Persahabatan Liem Koen Hian & AR Baswedan untuk Kemerdekaan Indonesia

KHAS | 16 Agustus 2019 07:06 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Surabaya, tahun 1932. Harian Melayu-Tionghoa Sin Tit Po mengkritik asosiasi sepak bola Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Organisasi ini dianggap melakukan diskriminasi kepada etnis Tionghoa.

Asosiasi tempat berkumpul klub sepakbola dari bermacam golongan etnis. Di antaranya Belanda, Tionghoa, Arab, Indonesia dan etnis lainnya.

Diskriminasi dilakukan pengurus NIVB membuat sosok Liem Koen Hian geram. Dia membuat gelaran sepak bola tandingan. Pesertanya semua klub sepak bola di Pulau Jawa.

Liem merupakan Pemimpin Redaksi Sin Tit Po. Dalam kompetisi tandingan, klub sepak bola golongan Belanda sengaja tidak diikutsertakan. Acara sukses, menyedot banyak perhatian.

Sehari sebelum gelaran pertandingan, Abdurrahman Baswedan tiba di Surabaya. Kedatangannya dari Kudus bermaksud memasarkan produk rokok kretek. Baswedan, begitu dia disapa, menyempatkan hadir sebagai penonton. Tak disangka, dia bertemu dengan Liem Koen Hian.

Momen itu pertama kalinya mereka bersua. Dalam pertemuan itu, Liem mengaku sudah pernah membaca tulisan Baswedan diterbitkan Sin Tit Po. Meski beretnis Tionghoa, Liem berprinsip Indonesia adalah tanah airnya.

Kecintaan terhadap bumi nusantara membuat Liem menjadikan Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa. Melainkan harian bagi publik tanpa mengenal warna kulit. "Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa, melainkan koran bagi bangsa kulit berwarna," kata Liem pada Baswedan saat itu dalam buku Biografi AR Baswedan berjudul Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan ditulis Sutarmin dan Didi Kwartanada.

Dalam kesempatan itu, Liem mempersilakan Baswedan untuk menulis di koran miliknya. Liem dan Baswedan ternyata memiliki semangat sama. Mereka ingin mengusir Belanda dari bumi Nusantara.

Tawaran Liem disambut baik. Baswedan merasa mencium aroma pergerakan Sin Tit Po sejalan sesuai dengan keinginannya. Lewat kerja sama itu hubungan keduanya semakin dekat. Mereka kerap bertukar pikiran tentang berbagai hal.

Tak butuh waktu lama untuk Baswedan diterima di Harian Sin Tit Po. Berkat bantuan Liem, dia dipercaya mengisi rubrik Abunawas. Kesempatan itu digunakan untuk menyampaikan kritik dan berbagai pemikirannya.

Pada masa pemerintahan Belanda, penduduk Indonesia terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah orang-orang Belanda dan keturunan bangsa Eropa. Kelas kedua, yaitu para pendatang dari Asia Timur seperti Tionghoa, Arab, India dan lainnya. Sementara kelas ketiga adalah pribumi, penduduk asli nusantara.

Pembagian kelas dilakukan Belanda untuk mempermudah gerak dalam memanfaatkan berbagai macam kelompok untuk kepentingannya. Menurut Asep Kambali, seorang sejarawan, menyebut awal 1900-an muncul istilah politik etnis. Pada masa ini juga dinilai sebagai titik tolak kebangkitan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Belanda, penduduk Indonesia terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah orang-orang Belanda dan keturunan bangsa Eropa. Kelas kedua, yaitu para pendatang dari Asia Timur seperti Tionghoa, Arab, India dan lainnya. Sementara kelas ketiga adalah pribumi, penduduk asli nusantara.

Sejarawan Asep Kambali menjelaskan, golongan kelas pertama pusat kota mengurus pemerintahan dan area strategis perpolitikan. Untuk golongan etnis Arab, India dan Tionghoa menempati posisi strategis secara ekonomi. Mereka banyak di area pasar Tanah Abang, Jatinegara dan Senen. Sedangkan pribumi hanya hidup biasa.

©2019 brilio.net

Pengelompokan strata sosial menimbulkan pro dan kontra. Tidak sedikit kelompok peranakan menentang konsep buatan Belanda. Apalagi Belanda kerap semena-mena dan memanfaatkan kelompok kelas dua. Sentimen ini pada akhirnya membuat kaum peranakan etnis mulai gerah.

"Orang tionghoa dan arab itu penjelajah, bukan penjajah. Mereka datang untuk berdagang dan membuka perekonomian," kata Asep saat ditemui merdeka.com pekan lalu.

Lahirnya Partai Tionghoa Indonesia

Liem Koen Hian merupakan salah seorang tokoh pergerakan nasional. Liem peranakan Tionghoa asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia lahir tahun 1897. Pernah mengecap sekolah Belanda dan lolos dalam ujian masuk Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hoge School) di Jakarta. Namun, sekolah itu tak diselesaikannya.

Berbagai literatur mencatat, semasa hidupnya Liem bekerja di berbagai harian surat kabar. Mulai dari Majalah Penimbangan di Banjarmasin, Tjhoen Tjhjioe di Surabaya, Soearea Publiek, Sin Tit Po. Selama di Jakarta, Liem juga membantu di Majalah Panorama, dan memimpin Majalah Timboel.

Pada 25 September 1932, Liem bersama teman-temannya mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) di Surabaya. Liem dan kelompok peranakan Tionghoa menyadari mereka adalah orang Indonesia. Lahir, dibesarkan di Indonesia dan mati pun akan dikuburkan di Indonesia.

Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, bercerita tentang sosok Liem yang dikenal memiliki semangat kebangsaan. Masa itu, etnis Tionghoa terbagi menjadi beberapa poros. Satu poros berkiblat ke Tiongkok sebagai tanah leluhur. Poros lainnya adalah kelompok menganggap Indonesia merupakan tanah airnya. Di kelompok kedua ini Liem berdiri.

Lewat harian Sin Tit Po, Liem menyuarakan lantang tentang pergerakan. Bahkan dengan berani Sin Tit Po mengganti Hindia Belanda dengan kata Indonesia. Penggunaan kata Indonesia masih tabu di tahun 1920-an. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman juga dipublikasikan di sini.

"Itu dilakukan dua tahun sebelum sumpah pemuda, dimuat di rubrik, itu berani sekali," ungkap Azmi saat ditemui merdeka.com pekan lalu.

©2019 Merdeka.com

Banyak tokoh nasional bekerja untuk Sin Tit Po. Termasuk sosok WR Soepratman. Bahkan Soekarno juga dekat dengan banyak tokoh di media ini. Menurut Azmi, surat kabar milik etnis Tionghoa ini banyak menyokong pergerakan para aktivis saat itu. Mereka juga bergerak di bidang pendidikan dengan mereka mendirikan Kelompok Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) tahun 1900-an

Tahun 1920-an, gelora kebangkitan kemerdekaan mulai terasa. Berbagai organisasi berbasis etnis mulai terhubung dan bersatu. Tujuannya sama, mengusir penjajahan Belanda dari Indonesia.

Termasuk lahirnya Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Liem merupakan salah seorang pendiri. Mereka memiliki tujuan membantu kemajuan ekonomi, sosial dan politik di Indonesia. Kelompok ini sekaligus jadi pemberontak bagi kelompok Tionghoa lain dibuat Chung Hwa Hui.

Chung hwa Hui merupakan peranakan Tionghoa yang berpendidikan Belanda. Kelompok buatannya dikenal memusuhi orang pribumi. Mereka juga dekat dengan pemerintahan Belanda. Dalam kelompok ini terdiri dari kaum profesi, intelektual dan pengusaha terkenal di Jawa.

Tujuan Chung Hwa Hui juga bertolak belakang dengan PTI. Mereka memiliki misi memajukan kedudukan sosial, ekonomi dan politik orang Tionghoa semakin berada. Para pemimpinnya banyak mengadopsi pemikiran dan tindakan orang barat. Wakilnya di Volksraad pun condong berpihak ke Belanda. Mereka juga menjauhkan diri dari persoalan antara Belanda dan golongan pribumi.

Menginspirasi AR Baswedan

Hubungan Liem Koen Hian dan AR Baswedan semakin akrab. Persahabatan mereka melampaui batas etnis dan kepentingan kala itu. Dua tokoh ini kerap bertukar pikiran. Baswedan banyak belajar dari Liem, sang pendiri PTI.

Pengalaman Liem membuatnya tergerak berbuat sesuatu untuk Indonesia. Kala itu di tubuh kelompok Arab juga sedang terjadi perpecahan. Adanya gesekan antara kaum Sayid dan Non Sayid.

Tiap etnis Arab di Indonesia mendirikan organisasi. Ar Rabitah berdiri tahun 1928. Kelompok ini merupakan masyarakat arab golongan Sayid. Sementara golongan Non Sayid mendirikan organisasi Al Irsyad tahun 1915.

Sebagai peranakan Arab, Baswedan termasuk dalam golongan Non Sayid. Beberapa tulisan dan pemikirannya tidak sedikit mengkritisi golongan Ar Rabitah. Sebenarnya dia merasa gerah dengan perseteruan dua golongan ini.

©2019 brilio.net

Pemikirannya tentang nasionalisme belum cukup matang saat itu. Lewat Liem, sosok Baswedan banyak belajar tentang pengalaman mendirikan partai berbasis etnis. Hingga akhirnya muncul ide untuk menyatukan peranakan arab.

Anies Rasyid Baswedan, cucu AR Baswedan, menceritakan bahwa tahun 1934 kakeknya mendirikan organisasi Persatuan Arab Indonesia. Perkumpulan ini bertujuan untuk menyatukan keturunan Arab di Indonesia.

AR Baswedan, menurut Anies, berpikir untuk menyatukan mereka dalam satu wadah dan bersepakat untuk mendeklarasikan Indonesia sebagai tanah air. Selanjutnya di kemudian hari, Persatuan Arab Indonesia (PAI) bertransformasi menjadi partai politik.

"AR bersama keturunan Arab lainnya yang progresif berhasil mendirikan PAI pada 1934," kata Anies kepada merdeka.com pekan lalu.

Gubernur DKI Jakarta itu mengaku tidak terlalu mengenal sosok Liem. Dia hanya pernah mendapat cerita bahwa Liem dan keluarganya sempat meminta perlindungan AR Baswedan. Ketika itu Liem menjadi buron tentara Jepang.

Saat itu, pasukan Jepang mendarat di berbagai wilayah Jawa. Mereka membubarkan berbagai macam partai politik. Termasuk PAI, besutan Baswedan. Penertiban terhadap media massa juga dilakukan. Hanya koran berbahasa Tionghoa yang dibiarkan terbit, yaitu Kung Yong Pao.

Baswedan saat itu menjadi pembina kantor berita Antara di Jakarta. Jepang ingin mengganti nama kantor berita Antara menjadi Domei. Ide ini lantas ditentang. Baswedan tidak sendiri, anggota pembina lainnya juga memiliki keyakinan sama. Dianggap mengganggu, Baswedan kemudian ditangkap.

Saat menjalani interogasi di markas militer Jepang di Gedong Loji, Solo, datanglah Mr Singgih. Seorang tokoh Parindra yang mengenal Baswedan. Singgih memang bekerja untuk pemerintah Jepang. Melihat Baswedan, Singgih meminta tentara Jepang melepaskannya. Singgih memastikan kepada Jepang bahwa Baswedan adalah tokoh nasionalis anti Belanda.

Bersih-bersih tentara Jepang dilakukan juga di Solo. Liem jadi target operasi Jepang lantaran tulisannya di koran Mata Hari. Liem memang dikenal wartawan anti Jepang. Bahkan di Solo, banyak etnis Tionghoa membenci PTI besutan Liem.

Merasa terancam, Liem memboyong keluarganya ke rumah Baswedan. Liem memilih lari ke rumah Baswedan ketimbang bersembunyi di rumah para kelompok Tionghoa. Dia beranggapan Jepang tidak mungkin menggeledah kediaman Baswedan.

Menurut Anies, Jepang tidak akan berani macam-macam dengan tokoh Islam seperti AR Baswedan. Tanpa pikir panjang, Baswedan bersedia menampung Liem dan keluarganya dari kejaran tentara Jepang. Sikap ini memang menuai kecaman dari para sahabat Baswedan. Sebab bisa membahayakan dirinya dan keluarga.

"Persahabatan mereka di atas segalanya. Karena itu, AR berani ambil risiko untuk melindungi mentornya, Liem dan keluarganya," kata Anies mengungkapkan.

Akhirnya Liem dan keluarganya selamat. Setelah satu bulan, Liem dan keluarga kembali ke rumah. Mereka merasa sudah aman dan memutuskan kembali. Sayangnya, di tengah perjalanan, mereka justru jadi korban perampokan. Selebihnya Anies mengaku tidak tahu kabar mereka. Semasa hidup sang kakek juga tidak banyak bercerita tentang sosok Liem.

(mdk/ang)