Wawancara Khusus

Prof Hindra Irawan: Belum ada Bukti Kasus Meninggal Karena Vaksin Covid-19

Prof Hindra Irawan: Belum ada Bukti Kasus Meninggal Karena Vaksin Covid-19
Ketua Komnas KIPI Hinky Hindra Irawan Satari. ©2021 Merdeka.com
KHAS | 8 September 2021 07:06 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Kebanyakan masyarakat akan mengalami gejala setelah disuntik vaksin Covid-19. Reaksi atau gejalanya berbeda satu dengan yang lain. Semua tergantung tubuh. Bukan pengaruh dari jenis vaksin yang disuntikkan.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI adalah reaksi alami dari tubuh. Ketika benda asing masuk dalam tubuh, maka secara alami tubuh ingin bertahan. Tubuh membentuk antibody.

"Dalam proses ini lah muncul demam, mual, seperti kita kena flu. Ini pun sama 1-2 hari selesai. Namun sensitifitas tiap orang berbeda-beda. Jadi inilah dinamika, wajar terjadi," ujar Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.TropPaed.

Komnas KIPI memastikan, sampai saat ini belum ada kasus kematian akibat vaksinasi Covid-19. "Kalau KIPI rata-rata tidak ada yang sampai meninggal," tegasnya.

Berikut petikan wawancara merdeka.com dengan Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.TropPaed.

ketua komnas kipi hinky hindra irawan satari

Bisa dijelaskan lebih detail mengenai KIPI?

Definisi KIPI itu adalah segala kejadian setelah vaksinasi diduga berhubungan dengan vaksinasi, tapi tidak selalu. Lalu, KIPI bisa disebabkan oleh produknya bisa juga karena cacat produk atau kesalahan prosedur. Seperti misalnya seharusnya disuntik, tetapi kosong, atau karena adanya kecemasan sehingga pingsan. Jadi banyak kebetulan. Misalnya sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya tetapi kemudian terjadi setelah diberikan vaksinasi. Itu yang terbanyak.

Untuk itu kita membutuhkan dua bukti kuat. Pertama, waktu antara suntikan diberikan dan kejadian. Kedua, apakah ada penyebab lain. Untuk vaksinasi sendiri, sebelumnya sudah mengalami uji coba yang bertahap, awalnya diberikan untuk puluhan orang kemudian ratusan orang, ribuan orang hingga sekarang diberikan untuk jutaan orang. Hal yang sangat diperhatikan di sini tentunya aspek keamanan. Keamanan ini diuji berdasarkan jumlah orang, apakah aman digunakan untuk 10 orang, ratusan orang dan seterusnya. Waktunya perlu dicatat untuk setiap fase.

Persepsi vaksinasi di masyarakat, ada beberapa merek vaksin yang memiliki gejala lebih ringan dibanding vaksin lainnya. Bagaimana Anda memandang persepsi ini?

Jadi persepsi itu wajar karena vaksin ini (Covid) baru. Padahal vaksin ditemukan sejak 1739. Misalnya, sebelum naik haji dan umroh atau pergi ke Afrika perlu divaksin lebih dulu. Jadi sebenarnya vaksin ini bukan barang baru. Tapi vaksin Covid-19 memang baru, jadi bukan hanya orang awam bahkan dokter juga merasa ini baru. Jadi kekhawatiran adalah wajar. Tapi kembali lagi teknologi vaksin ini sudah ada bahkan sejak ratusan tahun lalu. Jadi, sampai launching dan diterapkan di suatu negara, prosedur dan sistemnya sudah baku dan jelas. Ada peraturan dari WHO, CDC setiap negara ada. Adanya trial, fase 1, 2 dan 3.

Prototipe ini ada semenjak kasus Ebola. Sehingga cepat prosesnya. Dikarenakan wabah ini menggemparkan dunia. Sehingga perusahaan farmasi berani menanam modal. Jadi, terjadilah percepatan. Waktu yang biasanya 10 tahun bisa jadi lebih cepat menjad 6 bulan. Sebab prototipe ada, dibarengi dengan modal yang ada. Setelah dari WHO kemudian masuk ke BPOM atau Badan POM yang mana di setiap negara sama prosesnya.

Kemudian, Badan POM bersama KOMNAS diminta pendapatnya. Apakah aman dan memiliki daya lindung? Setelah kita yakin, barulah disepakati. Maka keluar rekomendasi emergensi. Sebab yang seharusnya proses bertahun-tahun dipersingkat jadi 6 bulan. Maka digunakanlah dalam kondisi emergency. Namun masih tetap di pantau keamanannya oleh KOMNAS KIPI, daya lindungnya oleh produsennya. Untuk kemudian akhirnya diregistrasi. Dan itu dilakukan di seluruh dunia. Dari prosedur itu dipastikan bahwa vaksin aman. Ada daya lindung.

Yang terjadi adalah sedikit baca banyak bicara. Karena vokal lebih dipercaya. Jadi hebohlah dunia. Sehingga tersisa 30 persen yang masih ragu. Bahkan mungkin 2 persen yang benar-benar tidak mau divaksin. Terkait kehebohan di sosial media perkara vaksin ini juga disebabkan oleh masyarakat sendiri. Sebab masyarakat dewasa yang memiliki keluhan terkait vaksin seperti pegal, bengkak, demam dan sejenisnya cenderung akan mengeluh di sosial media.

Sehingga akan lebih mudah menemukan dampak buruk terkait vaksin ini di sosial media. Sedangkan yang baik-baik saja tidak mengupload di sosial media. Kami menerima laporan juga dari teman tenaga kesehatan, memang banyak yang demam dan sakit kepala. Tapi lebih banyak lagi yang tidak demam dan sakit kepala.

Begitu juga dengan kasus masih terkena Covid-19 setelah vaksinasi. Namun data menunjukkan keberhasilan vaksin lebih menonjol. Di seluruh dunia, kita menggunakan data kesakitan dan kematian dari negara yang melakukan vaksinasi yang baik untuk mengetahui angka keberhasilan vaksin.

Jadi bahwasannya KIPI adalah reaksi alami dari tubuh, karena kita kemasukan benda asing dalam hal ini vaksin isinya protein. Tubuh melihat ada makhluk asing secara alami ingin bertahan. Membentuk zat antibody, dalam proses ini muncul demam, mual, seperti kita kena flu. Ini pun sama 1-2 hari selesai. Namun sensitifitas tiap orang berbeda-beda. Jadi inilah dinamika, wajar terjadi. Karena hoaks, ini luar biasa banyaknya menyebar.

Jadi KIPI itu kembali ke tubuh masing-masing bukan dari vaksinasinya? Berapa persentase yang mengalami KIPI?

Laporannya sendiri tentu banyak ya, karena jumlah vaksin yang disebar sebanyak 61 juta dosis. Jadi berbeda-beda platform KIPI-nya. Seperti inactivities Sinovac dan Sinopharm, Moderna dengan Pfizer itu M-Rna. Astrazeneca juga M-Rna tapi pakai virus, namanya Adenovirus yang digunakan untuk membawa virus genetiknya pada tubuh seseorang. Yang mana tentu gejalanya berbeda. Secara umum sama, di tempat suntikan, gejala seluruh tubuh, dan gejala serius. Namun proporsinya berbeda-beda. Yang paling rendah proporsinya adalah Sinovac dan Sinopharm karena dia inactivated yaitu melemahkan virus.

Berbeda dengan moderna dan AstraZeneca yang memiliki dampak mencapai 30-50 persen. Di area bekas suntikan itu 50 persen. Jadi memang berbeda-beda. Selain dari pada pribadi masing-masing tapi juga dari kandungan vaksin itu sendiri. Tapi bukan berarti KIPI yang berbeda-beda itu lebih hebat, lebih kuat, atau lebih menakutkan, Merupakan keadaan alamiah. Terjadi di hampir semua vaksinasi, seperti vaksin hepatitis, DPT, meningitis, sama semua ada KIPI-nya.

Cuma karena sekarang berbeda nih, kita ada di era sosial media. Semua dilaporkan via sosial media. Tidak menyelesaikan masalah tapi justru menambah masalah. Ada jalur konfirmasi yang salah jadi tidak pernah selesai itu masalah.

Vaksin Covid-19 ini banyak dari kita merasa ini kemauan pemerintah. Itu yang harus diubah. Ini bukan keinginan pemerintah. Ini kebutuhan pribadi. Supaya tidak kena, supaya tidak dirawat di ICU, supaya tidak kena penyakit berat, supaya tidak menularkan virus kekeluarga, ke anak, istri, suami, cucu di rumah. Banyak yang berfikir bahwa ini adalah program pemerintah, diharuskan. Ini diwajibkan, dipaksa. Kalau begitu jadi susah. Hati tidak menerima, ada rasa kesal, dan takut. Perasaan bercampur aduk jadi menimbulkan sakit. Tapi berbeda kalau vaksinasi haji, apapun yang terjadi jalan, ada kemauan dari diri sendiri. Beda motivasinya.

Bisa dijelaskan soal dampak persentase 30-50 persen yang dimaksud tadi?

Jadi 30-50 persen itu persentase KIPI per gejala. Misalnya 30 persen demam, 50 persen pusing, begitu. Dari yang divaksin. Jadi kita melihat keamanan vaksin ini dari data proporsi itu. KOMNAS sendiri sudah punya data terkait berapa proporsi KIPI di setiap platform dan pada setiap gejala. Kita kumpulin data dan kemudian dihitung. Ternyata proporsinya masih rendah dari pada proporsi dari produsen di fase 1,2, dan 3 atau publikasi di jurnal. Itulah yang kita bandingkan. Kalau di Indonesia tinggi sendiri, misal di penelitian 3 persen tapi di Indonesia mencapai dua kali lipatnya yaitu 7% itu signal bahaya musti ditelusuri. Tapi sampai saat ini tidak ditemukan signal-signal itu. Itu yang menjadi tugas pokok kami sebenarnya.

Berapa persentase KIPI untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm dan apa gejala KIPI yang paling banyak terjadi?

Jadi itu hampir semua vaksin sama 5 besarnya, demam, sakit kepala, nyeri bekas suntikan, mual dan muntah. Proporsi Moderna dan AstraZeneca proporsinya lebih tinggi dibandingkan KIPI sinovac dan sinopharm tapi gejalanya hampir sama. Itu gejala umum, benda asing masuk, tubuh mengeluarkan reaksi. Perlu ada suhu tubuh, mobilisasi sel, mediator, itu ibarat pabrik antibody sedang bekerja memerlukan keadaan tertentu. Seperti suhu tertentu, jadi pergerakan itu menjadi gejala KIPI. Dan itu hanya 1-2 hari saja. Tapi kalau lebih dari itu, bukan termasuk KIPI, itu masuk dalam kategori penyakit lain.

Kita sudah 6 bulan memberlakukan program vaksinasi, apakah KOMNAS KIPI menerima laporan dengan kategori serius?

Jadi kita bagi laporan di KIPI itu jadi dua. KIPI serius dan KIPI non-serius. Yang non-serius tadi adalah demam, pegal, mual, muntah, pusing, itu banyak laporan yang masuk. Kemudian ada yang KIPI serius. KIPI serius itu berakhir dengan dirawat, mengancam jiwa, hingga wafat atau menimbulkan keresahan di masyarakat. Itu biasanya kita melakukan investigasi selama 24 jam. Tentunya KOMDA (Komite Daerah) yang bergerak, saya juga ingin memberikan penghargaan dedikasi tinggi tanpa pamrih. Melakukan investigasi tidak mudah. Setelah investigasi kemudian masuk dari hasil audit, setelah ditemukan data bahwa imunisasi yang menyebabkan efek yang fatal itu sampai saat ini tidak terkait.

Ada pula yang masih belum bisa dibuktikan karena data belum cukup. Kemudian tidak ada data medis, tidak ada keterangan dari keluarga dan dokter. Tapi sebagian besar tidak terkait KIPI serius tersebut. Ada yang kebanyakan penyebab kematian itu stroke, hipertensi, diabetes, serangan jantung. Itu sebenarnya masuk dalam 5 kategori penyakit mematikan di Indonesia, tidak ada vaksin di dalamnya. Kalau misalnya vaksinasi itu menyebabkan penyakit-penyakit berat tersebut pasti data menunjukkan vaksinasi menjadi penyebab kematian tertinggi, tapi sampai saat ini tidak ada data yang menunjukkan demikian. Jadi begitu kejadian yang kami kaji ya.

KOMNAS KIPI tidak berjalan sendiri, ada ahli penyakit dalam, ahli kebidanan, ahli alergi untuk itu kami mengkaji terus. Kita kontak dengan KOMDA itu tiga kali seminggu. Untuk membahas terkait vaksinasi ini. Kami terus memberikan rekomendasi terkait vaksin ini masih dapat digunakan dalam program vaksinasi di Indonesia. Tugas utama kami hanya dua itu tadi, terkait atau tidak dan masih aman atau tidak untuk digunakan dalam program vaksinasi nasional. Sampai saat ini kesimpulan yang kami dapat dari data demikian.

Apakah ada temuan orang yang meninggal dunia karena divaksin?

Kalau KIPI rata-rata tidak ada yang sampai meninggal. Yang paling berat itu syok anafilaktik, di kita juga ada sekitar 10 orang. Itulah yang saya katakan tadi, tenaga medis sudah terampil dalam mendiagnosis, melihat kegawatan. Baik dari laporan penelitian maupun di kita, tidak ada data yang menunjukkan bukti seseorang wafat karena vaksinasi. Belum ada bukti, jangan sampai ya.

Bagaimana dengan kasus dokter di Sulawesi Selatan (Andi Yuwardani) yang meninggal dunia setelah disuntik vaksin dosis ketiga (booster)? Apakah meninggalnya karena vaksin?

Almarhum ini dilihat waktunya, cocok atau tidak. Almarhum meninggal dua hari setelah vaksinasi. Dilihat waktunya, lalu riwayat penyakit dari almarhum apakah diabetes, hipertensi, penyakit jantung. Dilihat juga berobat ke mana, data rumah sakit, dan sebagainya. Dari situ kita dapat simpulkan bersama tidak terkait vaksinasi. Namun audit dari kasusnya sampai saat ini belum kita lakukan.

Terkait dugaan almarhum memiliki riwayat hipertensi, apakah ada pengaruhnya?

Sekarang kita melihat hipertensi, penyebabnya macam-macam. Seperti penyempitan pembulu darah, kolesterol, ginjal bermasalah, penyakit bawaan, dan faktor lainnya. Hipertensi sebenarnya bisa dikendalikan. Tapi multi-sistem caranya, tidak semata-mata, diberi obat dan selesai. Jadi hipertensi ini merupakan hasil dari beberapa kejadian di tubuh seseorang. Kalau kolesterol, maka harus diturunkan. Kalau ginjal yang bermasalah, maka harus banyak minum. Bila jantungnya berdenyut terlalu cepat harus dilambatkan dan itu memerlukan obat, disiplin, dan prosedur penunjang lainnya.

Hipertensi sangat berbahaya, masuk dalam lima besar penyakit pembunuh di Indonesia dan di dunia. Karena itu, sering kali tanpa gejala, serangan itu dapat datang kapan saja, termasuk setelah vaksinasi. Tidak bisa dicegah dan diramal. Berbeda bila diperiksa sejak awal. Namun kerap kali yang kita lihat kejadiannya mendadak, seperti kasus sedang khotbah kemudian jatuh. Itu adalah perjalanan penyakit hipertensi.

Untuk vaksinasi ini sudah diberikan ke jutaan orang. Pastilah ada orang yang wafat. Kurun waktunya ada yang sehari, tujuh hari bahkan satu bulan, dan tiga bulan. Jadi ini kita mau mengkonfirmasi dan audit bersama terkait kasus ini.

Kita tahu juga kasus almarhum Trio Vauqi Firdaus yang sudah sampai forensik tapi tidak ditemukan tanda-tanda meninggal karena vaksin. Sebenarnya apa yang terjadi dalam kasus ini?

Melihat kronologi kasus ini, datanya sendiri masih sangat kurang karena almarhum sudah meninggal sebelum sempat ditangani. Uji forensik juga belum bisa memberikan data pasti penyebab dari kematian almarhum. Maka dari itu sangat dianjurkan untuk siapa saja yang mengalami gejala KIPI untuk dapat segera berobat, supaya bisa dicek darah, CT Scan, rontgen. Jadi ada data yang jelas. Yang bisa kita klasifikasi adalah yang ada data penunjangnya. Almarhum itu demikian. Namun sampai saat ini setelah autopsi klinis, penyebab kematian mendadaknya pun tidak dapat ditemukan.

Setelah jenazah diautopsi dan tidak bisa ditemukan penyebab kematiannya, apakah itu hal yang biasa terjadi atau tergolong langka?

Sebelum melakukan autopsi, Kepala Departemen RSCM sebelumnya sudah meminta izin kepada pihak keluarga untuk melaksanakan prosedur autopsi ini dengan memberitahu kemungkinan yang akan terjadi, yaitu kemungkinan penyebab ditemukan dan tidak ditemukan. Sudah diinformasikan terlebih dahulu. Kalau itu lazim, itulah saya bilang keterbatasan manusia. Yang dapat dipelajari dari kasus Trio ini adalah bila ada gejala KIPI baiknya harus langsung diperiksakan ke rumah sakit. Jadi paling tidak ada data keterkaitannya.

Tadi disampaikan soal ada laporan yang tidak bisa disimpulkan. Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya sampaikan bahwa ada kasus yang menurut klasifikasi WHO masuk dalam kasus unclassifiable, kita tidak dapat diklasifikasikan apakah karena kecacatan produk, kesalahan prosedur, atau karena kecemasan. Untuk itu, memang kita sampaikan bahwa ini unclassifiable. Itu yang kasusnya meninggal tiba-tiba sebelum sempat ada penanganan, belum sempat periksa darah, rontgen, CT Scan, periksa lab. Itu ada.

Apakah nantinya anak usia di bawah 12 tahun juga divaksin?

Mengenai anak ini berbeda dengan dewasa. Ada bayi baru lahir, batita, batita, remaja, dewasa muda. Kalau untuk 12 tahun dosisnya sama dengan dewasa, KIPInya juga demikian. Daya lindungnya juga sama berdasarkan penelitian. Dipublikasi dan disubmit ke Badan POM bahwa untuk diberikan sinovac sudah melakukan itu dari umur 3-17 tahun. Tapi disini kita masih bingung apakah dosisnya sama? Tapi untuk 12 tahun saat ini mayoritas sudah besar, sehingga disamakan dengan dewasa. Cuma yang masih kecil usia 6 bulan, 3 tahun ini kan secara nalar berbeda. Jadi kami masih perlu data, menunggu dari sinovac memberikan data bagaimana kelengkapannya. Dosisinya berapa, intervalnya berapa, jadi masih menunggu.

Untuk moderna sendiri bahkan sudah bisa dari usia 6 bulan. Moderna sudah melakukan penelitian dari bayi usia bulan tapi belum selesai. Pfizer juga sudah untuk penelitian vaksinasi anak usia 3-6 tahun tapi belum selesai. Jadi semoga saja dalam waktu dekat mereka selesai penelitiannya. Untuk kemudian dapat diserahkan ke Badan POM untuk registrasi, nanti bersama KOMNAS KIPI diteliti. Sehingga dapat dipublikasi.

Jadi bukannya tidak boleh diberikan, ada alasan. Pertama, belum diberikan, belum cukup bukti. Kedua, vaksinnya juga belum ada. Vaksin yang sudah ada sekarang adalah data vaksin yang sudah dihitung sebelumnya. Sebelumnya hanya tercatat 120 juta, kemudian harus ditambahkan untuk usia 12 tahun jadi sebanyak 150 juta. Bukan jumlah yang sedikit tentunya. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Ketahanan keluarga yang paling penting. Mudah-mudahan dalam beberapa bulan ada untuk balita dan bayi.

Jika nanti sudah ada penelitian dari produsen vaksin bahwa aman untuk 12 tahun ke bawah, apakah tetap akan diuji ke anak-anak di Indonesia?

Rata-rata mereka melakukan uji, saya perhatikan. Tapi kalau moderna dan Pfizer barangkali tidak ya. Tapi memang ada rencana dilakukan di Indonesia. Tapi kalau kita perhatikan, vaksin-vaksin ini melakukan percobaan dibeberapa wilayah seperti Afrika, Asia, dan Amerika untuk ras besar. Kelihatannya hasilnya sama. Jadi saya kira mungkin ada tapi tidak berbeda bermakna. Tapi kalau kita melihat uji klinik ini mereka lakukan di 3 benua besar tadi.

Jika nantinya herd immunity tercapai, apakah pandemi akan dinyatakan berakhir? Kapan kita buka masker?

Jadi teorinya kita sudah paham. Sebenarnya herd immunity itu tercapai tingkat kekebalan di tengah masyarakat sehingga tidak ada sumber penularan lagi. Karena semua sudah terlindungi. Sekarang kita aplikasinya di Jakarta, kalau di Jakarta sudah divaksinasi 50 persen dan yang sakit 50 persen tidak ada sumber penularan lagi karena sudah kebal. Jadi mungkin sekarang kenapa kasus Covid-19 menurun drastis karena yang sudah vaksinasi dan sakit sudah mencapai proporsi tertentu sehingga tidak ada lagi sumber penularannya. Jadi itu praktikalnya dari herd immunity.

Kalau bertanya kapan selesai, kalau kondisi masyarakatnya masih seperti ini ya tidak akan kunjung selesai. Ingin menyerahkan ke pemerintah? Tidak mampu. Tidak ada pemerintah dunia manapun yang mampu bila tidak ada kebersamaan dari masyarakatnya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Biar ada program lockdown tapi masih pada bandel, tidak akan bisa. Disuruh vaksinasi, sudah digratiskan tapi tidak mau. Jadi sulit memberikan jawaban dari pertanyaan ini.

Teorinya banyak tapi pada pelaksanaannya harus ada kerja sama. Musuhnya hanya satu. Tapi kalau muncul budaya saling menyalahkan, tidak akan selesai, tidak bisa diramal. Masih ada teman-teman kita yang belum percaya. Masih butuh kesabaran dan kewaspadaan dari kita.

Perlu ada penyampaian pesan-pesan positif di sosial media. Saling mengingatkan. Yang sudah vaksin, beritakan ke sekitar. Demam sembuh setelah tidur, pusing habis vaksinasi minum obat dan sembuh. Jangan hanya berita buruk saja yang beredar di sosial media terkait dampak atau efek samping dari vaksinasi. Yang pasti sekarang tenda-tenda pasien sudah dibongkar, RSCM sudah turun data pasiennya sebanyak 80 persen. Tapi saya kira proporsi dan cakupan bertambah, yang sakit juga banyak. Yang sakit itu imunisasi alamiah.

Jadi imunisasi itu ada yang aktif dan buatan. Yang kita terima dari vaksin adalah kekebalan buatan, tapi kalau kita sakit, itu adalah imunisasi alamiah. Sama-sama ada kekebalannya. (mdk/noe)

Baca juga:
Mulai Besok, Naik KRL Cukup Tunjukkan Sertifikat Vaksin
Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Capai 32,1 Persen
Menko Luhut Dukung PT Etana Biotechnologies Produksi Vaksin Covid-19 di Indonesia
Satgas Covid-19 Sebut Persyaratan Kartu Vaksinasi untuk Melindungi Masyarakat
Soal Petisi Tolak Kartu Vaksin Sebagai Syarat Administrasi, Ini Tanggapan Kemenkes
BPOM Terbitkan EUA untuk Janssen Covid-19 Vaccine dan Vaksin Convidecia
TNI dan IDI Berkolaborasi Dukung Percepatan Vaksinasi Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami