Kecelakaan Sriwijaya SJ 182

Panjatan Doa dari KRI Semarang

Panjatan Doa dari KRI Semarang
TNI AL gelar pengajian untuk korban Sriwijaya Air SJ182. ©Liputan6.com/Faizal Fanani
KHAS | 13 Januari 2021 11:55 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Malam semakin temaram. Di tengah laut, terdengar doa-doa sedang dipanjatkan. Lantunan ayat Surat Yasin khusyuk dibaca para prajurit di KRI Semarang. Sambil duduk melingkar, suasana hangat begitu terasa di dalam aula persis dekat dek landasan helikopter.

Tidak ada seragam militer digunakan. Semua pangkat jabatan mereka lepas sementara. Berganti pakaian lebih sederhana untuk beribadah kepada Sang Pencipta.

Sejak Magrib hingga lepas Isya, para prajurit tidak keluar dari ruang aula. Semua khusyuk meminta agar selalu diberi keselamatan dalam menjalankan tugas. Sekaligus mendoakan para korban kecelakaan maut pesawat Sriwijaya SJ 182 di sekitar perairan Pulau Laki dan Lencang.

"Hanya kekuatan Allah untuk kita dapat melaksanakan tugas dengan baik," ujar Komandan Satuan Tugas Laut (Dansatgasla) Operasi Sriwijaya, Laksamana Yayan Sofyan, ketika memimpin pengajian pada Senin malam itu.

tni al gelar pengajian untuk korban sriwijaya air sj182

Sejak hilang kontak pukul 14.37 WIB pada Sabtu, 9 Januari 2021, sejumlah personel TNI-Polri dan Tim SAR segera melakukan pencarian. Lokasi pesawat Sriwijaya SJ 182 tidak lama mulai diketahui titik koordinatnya.

Lokasi jatuh pesawat di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang. Adapun jumlah manifest pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sebanyak 62 orang. Jumlah itu terdiri dari 50 penumpang dan 6 kru aktif dan 6 ekstra kru. Sejauh ini total sudah empat korban berhasil diidentifikasi.

Doa selesai dipanjatkan. Para prajurit sebagian kembali bertugas. Adapula yang bersantai sejenak maupun masuk ke dalam kamar istirahat. Wajah lelah tidak bisa dipungkiri terlihat dari raut para prajurit ini.

Sebelum mengakhiri malam, para prajurit sempat berkumpul dan bercerita di kala senggang. Salah satu kisah menarik diceritakan tentang keberadaan perompak. Bak film 'Pirates Of Carabian" yang dibintangi Johnny Depp. Seorang personel TNI menuturkan kisahnya.

Sambil tertawa, prajurit itu bercerita. Harus diakui memang benar adanya perompak di tengah laut. Biasanya di ujung laut Sumatera. Para perompak di laut memang cukup kejam. Mereka dilengkapi dengan kapal dan persenjataan cukup kuat dalam melancarkan aksinya.

Para perompak banyak mengincar kapal muatan barang-barang. Kondisi ini yang sering kali membuat para prajurit jarang pulang lantaran harus memastikan keamanan laut Indonesia.

Selain kejahatan di tengah laut, ada pula hal mistis yang dipercayai. Misalnya tentang keberadaan legenda Nyi Roro Kidul atau biasa dijuluki Ratu Pantai Selatan. Prajurit muda itu mengaku segala hal gaib memang ada. Untuk itu para prajurit ketika saat berada di laut harus terus menghormati apapun.

Termasuk suara lonceng kapal KRI Semarang yang selalu berbunyi beberapa waktu sekali. Dari pengakuan dia, bunyi lonceng itu bukan sekedar suara tanda. Namun ada makna di balik bunyi. Salah satunya sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni di laut.

"Itu bentuk penghormatan juga, bukan sekedar tanda," katanya sambil menunjuk ke atas saat lonceng berbunyi.

Banyak sekali cerita yang disampaikan personel itu mulai dari rindu dengan keluarga, pasangan, sampai rindu dengan daratan ketika tidur tak ada sama sekali goyangan. Semua diceritakan hingga larut malam.

Baca Selanjutnya: Memasuki tengah malam obrolan santai...

Halaman

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami