Satu Jiwa Demi Membangun Papua

KHAS » MAKASSAR | 23 Agustus 2019 09:01 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Papua, tahun 2008. Fajar Cuan memutuskan menempuh pendidikan tinggi di Pulau Jawa. Dari kampungnya di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, dia menuju Wamena kemudian terbang menuju Jayapura, Papua. Berlanjut menggunakan penerbangan rute Jayapura-Jakarta.

Menempuh perjalanan panjang, tidak membuat dia menyerah. Padahal usianya ketika itu masih muda. Baru lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Semua dilakukan demi kualitas pendidikan lebih baik dibanding kampung halamannya.

Bukan tanpa alasan Fajar pergi jauh. Pamannya yang menikah dengan warga Bogor, siap menjaganya. Bahkan berjanji menanggung biaya sekolah sampai tempat tinggalnya nanti. "Orang tua saya tidak mampu. Lalu ada kesempatan, orang yang ingin tanggung jawab pendidikan saya," kenang Fajar bercerita kepada kami.

Pertemuan kami dengan Fajar di sebuah rumah Jalan Gang Puri Intan 2, Ciputat Timur pada Rabu, 21 Agustus 2019 lalu. Di sana setiap hari dilewati bersama rekan sesama mahasiswa asal Papua.

Menurut Fajar, keputusan mengejar ilmu di Pulau Jawa membuat orangtua senang. Ingin lihat anaknya sukses di masa depan. Mereka yakin pendidikan bakal jadi jalan keluar dari segala keterbatasan.

Tidak banyak bekal berharga diberikan. Namun, bagi Fajar pesan kedua orangtua itu sangat berharga. Hanya Sebuah pesan yang selalu diingat meski sudah 11 tahun lamanya. "Kalau kamu punya niat belajar, merantau, baik-baik. Jangan buat hal-hal yang bisa merugikan kamu. Terutama keluarga," ujar Fajar menirukan pesan orang tuanya.

Fajar mulai masuk SMA pada 2009. Dia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jauh berbeda dari kehidupannya selama di Papua. Tanpa rasa canggung, dia berteman dengan siapa saja. Tak ada rasa rendah diri. Meski terkadang dipandang berbeda.

Selepas lulus SMA, Fajar mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Mengikuti jejak para seniornya asal Papua. Dia mendaftarkan diri melalui jalur mandiri. Tanpa bantuan beasiswa pemerintah.

Semua proses seleksi masuk perguruan tinggi dilalui. Fajar dinyatakan lulus. Jurusan studi agama jadi pilihannya. Berhasil mencatatkan nama sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri, tak membuat dirinya jumawa.

Keberhasilannya memang menjadi kebanggaan. Apalagi setelah mendengar bahwa tidak semua orang bisa diterima di universitas negeri. Dia sanggup berkompetisi dengan calon mahasiswa lainnya. "Orang UIN senang karena saya juga representasi muslim dari Papua," katanya.

Sambutan hangat dosen dan mahasiswa lain dirasakannya. Di luar kelas, Fajar kerap dimotivasi para pengajar untuk serius belajar. Setelah berhasil, tugas membangun Papua jadi tantangannya.

Tak terbersit keinginan untuk menetap menjadi warga Pulau Jawa. Cita-citanya sederhana. Hanya ingin punya arti bagi kampung halamannya. Pesan lain dari orang tuanya. "Tamat kuliah, cari ilmu. Setelah selesai kembali ke Papua. Bangun Papua."

Cerita serupa dari dari mahasiswa asal Papua di Surabaya. Agustinus Tinopi, berani mengambil keputusan meninggalkan tanah kelahirannya di Teluk Bintuni, Papua Barat. Demi menimba ilmu, dia hijrah ke Surabaya. Lalu mendapat kesempatan kuliah di Universitas Dr Soetomo (Unitomo), mengambil jurusan Teknik Informatika.

Sejak tahun 2014, Agustinus menetap di Surabaya. Keinginan menimba ilmu itu mendapatkan dukungan besar dari keluarga, terutama sang ayah. Padahal ketika itu dia sudah berkuliah di Manokwari, Papua Barat.

Dorongan sang ayah justru memicu untuk membulatkan tekad terbang menuju Surabaya. Apalagi dia diingatkan agar suatu saat jika kembali ke tanah kelahirannya membawa lebih banyak ilmu yang bermanfaat.

Selama di Surabaya dia sudah menorehkan prestasi gemilang lewat pencak silat. Dari olahraga kegemarannya itu, dia menembus juara ke-2 di turnamen pencak silat ITS Cup pada 2017 lalu. "Saya senang dengan pencak silat. Di Papua saya sudah mengikuti pencak silat," ucap Agustinus saat ditemui di kampus Unitomo, Kamis kemarin.

Menapakkan kaki di Kota Pahlawan, membuat Agustinus senang. Apalagi masyarakat di tempatnya tinggal cukup ramah. Merasa mendapatkan perhatian baik dari warga, terutama perangkat RT. Dia tinggal di Jalan Pumpungan, Kota Surabaya. Banyak kegiatan warga di sana, seperti kerja bakti selalu diikuti.

Rekan sejawatnya asal Papua, Monica Marice Asirabab, merasakan hal serupa. Mahasiswi Unitomo semester IV jurusan hukum ini mengaku senang menimba ilmu di Surabaya. Meski sejak awal kuliah adalah bukan keinginannya, namun kini dia sangat menikmati.

Sebagai perantau, selama ini Monica tinggal di kawasan Bratang Binangun, Surabaya. Dia merasa cukup nyaman berada di lingkungan baru. Tak pernah ada masalah dengan warga sekitar. Justru kerap menerima banyak pujian.

"Awalnya lulus sekolah maunya langsung kerja. Tapi disuruh sama orangtua kuliah. Saya senang di sini, tidak pernah ada masalah. Saya malah dipuji di sana (tempat tinggal), di kampus juga dipuji," ujar gadis berumur 20 tahun ini.

Kebanyakan mahasiswa asal Papua tidak ada yang selamanya menetap di Pulau Jawa. Kalaupun ada, hanya segelintir saja. Mereka pasti punya keinginan kembali ke tanah kelahiran. Sejatinya, ini panggilan jiwa. Keinginan kuat demi kemajuan Papua.

Menurut Fajar, rata-rata mahasiswa asal Papua di Pulau Jawa tak ingin melihat Papua terus menerus dipandang terbelakang. Mereka terdorong untuk punya peran dalam memajukan kampungnya. Seolah sudah menjadi satu jiwa, mereka ingin kembali memberikan kemampuannya demi membangun Papua

"Terdorong keadaan di Papua yang keterbatasan. Sehingga setelah menyelesaikan kuliah, dituntut balik ke Papua," ungkap dia. "Rata-rata semua mahasiswa Papua begitu. Kembali untuk membangun Papua," Fajar menambahkan.

Baca juga:
Cerita dari Asrama Mahasiswa Papua
Papua Melawan Stigma
Genggam Merah Putih, Saman Perjuangkan Toleransi di Fakfak
Mahasiswa Papua Minta Jokowi dan Khofifah Datang ke Tanah Papua
Mahasiswa Papua dan Sejumlah Pihak di Makassar Serukan Persatuan
Aksi Kamisan Minta Pemerintah Hentikan Rasisme dan Diskriminasi Papua

(mdk/ang)