MALANG
  1. MALANG
  2. KABAR MALANG
Ngalam lawas

Menembus lorong waktu dengan menikmati suasana Ngadipuro tempo dulu

Menikmati nuansa klasik khas Ngadipuro jaman dulu dalam Ngijabi 2016

Oleh: Siti Rutmawati 2 April 2016 10:37

Merdeka.com, Malang - Beberapa tahun silam, tepatnya dimulai pada tahun 2006 kamu akan bertemu dengan Festival Malang Kembali atau yang lebih dikenal dengan Malang Tempo Doeloe.

Ya, seperti namanya festifal ini membawakan suasana Malang khas tempo dulu, mulai dari setting lokasi, dekorasi stand penjualan, dekorasi panggung, hingga kostum yang digunakan untuk memeriahkan acara ini.

Sayangnya, festival ini terhenti pada tahun 2014. Nah, bagi kamu yang merasa rindu dengan kehadiran suasana Malang tempo dulu kamu bisa memuaskan rasa rindumu dengan mengunjungi festival Ngijabi.

Sudah kenal belum dengan Ngijabi? Mengusung konsep jadul, festifal Ngijabi atau Ngadipuro Jaman Biyen (Ngadipuro Jaman Dulu) akan membawamu ke suasana khas tempo dulu.

Tentang Ngijabi
Ngijabi adalah festival tahunan yang diadakan oleh anggota karang taruna Ngadipuro, Kota Malang. Ngadipuro merupakan salah satu kampung yang terletak di kelurahan Madyopuro.

Festival Ngijabi atau Ngadipuro Jaman Biyen ini mengusung konsep jawa dulu alias jadul. Tujuannya cukup sederhana namun mengena, yaitu ingin memperkenalkan sejarah kampung Ngadipuro sebagai semangat agar para pemuda ngadipuro memiliki ciri budaya yang khas.

Ngijabi diselenggarakan sejak tanggal 29 Maret hingga 2 April 2016. Malam nanti (02/04/2016) akan diadakan acara penutupan festival yang dijamin buat kamu betah berlama-lama di sana.

Suasana Ngijabi
Kamu akan disambut dengan suasana khas tempo dulu sejak pertama kamu memasuki gerbang lokasi festival ini. Dalam area ini kamu akan menemukan deretan stand dengan dekorasi jadul yang bertiang bambu dan beratap daun aren.

Stand-stand tersebut digunakan untuk menjajakan berbagai barang, makanan dan minuman, meskipun tak semuanya berbau jadul.

Ngadipuro Jaman Biyen 2016
© 2016 merdeka.com/Rutmawati

Misalkan pakaian atau aksesoris, sebagian besar barang yang dijajakan adalah pakaian dan aksesoris khas masa kini. Tetapi, diantara kerumunan barang modern ini, kamu bisa menemukan salah satu penjual barang jadul yang cukup mencolok.

Pak Rasimun, begitulah dirinya di sapa. Kakek yang telah berusia sangat sepuh ini menjajakan payung jadul miliknya tanpa menggunakan stan. Payung yang dijajakannya cukup menarik perhatian.

Ngadipuro Jaman Biyen 2016
© 2016 merdeka.com/Rutmawati

Payung yang dijajakannya tak seperti payung pada umumnya yang menggunakan kain dan besi. Payung jadul bikinan Pak Rasimun menggunakan bahan utama kertas, bambu dan benang.

Untuk memperindah tampilan payung, Pak Rasimun melukiskan motif bunga sederhana hanya dengan bermodalkan kuas bambu dan cat cetak. Saat ditanya seputar payung jadul miliknya, Pak Rasimun menjawab dengan sangat ramah yang terkadang disela dengan tawanya yang khas dan tegas.

"Saya sudah berjualan payung ini sejak jaman Belanda baru masuk Surabaya, nak ", ungkapnya kepada malang.merdeka.com. "Saya sudah mulai jualan itu, sejak orang-orang masih bayarnya begini (Pak Rasimun mempraktikkan membayar dengan menggunakan uang receh)".

Tampilan payung yang dibuat oleh Pak Rasimun mirip dengan payung yang muncul dalam film kolosal Cina. Harganyanya pun cukup terjangkau, yaitu Rp 25.000,00.

Tak jauh dari lokasi Pak Rasimun berjualan, kamu akan bertemu dengan pengrajin alat-alat kesenian khas Jawa Timur, yaitu galeri Pecut Wong.

Ngadipuro Jaman Biyen 2016
© 2016 merdeka.com/Rutmawati

Dalam stand galeri milik Arik ini, kamu bisa menemukan beberapa peralatan kesenian jaranan, topeng, dan bahkan alat musik seperti angklung.

"Galeri ini memang buat alat-alat buat kesenian, seperti jaranan", ungkap Arik sang pemilik galeri. Arik juga mengaku bahwa dirinya terjun di dunia seni karena memang memiliki kecintaan lebih di bidang ini.

Beranggotakan tiga orang, galeri ini mampu menghasilkan alat-alat kesenian yang tergolong halus dan rapi.

Soal makanan kamu jangan khawatir, kamu bisa memilih berbagai menu makanan mulai dari menu tradisional hingga menu mancanegara, seperti cenil, sempol, bakso, okonomiyaki, dan tak ketinggalan gulali tentunya.

Semakin malam, acara Ngijabi semakin menarik saja. Sekitar pukul delapan malam, tepat di depan panggung utama para penonton mulai berkumpul. Pasalnya, sebuah pertunjukan seni yang diadakan oleh seniman dari Pare Corner Art menjadi magnet yang mampu menyita perhatian pengunjung.

Ngadipuro Jaman Biyen 2016
© 2016 merdeka.com/Rutmawati

Pertunjukan tersebut menampilkan dua orang seniman, di mana salah satu seniman memainkan alat musik tradisional sejenis gitar dan seruling. Tak hanya itu, panggung utama Ngijabi juga diramaikan dengan kehadiran arema voice.

Nah, bagi kamu yang masih rindu dengan suasana tempo dulu, kamu masih punya kesempatan untuk menikmati acaranya malam nanti. Acara Ngijabi dibuka sejak pukul 15.00-22.00. Festival ini berlokasi di seputar area velodrome Kota Malang.

Baca juga:

(sr/sr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG