Turun kasta demi bertahan hidup

KHAS » MALANG | 3 Oktober 2016 07:07 Reporter : Muchlisa Choiriah

Merdeka.com - Tak cuma ondel-ondel, banyak kesenian tradisional yang kini berubah fungsi dan ditampilkan sebagai kesenian jalanan. Para seniman ini memilih bertahan hidup dengan cara mengamen karena tak memiliki keahlian lain.

Ditemui di kawasan Cibinong, Jawa Barat, para penari reog Ponorogo kerap beraksi di salah satu perempatan di jalan Raya Bogor saat lampu merah menyala. Berpakaian warok dengan make up lengkap, mereka memperagakan beberapa tarian dengan pecut atau cambuk. Mereka berharap uang dari para pengendara melintas.

"Ya, kami memang sudah di sini sejak awal tahun 2015," kata Aden (20), pimpinan Reog, saat ditemui di lampu merah kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/9).

Bersama dengan 7 anak buahnya, Aden menuturkan hampir setiap hari mereka beraksi dengan wajah bermake-up full layaknya warok dan pecutan. Hanya saja mereka tidak membawa barongan. "Kami tiap hari di sini, meskipun hujan tetap kami beraksi. Ya demi penghasilan. Jadi sekitaran lampu merah, ini kan ada beberapa lampu merah, jadi satu lampu merah 2-4 orang," ujarnya.

Dalam aksinya, Aden bersama anggotanya yang berusia mulai 14 tahun hingga 25 tahun ini bisa mengantongi Rp 100 ribu per harinya. Alasan mereka bergelut di reog, karena memang tak punya keahlian lain.

"Karena kan kita dari kecil tanpa pendidikan, cuma lulus SMP, bisa kerja apa? Paling-paling mentok kan cleaning service, mending ini lah kalau menurut saya," ujarnya.

Aden pengamen kesenian tradisional 2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Yang menarik, Aden berasal dari Bogor, bukan orang Ponorogo atau Jawa Timur. Dia belajar tarian reog dari temannya, seniman reog asal Ponorogo. Tertarik dengan reog, Aden menggelutinya dan belajar serius. Sebelum menjadi seniman reog, Aden mengaku hanya seorang pengamen biasa.

"Setelah kekumpul uangnya, saya ngajak anak pengamen lainnya untuk bergabung reog, saya ajarin deh mereka. Kalau cepat nangkep mah, satu hari juga sudah bisa, selanjutnya dandan rapih ke depan lampu merah. Jadi kami pertama turun dulu kan cari uang buat modal make up. Rp 100 ribu untuk satu grup. Satu grup ada 10-20 orang," paparnya.

Aden menuturkan, anggotanya semuanya merupakan anak jalanan. Mereka juga diajak tinggal bersama di satu kontrakan. "Jadi saya ajak 'ikutan yuk, daripada lo ngegembel, ngamen enggak jelas, uang jajan langsung abis'. Ini anak-anak sekitar sini. Eh mau diajak, sampai sekarang," jelasnya.

Meski terkesan ekstrem dengan mengandalkan cambuk, Aden mengungkapkan tidak ada trik khusus saat beraksi mencambuk rekannya.

"Engga ada trik khususnya,. Seharusnya kan kita ada musiknya seperti, gendang, gong, gamelan, tapi belum ada dananya jadi ya seadanya aja dulu. Terus itu enggak ada namanya kekebalan tubuh. Sebenarnya mah mata ngeliat kaya kena gitu, padahal mah cuma lewat gitu ngemuter gitu di kaki, enggak sakit, jadi engga ngelukain. Kenceng mah kenceng mecutnya, tapi engga sakit cuma muter doang," ucapnya.

Penghasilan memang tak begitu banyak, namun Aden dan anggotanya mengaku bisa mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan, mereka juga sempat menyisihkan Rp 20 ribu di tiap harinya untuk uang tabungan, berjaga-jaga jika tali atau alat reog rusak. "Saya maunya sih ini berjalan semakin baik, sukur-sukur kita bisa kumpulin uang beli alat lengkap, terus merambah ke buka sanggar. Ya kita terus berusaha semampu kita," tuturnya.

Pengamen kesenian tradisional 2016 Merdeka.com/Muchlisa Choiriah

Serupa dengan reog, kuda lumping yang juga salah satu kesenian daerah kini nampak berlalu-lalang di tiap-tiap gang. Seperti kelompok kuda lumping Pak Jamin, yang ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Bersama dengan dua rekannya yakni Rido dan Topan, Jamin (47) menuturkan sudah berkeliling sejak tahun 2010. Hal itu dilakoni mereka, karena panggilan acara yang semakin sepi. Jamin mengaku awalnya kerap mengisi acara lenong yang semakin kini semakin menghilang.

"Awalnya kami itu dipanggil buat acara lenong, acara hajatan, tapi makin ke sini semakin sepi saja, kalau diem terus, kami enggak dapet pemasukan, mau makan apa? ujar Jamin saat ditemui, Jumat (30/9).

Sembari membawa kuda dan beling sebagai ciri khas, mereka mengitari kawasan Jakarta Pusat antara lain, Bendungan Jago, Jalan Garuda dan beberapa lokasi lainnya untuk mengamen. Dalam sehari, Rp 100 ribu bisa dikantongi.

Kuda lumping di Desa Labuhan Ratu 2014 merdeka.com/imam buhori


"Ya lumayan lah tiap satu rumah kasih Rp 1.000, meski beberapa ada yang cuma bilang 'maaf aja', tapi ya namanya juga hidup, engga boleh nyerah gitu aja. Keluar jam 10.00 WIB, pulang abis maghrib (18.00 WIB), Rp 100 ribu bisa kita kantongin, cukup lah buat makan dan hidup," paparnya.

Ditanya kendala, tiga pria yang ngontrak di daerah Senen, Jakarta Pusat, ini menuturkan seringnya kena razia. Kalau sudah berurusan dengan Satpol PP, mereka sampai dikurung sehari beserta alat kerja mereka.

"Kalau duka ya kita lagi ngider, ada razia Satpol PP, ketangkep tidur semaleman, alat ditahan, jadi enggak ada penghasilan hari itu," ujarnya.

Jamin mengaku sedih kerap ditangkap saat razia oleh Satpol PP. Padahal, hanya itu keahlian yang bisa mereka lakukan.

"Kita mau dihabisin, enggak ada kita di jalanan. Saya harap pemerintah jangan sampai ini kehapus, seharusnya kita dilindungi dan dilestarikan, diberi ruang usaha supaya enggak di jalanan. Kita juga mau berusaha, kalau pemerintah melarang, beri kita usaha. Biar begini, kita enggak mau dipandang rendah," tegas Jamin.

Baca juga:
Ondel-ondel nasibmu kini
Mengembalikan kesenian daerah ke tempat terhormat
Mengenal asal-usul alat musik rapai di Aceh
Sanggar Senaputra Malang, menjaga kegemaran menari
Aksi pendekar cilik unjuk kebolehan silat Betawi

(mdk/bal)