Ondel-ondel nasibmu kini

KHAS | 3 Oktober 2016 06:04 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Suara musik gambang kromong dengan lagu Betawi mengalun dari speaker yang berada di atas gerobak yang didorong. Sepasang ondel-ondel setinggi hampir 3 meter berjoget mengikuti irama lagu. Seorang remaja kemudian menyodorkan ember kecil meminta uang kepada siapa saja yang ditemuinya.

Satu grup pengamen ondel-ondel ini terdiri dari empat sampai lima orang. Mereka mengamen dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki, kadang hingga ke pinggiran Jakarta dengan menyewa mobil pikap. Ada juga grup yang berisi hingga belasan orang. Mereka biasanya memainkan musik secara langsung seperti tehyan (mirip biola), gendang, kempul, kenong, gong, dan kecrekan. Fenomena pengamen ondel-ondel sudah lama marak. Kesenian Betawi ini seolah turun kasta dan kini berubah dijadikan alat untuk mencari uang dengan cara mengamen.

Sejarawan Betawi JJ Rizal, justru menganggap tidak ada yang salah dengan fenomena itu. Karena sejatinya, ondel-ondel selalu diarak berkeliling dari kampung ke kampung yang dipercaya sebagai penolak bala.

"Ondel-ondel memang menurut tradisi dan sejarahnya berkeliling kampung karena fungsinya adalah tolak bala. Untuk jasanya itu dia diberi imbalan sawer. Jadi kalau kini dia keluar masuk kampung dan disebut mengamen, dia kembali ke tradisi aslinya," kata JJ Rizal kepada merdeka.com, pekan lalu.

Namun di mata Siti Salehah (53), juragan ondel-ondel di kawasan Jakarta Pusat, mengamen dengan ondel-ondel merupakan cara dia memberikan pekerjaan kepada puluhan anak jalanan agar bisa bertahan hidup. Bu Leha, panggilannya, sudah 10 tahun terakhir menyewakan ondel-ondel untuk dipakai mengamen. Ada sekitar 50 anak jalanan yang bergabung dalam beberapa grup yang menjadi pengamen ondel-ondel miliknya.

"Jadi awalnya buat ini (usaha ondel-ondel) karena ibu kasihan. Ibu lagi duduk-duduk di depan rumah, lihat setiap hari banyak anak muda pada nganggur," kata Leha saat ditemui di kediamannya, Jalan Kampung Irian 2, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (29/9).

Persiapan mobil Jakarnaval 2015 ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

"Ibu bilang gini 'eh lebih baik kita bikin ondel-ondel. Ondel-ondel jangan dipakai buat majang doang yang entah mungkin setahun sekali mainnya'. Itu juga mumpung saya adalah uang simpenan. Nah di situ anak-anak akhirnya dikompakin deh sama ibu, akhirnya mereka gini 'ya udah deh yuk bu, kita bikin ngider ondel-ondel'. Mereka itu kan anak-anak nganggur, pada ikut di situ dan alhamdulillah sampai sekarang berjalan," tambahnya.

Ondel-ondel itu dibuat oleh Agus, suami Leha. Sepasang ondel-ondel berikut alat musik, disewakan Rp 100 ribu kepada tiap grup pengamen. Sedangkan untuk biaya sewa mobil pikap, Leha meminta ongkos Rp 150 ribu untuk jarak dekat, dan Rp 250 ribu untuk jarak jauh.

"Jadi yang kerja sama ibu itu ada hampir 50 orang. Di sini kan ada 3 pasang ondel-ondel yang setiap harinya ngider, untuk 1 pasang kalau jalan 1 tim yang terdiri dari 12-14 orang. Dari kerjaan itu, mereka bagi hasil, tapi setoran sehari Rp 100 ribu. Sebulan ibu bisa dapat uang Rp 3 juta sampai Rp 5 juta (dari tiap pasang ondel-ondel). Kalau mereka ya adalah sehari mah Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per orang," ujarnya.

Kendala mengamen dengan ondel-ondel adalah saat musim hujan, "Pokoknya jauh deh penghasilan kalau hujan, ibarat kata buat makan aja udah syukur," imbuh Leha.

Untuk lokasi 'ngider', para anak buah Leha biasanya berkeliling ke kawasan Tanjung Priok, Warakas dan Kebon Bawang, Jakarta Utara. Namun tak jarang juga hingga ke Jakarta Barat seperti Kedoya dan Tanah Abang. Ondel-ondel ini memulai aksinya sekitar pukul 13.00 WIB hingga 23.30 WIB.

"Jadi kita ini banyaknya justru keluar kampung, kalau daerah kita kayak Kemayoran (Jakarta Pusat) kan sudah banyak ondel-ondel, maka sepi dia kalau di sana, jadinya keluar. Ibu senang, mereka mau berusaha, daripada mereka mencuri, copet, ini kan mereka kerja, dapat uang Rp 25 ribu aja sehari misalnya udah girang bener," ucapnya.

Pengamen kesenian tradisional ©2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Tak hanya memberikan pekerjaan kepada anak jalanan tersebut, Leha juga mempersilakan anak buahnya untuk tinggal di rumahnya. Rumah berlantai dua yang sebagian dibangun menggunakan kayu dan triplek itu menampung Leha, sang suami yakni Agus, dan lima anaknya, serta hampir setengah anak jalanan yang tiap hari berkeliling menggunakan 3 pasang ondel-ondel untuk mendapatkan uang.

"Nah mereka juga sebagian tinggal di rumah ibu, ada yang masih umur 14 tahun sampai dewasa tinggal di sini, ya kasihan daripada mereka ngontrak, uang enggak seberapa, mending tinggal sama ibu, kita makan sama-sama, enggak makan ya sama-sama juga. Tidur mereka di lantai satu ramai-ramai, kalau ibu sama keluarga di lantai dua," jelasnya.

Selain juragan ondel-ondel keliling, bersama sang suami, Agus (55), Leha juga kerap menjual ondel-ondel. Agus memang piawai membuat ondel-ondel yang kemudian dijual dengan harga Rp 5 juta untuk satu pasangnya.

"Kami jual ondel-ondel, bapak (Agus) yang buat, ibu yang jahit baju ondel-ondelnya. Buat satu ondel-ondel itu enggak sampai sebulan, bikin kerangka itu 1 minggu, ondel-ondel dan baju segala macam perentelannya 1 minggu. Dari situ kami jual Rp 5 juta per pasang, yang beli biasanya orang kantor, orang rumah sakit, kelurahan, bank kalau buat pembukaan sekalian bikin pita. Kalau jual sih enggak pasti, tapi sebulan selalu ada yang beli," ujarnya.

Jakarnaval 2013 ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Untuk bahan ondel-ondel, Leha memaparkan ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ±80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok yang dibuat dari fiber, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih.

Disinggung mengenai ondel-ondel yang berubah dari pertunjukan kesenian menjadi alat ngamen, Leha mengakui hal itu semata-mata karena faktor ekonomi.

"Sebab begini, kalau buat acara doang kan kita sehari-hari makan, emang enggak butuh makan? Kan gitu. Nah kayak anak yang enggak sekolah, selama begini kan maaf-maaf ya yang namanya pencuri, minta-minta, nyolong, nah kan sekarang yang namanya gini (ngamen) dapat penghasilan alhamdulillah gitu ya enak biar kata tadi saya bilang, megang Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu sehari, mereka kantongin tapi kan girang, enggak nyolong lah kasarnya," tuturnya.

"Lagi pula, ondel-ondel ini kan dahulunya bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat, di situ memerankan leluhur atau nenek moyang yang ceritanya menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Nah makin ke sini semakin hilang kemakan zaman, ondel-ondel makin hilang. Selain kita buat ngamen, kita juga kan kasih lihat bahwa ini loh ada kesenian daerah, yuk lestarikan," ujar Leha.

Leha berharap agar pemerintah tak melakukan pelarangan apalagi sampai adanya razia ondel-ondel. "Anak-anak ini nanti gimana. Lagipula kan kami teratur, enggak sembarangan bikin onar. Kalaupun dilarang, saya mau sih pemerintah kasih ruang kayak dulu kan di Monas tuh banyak, sehingga kami tetap mendapatkan penghasilan minimal untuk makan," kata Leha.

Hal yang sama diungkapkan oleh salah satu anak buah Leha, yang sekaligus pengamen ondel-ondel, Febi (19). Ditemui saat tengah membersihkan ondel-ondel pegangannya sebelum berkeliling, Febi mengaku hingga kini masih bisa bertahan hidup berkat keluarga Leha dan ondel-ondelnya itu.

"Awalnya saya mah makan aja susah, di jalanan aja enggak jelas. Beruntung tahun 2010, saya ketemu Bu Leha terus ditawarin ngamen pakai ondel-ondel. Sejak itu alhamdulillah setiap hari adalah Rp 25 Ribu saya kantongin. Saya bersyukur banget ada ondel-ondel ini. Jangan sampai lah nanti ada larangan ini itu," ujar Febri dengan logat Betawi.

Bersama dengan timnya, Febi biasanya mengelilingi kawasan Jakarta Utara seperti Semper, Warakas dan Pademangan. Dalam aksinya, mereka berjalan menggunakan iringan alat musik tradisional seperti tehyan, gendang, kempul, kenong, gong, dan kecrekan.

"Kami jalan setiap hari, Tapi kadang ada aja kendala yang mengharuskan libur atau jalan agak telat, seperti jatoh ondel-ondelnya, akinya enggak nyala, tehyan copot senarnya. Kalau musim hujan apalagi, pendapatnya jauh, malah kadang kita enggak jalan kalau hujan. Karena kan kita yang ngerawat jangan sampai rusak, kaya ganti baju, ganti rambut, kedok atau muka, kerangka dan lainnya itu perawatan seminggu sekali. Makanya kalau hujan kita milih untuk engga jalan, ya daripada rusak," tuturnya.

Febi mengaku tak terpikir untuk beralih profesi meski penghasilannya pas-pasan. "Di sini kita nyaman layaknya keluarga. Karena kalau buat yang enggak sekolah kayak kita-kita, daripada nongkrong enggak benar, mending ini bisa dapat penghasilan, bantuin orangtua, jauh dari bahaya yang merusak diri dan engga ngerugiin orang lain," tutupnya.

(mdk/bal)