Reuni Prabowo-Megawati Menunggu Koalisi

KHAS | 12 Agustus 2019 08:49 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Megawati Soekarnoputri tampak sumringah. Membuat Kongres V PDIP di Bali terlihat berwarna. Di sela acara, dia sempat melihat pameran foto. Sambil tertawa dia menunjuk sebuah bingkai foto. Pilihan itu menjadi favoritnya.

Foto ditunjuk Megawati adalah momen dirinya tertawa lepas bersama Prabowo usai makan siang bersama di rumahnya Jalan Teuku Umar, 24 Juli 2019 lalu. Ekspresi mereka dalam lembaran foto memang menggambarkan keakraban.

"Karena Pak Prabowo menunjukkan perutnya. Karena katanya kenyang," ucap Megawati.

Padahal masih banyak foto lainnya diabadikan pewarta foto terkait momen politik PDIP. Sebanyak 25 foto dipamerkan dalam Kongres V PDI Perjuangan. Ketua umum PDIP itu memilih foto 'Prabowo Kenyang' ketika ditanya banyak pewarta mana paling disuka.

Pertemuan politik nasi goreng ala Megawati memang bikin cair hubungan dengan Prabowo. Mereka sedang reuni politik. Undangan Prabowo ke Kongres V PDIP di Bali juga secara resmi Megawati umumkan dalam kesempatan tersebut.

Prabowo menepati janjinya. Seolah menjadi bintang utama. Dia hadir dalam pembukaan Kongres V pada Kamis, 8 Agustus 2019. Megawati secara khusus menginstruksikan kader banteng memberikan penghormatan kepada lawan politik Presiden Joko Widodo.

Selama gelaran acara, Megawati juga secara gamblang berulang kali membicarakan Prabowo dalam pidatonya. "Terima kasih Pak Prabowo sudah menghangatkan Kongres," kata Mega membuka pidato. Presiden Jokowi dalam pidatonya pun demikian.

Kehadiran Prabowo punya makna lain. Mantan Danjen Kopassus itu diindikasikan setuju akan berkoalisi dengan PDIP bersama-sama mendukung Jokowi. Ketua DPP PDI Perjuangan Eriko Sotarduga enggan berspekulasi. Dia merasa kehadiran Prabowo sebagai sahabat Megawati.

"Kedatangan Pak Prabowo sebagai sahabat, sebagai saudara," kata Eriko kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Persahabatan Megawati dengan Prabowo memang terjalin lama. Dua tokoh ini pernah berpasangan, berjuang bersama maju sebagai calon presiden dan wakil presiden pada 2004. Secara politik hubungan itu masih erat. Walau dua Pemilu terakhir terkesan renggang.

Di luar urusan politik, kata Eriko, Prabowo pernah dijemput suami Megawati, almarhum Taufik Kiemas, untuk kembali ke Indonesia. Sejarah itu tentu tidak bisa dilupakan. Meyakinkan bahwa hubungan dua tokoh ini sangat erat tidaklah sulit.

"Jadi hubungan itu menyepakati satu hal bahwa kita lebih mementingkan kepentingan negara kesatuan republik Indonesia dibandingkan kepentingan partai kepentingan golongan kepentingan pribadi," jelas Eriko.

PDIP dikabarkan membuka peluang untuk Gerindra bergabung menjadi koalisi. Hanya saja, untuk kerjasama di legislatif perlu kesepakatan bersama empat anggota koalisi. Di antaranya Golkar, NasDem, PKB dan PPP.

Apalagi Ketua DPP PDIP dan Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah, sejauh ini masih mencari partai untuk paket MPR sepakat melakukan amandemen terbatas UUD 1945. Yakni terkait sikap politik PDIP yang menginginkan menjadikan MPR lembaga tertinggi untuk menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

PDIP membuka kesempatan buat Gerindra dan partai eks pendukung Prabowo bergabung dalam satu paket jika memiliki agenda serupa. Namun, harus dilakukan musyawarah mufakat dengan Koalisi Indonesia Kerja dan disetujui Jokowi.

Termasuk dengan pembagian kabinet. Eriko memberikan sebuah pengandaian. Jika Prabowo memberikan usulan untuk membangun bangsa dan Jokowi menerima usulan dengan memberikan kursi kabinet, bukan mengartikan ada politik transaksional.

Prabowo memang menawarkan konsep untuk diserahkan kepada Jokowi. Konsep tersebut berkaitan dengan kedaulatan pangan, energi dan ekonomi. "Apa itu disebut transaksional, apa itu salah, juga kan tidak. Yang penting orang yang dipilih itu orang yang terbaik yang bisa menuntaskan masalah dihadapi ke depan," ujarnya.

Dalam pertemuan di Bali, Prabowo hadir sebagai tamu istimewa. Di dalam ruang VVIP, dia duduk bersama dengan ketua umum partai lain. Termasuk dengan Megawati dan Jokowi. Sebelum acara dimulai, lebih kurang 15 menit mereka bertemu dalam ruang tertutup.

Kehadiran Prabowo memenuhi undangan PDIP dikabarkan sebagai sinyal koalisi pasca Pemilu 2019. Pertempuran dengan Jokowi selama delapan bulan lalu menjadikan mereka akan menyatu. Apalagi sudah beberapa kali melakukan pertemuan.

Foto Prabowo kenyang usai makan nasi goreng buatan Megawati ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani mengatakan dalam ruangan VVIP itu hanya ada pembicaraan ringan selama menunggu agenda kongres dibuka. Putri kandung Megawati itu mengaku tidak ada bahasan terkait Prabowo akan gabung koalisi pendukung Jokowi.

"Masa baru duduk mau ngomongin koalisi?" kata Puan, Jumat pekan lalu. Meski begitu, dia tidak bisa menutup kemungkinan apabila PDIP dan Gerindra bakal merajut kebersamaan sebagai koalisi di tahun politik 2024. "Tinggal momentumnya itu kapan," ucap Menko PMK itu.

Bagi PDIP, kesepakatan Prabowo dan Megawati adalah terkait kepentingan NKRI lebih penting dari kepentingan partai, kepentingan golongan, dan kepentingan pribadi. Belum ada bagi-bagi kursi. Termasuk kepada partai di luar koalisi.

"Itu kesepakatannya. Tapi pembagian kekuasaan dan sebagainya belum ada," ujar Eriko menambahkan.

Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengaku Partai Gerindra belum memberi keputusan untuk bergabung mendukung pemerintahan Jokowi periode ke-2. Keputusan Partai Gerindra menunggu keputusan Prabowo.

Menurut dia, peran Jokowi dan Megawati selama ini tidak menutup kemungkinan membuka peluang partainya bergabung. Apalagi bila dua tokoh itu merasa perlu bantuan demi kedaulatan negara, tentu Partai Gerindra sangat terbuka lebar. Namun, bila tetap berada di oposisi tentu bukan masalah bagi pihaknya. "Bagi Pak Prabowo keduanya sama," jelas Dahnil menegaskan.

(mdk/ang)