MALANG
  1. MALANG
  2. GAYA HIDUP
Event

Rancak irama Cempluk dalam Bunyi dan Gerak

Menyongsong kampung Cempluk Festival 7 di bulan September, pada sabtu (7/5) lalu digelar acara Cempluk dalam Bunyi dan Gerak.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 9 Mei 2016 10:10

Merdeka.com, Malang - Ratusan warga mulai dari anak kecil hingga orang tua menyemut di depan panggung yang tidak terlalu besar di perempatan sebuah kampung yang terletak di wilayah jalan Dieng Atas. Tampak beberapa penari dengan usia yang cukup muda bergerak seirama dengan luwes menampilkan tarian yang cukup memukau penonton yang berjubel.

Acara yang digelar pada sabtu (7/5) malam tersebut merupakan sebuah pagelaran yang menjadi sebuah bentuk pra karya untuk menyambut Kampung Cempluk Festival 7 yang akan dilaksanakan pada September 2016. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara masyarakat kampung Cempluk dengan jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM).

Acara yang menampilkan tarian dan musik baik tradisional dan kontemporer tersebut mampu menarik banyak penonton baik masyarakat sekitar maupun pengunjung dari luar yang sengaja ingin melihat. Bahkan sebelum pertunjukkan dimulai, tampak banyak warga yang sudah berkumpul mengerumuni area di depan panggung yang disediakan.

Dalam pembukaannya terdapat iring-iringan penari yang berjalan dari punden Kalisongo hingga menuju lokasi pelaksanaan acara yaitu di perempatan kampung Cempluk. Terdapat juga prosesi penyalaan cempluk sebagai sebuah lambang dari kampung tersebut oleh Kepala Desa didampingi para inisiator berdirinya kampung tersebut. Untuk menambah nuansa Nasionalisme dan cinta terhadap bangsa dan budaya sendiri, terdapat prosesi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Cempluk dalam Bunyi dan Gerak
© 2016 merdeka.com/Rizky Wahyu Permana

Sebelum acara dimulai terdapat diskusi budaya Sonjo Kampung fatsal 5 yang dilakukan oleh MALANGKultur bersama masyarakat sekitar. Diskusi yang mengambil tema Kampung sebagai Lumbung Ide tersebut dimulai sejak pukul 16.00 hingga pelaksanaan pertunjukkan pada 19.00 dan kemudian dilanjutkan lagi setelah pertunjukkan selesai.

Diskusi tersebut menyoroti berbagai tema dan salah satunya adalah bagaimana kondisi pemuda sekarang dalam mengenal budaya mereka. Kondisi kesenian dan kebudayaan lokal yang terus merosot tersebut disebabkan salah satunya karena pendidikan modern yang terlalu menekankan anak pada peringkat dan prestasi sehingga waktu mereka hanya habis untuk belajar.

Pertunjukkan Cempluk dalam Bunyi dan Gerak sendiri sepenuhnya ditampilkan dan dimainkan oleh anak-anak dan pemuda di wilayah sekitar kampung Cempluk. Para penari kecil yang tampil tersebut sebelumnya telah menjalani latihan dan mendapat pelajaran dari mahasiswa dan pengajar dari jurusan Seni dan Desain UM untuk penampilan tersebut.

Redy Eko Prasetyo salah satu inisiator dari kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan sebagai rangkaian acara sebelum Kampung Cempluk Festival 7 ini dilakukan untuk menunjukkan progres dari kebudayaan. Selain itu dikatakannya juga hal ini untuk membuat kampung Cempluk sebagai sebuah tempat berkarya bersama seperti yang telah dilakukannya dengan jurusan Seni dan Desain UM.

"Harapannya, pendampingan ini tidak berhenti sampai sini saja tetapi terus berkelanjutan hingga Kampung Cempluk Festival pada September nanti," tutur Redy.

Kampung Cempluk Festival sendiri merupakan sebuah festival pelestarian seni dan budaya yang digagas oleh masyarakat di wilayah sekitar Kalisongo. Setiap tahunnya, festival ini mampu menarik banyak pengunjung dan seniman baik dari lokal maupun mancanegara.

 

Baca juga:

(rwp/rwp)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG