MALANG
  1. MALANG
  2. KABAR MALANG
Politik

Hidayat Nur Wahid: Jangan mau diadu karena kita bukanlah domba

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mengingatkan peran pondok pesantren dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 8 Oktober 2018 08:09

Merdeka.com, Malang - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mengingatkan peran pondok pesantren dalam sejarah perjuangan Indonesia, melalui perjuangan para santri dan kiai. Sehingga tidak seharusnya muncul dikotomi yang seolah-olah pondok pesantren sebagai sarang radikalisme.

"Mereka menjadi bagian untuk terus mengambil peran sejarahnya, sebagaimana dilakukan dulu oleh para pahlawan bangsa, para kiai lewat pondok pesantren," kata Hidayat Nur Wahid usai Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwah, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Kamis (4/10).

Kata Hidayat, pondok pesantren adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia, rakyat Indonesia dan sejarah Indonesia. Bahkan Indonesia berdiri karena perjuangan para kiai di pondok pesantren seperti KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim, KH Hasyim Ashari dan lain sebagainya.

Pondok pesantren di Indonesia lebih dari 26 ribu dengan 7 juta lebih santri di seluruh Indonesia merupakan potensi luar biasa. Seperti kelompok masyarakat yang lain, pondok pesantren dan santri perlu mendapatkan informasi tentang Indonesia berikut peraturan-peraturannya seperti empat pilarnya sehingga semakin mencintai Tanah Airnya.

"Seluruh pesantren yang kita datangi mempunyai tekad dan niat yang sama. Mereka cinta Indonesia, mereka ingin tetap bersama Indonesia, mereka ingin melanjutkan peran sejarah itu, karenanya seharusnya tidak ada dikotomi kalau seolah-olah kalau pondok pesantren sarang radikalisme, atau umat Islam menjadi terorisme, jangan gitu," terangnya.

Hidayat juga menegaskan, pandangan miring tentang pondok pesantren semacam devide at impera yang digunakan VOC Belanda dalam menjawab Indonesia. Upaya adu domba itu sebagai bagian memecah belah NKRI yang sudah menjadi komitmen para pendiri bangsa yang sebagian besar para ulama.

"Saya khawatir ide-ide itu, ide dulu dilakukan oleh penjajah Belanda dengan devide at impera, mengadu domba di antara kita, dibuat tidak bersahabat, tidak berukuwah, tidak bersaudara, saling mencurigai," katanya.

"Sosialisasi di Pondok Pesantren, para santri semakin cinta Indonesia, karena tahu Indonesia adalah warisan para ulama. Agar umat Islam tidak disalahpahami, jangan sampai Indonesia phobia (anti Indonesia) maupun Islamphobia (anti umat Islam). Karena seluruhnya memiliki peran luar biasa," jelasnya menambahkan.

Katanya, lewat sosialisasi yang digelar di pondok pesantren juga akan menyegarkan kembali ingatan pada sejarah. Agar Indonesia tidak menjauh dari cita-cita kemerdekaan, tidak menjauh dari fakta sejarah di mana dahulu pejuang sangat dekat dengan negara dan para pejuang begitu akrab.

"Jangan mau diadu domba karena kita bukanlah domba. Jangan mau diadu jangka karena kita bukan jangkrik," pungkasnya.

Baca juga:

(rwp)

Laporan: Darmadi Sasongko

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG