Tiong Hoa Hwee Kwan yang Mendahului Boedi Oetomo

KHAS | 16 Agustus 2019 10:34 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Kompleks pendidikan di Jalan Perniagaan nomor 31, Jakarta Barat. Menjadi saksi bisu etnis Tionghoa di Indonesia berperan dalam pergerakan melawan Belanda. Bukan dengan cara perang. Mereka melawan memakai pendidikan. Membangun sekolah modern bernama Pahoa di tahun 1901.

Perkumpulan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) menjadi pencetusnya. Organisasi pertama etnis Tionghoa di Indonesia ini berdiri pada 17 Maret 1900. Lebih kurang setahun setelah terbentuk, Sekolah Pahoa dibangun.

Awal terbentuk, sekolah ini untuk menyebarluaskan ajaran seorang filsuf Tiongkok bernama Konfusius. Di beberapa negara termasuk Indonesia, kemudian berkembang menjadi agama Konghucu.

Ilmu ajaran ini dikenal sebagai Konfusianisme, sebuah filsafat Cina yang mengajarkan tentang peningkatan moral dan etika manusia. Melalui cara itu perkumpulan THHK ingin meningkatkan harkat dan kedudukan warga Tiong Hoa di masyarakat.

Tahun pertama berdiri, Sekolah Pahoa berisi ada 32 siswa. Saat itu siswa perempuan dan laki-laki duduk dalam satu kelas sama. Prestasinya pada tahun 1906. Sebanyak 20 siswa Pahoa dikirim untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Kay Lam Hak Tong, Nanjing, Tiongkok.

Hampir 118 tahun berlalu. Sekolah Pahoa sudah berubah bentuk dan nama. Beruntung fungsinya tetap sama. Gapura bercat putih menjadi tanda. Lokasi itu kini menjadi SMA Negeri 19 Jakarta, SMP Negeri 63 Jakarta, SDN Tambora 01, 02 dan 03.

Daerah itu dulu bernama Jalan Patekoan. Menjadi sekolah modern pertama khusus etnis Tionghoa di Batavia. Berdirinya Sekolah Pahoa juga sebagai bentuk perlawanan. Sebab masa itu etnis Tionghoa tidak boleh sekolah yang dibuat pemerintah Belanda.

Bukan hanya satu sekolah itu dibangun. Perkumpulan THHK membuat lagi di Solo dan Tegal. Budi, alumni Pahoa di Tegal mengaku sekolahnya kala itu memiliki fasilitas memadai bagi para siswa.

"Saya dulu sekolah di THHK Tegal, fasilitas olahraganya lengkap. Hanya kami tidak punya kolam renang saja," cerita pria berusia 74 tahun itu saat berjumpa merdeka.com di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, pekan lalu.

Foto organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan ©2019 Merdeka.com/Ramadhian Fadillah

Awal kedatangan etnis Tionghoa di Indonesia sebenarnya untuk berdagang. Pusat perdagangan pertama mereka di kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Seiring perkembangan waktu sampai sekitar Museum Fatahillah. Terus meluas sampai pusat kota, tepatnya di area Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Kedatangan etnis Tionghoa biasanya membangun perekonomian baru di tiap daerah yang disambangi. Melalui geliat ekonomi selanjutnya mampu menciptakan peradaban.

Sejarawan muda, Asep Kambali, menyebut kepiawaian dagang etnis Tionghoa sampai membangun perekonomian Belanda dan penduduk pribumi. Sayang kemampuan itu salah dimanfaatkan. Pemerintah Belanda memakai kepandaian mereka untuk membangun sentimen politik adu domba.

"Sentimen politik pemerintah ini akhirnya mengadu domba mereka dengan kita (pribumi). Termasuk di zaman pasca kemerdekaan yaitu di bawah rezim Soeharto," cerita Founder Komunitas Historia Indonesia ini kepada merdeka.com.

Orang Tionghoa di Indonesia, menurut Asep, merupakan korban kekejaman pemerintah negara asalnya yang berpaham komunis. Berharap dapat kedamaian, mereka justru menerima fitnah dari Belanda. Sampai penduduk pribumi terprovokasi untuk memusuhi etnis ini.

Tahun 1942. Jepang mulai menduduki Indonesia. Banyak Sekolah Pahoa beralih fungsi menjadi barak militer tentara Jepang. Saat tiba di Indonesia, Jepang memang banyak menutup sekolah, media massa sampai membubarkan partai politik.

Sekolah Pahoa baru kembali beroperasi setahun kemudian. Mereka kembali membuka sekolah dengan meminjam gedung sekolah buatan Belanda di kawasan Mangga Besar.

Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, pemerintah melakukan transformasi pendidikan. Mulai banyak mata pelajaran diajarkan dalam bahasa Indonesia. Cara ini bertujuan agar para lulusan Sekolah Pahoa bisa melanjutkan pendidikan tinggi nasional.

Pada masa orde baru, Sekolah Pahoa di Blandongan, di Jalan Perniagaan dan di Mangga besar terpaksa ditutup. Sejumlah sekolah bentukan THHK diambil alih pemerintah di bawah rezim Presiden Soeharto. Semua itu kemudian dijadikan sekolah negeri. Salah satunya menjadi kompleks pendidikan SMA Negeri 19 Jakarta.

Tonggak Kemerdekaan Indonesia

Setelah THHK berdiri pada tahun 1900, muncul berbagai kelompok masyarakat berbasis etnis dan agama. Tahun 1905, lahir perkumpulan orang Islam bernama Jamiatul Khair. Perkumpulan ini juga mendirikan sekolah pendidikan berbasis agama Islam.

Berdirinya organisasi ini pun tak terlepas dari pengaruh kalangan Tionghoa di Batavia. Bahkan perkembangan masyarakat Tionghoa kerap menjadi patokan etnis Arab dalam menilai tingkat kemajuan pergerakan kelompoknya.

Papan nama organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan ©2019 Merdeka.com/Ramadhian Fadillah

Menurut Asep, seharusnya tonggak kebangkitan nasional dihitung saat THHK berdiri. Namun lantaran dua perkumpulan ini dilatarbelakangi agama maka tahun kebangkitan nasional dimulai sejak lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908.

Secara cakupan wilayah, THHK dan Jamiatul Khair memiliki cabang hampir di seluruh nusantara. "Kenapa jadi Boedi Oetomo? Karena itu lebih soal pendidikan. Sehingga lebih enak diangkat sebagai tonggak kebangkitan nasional," kata Asep menjelaskan.

Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, menilai penetapan berdirinya Boedi Oetomo sebagai tahun pergerakan lantaran di kemudian hari organisasi itu berpindah haluan menjadi partai politik. Sementara THHK tetap menjadi organisasi yang berjuang melawan penjajahan Belanda lewat pendidikan.

Banyak lulusan Sekolah Pahoa ikut dalam pergerakan. Tak hanya sebagai aktivis dan gabung partai politik. Mereka mewarnai perjuangan kemerdekaan lewat dunia olahraga, sastra hingga jurnalistik. "Jadi THHK ini mata air, sumber yang melahirkan tokoh-tokoh pergerakan," ujar Azmi.

Bila memakai tolak ukur pendidikan untuk tahun kebangkitan nasional, kelahiran organisasi THHK dan Jamiatul Khair seharusnya menjadi patokan. Apalagi berdirinya sekolah sebagai lembaga pendidikan dari berbagai organisasi memiliki tujuan sama. Mereka terbentuk untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda.

Semangat pergerakan nasional mencapai puncaknya di tahun 1920-an. Kala itu sudah banyak kelompok gerakan sudah terbentuk. Tiap kelompok juga sudah saling berjejaring menjalin komunikasi. Mereka lalu mempunyai tujuan sama. Membuat Indonesia merdeka dan mengusir penjajah dari bumi nusantara.

"Saya kira semua elemen masuk dalam napas pergerakan kemerdekaan. Kita ini puzzle yang terpisah dan bisa bersatu untuk tujuan yang sama," ungkap Azmi mengakhiri

(mdk/ang)