MALANG
  1. MALANG
  2. PROFIL
Inspiratif

Bayu Dharmasaputra Sava, CEO muda penebar virus literasi lewat Togamas

Di usia yang masih 22 tahun, Bayu Dharmaputra Sava telah menjadi CEO dari jaringan toko buku Togamas dan bermimpi sebarkan semangat membaca.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 15 Agustus 2016 00:07
Bayu Dharmasaputra Sava di toko buku Togamas pust, Malang

Merdeka.com, Malang - Bagi banyak masyarakat di pulau Jawa dan Bali, toko buku Togamas merupakan salah satu tempat favorit untuk berbelanja bacaan. Selain karena tersebar di banyak tempat, toko buku ini juga memiliki satu hal yang membuatnya jauh lebih menarik dibanding dengan pesaingnya. Jargon "Diskon Seumur Hidup" yang diusung oleh Togamas menjadikan toko buku ini sebagai tujuan utama untuk mencari buku terutama untuk mahasiswa dan pelajar.

Toko Buku Togamas pertama kali didirikan pada 15 Desember 1990 oleh suami isti Johan Budhie Sava dan Swandayani di jalan Bukit Barisan, Malang. Saat ini toko buku tersebut telah berpindah berpindah nahkoda pada sang putra yaitu #PejuangMerdeka kita, Bayu Dharmaputra Sava. Pergantian tampuk kekuasaan ini terjadi pada tahun 2014, Bayu menggantikan sang ayah yang berpulang pada saat itu.

Pada tahun 2014 ketika mulai menjadi CEO itu, Bayu sendiri masih berusia sangat muda yaitu 20 tahun. Secara latar belakang pendidikan, dia juga cukup jauh dari dunia buku karena sebelumnya berkuliah di bidang IT. Namun berkat kecintaan terhadap buku yang diturunkan oleh kedua orang tua serta tim manajemen Togamas yang cukup solid, Bayu mengalami masa transisi dengan cukup mulus.

"Pada awalnya memang cukup bingung waktu belajar, namun berkat tim Togamas yang solid dan loyal, saya akhirnya banyak terbantu," ujar Bayu.

Sebelum menjadi CEO Togamas, Bayu lebih banyak bergelut di bidang game dengan mendirikan komunitas IGame. Komunitas ini sendiri merupakan kumpulan developer games dan penyedia server untuk beberapa game yang memang tidak masuk di Indonesia. Perubahan yang cukup banyak dari dunia pengkodean game ke bisnis perbukuan memang pada awalnya cukup mengejutkan Bayu.

"Kalau di game dulu biasanya cuma lihat layar warna hitam dan putih, sekarang harus ngecek stok buku dan lain-lain," ucapnya sambil tersenyum.

Tentu cukup banyak kesulitan yang dihadapi Bayu pada masa-masa awal, terutama karena sebagai CEO dia harus mengatur puluhan toko buku milik Togamas. Pada awal di dirikan pada tahun 1990, toko buku Toga Mas hanya berada di sebuah ruang tamu dengan bermodal sekitar 100 judul buku, namun kini toko buku ini berkembang dengan 24 gerai di Jawa dan Bali dengan sekitar 100 judul baru yang muncul setiap bulan.

Gambaran begitu berkembangnya Togamas ini memang dianggap cukup anomali mengingat semakin banyaknya jaringan buku yang gulung tikar serta minat baca masyarakat yang dianggap semakin rendah. Namun di sisi lain, Togamas seakan mampu mendobrak semua itu dan menunjukkan bahwa mereka mampu terus berkembang dan tumbuh di era digital ini.

Bahkan munculnya banyak lapak jual beli buku online tidak dianggap sebagai ancaman oleh Bayu. Di sisi lain bahkan disebutkan bahwa para penjual buku tersebut malah semakin mendongkrak penjualan Togamas.

"Buat kami, penjual buku online itu adalah rekan ya, jadi bukannya musuh yang harus ditakuti dan mengancam," ujarnya.

Bahkan pada beberapa cabang toko buku Togamas, mereka justru mendorong semakin banyak munculnya penjual buku secara dalam jaringan (daring) atau online tersebut. Beberapa cabang tersebut memberikan member terhadap para pelapak tersebut dengan keuntungan berupa diskon tambahan.

"Saya pikir semakin banyak toko online maka semakin bagus untuk distribusi karena dapat semakin menjangkau banyak daerah ya," ucapnya.

Sebagai seseorang dengan latar belakang pendidikan di bidang IT, Bayu juga tidak mau hanya berpangku tangan dan menjadi penyedia buku bagi para penjual buku daring tersebut. Saat ini Bayu tengah menyiapkan sebuah e-commerce bagi Togamas agar mampu bersaing di tengah pesatnya era teknologi ini.

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG