MALANG
  1. MALANG
  2. PROFIL
Sejarah Malang

Thomas Karsten, sosok di balik eloknya arsitektur Belanda di Malang

Herman Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda yang ramah pada kebudayaan Jawa. Ia adalah sosok yang berperan dalam pembangunan Idjen Boulevard.

Oleh: Siti Rutmawati 16 Januari 2017 18:27
Thomas Karsten dan Keluarga

Merdeka.com, Malang - Tak dipungkiri, Kota Malang memang memiliki bangunan dan tata ruang kota yang indah. Keelokan arsitektur tersebut tak lepas dari peran pemerintah Belanda yang sempat berkuasa di Indonesia, termasuk di kota Malang.

Arsitektur di Jalan Ijen, merupakan salah satu dari sekian karya arsitektur peninggalan Belanda yang tersisa. Menengok jauh ke belakang, keelokan tersebut tak lepas dari peran arsitek kondang asal Belanda kala itu, yakni Thomas Karsten.

Herman Thomas Karsten, siapakah dia?
Herman Thomas Karsten, atau lebih dikenal dengan Thomas Karsten merupakan aristek asal Amsterdam, Belanda yang berperan dalam perencanaan wilayah pemukiman di Hindia Belanda. Karsten merupakan lulusan Technocche Hoogeschool di Delf, dan putra dari seorang profesor Filsafat di Universitas Amsterdam.

Bergabung dalam proyek sebuah Biro Arsitek milik seniornya, Karsten akhirnya berangkat ke Hindia Belanda, sekitar tahun 1914. Dalam perjalanan karirnya, Karsten menjadi perencana dan penasihat beberapa proyek bangunan publik di beberapa kota di Hindia Belanda, salah satunya adalah Kota Malang.

Karsten dikenal sebagai seorang arsitek yang peduli terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Kepribadian unik yang ada pada diri Karsten, yakni selalu mengingat kepentingan kalangan berpenghasilan rendah. Tentu saja, kepribadian ini sangat jarang ditemui pada orang-orang Belanda kala itu. Tahun 1921, Karsten menikah dengan Soembinah Mangunredjo dan dikaruniani empat orang anak, yakni Regina, Simon, Joris, dan Barta.

Penolakan Thomas Karsten pada konsep 'Menaruh Eropa di Jawa'
Kecintaan Karsten pada Indonesia terbukti melalui pemikiran dan kepeduliannya terhadap budaya Jawa. Tahun 1921, Karsten bergabung dalam Instituut de Jawa, sebuah perkumpulan yang peduli pada budaya Jawa. Kala itu, dia merupakan sosok yang mengkritik arsitek Belanda yang menurutnya meletakkan konsep 'menaruh Eropa di Jawa'. Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, dan bukan Belanda. Menurutnya, kota sebagai suatu organisme yang terus bertumbuh.

Saat membangun kota, Karsten tak pernah melupakan keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka. Prinsip yang ditegakkan Karsten tersebut menjadi salah satu faktor kemunculan gaya arsitektur 'indisch' yang populer pada masa pra-kemerdekaan.

Thomas Karsten diangkat sebagai Penasihat Tata Kota Malang oleh Walikota Malang pertama, yakni Bussemaker. Tahun 1914-1929, Malang sendiri telah memiliki perencanaan kota yang pasti, dan dinamakan dengan Bouwplan I-VIII. Perencanaan kota tersebut dibuat sebagai bentuk pengendalian bentuk kota akibat dari pertambahan penduduk serta kemajuan ekonomi yang cepat.

Sayangnya, perencanaan pertama pembangunan kota tersebut ditolak lantaran dianggap belum memenuhi persyaratan menjadi sebuah Kerangka Rencana, yang disebut Geraamteplan. Mengingat, Pemerintah Pusat mengharuskan pihak kotamadya Malang menyediakan Geraamteplan, karena mengacu pada undang-undang kota kala itu.

Kondisi tersebutlah yang menggiring Bussemaker meminta Herman Thomas Karsten menjadi penasehat dalam perencanaan perluasan dan perkembangan kota Malang, tepatnya pada tahun 1929. Saat itu, tugas utama Karsten adalah memperbaiki dan mengembangkan Geraamteplan kota Malang yang sempat gagal diajukan oleh pemerintah kotamadya Malang.

Thomas Karsten dan Idjen Boulevard
Salah satu karya Thomas Karsten yang masih terlihat hingga kini yakni Idjen Boulevard, atau yang lebih populer dengan sebutan Jalan Ijen. Tanpa melupakan aspek keindahan serta konektivitas dengan bagian lain di kota, Karsten mulai merancang Jalan Ijen sebagai perumahan mewah bagi para pejabat. Pembangunan wilayah tersebut dilakukan pada tahun 1935-1960, dengan mengacu pada perencanaan tata kota yang sesuai kala itu.

Idjen Boulevard
© tropenmuseum.nl/Tropen museum

Karsten membangun jalan tersebut dengan mengusung konsep Boulevard, yakni jalan kembar dengan pembatas berupa taman di bagian tengah. Kehadiran pohon palem di sebelah kiri dan kanan jalan, semakin mempercantik penataan jalan tersebut. Taman yang berada di tengah jalan, dibangun untuk membatasi rumah dengan jalur pejalan kaki. Selain itu, antara jalur pejalan kaki dengan jalan kendaraan diberi taman yang dilewati deretan pohon palem. Penataan jalan dan akses-akses ke jalan-jalan sekitar seperti semeru, kawi, salak (sekarang jalan Pahlawan Trip) juga sangat diperhatikan baik dalam keindahan dan kemudahan.

Karsten memang dipandang sebagai sebagai seorang ahli dalam merencanakan kota di Hindia Belanda, terutama dalam bidang pemukiman. Tak hanya di Kota Malang, keahlian Thomas Karsten dalam perencanaan kota juga terlihat di kota-kota lain, seperti Semarang, Bandung, Bogor, Cirebon, Magelang, dan lainnya. Karsten meninggal di Kamp Interniran Cimahi, pada tahun 1945. 

Baca juga:

(sr/sr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI MALANG

BERITA MALANG