MALANG
  1. MALANG
  2. KOMUNITAS
Komunitas

Komunitas kampung Cempluk sebagai wadah pelestari budaya lokal

Komunitas dalam bentuk kampung ini mampu membuat budaya lokal kembali diminati oleh pemuda dan bahkan anak-anak.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 29 Maret 2016 09:50

Merdeka.com, Malang - Jika Anda mencoba melintasi sebuah kampung yang terletak di jalan Dieng Atas ini pada siang hari maka tidak akan ada bedanya dengan kampung-kampung lain. Situasi rumah-rumah yang saling berhimpitan serta kondisi yang cukup lengang karena ditinggal pemiliknya bekerja.

Namun ketika sudah semakin sore maka akan terlihat banyak anak bermain di jalanan, tetapi uniknya sebagian dari mereka melakukan permainan tradisional serta kadang bermain bantengan. Semakin malam, ketika para pria sudah pulang bekerja maka jalan akan semakin ramai dengan berbagai aksi latihan kesenian semacam singo barong serta musik ul daul atau biasa disebut musik patrol. Itu lah kondisi yang terjadi pada komunitas budaya kampung cempluk.

Penamaan kampung Cempluk pada nama komunitas tersebut juga cukup unik karena menyangkut sejarah dan kondisi kampung tersebut pada masa lalu. Pada tahun 90-an, ketika hampir seluruh wilayah di luar kampung tersebut sudah memperoleh penerangan dan sambungan listrik, hanya wilayah kampung tersebut yang belum menikmatinya. Kondisi tersebut berlangsung selama beberapa waktu hingga akhirnya listrik masuk ke kampung tersebut.

Sebelum datangnya listrik, para warga menggunakan cempluk atau pelita sebagai alat penerangan mereka. Pada masa itu lah kampung tersebut mendapat julukan sebagai kampung Cempluk. Walau nama tersebut sempat hilang dan dilupakan, namun kebangkitan kesenian yang terjadi menyebabkan nama tersebut kembali digunakan sebagai identitas.

Kelompok kesenian kampung Cempluk ini lahir pada tahun 2009. Pada tahun yang sama pula, kelompok ini mulai mengadakan Kampung Cempluk Festival secara rutin setiap tahun dan sudah melangsungkan gelaran yang ke-6 pada tahun 2015 yang lalu. Festival tersebut tidak hanya berisi seniman dari wilayah sekitar saja namun juga mengundang seniman dari luar kota bahkan mancanegara untuk tampil.


Hal lain yang cukup menarik adalah mata pencaharian dari sebagian warga kampung Cempluk yang merupakan tukang bangunan. Profesi dan keterampilan yang mereka miliki tersebut dimanfaatkan untuk diwujudkan menjadi sebuah karya seni yang mereka gunakan. Sebagai contoh, untuk pembuatan kostum dan kepala singo barong atau barongsai, mereka memanfaatkan beberapa barang sisa dari tempat kerja untuk menghemat biaya.

Beberapa kelompok kesenian yang cukup aktif dan muncul di kampung ini antara lain kelompok seni ludruk Ande-ande Lumut, kelompok perkusi Garuda Putih, barongsai Singa Liar, kelompok jaranan Turonggo Joyo Mulyo dan kelompok seni bantengan.   

Alasan utama dari pembentukan kampung Cempluk ini adalah agar warga sekitar tidak kehilangan identitas seni dan budayanya. Melihat kondisi yang terjadi saat ini, hal itu telah cukup berhasil dilakukan dengan banyakanya anak-anak yang melakukan kegiatan kesenian seperti musik patrol, bantengan, singo barong, dan lain sebagainya.

Kelompok-kelompok kesenian yang berada dalam kampung budaya tersebut juga dibina secara aktif agar terus berkesenian dan terus mencari penerusnya. Tidak hanya itu, banyak juga seniman dari luar yang didatangkan untuk saling bertukar pikiran dan melakukan proyek kolaborasi dengan seniman lokal.

Kampung Cempluk Festival sendiri biasa dilaksanakan pada bulan Agustus atau September.  Kegiatan lengkap dari komunitas kampung cempluk dapat dilihat di website.

(rwp/rwp)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG