Papua Melawan Stigma

KHAS » MALANG | 23 Agustus 2019 07:22 Reporter : Wisnoe Moerti

Merdeka.com - "Kenapa orang Papua kasar, pemabuk dan tukang onar?" Pertanyaan ini sering diterima Ricky Cuan. Bagi dirinya terdengar seperti merendahkan. Bukan hanya ucapan. Terkadang dia dijauhi karena perawakan dianggap menyeramkan.

Mahasiswa kelahiran Wamena, Papua, ini mencoba melawan. Menunjukkan bahwa golongannya tidak seperti orang lain tuduhkan. Menghilangkan cap pembuat onar dan stigma negatif lain. Walaupun harus dia akui banyak pikiran buruk tentang orang Papua itu memang menyakitkan.

Pengalaman buruk pernah dialami Ricky ketika bekerja paruh waktu sebagai tukang service pendingin ruangan. Upah Rp 25.000 hingga Rp 70.000 per hari. Saat itu dia ditugaskan memperbaiki di rumah warga. Sampai di lokasi, sang pemilik rumah justru ketakutan. Dia disangka penagih utang.

Rasa malu tak bisa disembunyikan. Pria 23 tahun ini harus bersabar. Menjelaskan pelan-pelan. Padahal harga dirinya terkoyak. Ricky tak mau emosi. Dia memilih melawan dengan senyuman. "Padahal Papua hanya muka seram, hatinya lembut," ucap dia menceritakan.

Ricky mengejar pendidikan tinggi di Universitas Pamulang. Menjadi mahasiswa jurusan teknik elektro, angkatan 2013. Kami bertemu di sebuah rumah di Gang Puri Intan 2, Ciputat Timur pada Rabu, 21 Agustus 2019 lalu. Hari-harinya dilewati bersama rekan sesama mahasiswa asal Jayawijaya.

Sudah enam tahun dirinya meninggalkan tanah kelahiran. Atas nama cita-cita, menetap sementara di Pulau Jawa. Tepatnya di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Berjarak 3.573 kilometer dari kampung halamannya di daerah pegunungan Jayawijaya.

Bukan hanya stigma negatif dialami. Ricky dan kawan sesama mahasiswa Papua kerap mengalami perundungan. Pengalaman pertama itu justru dirasakan ketika di gerbang kampus.

Masih membekas dalam ingatan. Berstatus sebagai pendatang, dia mendapat sambutan tak menyenangkan. Gara-gara dialek dan cara bertuturnya tak seperti orang kebanyakan. Ditambah tata bahasa tak beraturan. Ricky Merasa direndahkan. Meski itu disampaikan lewat nada guyonan.

"Orang Papua ngomong enggak jelas, pulang saja lu," kata Ricky menirukan kata orang-orang.

Perlakuan seperti itu jadi makanan sehari-hari. Hati kecilnya emosi, tapi tak diladeni. Harus diterima dengan lapang hati. Kekecewaannya harus dipendam dalam-dalam. Karena stigma justru terjadi di tempat banyak orang berpendidikan.

Akal sehat menuntun Ricky untuk lebih menahan diri. Belajar menjadi pribadi lebih matang. Ingat pesan dari orangtua bahwa meninggalkan kampung bukan untuk baku pukul.

Cerita pahit itu bukan hanya dirasakan Ricky. Pengalaman hampir serupa juga dialami Fajar Cuan, rekan satu rumah dengannya. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini harus menambah rasa kesabaran.

Dalam banyak kesempatan, dia merasa terhina. Mungkin orang lain tidak bermaksud demikian. Tapi gestur tubuh seseorang manakala berada di dekat mereka, secara tidak langsung memperlihatkan. "Ada ibu di sekitar sini. Saat saya lewat, dia tutup hidung dengan kerah pakaiannya. Itu secara langsung menyakiti," kata Fajar memperagakan.

Selama dalam batas kesabaran, Fajar bisa menerima perlakuan itu. Jika sudah kelewatan, mahasiswa asal Walesi, Kabupaten Jayawijaya, ini tak sungkan menegur.

Sebenarnya, kata Fajar, diskriminasi juga terjadi sesama orang Papua. Mereka terpolarisasi. Ada orang gunung dan pesisir pantai. Arus globalisasi dan modernisasi dituding jadi penyebabnya.

Orang Papua di pesisir pantai lebih dulu menerima modernisasi. Mengingat ada pusat kota di sana. Sementara orang di pegunungan, cenderung tak seberuntung mereka. "Mereka pandang orang gunung pedalaman. Orang gunung suka bikin kacau. Ini rasis level rendah. Mereka anggap kita orang pedalaman, suka mabuk, bikin onar," ujar dia.

Pandangan miring, stigma dan rasisme tidak akan pernah hilang. Turun temurun dari zaman kolonial. Saat bangsa Eropa menjajah Indonesia. Pribumi dipandang rendah. Sama halnya ketika Eropa memandang Afrika sebagai budak. Sama seperti warga kulit putih di Amerika memandang rendah kulit hitam.

Orang Papua lebih banyak dipandang dari sisi negatif. Fajar tidak ingin jatuh dalam kekecewaan. Senior di organisasi mengajarkan mereka cara menghadapi stigma dan diskriminasi yang datang bertubi. Kuncinya, tak membiarkan akal sehat dikuasai emosi.

"Sejauh ini tidak pernah saya represif ke orang lain. Kalau ada stigma buruk ke saya, pikir positif. Kadang saya lupakan," ucap pria 27 tahun ini.

Ricky juga punya cara melawan stigma. Dia menjawab semua kritik dan hinaan dengan prestasi di akademik. Menguasai materi perkuliahan, dia juga aktif dalam organisasi pergerakan. Mengorganisir banyak orang.

Dengan cara itu, pembawaan diri lebih tenang dan gaya bertutur makin baik. Sehingga orang lain tak lagi memandangnya rendah. Mereka yang sebelumnya memandang sebelah mata, dengan sendirinya tertunduk. "Lambat laun akan menyadari. Jadi malu mereka," ujar Ricky mengungkapkan.

Baca juga:
Satu Jiwa Demi Membangun Papua
Cerita dari Asrama Mahasiswa Papua
Bangun Suasana Damai, Wali Kota Malang & Bupati Puncak Papua Bertemu di Padang
Warga Lumajang Gelar Aksi Solidaritas Kebangsaan untuk Papua
Perwira Polwan di Bandung Diduga Beri Miras ke Mahasiswa Papua

(mdk/ang)