Wawancara Khusus

Prof Cissy: Orang Tua Harus Dampingi Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Prof Cissy: Orang Tua Harus Dampingi Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun
Prof Cissy Kartasasmita. ©2021 Merdeka.com
KHAS | 10 November 2021 11:00 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun pada 1 November 2021. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga telah menerbitkan rekomendasi terkait penggunaan vaksin ini.

IDAI mengungkap terdapat berbagai pertimbangan terkait munculnya rekomendasi ini. Alasan pertama adalah karena sudah keluarnya izin penggunaan darurat dari BPOM. Cukup tingginya kasus anak yang terinfeksi Covid-19 yaitu sebesar 13 persen juga jadi pertimbangan munculnya rekomendasi ini. Kondisi ini ditambah dengan berjalannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang meningkatkan risiko seorang anak terinfeksi Covid-19.

Anggota Satgas Imunisasi IDAI dan Ketua Pokja imunisasi Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Cissy Kartasasmita mengatakan, peran orang tua penting dalam pelaksanaan vaksinasi anak usia 6-11 tahun. Salah satunya dalam proses screening.

"Anak itu harus dipersiapkan oleh ibunya. Nanti ibunya yang yang mengantar. Itu tidak boleh suster ataupun pembantu yang tidak tahu tentang anak itu. Harus orangtuanya yang tahu tentang anak itu atau kakaknya yang lebih besar dan jangan ada yang disembunyikan," ujar Cissy saat berbincang dengan merdeka.com, kemarin.

Berikut petikan wawancara khusus jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adillah dengan Anggota Satgas Imunisasi IDAI dan Ketua Pokja imunisasi Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Cissy Kartasasmita.

prof cissy kartasasmita

Beberapa hari yang lalu, Bapak Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengatakan bahwa anggaran kita untuk vaksinasi anak usia 6-11 tahun baru ada tahun depan. Apakah kondisi ini akan mengkhawatirkan dan berdampak pada pertambahan kasus?

Kalau kita mau mengatakan program besar, program vaksinasi ini meskipun hanya pada anak, itu tentu perlu disiapkan dengan matang termasuk dana. Tentunya karena mahal kan harganya. Jadi, saya kira kita tidak perlu khawatir. Yang jelas vaksin itu merupakan tambahan yang kita butuhkan. Dan yang penting protokol kesehatan harus ketat, harus dijalankan terutama untuk yang belum divaksin. Tidak hanya anak, remaja, orang dewasa perlu prokes yang ketat. Tidak perlu terlalu khawatir, yang jelas protokol Kesehatan dijalankan dengan ketat dan baik.

Kita tahu bahwa anak usia 6-11 tahun belum divaksinasi. Apakah nantinya justru mereka yang paling mudah terinfeksi?

Saya kira belum tentu juga begitu, dikatakan selama ini memang anak–anak seolah–olah lebih tahan, tidak juga. Kalau orang dewasanya kasusnya meningkat angka anak tentunya meningkat. Kemudian anak–anak juga harus dijaga dengan ketat, siapapun yang belum divaksin harus melaksanakan protokol Kesehatan. Anak–anak juga tidak perlu dibawa ke tempat yang tidak perlu, kalau sekolah itu penting, ke les, tempat olahraga itu penting. Tapi apakah ke Mal itu penting.

Kementerian Kesehatan sudah mengumumkan vaksin jenis yang akan digunakan untuk anak usia 6-11 tahun. Apakah dosisnya yang diberikan kepada anak sama dengan orang dewasa?

Kalau yang sekarang memang yang ada atau yang sudah mendapat emergency use authorization di masing masing tempat, masing masing. Kalau Sinopharm itu di Uni Emirat Arab, kalau Sinovac di China, di Turki, di Indonesia, Pfizer di Amerika.

Di Indonesia yang baru mendapat emergency use authorization hanya satu, baru Sinovac saja. Untuk dosis anak itu penelitiannya tersendiri yang sudah dilakukan dosis yang sama disebut eskalasi ya, dosis yang di di eskalasi dari rendah ke tinggi, dari tinggi ke rendah, jadi dari umur ya jadi mulai mulai dicoba dengan dosis sekian umur sekian.

Ternyata hasil penelitian menunjukkan untuk Sinovac itu dosis anak itu sama dengan dosis dewasa. Karena aman untuk anak dan juga khasiatnya bagus toleransinya. Hasil penelitian Pfizer menunjukan dengan dosis paling rendah tetap aman, kalau Sinopharm saya tidak tahu, vaksin Sinopharm itu kebetulan di kota dipakainya kan untuk gotong royong ya, bukan untuk umum.

Berarti semua vaksin itu aman untuk anak usia 6-11 tahun?

Karena vaksin yang diambil sudah memenuhi kriteria dari WHO. Kriteria keamanan, kriteria khasiat, manfaat itu sudah sama semuanya. Kalau tidak, vaksin tersebut tidak akan mendapatkan izin dari WHO untuk diberikan atau di vaksinasi kepada anak.

Apakah ada jenis vaksin tertentu yang harus dihindari jika anak memiliki penyakit komorbid?

Jadi memang nanti, Kita lihat bahwa nanti akan ada masukan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, mengenai pemakaian vaksin untuk anak ini. Nah itu semua beda beda ya, tapi umumnya kurang lebih adalah sama bahwa anak itu harus sehat, anak kita tidak boleh punya komorbid yang masih aktif, harus stabil.

Kalau dia punya komorbid misalnya diabetes atau asma atau hipertensi harus lagi stabil, kemudian suhu pada waktu disuntikan tidak boleh lebih dari 37 setengah. Itu adalah secara umum ya, tapi saya kira untuk vaksin semua juga sama kan itu. Untuk Sinovac dan sinopharm itu virus yang sudah dimatikan, jadi memang nanti akan mempunyai efek masing masing yang berbeda ya. Namun hasil penelitian menunjukkan semua aman. Tidak ada yang lebih baik ya, karena tidak pernah ada penelitian yang membandingkan satu vaksin dengan vaksin yang lain.

Apakah untuk anak-anak yang mempunyai komorbid menjadi prioritas vaksinasi?

Saya kira jika mempunyai kormobid, itu memang mempunyai kemungkinan sakit covid yang lebih berat, kemudian komplikasi yang berat, kemudian yang meninggal yang punya komorbid lebih berat. Tentu, jika anak mempunyai komorbid yang lebih stabil setuju untuk didahulukan tapi sekarang rupanya belum dilakukan. Jadi anak umur 6-11 tahun bisa mendapatkan vaksinasi covid 19.

Apakah ada syarat khusus untuk anak yang hendak divaksinasi?

Pertama harus sehat tentunya, dalam keadaan hari itu dia sehat. Yang kedua dia harus dalam keadaan stabil. Yang tidak boleh adalah jika suhunya hari itu ketika mau disuntik dia panas di atas 37 setengah, kemudian dia baru disuntik vaksin lain jaraknya belum satu bulan, kemudian penyintas covid, dia baru kena covid belum 3 bulan itu juga belum boleh. Jadi pertama dia sehat, dia stabil, lalu dia tidak mengalami demam pada saat hari dia disuntik.

Bagaimana proses screening pada anak sebelum divaksinasi? Apakah perlu ada perlakuan khusus dalam proses ini?

Untuk vaksin anak yang lain itu mungkin sama saja. Ya tidak ada bedanya dalam hal yang dasar. Jadi jangan terlalu takut. Kemudian anak itu harus dipersiapkan oleh ibunya. Nah nanti ibunya yang yang mengantar. Itu tidak boleh suster ataupun pembantu yang tidak tahu tentang anak itu. Harus orangtuanya yang tahu tentang anak itu atau kakaknya yang lebih besar dan jangan ada yang disembunyikan.

Bagaimana dengan kemungkinan terjadi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terhadap anak yang divaksinasi Covid-19?

Kita secara terus terang saja, kalau anaknya sehat dan sesuai tadi dengan kriteria yang boleh disuntik, menurut penelitian dan menurut observasi bahwa tidak ada yang mengkhawatirkan. Biasanya KIPI-nya ringan-ringan saja. 1,2,3, hari dia hilang.

Biasanya KIPI yang lokal itu nyeri di tempat suntikan, bengkak ataupun merah. Itu 1 2 hari akan hilang, kemudian gejala kipi yang umum biasanya merasa lelah, anaknya pengen tidur saja, kemudian anaknya demam. Tapi kalau cuma demam ringan, dia tidur tidak berlebihan kemudian dia lemah, lelah, tidak merasa enak badan itu normal-normal saja. Tapi kalau panasnya tinggi, demam 3 hari belum hilang harus dihubungi nomor telepon yang ada di dalam kartunya itu. Kalau tidak ya hubungi lah tempat dia disuntik, minta nasehat. Biasanya sih 3 hari sudah hilang.

Kalau ada reaksi dalam jangka waktunya lama pasca imunisasi, apakah itu bisa disebut KIPI?

Kipi itu kejadian pasca imunisasi tidak ada batas juga, yang biasanya berat itu 7 hari pertama. Kemudian 1 bulan itu biasanya yang kita observasi di peneltian. Tapi kalau sehari-hari, 3 hari saja harusnya sudah hilang. Kalau lebih dari 3 hari itu perlu dilaporkan.

Beredar informasi orang tua yang divaksinasi pfizer, ada efek samping terhadap bayi yang disusui. Apakah ini benar?

Saya kira ibu menyusui boleh mendapat vaksin pfizer. Saya sendiri tidak tahu itu hoaks atau bukan, tapi yang jelas vaksin-vaksin itu boleh untuk ibu menyusui, ibu hamil dan sudah ada bukti bahwa anak yang dilahirkan atau yang disusui itu tidak mendapatkan covid ataupun efek yang negatif dari vaksin tersebut.

Apakah ada saran untuk pemerintah supaya program vaksinasi untuk anak ini bisa sukses dan sesuai dengan target?

Saya kira bagus sekali diinfokan bahwa akan ada untuk anak. Banyak orang tua siap. Saya kira bagus lah pemerintah itu menggugah orang tua dari sekarang, kemudian disiapkan tempat di mana saja akan dilakukan vaksinasi ini, kemudian disiapkan vaksinator nya supaya cukup betul betul dihitung berapa yang mau katanya sekitar 25 atau 30 juta, Kalau bisa ya selesai dalam waktu dekat. Berbagai sektor juga perlu bekerja sama dalam percepatan proses vaksinasi.

Jika nantinya anak sudah divaksinasi, bagaimana peran orang tua untuk menjaga sekaligus mencegah anak agar tidak terpapar virus?

Nah ini kan yang dikhawatirkan apa yang ingin disampaikan kepada orang tua ketika nanti anak anak sudah divaksin. Boleh saja dibawa ke tempat tempat wisata, mal. Tetapi protokol kesehatan harus dijalankan. Cuman kalau menurut saya, selama kita belum aman, kita masih harus membatasi ruang gerak.

Reporter Magang: Henry Hairlangga

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami