Presiden Direktur JNE: Kami Sudah 1 Juta Lebih Pengiriman Tiap Hari

KHAS | 21 Agustus 2019 07:06 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Pukul 14.00 WIB. Mohamad Feriadi masuk ke ruang kerjanya. Memakai sepatu gunung dipadu celana panjang hitam dan kemeja motif kotak bertuliskan Harley Davidson di dada kiri. Bersama dua orang di belakangnya.

Gaya pakaian hari itu kasual. Sebagai Presiden Direktur JNE, tidak ada jas maupun sepatu pantofel di ruang kerja. Justru jaket kulit buntung dengan banyak pin di bagian dada. Dipajang khusus sebagai tanda dia pecinta motor asal Amerika. "Hobi lama dari muda. Tapi baru belakangan balik lagi naik motor," ucap Feriadi.

Bergabung dengan klub Harley Davidson Club Indonesia, dia sempat menjabat ketua Jakarta Pusat. Hobi jalan jauh memakai motor gede bukan sekedar senang-senang. Ada pesan tentang konsep kebahagiaan dan bersyukur, yaitu berbagi.

Konsep berbagi merupakan titipan Soeprapto Suparno, sang ayah sekaligus pendiri perusahaan logistik nasional PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Berdiri sejak tahun1990, enam tahun kemudian Feriadi baru bergabung.

"Masa kita terima dari Allah banyak, tapi yang kita berikan itu menurun," kata pria berusia 50 tahun itu di kantor pusat JNE, Tomang, Jakarta Barat, Rabu pekan lalu.

Sejak bergabung dan kini memimpin penuh perusahaan, Feriadi mengaku sedang melakukan banyak inovasi. Tumbuh pesat dunia digital tentu menjadi tantangan. Di sisi lain kehadiran model bisnis ini justru menjadi pendaringan. Capaian 1 juta pengiriman per hari menjadi sebuah kebanggaan.

Dalam mengelola perusahaan JNE, Feriadi bercerita banyak tentang banyak pengalaman. Termasuk bagaimana dirinya mencoba menjalankan amanah pendiri perusahaan. Berikut perbincangan Feriadi dengan tim merdeka.com:

Presiden Direktur JNE Mohamad Feriadi ©2019 Merdeka.com/ Nuryandi Abdurohman

Marketplace tumbuh pesat di Indonesia, Bagaimana perusahaan menangkap peluang ini?

Marketplace tumbuh karena teknologi berkembang sangat cepat. Saya yakin teknologi ini tentu bisa membuat akselerasi bisnis yang cepat di bandingkan masa-masa sebelumnya.

Kalau kita bicara tentu ada peluang dan ada tantangan dari apa yang harus kita lakukan untuk menangkap peluang ini. Dari yang kita liat adanya marketplace sebagai model bisnis yang baru terjadi di masyarakat yang katanya menggeser bisnis-bisnis konvensional, tentu memberikan dampak positif bagi perusahaan jasa pengiriman.

Jadi kalau kita bicara di dunia online apapun barang-barang diperjualbelikan pada akhirnya barang-barang ini akan dikirimkan kepada pembeli. Dan itu adalah tugas perusahaan jasa pengiriman untuk memastikan bahwa barang yang dibeli itu akan sampai kepada pihak pembeli.

Sebagai jasa pengiriman tentu kita melihat ini sebagai peluang. Jangan lupa, tantangannya juga banyak di sana. Bagaimana kita menangkap peluang ini dengan baik. Karena kalau kita melihta iklim persaingan yang ada saat ini pun banyaknya pemain-pemain baru dengan membawa teknologi, membuat orang bagaimana caranya bersaing dengan cara yang sangat efisien mungkin dan secepat mungkin.

Untuk itulah JNE tentu juga harus bisa melakukan beberapa improvement (upaya) melalui inovasi yang ada.

Banyaknya marketplace di Indonesia, sejauh mana pendapatan perusahaan tumbuh?

Saya boleh kasih gambaran, sejak e-commerce ini tumbuh, sejak online mulai dikenalkan kepada masyarakat, bisnis kami tumbuh boleh dibilang beberapa tahun terakhir ini di atas 30 persen.

Artinya memang kita melihat ini ada hal yang positif. Di mana kita melihat bahwa bisnis online ini berkembang di masa-masa mendatang. Banyak pelaku-pelaku online mengatakan hari ini penetrasi bisnis online terhadap ritel bisnis itu baru kisaran 3-4 persen.

Sebagai perbandingan, di Indonesia setiap individu rata-rata hanya dapat dua kali pengiriman paket setahun. Artinya kalau kita bandingkan dengan banyak negara lain, mereka sudah puluhan kali satu individu dalam satu tahun. Bahkan bisa terjadi transaksi sampai 70 kali di China, sementara di Indonesia itu satu orang biasanya melakukan hanya dua kali.

Kita melihat bahwa sebagai negara kepulauan negara maritim tentu ada juga peluang bagi perusahaan jasa pengiriman. Pengiriman ini tumbuh karena adanya tantangan itu tadi. Negara kita negara kepulauan, terus dengan adanya kemacetan, tapi jangan lupa adanya kemacetan ini ada peluang. Orang malas keluar, orang jadi malas untuk bisa bertransaksi langsung membeli langsung ke toko sehingga dia membeli online.

Lalu apa saja tantangannya sebagai perusahaan pengiriman?

Tantangan industri jasa pengiriman ini saya rasa banyak sekali yang harus kita antisipasi. Kita melihat bahwa sekarang ini adanya infrastruktur yang pemerintah bangun tentu itu memberikan dampak positif. Tapi jangan lupa infrastruktur ini hanya terjadi di sebagian kecil kota, indonesia yang katanya lebih dari 17 ribu pulau tentu memerlukan adanya satu konektivitas, antara satu daerah dengan daerah lain.

Bagaimana dengan pelabuhan kita, bagaimana dengan jumlah bandara kita, bagaimana dengan jumlah jalan yang sudah dibangun pemerintah, rasanya ini belum memenuhi semua.

Rentu kita berharap bagaimana pemerintah bisa barangkali membangun infrastruktur sehingga banyak saudara kita yang tinggal jauh dari perkotaan bisa mempunyai akses. Karena adanya infrastruktur tentu sangat membantu dalam hal distribusi barang maupun jasa. Tapi kurangnya infrastruktur tentu ini akan membuat satu disparitas harga yang beda.

Layanan JNE Eco Courier ©2016 Merdeka.com

Harga satu produk di Pulau Jawa misalnya, dengan harga produk yang sama di daerah-daerah lain yang transportasinya terbatas infrastruktur atau tidak ada, justru harganya akan berbeda.

Memang pendapatan JNE terbesar dari daerah mana?

Kalau transaksi terbesar dari Jabodetabek. Karena populasi di sini masih cukup banyak, jadi mungkin ini salah satu penyebabnya.

Berapa persen pendapatan dari Jabodetabek?

Masih mayoritas. Mungkin sekitar 50-60 persen. Gambarannya di mana populasi indonesia ini sangat banyak di situ cenderung transaksi yang sangat tinggi.

Apakah kenaikan pendapatan sebesar 30 persen itu mayoritas berasal dari e-commerce?

Kalau kita melihat figur dari JNE punya revenue, gambarannya kita bilang 70 persen itu datangnya dari ritel. Sedangkan 30 persen datang dari korporat. Di mana dari 70 persen pendapatan ritel itu separuhnya itu adalah pendapatan yang kita dapatkan dari transaksi e-commerce.

Jadi itulah gambarannya seberapa besar kontribusi e-commerce terhadap reveneu JNE kira kira di kisaran angka 50 persen.

Awal tahun JNE menaikan tarif pengiriman sebesar 20 persen, imbas dari kenaikan kargo, bagaimana perusahaan menyikapi ini?

Khususnya memang pengiriman melalui udara ya. tapi tentu perusahaan bisa lebih adil terhadap pengguna jasa layanan JNE. dampak dari kenaikan tarif ini tentu membuat perusahaan harus berinovasi. Adanya infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah sampai jawa timur, sumatera palembang tentu ini satu peluang baik bagi perusahaan untuk mengembangkan satu layanan baru.

Kita punya produk JTR (JNE Trucking), di mana pengiriman ini kita gunakan moda transportasi darat. Kecepatannya tentu kita jamin sesuai dengan Service Level Aggrement (SLA) kita dengan pelanggan.

Jadi kalau kita bilang pengiriman kita sampai ke Semarang, kalau kita kiriman ini kita janjikan dengan next day delivery maka kita akan komitmen untuk bisa penuhi janji kita.

Kalau untuk tujuan Lampung, Palembang kita katakan sama. SLA ini paling penting antara kita dengan pelanggan ini yang harus kita jaga dan harus kita pastikan.

Apakah ada penurunan dengan kenaikan tarif kargo pesawat ini?

Tidak. Kalau kita bicara apa dampak kenaikan ini berpengaruh kepada pengiriman kita ini, jawabannya enggak. Faktanya kiriman kita terus tumbuh. Orang belanja online pun terus bertambah saya yakin mungkin di banyak pihak melakukan pencatatan volume kargonya itu terus meningkat.

Berapa persen peningkatannya?

Kita juga masih memperkirakan peningkatan kita di kisaran angka 30 persen.

Untuk saat ini ada berapa jumlah outlet JNE?

Kalau jumlah outlet kita secara nasional sekarang jumlahnya kira-kira ada 7.000 lebih di seluruh Indonesia.

Tersebar paling banyak di mana?

Masih di sekitar pulau Jawa.

Kerja sama JNE dengan TOKOPEDIA ©2017 Merdeka.com

Total ada berapa karyawan?

Kalau karyawan kita termasuk pilang mitra karyawan kisaran ada di 45.000 sampai 50.000 orang se-nasional.

Jadi kalau ditanya apa kontribusi kita buat negara, pertama tentu dari sumber daya manusia. Berapa banyak lapangan pekerjaan yang sudah diberikan terbuka gitu ya, belum lagi yang lain dalam hal perpajakan tentu kita sebagai perusahaan yang baik tentu kita harus membayarkan kewajiban kita kepada pemerintah.

Ketiga ini kan seperti ekosistem, saat bisnis ini tumbuh berkembang, tentu yang lain akan mengikuti bisnis, transportasi, orang jual kendaraan. Belum lagi kendaraan itu ada turunannya orang jual sparepart service dan lain-lain jadi semua ikut tumbuh dan berkembang.

Sama halnya kita bicara dengan bisnis e-commerce hari ini. Pilarnya itu kan tiga. Pertama marketplace, kedua payment, ketiga logistik. Yang harus kita jaga bagaimana kita harus menjaga ketiganya ini agar bisa dimanfaatkan oleh pemain-pemain nasional. Jadi jangan sampai ketiga pilar ecommerce ini dikuasai oleh pihak luar.

Sayang rasanya karena memang kita melihat potensi itu ada di kita. Dan yang lebih penting saat e-commerce ini tumbuh berkembang saya selalu berharap kita bisa membantu para UKM sehingga UKM ini bisa menjual produknya lebih luas lagi. Karena kalau marketnya dibuka, produksinya bisa ditingkatkan. Tapi kalau yang mengkonsumsi hanya masyarakat sekitar situ tentu meningkatkan produksinya sulit. Makannya perusahaan logistik itu sangat diperlukan.

Pelayanan di kantor JNE ©2014 Merdeka.com

Mengenai persaingan bisnis, ada pemain lain di industri pengiriman. Bagaimana rencana Anda sebagai pemimpin perusahaan dalam menghadapi persaingan?

JNE terus berbenah. JNE terus memperbaiki diri. Kita meningkatkan kita punya kapasitas, kita meningkatkan kita punya kapabilitas dan paling penting kita tetap konsisten menjaga kita punya quality of service

Ada satu pernyataan yang saya sering bilang di manajemen termasuk semua jaringan. Katanya, kalau "winner itu only fokus on winning. Tapi kalau loser, loser itu fokus on winner".

Jadi kalau kita merasa kita ini sebagai juara fokus kita hanya bagaimana tetap kita bisa menjadi pemenang, bagaimana kita tetap bisa menjadi kita punya kejayaan. Tapi kalau kita sibuk, selalu sibuk memperhatikan kompetitor kita sementara kita tidak memperbaiki kita punya quality of service, tidak memperbaiki infrastruktur sarana dan prasarana yang lain kita pasti akan ditinggalkan.

Oleh karena itu menjaga kita punya quality of service hari ini tentu adalah satu keharusan yang tidak bisa kita tawar tawar lagi.

Dengan berbagai upaya itu, kini dalam sehari berapa ada berapa pengiriman melalui JNE?

JNE hari ini sudah 1 juta lebih pengiriman per hari. Artinya ini tumbuh. kalau kita bicara kiriman JNE sebelumnya hanya 700 ribu naik 800 ribu hari ini kita melihat grafik kita tumbuh.

Kalau 1 juta pengiriman, bagaimana JNE mengatur semua agar tidak terlambat sampai berhari-hari ke tangan pelanggan?

Mungkin itu masuk tantangan-tantangan yang perlu kita hadapi. Apa yang kita harus persiapkan? Contoh salah satunya adalah di konter kita memastikan bahwa semua kiriman yang dikirimkan memang kiriman yang bisa diangkut melalui udara.

Kedua, untuk membantu percepatan proses dalam pengiriman JNE saat ini sedang mempersiapkan membangun satu fasilitas. Namanya Mega-Hub. Itu lokasinya di Cengkareng dekat bandara dan kita perkirakan di Maret 2020 bisa mulai beroprasi.

Apa kelebihan alat ini? Tentu kelebihannya adalah alat ini bisa melakukan sortir dengan cepat. Mesin yang kita pergunakan itu kecepatannya bisa mencapai 48 ribu kiriman per jam. Sehingga ini bisa memberikan kemudahan dan percepatan dalam proses dibandingkan dengan cara manual yang digunakan oleh kita pada hari ini.

Ini salah satu cara kita tadi yang saya katakan bagaimana kita menaikan punya capasity dan capability.

Bagaimana JNE menyikapi pesaing terutama dari luar yang mungkin secara kapital lebih tidak terbatas?

Saya selalu mengingatkan kepada kawan-kawan, siapa sih sebenernya yang dicari oleh pelanggan? Siapa sih yang akan juara? Tentu perusahaan yang bisa memberikan good customer experience.

Kenapa pada akhirnya yang dicari adalah mereka yang komitmen? Mereka yang selalu mengirim sesuai dengan komitmen? JNE selama ini tetap fokus kepada pelayanan, tetap fokus menjaga bahwa komitmennya: Pengiriman next day, delivery ya next day.

Pengiriman jangan pernah terlambat. Karena sekali kalau kita mengecewakan pelanggan pilihan saat ini banyak sekali. Ini membuat kita harus berhati-hati bagaimana kita punya hubungan baik dengan pelanggan supaya pelanggan ini tetap merasakan bahwa pengiriman JNE itu komitmen dan bisa tetap menjaga kualitas pelayanannya.

Jadi kita tidak bicara persaingan dalam hal modal. Memang betul hari ini harus berhadapan dengan perusahaan yang bisnisnya bakar duit. Perusahaan-perusahaan yang bisnis modelnya berbeda dengan kita. Sebagai pemain lama tentu JNE juga harus melakukan penyesuaian bisnis model kita bisnis proses kita harus kita sesuaikan dengan kondisi hari ini kalau tidak akan ditinggalkan.

Presiden Direktur JNE Mohamad Feriadi ©2019 Merdeka.com/ Nuryandi Abdurohman

Katanya era saat ini bukan lagi era besar menguasai yang kecil bukan yang kuat menguasai yang lemah tapi yang cepat akan mengalahkan yang lambat. Bagaimana kita bisa membuat bisnis proses kita seefisien mungkin secepat mungkin.

Kenapa online itu bisa menggeser bisnis-bisnis offline? Dari sisi kecepatan delivery mereka bisa cepat dan sistem pembayarannya mudah dan ini membuat khususnya saudara-saudara kita yang jauh dari keramaian, mereka sekarang mengatakan bahwa barang-barang ini mudah ketika mereka beli online. Karena enggak semua produk mungkin ada di toko sebelah mereka, tapi melalui online hampir semuanya bisa transaksi online.

Ketika awal mulai perusahaan ini modalnya Rp100 juta dengan membuka 8 agen dan banyak menarik pengangguran. Bisa diceritakan lebih jauh bagaimana kisah sebenarnya?

Kebetulan saya bergabung di JNE itu ketika perusahaan sudah berjalan. Perusahaan berdiri tahun 1990 dan saya masuk tahun 1996. Jadi perusahaan ini sudah berjalan. Tapi sejarah ke belakang dan saya juga baca-baca, saya dengar dan ikuti. Iya betul JNE berdiri dengan modal Rp100 juta dan didirikan oleh 8 pendiri saat itu. Jadi bukan 8 konter juga.

Dari situ kemudian JNE bisa tumbuh berkembang gitu. Ya karena memang kalau kita liat gitu ya, perjalanannya, kunci sukses JNE dan apa yang ditanamkan oleh founding founder itu perusahaan itu. Saya bilang itu menjadi kuncinya gitu sampai saat ini.

Kuncinya adalah sejak berdiri sudah dikenalkan dengan surat Al Maun dengan Al Baqarah 165. Katanya kalau kita berbagi, memberi, ibarat biji sawi yang tumbuh tujuh cabang. Satu cabang itu berhasil menghasilkan 100, yang dikalikan 700 kali penggantinya. Dan ini yang kita percaya.

Sampai hari ini kita tetap jalankan itu tentu dengan kondisi yang lebih baik. Saya juga selalu ingatkan kepada manajemen bahwa kualitas kita, ibadah kita setiap tahun harus lebih baik. Sejalan dengan berapa banyak rezeki yang kita terima. Masa kita terima dari Allah banyak, tapi yang kita berikan itu menurun.

Makanya dalam hal kurban, berbagi, memberi, saya selalu mendahulukan itu dan saya ingin memastikan kalau itu jangan pernah sampai kita lupakan. Ini bakal menjadi doa yang sangat kuat yang membuat JNE tetap eksis sampai saat ini.

Dari awal sudah jalankan itu dan kita konsisten menjaga itu. Yang paling penting seberapa kesempatan kerja yang JNE bisa berikan kepada masyarakat. Satu orang misalnya punya satu istri dan dua anak, berarti sudah empat orang yang kita tanggung. Kalau tadi saya bilang ada 5.000 orang saja, sudah berapa orang gitu ya dan ini menjadi kekuatan kita. Dan buat saya itu jauh lebih penting gitu ya. Bukan hanya promosi dan quality service tetapi kita terus konsisten dalam membantu dan memberi.

Reporter: Angga Yudha Pratomo, Syakur Usman, Dwi Aditya Putra, Rhandana Kamilia (magang)

Baca juga:
Kisah Rifani, Mantan Pembantu Dapur Sukses Jadi Koki Andal di Blok Gas Ruby
Pernah jadi Pencuci Piring, Ali Muharam Sukses Bisnis Makaroni Ngehe Modal Rp20 Juta
Kisah Sukses Ali Muharam Bangun Makaroni Ngehe Dituangkan Dalam Buku
Berawal Hobi, Disyon Toba Sukses Dirikan Consina Bermodal Rp50.000
Tiga Pengusaha Sukses yang Dulu Pengangguran
Pernah Luntang-Lantung Tak Punya Pekerjaan, Kini Tony Fernandes Punya 20.000 Karyawan


(mdk/ang)