Wawancara Direktur Blue Bird 1

Si 'burung biru' jawara perusahaan taksi nusantara

KHAS | 12 Juni 2015 09:57 Reporter : Anwar Khumaini

Merdeka.com - Kalau anda ingin naik taksi di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya di Indonesia, hal pertama yang mungkin muncul di benak anda adalah: Blue Bird. nama Blue Bird begitu familiar bagi masyarakat perkotaan yang membutuhkan jasa taksi, terutama bagi mereka yang mementingkan keamanan, kenyamanan, serta harga yang pasti.

Tak banyak yang tahu, Blue Bird ternyata awalnya dirintis dari mobil keluarga yang merupakan hibah dari pemerintah untuk almarhum Djoko Soetono, yang saat itu berprofesi sebagai dosen hukum di Universitas Indonesia. Dari dua mobil hibah tersebut, dimulailah usaha antar jemput, berawal melayani tetangga-tetangga.

Para tetangga di daerah Menteng, Jakarta Pusat saat itu yang tentunya banyak memiliki mobil, dan tak terpakai, akhirnya ikut-ikutan dititipkan untuk dijadikan sebagai armada bisnis antar jemput, yang akhirnya kini menjelma sebagai perusahaan taksi terbesar di Indonesia.

"Waktu itu almarhum kakek (Djokosoetono) setelah meninggal, dari pemerintah menghibahkan kendaraan dinas, akhirnya kendaraan dinas itu jadi jasa kendaraan door to door service. Nenek pada saat itu dengan dua putranya mengunakan dua kendaraan yang dihibahkan atas jasanya kakek untuk transportasi tetangganya," cerita Direktur PT Blue Bird TBK, Adrianto Djokosoetono, dalam wawancara khusus dengan merdeka.com di bilangan Jakarta Selatan, belum lama ini.

Tak cuma bergerak di bidang usaha transportasi taksi saja, kini Blue Bird telah merambah ke berbagai sektor usaha lainnya seperti logistik, rental mobil, bus, dan lainnya.

Terilhami dari cerita rakyat Eropa tentang seekor burung biru pembawa kebahagiaan, lahirlah nama Blue Bird, yang hingga saat ini masih menjadi pelopor perusahaan taksi terbesar di Indonesia.

Berikut wawancara merdeka.com dengan Adrianto Djokosoetono, Direktur Blue Bird, yang merupakan generasi ketiga salah satu pewaris bisnis keluarga tersebut:

Bagaimana sejarah berdirinya Blue Bird?

Secara grup kalau blue bird bermula dari usaha keluarga, 1965. Itu cikal bakal dimulainya usaha di transportasi ini. Waktu itu almarhum kakek (Djokosoetono) setelah meninggal, dari pemerintah menghibahkan kendaraan dinas, akhirnya kendaraan dinas itu jadi jasa kendaraan door to door service. Nenek pada saat itu dengan dua putranya mengunakan dua kendaraan yang dihibahkan atas jasanya kakek untuk transportasi tetangganya. Awalnya gitu, akhirnya berkembang, tetangga daerah Menteng kan banyak yang puya mobil, gak dipakai, dititip-titipin. Berkembang jadi tahun berikutnya berkembang jadi usaha. Setelah ada regulasi taksi, lalu daftar jadi perusahaan taksi, berkembang terus sampai sekarang. Ada rental car, logistik, dan yang lain-lainnya.

Memakai nama Blue Bird apakah ada historisnya?

Kebetulan waktu itu nenek pendidikan di Belanda, ambil hukum. Pada saat beliau sekolah di sana ada kisah tentang burung biru, kisah rakyat di Eropa bahwa ada seorang gadis kecil yang ingin hidup bahagia. Datanglah burung biru, dia bicara kepada burung biru kenapa dia bersedih. Akhirnya burung biru bilang, 'kamu bisa bahagia kalau kamu kerja keras dan jujur'. Akhirnya itulah jadi landasan filosofi, sehingga namanya Blue Bird untuk mengingatkan selalu bahwa kita harus kerja keras dan jujur.

Kisah itu dalam bentuk apa?

Novel, judulnya Bird of Happiness. Kalau kita googling Blue Bird of Happines, ada kok.

Perkembangan Blue Bird sekarang seperti apa?

Kalau kita bicara growt dari grup, kita ada divisi yang lain, ada industri, properti, teknologi, konsultasi, logistik. Tapi kalau kita bicara di transport, passangernya kita per akhir tahun lalu sudah 35 ribu kendaraan, itu terdiri dari taksi, bus-bus wisata, charter lah baik untuk korporat atau insidentil, dan juga car rental, serta taksi.

Persentase secara nasional Blue Bird dibandingkan dengan perusahaan taksi lainnya?

Kalau data per 2013, kita masih di 33 persen.

Berarti mayoritas?

Masih yang paling besar iya, dari sisi jumlah taksi ya.

Kalau jumlah total karyawan?

Karyawan 5-6 ribu, pengemudi 35 ribu. Pengemudi masuk mitra. Kenapa kita ada pengemudi dan ada karyawan, karena pengemudi yang menjalankan kendaraan. Spesifik ada bagian tertentu. Kalau karyawan penunjang, kita penunjang. Yang paling banyak revenue salesnya dari pengemudi.

Bagaimana antisipasi Blue Bird terhadap maraknya tindakan kriminal terhadap para sopir taksi?

Memang cukup sulit menjawab secara langsung, karena saya yakin di negara yang paling aman pun crime pasti ada. Tapi kita mengurangi risiko yang tadi disampaikan. Kita melakukan selektif terhadap semua yang bekerja di kita, peralatan mobil pun, kita punya motto ANDAL (Aman Nyaman Mudah dan Personal), itu berlaku untuk customer, dan juga pengemudi kita. Pengemudi aman dan nyaman, dari segi pemilihan kendaraan, teknologi, kita gunakan GPS, ada peralatan emergency. Itu hal-hal yang kita implementasikan ke pengemudi kita.

Apakah ada pelatihan khusus kepada pengemudi tentang bela diri misalnya?

Ada tapi tidak wajib. Kita di cabang kita ada kegiatan itu ada, bela diri dan sebagainya. banyak lah keahlian ekstra yang mereka bisa.

Berapa persentase tindakan kriminal yang dialami sopir?

Kita tidak ada persentase, alhamdulillah kejadiannya sedikit. Tapi kami tentunya sangat sedih karena baru saja ada kejadian minggu lalu. Terus terang cukup sulit juga buat kita, karena itu pasti ada keluarga, pengemudi kita jadi korban meninggal. Pelakunya sedang dalam pelacakan kepolisian. Kejadiannya di perbatasan Bogor. Mobil dicuri, mungkin karena bersangkutan tau mobil kita ada GPS, mereka tahu ada peralatan. Tapi yang kita sayangkan mereka kan tahu ada peralatan deteksinya, harusnya mereka tidak melakukannya.

Permasalahan utama transportasi kita itu seperti apa?

Kita belum bisa efisien, itu salah satu yang utama. karena adanya chalange di infrastruktur kita, kemacetan-kemacetan di jalan berlebihan. Mungkin ada beberapa daerah yang kemarin sempat mengalami kelangkaan BBM, itu yang menurut saya saat ini jadi permasalahan utama. Belum meratanya pembangunan, dan distribusi keberadaan insfrastruktur utama dan pendukung, kita tidak efisean, ke sana jauh, kekurangan BBM langka, itu menyulitkan mereka untuk melakukan usaha efisien. Kalau pemerintah membangun infrastruktur, kita mendukung. Kalau insfrastruktur terbangun, kemudahan pencapaian titik-titik yang tidak terjangkau jadi terjangkau. (mdk/war)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.