Pacaran hingga gangsir di makam elite

KHAS | 8 Mei 2017 08:40 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Kesan seram dan angker tak terasa di tempat pemakaman umum (TPU) Gunung Gadung di Cipaku, Kota bogor. Bagi orang yang pertama kali datang ke TPU ini justru akan takjub. Saking bagus dan indahnya, TPU ini malah sering dijadikan tempat memadu kasih para sejoli. Bahkan dulu di TPU ini juga sering terjadi pencurian.

TPU Gunung Gadung berada di Jalan Cipaku Raya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Track menanjak setelah melewati Stasiun Batutulis dengan hawa sejuk mulai terasa begitu memasuki area TPU ini. TPU ini lokasinya persis di pinggir jalan. Jalan sepanjang 3 Km di samping kanan kirinya adalah kuburan China. Sesekali ada perkampungan warga.

Menurut Koordinator TPU Gunung Gadung, Suradi Rahmat, TPU Gunung Gadung berdiri di tanah seluas 120 hektare. Dari luas itu, hanya 36 hektare yang dikelola oleh Pemkot Bogor di bawah UPTD Pemakaman. Sisanya dikelola swasta yang berbentuk yayasan dan pribadi.

"Jauh sebelum ada pemakaman elite Sandiego Hills di Karawang, etnis tionghoa sudah banyak yang dimakamkan di sini. Di sini lokasinya dianggap bagus menurut kepercayaan mereka," ujar Suradi kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Meski elite, Suradi menyebut TPU ini memiliki harga yang relatif tidak mahal. Berdasarkan Perda, satu kavling berukuran 4,5 meter persegi dibanderol Rp 600 ribu untuk warga Kota Bogor. Sedangkan bagi warga luar kota Bogor harganya Rp 1.115.000. Untuk perpanjangan sewa pertahun Rp 153 ribu dalam kota dan Rp 206 ribu bagi warga luar kota. Namun harga itu bukan perkavling lagi melainkan per meter.

"Tetapi itu hanya biaya administrasi atau surat menyurat. Untuk biaya bangunan dan sebagainya itu bukan urusan kami. Biasanya mereka menggunakan jasa yayasan," ujarnya.

makam china di tpu gunung gadung di bogor ©2017 Merdeka.com/hery h winarno

Pemilik Yayasan Sami Asih, Mukhtar yang biasa mengurusi jasa penguburan mengatakan, satu kavling lengkap dengan bangunan kuburan biasa dibanderol Rp 50 juta. Itu untuk kavling paling kecil sekitar 4 x 4 meter. Itu juga belum termasuk biasa perawatan.

"Biaya perawatan biasanya Rp 500 ribu pertahun. Untuk perawatan kita melibatkan warga sekitar. Jadi warga sekitar sini bisa dikatakan ikut mendapat rezeki dari TPU," ujar Mukhtar.

Suradi dan Mukhtar tak menampik bila pencurian dulu pernah marak di TPU ini. Para pelakunya juga warga sekitar. Mereka menggali kuburan dan mengambil barang-barang berharga yang ikut dikubur bersama jenazah.

"Sebelum tahun 2000 aksi pencurian atau gangsir memang marak. Pagi di kubur, malam dibongkar. Pelakunya juga memang warga sekitar," ujar Suradi yang diamini juga oleh Mukhtar.

Para pencuri tahu bahwa tidak sekadar jenazah yang dikubur melainkan juga barang berharga seperti perhiasan. Namun kini dengan pengelolaan yang melibatkan warga sekitar aksi gangsir sudah tidak pernah terjadi lagi. Selain itu, kini perhiasan yang ikut dikubur hanya imitasi.

makam china di tpu gunung gadung di bogor ©2017 Merdeka.com/hery h winarno

"Dulu memang marak, tetapi sekarang sudah tidak. Sekarang banyak yang ikut dikubur itu itu cuma perhiasan imitasi bukan lagi asli," kata Suradi.

Megahnya TPU Gunung Gadung juga kerap digunakan untuk memadu kasih para sejoli. Para pengelola makam sering memergoki sejoli bermesraan di kuburan ini meski di tengah malam.

"Wah banyak kalau yang pacaran mah. Sering kita mergokin. Warga juga sering ngasih laporan," ujar Mukhtar.

Kuburan China yang ada di TPU Gunung Gadung memang tidak terlihat menakutkan. Bahkan fasilitas untuk duduk banyak tersedia di sini. Hampir setiap kuburan tersedia gajebo untuk peziarah.

Rezeki saat Ceng Beng

Tradisi ziarah kubur juga dilakukan warga etnis China. Ziarah kubur Cheng Beng atau Ching Bing dilakukan untuk mendoakan serta memberikan sesajen bagi arwah leluhur. Nah di saat Ceng Beng itulah warga sekitar TPU Gunung Gadung mendapat berkah. Cheng Beng sendiri biasa jatuh pada awal bulan April.

Menurut warga sekitar TPU, Rakhmat, saat perayaan Cheng Beng, TPU menjadi ramai. Warga keturunan Tionghoa terus berdatangan dari pagi, siang sampai sore hari ke makam elite ini. Saking ramainya lalu lintas menuju dan dari TPU macet.

"Kalau pas Cheng Beng ramai banget. Sampai macet banget. Keluarga ahli warisnya pada datang ke sini. Ziarah lah kalau bahasa kita mah," ujarnya.

Saat Cheng Beng, warga Tionghoa mempersiapkan sejumlah sesaji untuk leluhurnya yang telah dikubur. Sesaji seperti hio dan lilin merah, kertas simbol uang bahkan makanan dan minuman mereka bawa ke kuburan.

makam china di tpu gunung gadung di bogor ©2017 Merdeka.com/hery h winarno

"Biasanya warga Tionghoa juga memberikan uang kepada yang ngurusi makam leluhurnya. Kadang anak-anak kecil dikasih angpao sama mereka. Semuanya rukun, nggak ada masalah di sini mah," tambah Rakhmat. (mdk/hhw)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.