MALANG
  1. MALANG
  2. PROFIL
Inspiratif

Ryan Singgih, mantan supir angkot yang banting setir jadi trainer

Di usia yang masih muda Ryan Singgih Prabowo pernah menjadi supir mikrolet hingga kini sukses sebagai trainer.

Oleh: Rizky Wahyu Permana 2 November 2016 15:31
Ryan Singgih Prabowo(memegang HP) dalam sesi salah satu sesi training

Merdeka.com, Malang - Kebiasaan bekerja keras sejak masa muda telah membawa Ryan Singgih Prabowo merasakan berbagai macam pekerjaan. Selepas lulus SMA, pria yang akrab disapa Keceng ini menjadi sopir angkot atau mikrolet untuk biaya keperluannya sehari-hari serta untuk biaya kuliahnya di Universitas Negeri Malang (UM).

Biasanya Ryan bekerja menjadi supir angkot sebelum atau sesudah jam kuliah. Rutinitas ini sempat dijalaninya selama dua tahun mulai tahun 2007 hingga 2009.

"Biasanya ya nariknya mulai subuh lalu sampai jam enam. Kemudian kuliah dan baru narik lagi mulai sore sampai malam hari," jelas Ryan.

Dari jam kerja yang cukup terbatas itu, Ryan mengaku bahwa tak selamanya dia mendapatkan keuntungan. Sering juga dia harus rugi terutama pada pagi hari ketika banyak anak sekolah hendak berangkat.

"Kalau pagi biasanya sering rugi karena antar anak sekolahan. Tapi ya bagi saya lebih baik rugi daripada anak-anak sekolah itu datangnya terlambat," tutur Ryan.

Selain kerugian karena mengutamakan penumpangnya, sekitar tahun 2008 juga muncul pukulan telak bagi penghasilan Ryan. Bertambahnya kendaraan pribadi secara pesat terutama karena uang muka dan cicilan yang semakin murah menyebabkan banyak orang lebih memilih untuk membeli sepeda motor dibanding naik angkot.

Pada 2009, angkot yang biasa digunakan Ryan untuk mencari penghasilan dijual oleh ayahnya sekitar dua bulan sebelum beliau meninggal. Selepas itu, Ryan mulai mencoba mencari cara lain untuk mendapat penghasilan bagi hidupnya sehari-hari sedangkan mengenai biaya kuliah sudah tak menjadi masalah baginya karena dia mendapatkan beasiswa.

Sejak itu, Ryan memanfaatkan berbagai pengalamannya dan kesukaannya untuk berpetualang, naik gunung, dan menyusuri gua untuk mencari penghasilan. Tercatat dia sempat mencicipi kerja sebagai guide, fasilitator outbond, dan juga bekerja sebagai kru di event organizer.

"Ya pokoknya saya kerja apa saja dari keahlian adventure saya untuk bertahan hidup," tuturnya.

Ryan Singgih Prabowo dalam sesi salah satu sesi training
© 2016 merdeka.com/Istimewa

Walau tetap sibuk bekerja untuk menyambung hidup, namun Ryan mengaku tetap mengutamakan studinya. Pada 2011 akhirnya Ryan berhasil lulus sebagai sarjana dari jurusan Pendidikan Sejarah di UM. Baginya sama sekali tak ada masalah antara menyelaraskan waktu kuliah dan bekerja.

Selepas lulus, Ryan terpilih menjadi seorang pengajar muda pada program Indonesia Mengajar. Dia termasuk dalam angkatan III program tersebut dan ditempatkan di pulau Rupat, kabupaten Bengkali, Kepulauan Riau. Menjadi pengajar ini dijalaninya selama satu tahun yaitu pada 2011 hingga 2012.

Ketika program usai dan dia kembali ke Malang, Ryan kemudian mendirikan Indonesia LED Consultant pada tahun 2013. Lembaga konsultan yang didirikannya ini memiliki fokus di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia khususnya pada kepemimpinan dan pendidikan. Di tahun yang sama, Ryan juga menikah dan kembali meninggalkan Malang untuk berkuliah di Universitas Indonesia.

Sejak 2013 hingga 2015, selain LED, Ryan juga mendirikan KUBU Adventure yang merupakan persewaan berbagai alat untuk adventure. Hanya saja karena kesibukannya dalam menuntut ilmu di Depok, dua usaha ini tidak begitu maksimal dikembangkannya.

"Walaupun berkembang tapi ya bisa dikatakan secara alami karena saya kesulitan ngurusi dan nggak sempat memikirkan strategi," jelasnya.

Ryan baru benar-benar fokus mengembangkan bisnisnya dan menjadi trainer adalah pada 2015 ketika dia telah menamatkan kuliah magister antropologinya di UI. Sejak saat itu dia benar-benar mengembangkan perannya sebagai konsultan pengembangan SDM ini.

"Sekarang biasanya seminggu minimal ngisi empat panggung," tutur Ryan.

Dalam seminggu biasanya permintaan untuk mengisi materi bagi lembaga yang didirikan Ryan ini bisa berkisar dari empat hingga sepuluh panggung. Bahkan dia menuturkan pernah sehari dia mengisi hingga tiga panggung di tempat yang berbeda.

Uniknya, dalam setiap panggung yang dihadirinya itu, Ryan selalu mengajak putranya yang berusia tiga tahun untuk menemaninya bekerja. Dalam pekerjaannya ini, Ryan juga berkolaborasi dengan istrinya, Risa Rahmawati dalam berkeliling dari acara ke acara.

Berawal dari menyupir mikrolet untuk mencari penghidupan dan membiayai kuliah, Ryan kini telah menjadi seorang trainer yang mampu memberi motivasi dan menggerakkan hati ratusan orang. Di usia yang masih 27 tahun ini, tampaknya perjalanan Ryan masih akan cukup panjang untuk terus berkarya.

Baca juga:

(rwp/rwp)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG