Kisah Tukang Sunat 3

Sunat dari sakit sampai legit

KHAS | 11 Januari 2016 07:58 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya

Merdeka.com - Sejumlah metode sunat atau khitan dalam dunia kedokteran, kini makin berkembang. Jika dulu sunat hanya dikenal dua jenis, yaitu menggunakan jasa bengkong dan mantri atau dokter, kini sunat dilakukan dengan alat lebih modern.

Bisa dibilang, sunat kini tak sakit lagi. Tidak seperti dilakukan oleh bengkong. Penyembuhannya pun terbilang cepat, bisa tiga hari orang disunat langsung menggunakan celana dalam. Semua memang karena terobosan modern dengan bantuan alat-alat canggih sudah banyak ditemukan.

Salah satunya teknik sunat modern dengan menggunakan alat Neo AlisKlamp. Alat buatan negara Turki ini digunakan oleh Klinik Pondok Khitan di daerah Joglo, Jakarta Barat. Alat ini juga efektif membantu mengukur kulit kemaluan atau kulup akan dipotong.

Cara kerjanya, alat berbentuk selongsong ini sangat efektif melindungi glans penis (bagian kepala penis), agar tetap terjaga saat proses sunat dilakukan. "Sangat efektif," ujar dr Hadi saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu pekan kemarin.

Hadi menjelaskan langkah dilakukan dengan menggunakan alat ini untuk bedah sunat. Pertama alat ini akan bekerja dengan membuka atau melepaskan preputium kulup dari kepala penis kemaluan. Menurut pengalamannya, ada beberapa kasus di mana kondisi kepala kemaluan melekat erat dengan kulup.

Cara semacam ini jelas sangat berbeda dengan praktik sunat tradisional dilakukan oleh Bengkong. Sebab, bengkong biasanya melakukan pengukuran dengan menarik kulit penis sebelum dipotong. Sunat bengkong biasanya hanya menekankan pada aspek ketepatan presisi panjang kulit yang akan dipotong.

"Kalau alat rakitan yang diwariskan oleh orang tua saya kan sudah bisa mengukur berapa panjang kulit yang akan dipotong, dan alhamdulillah selama ini ukurannya selalu tepat," ujar Samlani yang sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai tukang sunat bengkong, saat ditemui di kediamannya di wilayah Ciledug, Tangerang Kamis, pekan lalu.

Dalam sunat modern, setelah preputium yang melekat kepala kemaluan itu terbuka, kulup akan dipotong itu diukur terlebih dahulu. Untuk mengetahui ukuran kepala kemaluan, alat Neo AlisKlamp ini menyediakan nomor sesuai dengan ukuran kepala kemaluan pasien.

"Jadi saat luka di kulit usai pemotongan itu mengalami penyembuhan, kepala penis juga tidak terganggu sama sekali saat pasien tersebut kencing," ujar dr Hadi.

Alat ini juga dinilai efektif untuk membuat pasien sunat yang umumnya anak-anak, agar mereka lebih tenang dalam menjalani proses khitan. Selain suntik anestesi medis yang dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit, darah yang keluar pun tak banyak. Sebab, aliran darah sudah dihalau dengan penjepit khusus yang terdapat dalam alat Neo AlisKlamp.

Selain itu, keunggulan lainnya dari metode khitan modern Neo AlisKlamp ini, adalah keleluasaan si pasien yang bisa langsung memakai celana dan beraktifitas normal setelah dikhitan, bahkan diperbolehkan untuk mandi dan berenang. Sementara, sunat bengkong mengharuskan pasiennya untuk menjaga kekeringan luka bekas sunat selama tiga hari, agar lukanya mengering dan cepat sembuh.

Meski demikian, keunggulan lain justru dimiliki oleh metode sunat bengkong, adalah tidak adanya perbedaan penanganan untuk pasien anak-anak maupun dewasa. Sementara dalam metode modern Neo Alisklamp, pasien dewasa diharuskan memasang alat Neo AlisKlamp selama lima hari sebelum disunat.

"Pemasangan alat selama lima hari inilah yang membuat preputium menjadi nekrotik (atau kulit mati) karena tidak dialiri darah, namun belum sampai pada tahap membusuk. Sehingga preputium yang sudah menghitam itu baru bisa dipotong setelah memasuki hari kelima," tutur dr Hadi.

(mdk/arb)