MALANG
  1. MALANG
  2. PROFIL
Inspiratif

Redy Eko Prastyo, pemantik asa kebangkitan gerakan kampung

Redy Eko Prastyo coba kembalikan identitas dan harga diri masyarakat kampung dengan menunggang segudang teknologi untuk dimanfatkan.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 11 Agustus 2016 00:36

Merdeka.com, Malang - Belakangan ini, terdapat berbagai agenda di wilayah Malang Raya yang berpusat di kampung-kampung. Berbagai kegiatan dalam bentuk seni dan budaya ini membuat masyarakat kembali kepada jati diri budaya lokal serta mengingat kembali kampung sebagai tempat bermula mereka. Hal yang sama juga saat ini sedang getol terjadi di berbagai kampung-kampung lain di Nusantara, hal ini tentu saja tidak terjadi secara sporadis namun melalui sebuah pertukaran ide yang difasilitasi oleh sebuah wadah bernama Jaringan Kampung (Japung) Nusantara.

Di balik wadah Japung Nusantara sebagai sebuah etalase bagi kampung-kampung di Nusantara ini terdapat sesosok Redy Eko Prastyo yang memantik bara kebudayaan dari masing-masing kampung tersebut dan layak mendapat predikat sebagai #PejuangMerdeka.

Lahir dari keluarga yang memang memiliki kedekatan dengan seni budaya lokal tak membuat Redy langsung menjatuhkan pilihan pada instrumen tradisional. Ayah dari Redy merupakan seorang pelatih gamelan di Situbondo, sehingga dia mampu bermain berbagai alat tradisional secara otodidak namun masih belum ada keinginan untuk mendalami lebih

Walau sejak kecil sudah dapat memainkan berbagai alat tradisional seperti gamelan dan gendang, pada masa SMP dan SMA, Redy malah memainkan alat musik modern seperti keyboard. Pengaruh dari teman sebaya untuk bermain band membuat Redy menekuni alat musik tersebut hingga pada masa-masa kuliah di Universitas Negeri Malang.

"Awalnya saya belum tertarik main alat musik tradisional, namun sebenarnya sudah bisa beberapa secara otodidak dari lihat orang-orang ketika latihan pada waktu kecil," ujar Redy.

Pada masa perkuliahan ini, Redy mulai lebih intens berkenalan dengan beberapa alat musik dan notasi tradisional. Keterlibatannya di UKM Opus UM yang sering berkolaborasi dengan berbagai kegiatan lain dalam pementasan tarian, operet, atau teater membuat Redy mulai tertarik dengan alat-alat musik yang sejak kecil memang telah dikenalnya tersebut.

Namun keinginan untuk eksplorasi lebih kuat terhadap musik tradisional mulai dilakukan Redy sejak tahun 2001. Pada masa itu dia bahkan hingga mengamen di Bali memainkan alat musik tradisional yang lebih dekat dengan world music seperti djimbe. Bahkan selanjutnya Redy juga mengamen cukup jauh hingga ke Jerman.

Di Jerman ini Redy berkenalan dengan cukup banyak orang, serta lebih mengenal terhadap berbagai instrumen baru untuk dimainkan.

"Waktu itu saya ngamen di depan toko musik milik teman di Freiburg. Alat musik yang ada di tokonya sangat macam-macam sehingga saya tertarik memainkan semuanya," ujar pria 36 tahun ini.

Pengalaman di Jerman ini lah yang membuat Redy semakin yakin untuk mendalami berbagai alat musik tradisional Nusantara. Sekembalinya dari Jerman, Redy masih cukup bingung hendak tinggal di kota mana.

Akhirnya dia mulai menetapkan untuk tinggal di Malang kemudian menikah dan secara kebetulan mengontrak di wilayah Sumberjo, Kalisongo yang kemudian dia bangkitkan lagi dengan berbagai kegiatan seni dan kini dikenal sebaagai Kampung Cempluk.

Pada awalnya, pertimbangannya untuk pindah hanya karena harga kontrak rumah yang murah serta lokasi yang tidak jauh dari kota. Namun ketika sudah cukup dekat dengan beberapa tetangga, tak disangkanya warga sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai tukang tersebut memiliki semangat dan intuisi untuk melakukan berbagai kegiatan seni.

Berawal dari sebuah perayaan 17 Agustus di kampung tersebut, pada 2009 mulai muncul Festival Kampung Cempluk. Ternyata semangat kesenian dari masyarakat ini semakin membesar dan Redy memanfaatkan media sosial serta jaringan pertemanannya untuk lebih mengenalkan festival yang digagasnya tersebut.

Selain itu dia juga mulai membuat website Kampung Cempluk sebagai portal yang berfungsi seperti etalase bagi kampungnya. Seiring berkembangnya waktu, hal yang sama ingin dilakukannya terhadap kampung-kampung lain dan membuat mereka mampu berbagi dan menampilkan ide mereka agar semakin berkembang, pada saat itu lah mulai dicetuskan Jaringan Kampung (Japung) Nusantara.

"Dengan menampilkan berbagai hal yang dimiliki oleh kampung ini, maka selanjutnya akan lebih muncul kebanggaan terhadap kampung mereka dan status mereka sebagai masyarakat kampung tersebut," ujarnya.

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG