Jiwa-Jiwa yang Tertekan Akibat Corona

Jiwa-Jiwa yang Tertekan Akibat Corona
KHAS | 29 Mei 2020 09:30 Reporter : Rifa Yusya Adilah

Merdeka.com - Sore di balkon rumah. Gadis sedang asyik duduk termenung menikmati semilir angin. Sambil menatap langit cerah Surabaya, raut wajahnya begitu bahagia. Sesekali dia tertawa geli sendiri.

Suasana memang begitu rileks. Ditambah kerjaan hari itu sudah beres. Di balik tawa bahagia itu, Gadis sedang membayangkan liburan. Pergi ke sebuah negara, melakukan berbagai keseruan.

Sedang asyik berkhayal liburan, seketika adiknya datang membuyarkan. Meledek lantaran melihat sang kakak tertawa sendiri.

gadis hilmi

Gadis Hilmi ©2020 Merdeka.com

"Tidak sadar aku tiba-tiba tertawa sendiri dan adik aku lihat," kata Gadis terbahak-bahak menceritakan kejadian itu kepada kami, Rabu lalu.

Belum pernah Gadis berkhayal sampai tertawa sendiri. Liburan memang menjadi hal paling dirindukan saat ini. Apalagi rencana berlibur yang sudah dirancang harus terpaksa dibatalkan. Semua akibat wabah pandemi corona melanda Indonesia.

Gadis Hilmi merupakan seorang kreatif dari rumah produksi di Jakarta. Sudah sejak akhir April sudah berada di Surabaya, Jawa Timur. Dia terpaksa pulang kampung dengan menerapkan isolasi mandiri ketika tiba di rumah.

Hampir sebulan di Surabaya, membuat perempuan 21 tahun itu merasa jenuh. Beruntung tidak ada gejala apapun selama menjalani isolasi mandiri.

"Pokoknya tingkat kebosanannya tidak bisa dideskripsikan deh," ujar dia.

Sejak pandemi corona, pemerintah meminta semua kegiatan masyarakat dilakukan di rumah. Termasuk menyelesaikan bekerja dan sekolah. Semua demi memutus mata rantai penyebaran virus.

Sudah tiga bulan anjuran itu diberlakukan. Selain bertujuan baik, ternyata cukup berdampak buruk bagi banyak individu. Tingkat stres mereka naik dan rawan mengalami jiwa. Rasa bosan menjadi faktor penting.

Selama menjalani aktivitas di rumah, membuat pola hidupnya berubah. Gadis justru tidak merasa nyaman. Kerja di rumah membawa dirinya ke tingkat kegelisahan tertentu.

"Karena kelamaan di rumah, aku jadi lebih sering membayangkan hal-hal yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya," kata dia.

Kecemasan bisa menjadi pendorong seseorang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Faktor kegiatan di rumah saja menjadi pemicu.

1 dari 2 halaman

Bukan hanya kebosanan timbul akibat terbatasnya ruang selama menghadapi pandemi corona. Ada pula kesedihan juga muncul.

Sari Devi, pekerja televisi swasta, mengaku lebih sering menangis belakangan ini. Rasa kekhawatiran dirinya begitu tinggi. Terutama ketika berada di transportasi umum.

Sebagai pekerja di perusahaan media, penerapan kerja di rumah hanya berlaku sebulan. Itu pun ketika awal pandemi corona ini melanda.

Selebihnya kerjaan harus dirampungkan di kantor. Memang awalnya tingkat kecemasan begitu tinggi. Kini berangsur lebih rileks lantaran sudah mulai terbiasa meskipun harus ekstra menjaga kebersihannya.

sari devi

Sari Devi ©2020 Merdeka.com

Perempuan akrab disapa Sardev, ini mengaku rindu berkumpul dengan para sahabatnya. Dia sangat memerlukan teman cerita. Meluapkan segala isi gundah gulana di dalam hatinya.

Memang bisa dilakukan lewat telepon maupun panggilan video. Tetap saja itu rasanya kurang. "Aku tidak bisa cerita ke sahabat secara langsung. Jadinya semua masalah dipendam. jujur jadi capek batin selain capek tenaga," ujar Sardev kepada kami.

Semua keinginan untuk bertemu dengan para sahabatnya terpaksa harus dipendam. Sardev mencoba mengikuti anjuran pemerintah. Situasi ini begitu menyiksa. Tidak bisa cerita ke siapapun.

2 dari 2 halaman

Memahami Gangguan Psikologi

Pandemi virus corona menjadi faktor dasar menyebabkan perubahan pada semua orang. Banyak perubahan cukup drastis. Kondisi ini tentu menuntut hidup individu untuk menerima segala perubahan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Aully Grashinta, M. Si, Psi, melihat perubahan terjadi akibat pandemi corona baik positif maupun negatif pasti menimbulkan tekanan tersendiri pada setiap orang. Nantinya akan berdampak pada kecemasan dan ketegangan. Apalagi kondisi ini memaksa mereka harus keluar dari zona nyaman.

Sebenarnya tekanan dialami juga berlaku umum untuk semua keadaan. Semua kembali lagi kepada tiap individu untuk bisa bertahan hidup dengan kemampuan adaptasi terhadap segala perubahan.

dosen fakultas psikologi universitas pancasila aully grashinta m si psi

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Aully Grashinta, M. Si, Psi ©2020 Merdeka.com

"Orang yang bisa survive atau menghadapi perubahan dengan baik adalah orang yang memiliki kemampuan adaptasi yang memadai. Karena perubahan ini terkait dengan fisik, sosial, psikologis, dan juga ekonomi," kaya Aully kepada merdeka.com.

Menurut Aully, gejala gangguan psikologi ada batasannya. Kondisi itu bisa disebut gangguan jika sudah sering menimbulkan kerugian pada diri sendiri ataupun orang lain secara konsisten terjadi selama minimal dua pekan.

Misalnya, kata dia, rasa sedih terus menerus selama dua pekan sampai mengganggu diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Kemudian akibatnya membuatnya kesulitan menyelesaikan pekerjaan kantor maupun pekerjaan rumah. Kondisi ini maka perlu diwaspadai adanya kemungkinan gangguan psikologis.

"Tentunya tidak bisa digeneralisasi masing-masing gangguan psikologis ya karena akan berbeda-beda pada tiap individu," ujar dia.

Dari cerita Gadis dan Sardev, Aully melihat dua perempuan tersebut mulai menunjukkan adanya masalah psikologis. Pada kasus dialami Sardev yang menjadi lebih melankolis karena tidak bisa bertemu dengan temannya. Itu sebenarnya masalah psikologisnya sudah ada sebelum pandemi.

Bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain di kantor, kata Aully, membuat Sardev merasa teralihkan dari masalahnya walaupun belum menemukan solusinya. Karenanya saat tidak bisa bertemu dengan beberapa temannya maka mulai merasa depresif.

Meski begitu, kuncinya tetap pada individu. Apakah orang tersebut siap untuk menyesuaikan diri dengan perubahan atau menolak untuk berubah. Penolakan untuk berubah inilah, menurut Aully, yang sebenarnya memperparah masalah dihadapi saat pandemi corona.

"Orang yang sehat secara psikologis seharusnya dapat mencari solusi atas masalahnya, misalnya dengan mencari bantuan ahli. Banyak sekali jalur-jalur konseling online yang dibuka untuk membantu individu-individu dalam menghadapi proses perubahan ini," ungkap Psikolog yang membuka konseling di Fakultas Psikologi Universitas Pancasila ini.

Sementara untuk kasus dialami Gadis yang liburannya batal, kondisi ini sebenarnya bermasalah juga di penerimaan. Individu seperti ini perlu dibantu untuk bisa menerima dan melepaskan. Penerimaan akan lebih mudah ketika melihat banyak kasus lain yang lebih parah. Misalnya, berbagai kerugian yang dialami banyak pihak pariwisata terdampak corona.

"Jika bisa melihat hal yang positif dari pandemi ini, tentunya tidak akan menjadi masalah secara psikologis," ucapnya.

Menjalani hidup di masa pandemi corona salah satu yang sulit dihadapi memang regulasi diri. Jika seseorang sulit bahkan tidak mampu terbiasa tentu akan menyulitkan dengan berbagai aktivitas di rumah saja. Termasuk jika kerja di rumah.

Aully menjelaskan, regulasi diri adalah kebiasaan kedisiplinan yang dibangun bertahun-tahun. Adanya pandemi corona ini malah menunjukkan bahwa selama ini seseorang tersebut mungkin belum memiliki regulasi diri yang baik. Misalnya, menjadi lebih malas dan jadwal berantakan saat kerja di rumah.

Cara terbaik untuk mengatasinya, salah satunya perlu membuat tabel waktu perencanaan dan penjadwalan. Ditulis dengan jelas mulai dari bangun pagi lalu apa saja yang dikerjakan selama satu hari. Goal juga perlu ditetapkan saat perencanaan sehingga tujuan per hari lebih jelas.

Kemudian alokasikan juga waktu yang seimbang untuk kegiatan olahraga, kegiatan produktif, kegiatan hiburan, dan kegiatan istirahat. Lalu berusaha untuk memenuhi jadwal dengan baik, bahkan bisa saja memberi hadiah pada diri sendiri jika goal tercapai.

"Saat orang tidak memiliki goal, maka manajemen waktunya akan berantakan, karena tidak tahu apa yang diharapkan atau diinginkan," kata Aully menjelaskan.

(mdk/ang)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5