seperti Bakso Boedjangan dan Sambal Karmila turut menjadi bagian perjalanan perusahaan patungan ini. Bukan tanpa hasil, rasanya seluruh merek kuliner mereka hadirkan sudah melekat di hati para konsumennya khususnya yang tinggal di kota besar.

Bukan perkara mudah ketika membangun sebuah perusahaan yang digawangi oleh beberapa kepala. Pemikiran itulah yang terbesit di benak Sarita saat merintis CRP Group. Namun, dirinya melihat itu bukan menjadi halangan namun sebuah tantangan. Bagaimana bisa menyatukan pemikiran yang berbeda ke dalam sebuah visi yang sama.

"Paling penting itu kan adalah pada saat kita internal ya, kita harus menyatukan dulu visinya kita mau jalan ke arah mana. Dan itu harus dituangkan ke dalam bentuk tertulis. Jadi kalau dulu tantangannya itu, menyatukan," ujar dia.

Setelah sukses membesarkan Warung Upnormal, CRP Group kembali mengembangkan lini bisnis lainnya. Perempuan kelahiran 21 Januari itu membuka Bakso Boedjangan pada 2015. Kini sudah ada 68 outlet yang juga tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

"Sebetulnya bakso rasanya hampir semua orang Indonesia tahu bakso. Pada saat kita di awal mendirikan CRP Group ini, kita betul-betul hanya karena melihat potensi makanan kemudian kita juga melihat ke dalam diri sendiri karena kita hobi makan jadi lebih ke sana," tutur dia.

2 dari 2 halaman

Mimpi Buka Cabang di Luar Negeri

Sukses dengan beberapa nama besar di dalam negeri, Sarita dan kawan-kawan belum memiliki rencana untuk membuka cabang di luar negeri. Sebab masih banyak pekerjaan di dalam rumah yang meski diperbaiki, termasuk mengembangkan lini bisnis yang ada di bawah CRP Group.

Sarita begitu menyadari peta persaingan bisnis kuliner di Indonesia memang cukup luar biasa. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya pemain baru. Mereka berlomba untuk merebut pasarnya masing-masing. Berbagai cara dilakukan mulai dari mengedepankan kualitas produk, hingga menyajikan tempat aman dan nyaman melebihi pelayanan yang diberikan tempat lainnya.

Perempuan Lulusan Manajemen dari Universitas Katolik Parahyangan tersebut tidak melihat itu sebagai ketakutan. Melainkan menjadi satu tantangan bagaimana usaha didirikannya tetap mampu bertahan di tengah persaingan.

Agar tidak kalah saing maka dibutuhkan cara-cara lain untuk tetap bertahan. Sarita dan kawan-kawan terus melakukan inovasi, kecepatan dan informasi yang kini menjadi kunci agar bisa bersaing di sektor ini.

"Kalau bicara persaingan yang pasti yang sekarang itu yang unggul itu yang cepat. Kalau kita liat siapa yang tahu informasi lebih dulu, siapa yang bisa implementasi karena tau informasi dia yang menang," kata dia.

Sarita menyebut, persaingan industri kuliner saat ini tidak lagi melihat siapa yang mampu membuat produk itu menjadi enak. Bahkan, tidak juga bicara siapa yang mampu memberikan service pelayanan yang bagus bagi konsumen. Melainkan siapa yang bisa mengimplementasikan lebih cepat.

Sekarang ini yang paling penting baginya adalah terus berpikir membuat rencana kerja ke depan. Bagaimana caranya tetap relevan di masing-masing target pasar. (mdk/ang)

Baca juga:
VIDEO: Robin Boe Bawa Fore Punya 132 Gerai
Mental Fore Besarkan Kopi Digital
Piero: Kita Tak Mungkin Bersaing dengan Nike dan Adidas
Tangan Dingin Lulusan SD Bangun Kerajaan Warteg
VIDEO: Jatuh Bangun Juragan Warteg Kharisma Bahari
VIDEO: 18 Tahun Bertualang Membesarkan Eiger

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami