MALANG
  1. MALANG
  2. GAYA HIDUP
Kampus

Dari tangan mahasiswa UB, abu ampas tebu bisa atasi pencemaran limbah logam berat

Mahasiswa UB menggunakan abu dari ampas tebu untuk sebuah solusi pencemaran limbah jenis logam berat.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 31 Juli 2018 15:09

Merdeka.com, Malang - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menggunakan abu dari ampas tebu untuk sebuah solusi pencemaran limbah jenis logam berat. Abu ampas tebu yang selama ini tidak termanfaatkan menjadi sumber silika yang nantinya berfungsi menyerap logam berat.

"Kami memilih abu ampas tebu sebagai sumber silika, karena kandungan silika pada abu ampas tebu yang cukup tinggi," kata Joshia Christa Pradana mahasiswa Teknik Kimia 2015, salah satu tim penemu ide, Sabtu (28/7).

Joshia memaparkan, hingga saat ini abu dari ampas tebu kurang dimanfaatkan. Padahal jumlah dari sisa pengolahan tebu di industri gula di Indonesia termasuk di Malang sangat melimpah.

"Di Indonesia sendiri mencapai sekitar 10,2 juta ton per tahun," tegasnya.

Joshia bersama dua mahasiswa Jurusan Teknik Kimia UB lainnya, yakni Indah Feliana dan Philio Valerino melakukan penelitian memanfaatkan silika dari limbah dari abu ampas tebu tersebut untuk penyalutan nanopartikel besi sebagai bahan penyerap dalam penyisihan logam berat kromium. Penelitian dengan dosen pembimbing A.S. Dwi Saptati N.H itu didanai oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Valerino menerangkan, penelitiannya dilakukan dengan ekstraksi silika dari abu ampas tebu sehingga didapatkan natrium silikat yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat magnetit bersalut silika melalui metode elektrodeposisi.

"Elektrodeposisi sendiri merupakan pengendapan logam pada katoda selama elektrolisis. Hasil dari penelitian ini yaitu magnetit bersalut silika dapat menyerap logam kromium sebanyak 57 persen," tegasnya.

Lewat penelitian ini , Indah yang juga ketua tim, berharap bisa alternatif pengolahan limbah di industri kimia, khususnya dalam pengolahan limbah logam kromium. Hingga saat ini pencemaran logam berat menjadi fokus masalah pengolahan limbah industri.

Logam berat kromium banyak digunakan industri kimia yang pada umumnya ikut terbuang dan mencemari air dan air tanah. Padahal dampak logam berat kromium sangat buruk pada kesehatan, bila terkonsumsi manusia atau makhluk hidup lain.

"Sehingga limbah ini tidak membahayakan lingkungan dan makhluk hidup serta pertumbuhan industri kimia juga tidak terhambat," katanya.

Kata Indah, metode paling umum dan efisien untuk pengolahan limbah adalah metode adsorpsi atau penyerapan. Sebagai bahan penyerapannya adalah Silika yang salah satunya bersumber dari abu dari ampas tebu.

"Tapi Silika ini sulit untuk diregenerasi. Guna mengatasi masalah itu, maka digunakannya magnetit (Fe3O4) sebagai adsorben yang dapat diregenerasi," tegasnya.

Magnetit sendiri memiliki sifat yang sangat mudah teroksidasi dan mudah larut dalam kondisi asam. Sehingga dilakukan modifikasi permukaan magnetit dengan cara melapisi permukaan magnetit dengan silika. Semakin luas permukaan silika maka daya penyerapan semakin tinggi.

Baca juga:

(rwp)

Laporan: Darmadi Sasongko

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG