Sepenggal Cerita dari Redupnya Kamar Indekos

Sepenggal Cerita dari Redupnya Kamar Indekos
Bisnis indekos terhantam pandemi. ©Istimewa
KHAS | 10 September 2021 07:00 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Opak menenteng perlengkapan kebersihan. Sebuah sapu dan alat mengepel lantai digenggam. Hari itu, dia ingin membersihkan ruangan di lantai atas. Tempat deretan kamar indekos miliknya.

Suasana terasa sangat berbeda. Tidak lagi sama dengan dua tahun lalu. Tepat sebelum pandemi melanda.

Semua daun pintu tertutup rapat. Begitu juga dengan jendela. Sayup suara dari dalam kamar tidak lagi terdengar. Benar-benar sepi dan hening.

"Tidak ada kehidupan lagi di lantai atas," kata Opak saat berbincang dengan merdeka.com.

Kedua bola matanya berkeliling memandangi sudut ruangan. Sembari mengayunkan dua tangan membersihkan kotoran. Dalam hatinya bergumam. Merindukan keramaian para penghuni kos-kosan.

Opak menceritakan. Pandemi luar biasa menghantam sendi kehidupan. Bukan cuma mengganggu kesehatan. Tetapi menghancurkan keuangan.

Cerita hari ini bak sejarah baginya. Merintis usaha sejak 2006. Tidak pernah terbayang berada dalam kondisi krisis dalam berbisnis.

Kebijakan bekerja dan belajar dari rumah di masa pandemi membuatnya gigit jari. Berbulan-bulan, sembilan pintu kamar kosong tak terisi. Padahal dahulu, indekosnya dicari-cari.

"Sebagai pemilik usaha kos-kosan beneran berdampak banget. Sejak 2006 bisnis kosan, tapi ini sejarah kosong berbulan-bulan," katanya.

bisnis indekos terhantam pandemi

Indekos Opak ada di kawasan Jl Bunga, Matraman Jakarta Pusat. Secara lokasi, sangat strategis. Dekat dengan perkantoran. Tetapi apa daya, kebijakan selama pandemi membuatnya kehilangan penyewa.

"Sebelum Covid padahal penuh terus," ujar pria yang memiliki hobi foto ini.

Memang, di awal pandemi, kamar kosan diputuskan kosong sementara. Dia tidak ingin ada anggota keluarga terpapar. Kebetulan pula, di beberapa titik bangunan harus direnovasi.

Pertengahan pandemi, tepat perbaikan selesai. Opak berharap kamar-kamar itu akan kembali disewa. Tetapi sampai hari ini, justru kosong melompong.

"Dan ternyata beberapa tempat kos di sebelah-sebelah saya juga sama kondisinya, ada yang hanya terisi 10 persen. Ada pula yang nasibnya kayak aku. Kosong semua. Dan anak saya yang kuliah di Yogya juga cerita yang sama, indekosnya banyak yang kosong," ungkapnya.

Padahal, informasi indekos kosong sudah disebar di akun media sosial miliknya. Tetapi sampai hari ini, belum ada penyewa kamar 3x3 sesuai kriteria ditetapkan.

Opak berkelakar. Jika dulu usaha indekos dianggap paling menjanjikan dan tak pernah mati. Rasanya kini tak lagi sama.

"Udah tidak ada lagi istilah juragan kos-kosan," ucapnya diikuti tertawa.

Akibat kamar kos kosong, Opak tidak mendapatkan pemasukan dari bisnis sampingannya ini. Padahal sebelumnya, dalam satu bulan dia bisa mengantongi bersih Rp4,5 juta dari sembilan kamar disewakan

"Tapi kita akan ubah strategi. Saya akan tempat pengumuman di jalan-jalan. Mudah-mudahan segera keisilah," ucapnya.

bisnis indekos terhantam pandemi

Tak hanya indekos untuk karyawan yang sepi. Kamar kos di sekitar kampus demikian. Suasana ramai dan riuh suara mahasiswa belajar bersama hilang seketika.

Biasanya, indekos di dekat kampus selalu dipadati mahasiswa perantauan. Apalagi ketika masuk tahun ajaran baru. Mahasiswa sampai kesulitan mencari tempat tinggal selama menempuh pendidikan.

Tetapi belakangan kejadian itu tidak lagi dirasakan. Pemilik indekos di sekitaran kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat juga menjerit. Mereka kehilangan pemasukan. Gara-gara sepinya mahasiswa mencari indekos.

Seorang pemilik indekos mahasiswa di kawasan Kukusan Depok bercerita. Pendapatannya menurun hingga 100 persen selama pandemi. Jika dulu dua rumah yang disulap menjadi indekos penuh terisi, kini hanya satu rumah berpenghuni. Itupun kamar tidak semua terisi.

"Selama 1,5 tahun jumlah anak kos menurun drastis. Kebetulan saya ada dua rumah kos, yang 1 kosong sama sekali, satu lagi turun 60 persen," kata pemilik kos di UI yang enggan disebut namanya.

Meski sepi penyewa, pemilik harus tetap merawat kamar-kamar agar tidak rusak dan tetap bersih. Artinya, pengeluaran untuk perawatan tidak berkurang. Sementara jumlah penghuni menyusut drastis.

"Cost bulanan masih tetap dikeluarkan seperti normal. Namun pendapatan menurun. Ini yang cukup memberatkan, karena kita tetap harus melayani anak kos yang tersisa," katanya.

Para pemilik usaha indekos sangat berharap pandemi segera pulih. Sehingga aktivitas belajar dan perkantoran kembali normal. Dengan begitu usaha mereka kembali bergairah.

Setahun terakhir, para juragan indekos mengaku babak belur untuk bertahan. Padahal selama ini, kondisi kehilangan penyewa sama sekali tidak pernah terpikirkan.

bisnis indekos terhantam pandemi

"Karena berdampak banget terasa, dari 11 kamar, terisi cuma dua," kata Rizky, pemilik indekos di dekat kampus Telkom University, Bandung.

Sepinya penyewa membuat pendapatan Rizky terkecil kencang. Meski berat, dia terpaksa memotong gaji penjaga indekos hingga mengurangi biaya operasional.

"Sampe sekarang turun 80 persen," kata Rizky.

Fasilitas Internet Bikin Penghuni Betah

Bagi sebagian orang, usaha indekos kini tidak ubahnya bisnis penginapan. Sepi ditinggal penghuni karena pandemi.

Tetapi, ada sebagian merasakan manfaatnya. Berkat fasilitas internet, penghuni justru memilih bertahan di indekos daripada pulang ke kampung halaman. Keberadaan jaringan internet memang sangat dibutuhkan di situasi pandemi. Sebab mayoritas kegiatan dilakukan secara daring.

"Sebenarnya kemarin udah nyoba sekitar dua bulan di rumah. Tapi kalau aku pribadi ngerasa nggak nyaman saja sih karena emang lebih suka sendiri," cerita Ajeng.

Syahab juga merasa beruntung. Pandemi membuat usahanya justru tumbuh dan berkembang.

Penghuni di indekos miliknya di kawasan Kalibata justru memilih bertahan. Bisnis yang dimulai tahun 2020, justru terus membaik hingga pertengahan 2021 ini.

"Ada 10 kamar, Alhamdulillah full," ucapnya semringah.

bisnis indekos terhantam pandemi

Di tempatnya, tarif kamar ada dua. Kisaran Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta. Para penyewa juga mengatur sendiri kebutuhan listrik mereka karena di tiap kamar terpasang token.

"Jadi PPKM ini enggak terlalu berpengaruh karena memang mereka WFH tetap di kosan," katanya.

Tetapi masalah lain muncul. Buat sebagian pemilik indekos, kebijakan WFH membuat tagihan listrik membengkak. Sebab mayoritas penghuni bekerja di dalam kamarnya masing-masing.

"Ngefeknya mungkin di tagihan listrik naik karena semua WFH, jadi lebih tinggi juga pemakaian listriknya," kata Nia, pemilik indekos di Malang.

Dia tidak merasakan kehilangan penyewa akibat pandemi. Sepanjang pandemi, katanya, semua kamar justru terisi. Andai pun ada yang keluar, segera terisi.

Bisnis indekos memang primadona. Tak pernah ada musim atau masanya. Setiap saat selalu dicari dan dihuni.

Tetapi itu cerita dulu. Pandemi telah membuat banyak usaha jatuh bangun. Termasuk bisnis indekos. (mdk/lia)

Baca juga:
Pemerintah Pastikan Peran Penting Perempuan di Masa Pandemi
Menengok Wisata Susur Sungai Mahakam yang Coba Bangkit di Tengah Pandemi
Moeldoko: Pandemi Memicu Kebangkitan Potensi Indonesia
Objek Wisata Bromo Tengger Semeru Kembali Buka, Perhatikan Ini Sebelum Berkunjung
Bantu Warga Terdampak Pandemi, Ruri Repvblik Lakukan Cara Ini
Kasus Covid-19 Melandai, Seluruh RT di Padang Masuk Zona Hijau
500 Ribu Dosis Vaksin AstraZeneca Bantuan Australia Kembali Tiba di Tanah Air

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami