MALANG
  1. MALANG
  2. GAYA HIDUP
Keagamaan

Selembar sarung dalam tradisi umat Islam di Indonesia

Tak dipungkiri, sarung menjadi salah satu perlengkapan ibadah yang cukup diburu saat Ramadan. Pasalnya, sarung memiliki makna tersendiri

Oleh: Siti Rutmawati 31 Mei 2017 03:47
Kain Sarung

Merdeka.com, Malang - Tak dipungkiri, sarung menjadi salah satu perlengkapan ibadah yang cukup diburu saat Ramadan dan menjelang lebaran. Pasalnya, sarung memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Baik pria maupun wanita biasanya menggunakan sarung saat melaksanakan ibadah salat.

Mengulik sejarah kemunculannya, sarung telah menjadi pakaian tradisional masyarakat Yaman sejak zaman dahulu. Di negeri itu, sarung dikenal dengan beberapa sebutan, yakni futah, izaar, wazaar, atau ma'awis.

Zaenuddin HM menuliskan dalam bukunya yang berjudul "Asal -Usul Benda di Sekitar Kita", bahwa sarung awalnya digunakan suku Badui yang tinggal di Yaman. Sarung asal Yaman itu berasal dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel-bahan pewarna yang berwarna hitam.

Hingga saat ini pun, pekerja modern di Yaman masih menggunakan sarung, Bahkan, petugas keamanan di Yaman masih menggunakan sarung sebagai pakaian dinas.

Lalu, bagimana sarung bisa sampai di Indonesia?

Seiring waktu, penggunaan sarung pun meluas ke berbagai negeri, termasuk ke Indonesia. Melalui saudagar Arab dan Gujarat, sarung pertama kali masuk ke indonesia pada abad ke-14. Tradisi menggunakan sarung ini, diperkirakan mulai berkembang setelah masuknya ajaran Islam. Tak heran, jika sarung menjadi salah satu pakaian penting dalam tradisi Islam di Indonesia.

Pasa masa Belanda masih berkuasa di Indonesia, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa oleh penjajah. Bahkan disebutkan, sikap konsisten menolak budaya barat itu ditunjukkan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang pejuang sekaligus tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU).

Pernah KH Abdul Wahab Hasbullah diundang Presiden Soekarno, untuk menghadiri upacara kepresidenan. Kala itu, protokol kepresidenan memintanya untuk menggunakan jas lengkap (dengan celana panjang) dan dasi. Alih-alih menggunakan jas lengkap, KH Abdul Wahab justru menggunakan jas dengan sarung sebagai bawahannya.

Merujuk pada tulisan Zaenuddin HM, sarung telah menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi, khususnya di Indonesia. Bukan hal yang aneh, jika pria muslim di Indonesia kerap menggunakan sarung sebagai bawahan saat melakukan ibadah salat, maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Baca juga:

(sr/sr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG