Pilu Setelah Pemilu

KHAS | 29 April 2019 08:03 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Sukaesih masih berduka. Suaminya, Rudi Mulia Prabowo, meninggal usai menjalankan tugas negara sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Kepergiannya juga membuat sedih Ines, putri semata wayangnya. Diduga kelelahan menjadi faktor utama.

Dalam Pemilu Serentak 17 April 2019, Rudi bertugas di TPS 009 wilayah Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur. Tiga hari sebelum pemungutan suara, Rudi memang lebih sibuk dari biasanya. Mengikuti bimbingan teknis (bimtek) dari Panitia Pemungutan Suara (PPS) di kelurahan. Lalu rapat dengan tim KPPS untuk berbagi tugas memberikan arahan.

Rudi memang berpengalaman sebagai petugas TPS. Kesempatan ini bukan pertama kalinya bagi. Sejak pemilu 2009, dia sudah sering terlibat. Hanya saja, ini kali pertama dia ditunjuk sebagai ketua KPPS. Mandat dari ketua RT di tempatnya tinggal.

Kepercayaan itu dipegang Rudi. Dia bekerja maksimal. Tak ingin ada kesalahan dan menjalankan tugas sesuai dengan aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Satu hari sebelum pemungutan suara, Rudi disibukkan dengan persiapan pembuatan TPS. Bahkan ikut menjaga hingga pukul 2 dini hari. Apalagi lokasi tempat pencoblosan berada di pinggir jalan. Membuatnya dan panitia khawatir ada pihak lain ingin mengganggu surat suara.

Sekitar jam 5 pagi, Rudi sudah kembali ke TPS. Bergegas hingga tak sempat sarapan. Mengejar waktu. Sebab, jam 6 pagi dia harus sudah ada di TPS yang berjarak 500 meter dari rumahnya. "Pagi-pagi dia sudah ke TPS lagi, enggak sempat makan juga," kata Sukaesih kepada merdeka.com.

Waktu pemilihan dimulai. Satu per satu warga pemilik hak pilih berdatangan. Tugas Rudi dan para panitia berjalan normal. Sampai waktu pemilihan ditutup.

Tiba waktu makan siang. Nasi kotak masih belum tersentuh Rudi. Dia sibuk mengurus pekerjaannya. Ines yang menjadi saksi untuk peserta Pemilu sempat mengingatkan sang ayah makan siang. Namun, ayahnya kembali melewatkan makan siang. Dia memilih menjaga kotak suara saat teman-teman lain rehat makan siang dan salat Zuhur.

Menurut Ines, warga sangat antusias ikut dalam pemungutan suara. Dari 287 pemilih terdaftar di TPS dekat rumahnya itu, ada 260an pemilih hadir.

Hingga malam hari, nasi kotak masih belum tersentuh. Ines pun kembali mengingatkan sang ayah. Lagi-Lagi Rudi malas berhadapan dengan fakta soal kesehatan. Dia baru makan malam hari. Bahkan saat ke kamar mandi saja, dia harus tetap berkomunikasi agar memastikan surat suaranya tidak ada yang menyentuh kotak suara.

Saat penghitungan suara, Rudi bertugas memegang pengeras suara. Membacakan tiap surat suara setelah tercoblos. Namun, di tengah-tengah acara di memohon untuk digantikan karena merasa kelelahan. Sukaesih pun menghampiri, lalu memijat leher dan pundak sang suami. Setelah merasa lebih baik, Rudi kembali mengambil alih tugasnya lagi.

Proses penghitungan suara berlangsung hingga dini hari. Setelah itu dia dan timnya mengurus sejumlah formulir untuk sebelumnya diantar ke GOR PPK. Baru menjelang subuh dia bisa merampungkan tugasnya di TPS. Setelah itu dia bergegas menuju GOR Kecamatan untuk mengantar kotak suara.

Setibanya di GOR, Udi dan beberapa anggota KPPS harus antre. Cukup panjang dan lama antrean itu. Saking panjangnya, Rudi sempat ketiduran saat menunggu antrean. "Papa baru pulang ke rumah jam 10 pagi. Habis itu dia baru bisa istirahat," ujar Ines menceritakan.

Sejak saat itu Ines mengaku ayahnya kerap mengeluhkan sakit kepala. Namun, ayahnya terbilang orang yang jarang ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Untuk meredakan sakit kepalanya, dia hanya minum obat warung.

Ines mulai curiga. Biasanya ayahnya itu tak pernah mengeluhkan sakit. Dia merasa keluhan itu bermakna sakit kepalanya sudah tak lagi bisa dia tahan. Meski begitu, pensiunan sekuriti tersebut tidak pernah melewatkan kebiasaannya mengurus ibu kandungnya.

Dalam kesehariannya tiap pagi dan sore dia selalu bertandang ke rumah ibunya. Lokasinya tak jauh dari rumah. Rudi menjadi andalan sang ibu yang usianya sudah mencapai 89 tahun.

Hingga pada Senin pagi, lima hari setelah pencoblosan, aktivitas Rudi awalnya berjalan normal. Mengurus sang ibu dan kembali ke rumah. Makin siang, keluhannya sakit di kepala makin menjadi. Dia memilih tidur siang bersama cucunya, Mika, di kamar. Sebelum tidur, Rudi sempat pamit kepada Ines, sambil berpesan untuk tidak pergi jauh-jauh. Dia khawatir Mika yang baru berusia 14 bulan terbangun.

Sukaesih memegang kartu panitia Rudi saat menjadi ketua KPPS 2019 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Sekitar pukul 1 siang, Rudi batuk. Tak berhenti. Dia bahkan sempat memuntahkan makanan di kamar. Setelah itu Udi tak sadarkan diri. Ines pun langsung memeriksa detak jantung ayahnya dengan menempelkan telinga ke tubuh Rudi. Lalu memeriksa tiap sudut nadi. Ines tak percaya. Dia tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di ayahnya.

Seketika dia dan Sukaesih histeris. Anggota keluarga lainnya lalu membawa Udi ke rumah sakit terdekat. Untuk memastikan kondisi Udi. Sayangnya, nyawa Udi tidak terselamatkan. Rudi meninggal.

"Saya belum siap ditinggal suami saya. Saya masih butuh dia di sini," kata Sukaesih menahan air mata. Dia dan putrinya merasa pilu setelah suaminya meninggal akibat Pemilu.

Jumlah petugas KPPS meninggal dunia tercatat berjumlah 272 orang. Sementara yang sakit sudah mencapai 1.878. Diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah. Ini dikarenakan banyaknya jumlah yang sebelumnya belum dilaporkan.

Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik menyebut jumlah anggota KPPS yang meninggal dunia ini bertambah 42 orang. Sedangkan jumlah anggota KPPS yang sakit bertambah 207 orang sejak pendataan pada Jumat, 26 April 2019 lalu.

Tugas Bikin Sakit

Selain bertemu dengan keluarga almarhum Rudi, Kami juga menemui Hamid Baso. Seorang anggota KPPS di TPS 036 Koja, Jakarta Utara. Lebih dari tujuh hari Hamid menjalani perawatan intensif di RSUD Koja, Jakarta Utara. Hamid divonis mengidap infeksi paru-paru setelah kolaps usai bertugas sebagai anggota KPPS.

Kami berkesempatan menemuinya di ruang ICU. Sejumlah alat bantu pernapasan dipasang di tubuh Hamid. Pria 59 tahun ini hanya berbaring di tempat tidur dan berkomunikasi lewat isyarat mata dan gerakan tubuh terbatas.

Mata Hamid berkaca-kaca ketika kami menyapa. Surayah, istri Hamid, langsung menghapus air mata menetes di sudut mata Hamid. Lalu mengusap kepala Hamid. Surayah lalu menceritakan kondisi suaminya itu. Sementara Hamid hanya melihat dan mendengarkan kami berbincang. Sesekali dia menggerakkan mata dan kepalanya untuk berkomunikasi dengan kami.

Surayah bercerita sehari sebelum pelaksanaan pemungutan suara, Hamid ikut memasang tenda untuk TPS yang berlokasi di pinggir jalan. Di saat yang sama, hujan deras mengguyur kawasan itu. Bukannya berteduh, Hamid justru hujan-hujanan demi merampungkan pembuatan TPS.

Hamid kembali ke rumah sore hari. Kemudian istirahat seperti biasanya. Esok harinya jam 6 pagi dia sudah tiba di TPS. Jaraknya hanya 10 meter dari rumah Hamid. Dia tampak sehat di hari pemungutan suara.

Hari pemungutan suara sangat menguras energi para penyelenggara Pemilu. Sebab, untuk pertama kalinya, pemilu legislatif dilakukan bersamaan dengan pemilu presiden. Khusus di Jakarta ada empat surat suara. Surat suara berlabel biru untuk Caleg DPRD provinsi, surat suara berlabel kuning untuk caleg DPR RI, surat suara berlabel hijau untuk caleg DPD dan surat suara berlabel abu-abu untuk pilpres.

Banyaknya surat suara tersebut membuat petugas KPPS harus bekerja ekstra. Tak sedikit dari mereka baru menyelesaikan penghitungan suara hingga dini hari. Termasuk Hamid. Dia baru kembali ke rumah jam 2 dini hari.

Usai salat Subuh, Hamid kembali tidur lagi. Dia meminta istrinya untuk dibangunkan jam 9 pagi. Sebab dia harus bekerja. Mengantarkan barang ke Depok. Namun, hal itu urung dilakukan. Hamid merasa kelelahan dan memilih untuk beristirahat. Surayah mengaku, tak ada keluhan apapun dari suaminya itu. Bahkan, sore harinya Hamid masih sempat mencuci sepeda motornya di depan rumah.

Pada Jumat subuh, Hamid hendak ke kamar mandi. Membersihkan diri sebelum salat. Namun setelah mandi, Hamid mengeluh sesak napas dan dadanya sakit. Melihat itu, Surayah histeris. Panik membangunkan anak dan memanggil tetangga. Hamid dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor oleh anak dan kakaknya. Lalu Surayah ikut menyusul diantar saudaranya.

Tangis Surayah histeris saat dokter menyebut kondisi Hamid tak ada harapan. Dia diminta dokter untuk siap menghadapi kondisi terburuk. "Dokter bilang suami saya tipis harapan," kata Surayah saat ditemui merdeka.com di RSUD Koja, Jakarta Utara pekan lalu.

Seketika dia dan anak-anaknya kembali menangis. Mereka belum siap jika harus kehilangan suami dan ayahnya saat itu. Kepada dokter mereka memohon untuk dilakukan penindakan semaksimal mungkin demi menyelamatkan Hamid. Atas izin keluarga, sejumlah alat bantu pernapasan dipasang. Tanpa alat bantu pernapasan, Hamid bisa saja tak tertolong.

Dua hari menjalani perawatan, kondisi Hamid berangsur membaik. Dari IGD, dia dipindahkan ke ruang ICU. Sayangnya, pada Minggu malam, kondisi Hamid kembali kritis. Hamid berusaha untuk melepas alat bantu napasnya. Dia mengeluh kesakitan. Surayah dan keluarga kembali panik.

"Suami saya enggak betah sama alat yang dimasukkan ke lehernya. Dia bilang sakit. Saya bilang, ini kan biar bapak cepat sembuh," cerita Surayah.

Empat hari berikutnya kondisi Hamid mulai membaik. Dokter menyebut kondisi Hamid mengalami perubahan meski tidak banyak. Di hari keenam, Hamid sudah mulai bisa bernapas sendiri. Namun sejumlah alat bantu belum bisa dilepaskan. Dia juga mulai bisa bicara beberapa kata. Sayangnya dia tidak boleh banyak bicara sebab, akan mengganggu kerja perlengkapan medis yang ada di mulutnya.

Surayah berharap kondisi Hamid akan terus membaik. Dia sudah tak tega melihat suaminya kesakitan akibat alat bantu pernapasan yang terpasang di tubuhnya. Begitu juga anak-anak Hamid. Tak tega melihat sang ayah lebih lama di rumah sakit. Rindu kembali ke rumah berkumpul bersama.

"Saya mohon doanya untuk kesembuhan suami saya. Semoga bisa cepat pulang ke rumah," kata Surayah mengakhiri.

Ketua KPU DKI Jakarta, Betty Epsilon Idroos mengatakan pihaknya sudah membayangkan pekerjaan petugas KPPS atau PPK akan lebih rumit dari biasanya. Untuk itu dia tak henti-hentinya mengingatkan personelnya untuk menjaga kesehatan. Sebab pekerjaan di pemilu ini lebih detail dan bertumpuk.

"Kita sudah mengingatkan untuk jaga kesehatan karena pekerjaan kita detail, bertumpuk dari satu masa ke masa jadi tetap jaga kesehatan" kata Betty.

Terkait perubahan sistem pemilu, Betty menyebut tidak bisa berbuat banyak. Sebab, dia hanyalah pelaksana KPU di tingkat provinsi. Sementara ketentuan Undang-Undang Pemilu dan PKPU sebagai petunjuk teknis kerja bukan jadi kewenangannya.

Namun bila keterangannya dibutuhkan dalam hal apapun, dia siap memberikan testimoni terkait yang terjadi di lapangan. "Kalau ada perubahan, silakan pada pembuat kebijakan yang memikirkan, kalau diminta detail bekerja, minta testimoni, kami siap," kata Betty menerangkan.

(mdk/ang)

TOPIK TERKAIT