Wawancara Yusril (2)

Saya yakin argumen saya kuat

KHAS | 6 April 2012 12:52 Reporter : Mohamad Taufik

Merdeka.com - Sebagai advokat, Yusril Ihza Mahendra menegaskan pengajuan uji materi Undang-undang APBN-P 2012 ke Mahkamah Konstitusi (MK) bukan kemauannya. Dia mengaku melakukan itu atas permintaan masyarakat.

"Permohonan itu saya ajukan atas permintaan tertulis bermaterai dari ratusan masyarakat yang menunjuk saya selaku advokat untuk melakukan langkah hukum ke MK," katanya.

Yusril yakin dalam bekerja MK tidak bisa diintervensi oleh pihak mana pun karena argumen yang dipakai dalam bersidang murni berdasarkan yuridis. Lalu seperti apa persiapan Yusril dalam pengajuan uji materi kali ini? Berikut ini penuturannya saat ditemui Muhammad Taufik dan Islahuddin dari merdeka.com di kantornya, Rabu (4/4) malam:

Apa persiapan Anda melakukan uji materi kali ini?

Saya sudah berkali-kali menguji undang-undang di Mahkamah Konstitusi. Paling penting dari itu, kita memiliki argumen kuat. Itu soal ilmu berbasiskan filsafat hukum, termasuk teori ilmu hukum, teori perundang-undangan. Untuk menguji suatu undang-undang dan sampai tingkat itu barangkali tergantung kapasitas akademik tiap orang yang mungkin berbeda.

Mungkin saya melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat. Karena itu, saya sering memulai dari sesuatu yang dianggap orang lain mula-mula ketawa, benar-benar sinting bagi saya, tapi lihat saja nanti. Ini bukan debat politik, ini betul-betul debat ilmu. Dulu misalnya saya bilang, Hendarman tidak sah. Orang-orang ketawa dan bilang gila elo. Banyak yang mengatakan begitu. Lihat saja.

Jadi sebenarnya, saya melihat pasal 7 ayat 6a itu memang cukup beralasan dibatalkan oleh MK. Nanti saya uraikan dalam argumentasi saya. Ini kan pengadilan, adil. Presiden dipanggil memberikan keterangan dan dia bisa berdebat, menyanggah. DPR juga diberikan kesempatan sama. Setelah itu hakim akan menimbang-nimbang untuk memutuskan argumen siapa paling kuat. saya senang dengan ini dan menikmati juga. Artinya, kita uji argumentasi dan diputuskan oleh panel sembilan hakim.

Anda optimistis bakal menang?

Kita ini ilmuwan, akademisi. Saya yakin argumen saya kuat. Orang lain bisa mengatakan argumennya kuat juga. Jadi keputusan akhir ada di tangan sembilan hakim itu karena itu saya tidak bisa memprediksi. Kami bekerja di bawah kode etik. Kalau anda seorang dokter, anda juga tidak bisa memberikan jaminan pasti sembuh kepada pasien. Demikian juga advokat, tidak bisa memberikan jaminan itu. Kalau ada advokat seperti itu dan dilaporakan ke bagian kode etik, pasti diberi sanksi.          

Seperti apa posisi Anda dalam uji materi kali ini?

Posisi saya hanya advokat, pemohonnya orang-orang yang memberikan kuasa ke saya yang tadi saya ceritakan sebelumnya.

 

 

(mdk/fas)