Masa Krusial Mempersiapkan Talenta Digital

Drs. Rudiantara, M.B.A Ketua Indonesia Fintech Society 26 September 2022 11:06
Masa Krusial Mempersiapkan Talenta Digital
Ilustrasi startup. © CBC

Merdeka.com - Sejak satu dekade terakhir, perkembangan digital telah membawa Indonesia pada lompatan besar transformasi ekonomi. Selama pandemi, sektor digital turut menopang dan membentuk wajah baru perekonomian nasional. Untuk mewujudkan ekonomi yang berdaya saing, digitalisasi di berbagai sektor menjadi agenda prioritas ke depan.

Analisis Bain & Company menemukan bahwa pada tahun 2021, nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai USD70 miliar dan diproyeksi mencapai USD 146 miliar pada tahun 2025. Melihat angka proyeksi ini, bayang-bayang gemerlap ekonomi Indonesia di masa depan terlintas, harapan juga terpupuk.

Indonesia selama ini memang dihadapkan pada kecemasan tentang bagaimana keluar secepat mungkin dari perangkap negara berpendapatan menengah hingga tentang mewujudkan Indonesia emas 2045. Ekonomi digital diyakini sebagai simpul ekonomi baru yang dapat membantu mengakhiri permasalahan ini.

Dalam rangka mendorong transformasi digital, kemampuan dan talenta digital memiliki peran fundamental. Terdapat dua area kemampuan digital yang diperlukan ke depan. Pertama, kompetensi digital vertikal yang terdiri dari operasi devices dan software, literasi data dan informasi, penciptaan konten dan produk digital, serta kemampuan cloud computing.

Selanjutnya, kompetensi digital horizontal yang terdiri dari komunikasi dan kolaborasi, etika dan keamanan, pemecahan permasalahan, dan manajemen proyek digital. Dua area kemampuan digital ini perlu didorong, baik di tingkat dasar (basic digital skills) maupun tingkat lanjut (advanced digital skills), untuk mengakselerasi ketersediaan talenta digital berkualitas.

Kesenjangan Kemampuan Digital

Mengacu pada laporan hasil survei oleh AlphaBeta dan Amazon Web Services (AWS), pada tahun 2020 hanya terdapat 19% tenaga kerja Indonesia yang memiliki dan mengaplikasikan kemampuan digital. Masih jauh tertinggal dari negara Asia Pasifik lainnya yang disurvei yaitu Jepang (58%), Korea Selatan (62%), Singapura (63%), dan Australia (64%).

Apabila dilihat lebih spesifik pada level kecakapan digital, baru terdapat 6% tenaga kerja yang memiliki dan mengaplikasikan kemampuan digital tingkat lanjut. Berdasarkan laporan IMD world Competitiveness Center – World Talent Ranking 2021, dari 64 negara, ranking umum Indonesia tahun 2021 berada pada posisi 50, menurun dari posisi 41 dan 45 pada tahun 2019 dan 2020.

Kondisi ini menjadi tantangan dalam pengembangan ekonomi digital yang oleh pihak terkait perlu mendapat perhatian. Penanganan akan permasalahan ini melalui pengembangan talenta digital akan berimplikasi setidaknya pada dua hal sebagai berikut. Pertama, tersedianya talenta digital untuk mengisi lapangan kerja yang tercipta sebagai dampak dari perkembangan teknologi.

Sebagaimana menurut McKinsey, mulai tahun 2030 akan terdapat hingga 46 juta lapangan kerja yang perlu diisi oleh tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknologi, akan tetapi juga keterampilan sosial, emosional, dan kognitif yang baik.

Implikasi kedua adalah terciptanya kemandirian dan kedaulatan digital. Ketersediaan talenta digital berkualitas akan menciptakan ekosistem digital yang inovatif. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mengambil posisi sebagai pasar, akan tetapi juga berperan melahirkan temuan-temuan yang mendorong perkembangan ekonomi digital.

Sejalan dengan kedua implikasi tersebut, pengembangan talenta digital juga akan membantu mengoptimalkan manfaat dari bonus demografi dengan meningkatkan produktivitas dan kontribusi penduduk usia produktif pada perekonomian.

Mengakselerasi Pengembangan Talenta Digital

Pengembangan kemampuan digital diperlukan oleh setidaknya empat jenis pekerja. Pertama, pekerja yang sudah memiliki kemampuan digital. Jenis pekerja ini membutuhkan peningkatan keterampilan dari tingkat dasar menuju tingkat lanjutan. Kedua, pekerja masa depan yaitu yang terdiri dari siswa setara menengah atas dan mahasiswa di perguruan tinggi. Jenis pekerja ini perlu dipastikan sudah memiliki keterampilan digital setidaknya di tingkat dasar sebelum terjun ke dunia kerja.

Ketiga, pekerja yang belum memiliki keterampilan digital. Pekerja jenis ini memerlukan keterampilan digital pada tingkat dasar untuk meningkatkan produktivitas dan membuka akses pada kesempatan pekerjaan yang lebih baik. Keempat, pekerja yang berada pada kelompok rentan, misalnya buruh kasar, hingga kelompok pengangguran. Kelompok ini membutuhkan keterampilan digital untuk mampu bersaing di pasar tenaga kerja.

Untuk meningkatkan ketersediaan talenta digital berkualitas, beberapa strategi yang dapat didorong adalah sebagai berikut. Pertama, mengoptimalkan peran lembaga pendidikan formal. Pada tahun 2021, jumlah siswa setara menengah atas di Indonesia lebih dari 24 juta dan jumlah mahasiswa 9 juta.

Hal ini menjadikan pendidikan formal sebagai kanal strategis dalam upaya mempersiapkan talenta digital berkualitas. Bahan pengajaran yang memfasilitasi pengembangan keterampilan digital perlu diadakan secara merata baik di tingkat menengah maupun perguruan tinggi.

Kerja sama antara lembaga pendidikan dan industri juga perlu diperkuat baik dengan mengundang expert digital sebagai pengajar, atau dalam hal mempersiapkan kurikulum yang align dengan perkembangan industri dan perkembangan keterampilan digital yang dibutuhkan. Belajar dari Korea Selatan, review kurikulum secara berkala perlu dilakukan sehingga materi yang diajarkan berkembang dan adaptif.

Program pemerintah seperti kampus merdeka yang berupaya memberikan akses magang pada mahasiswa juga perlu dipastikan mampu memberikan digital experience yang berdampak pada peningkatan keterampilan digital yang dimiliki oleh mahasiswa peserta magang.

Kedua, memperluas kesempatan pelatihan kerja. Hal ini berguna untuk skilling, re-skilling, dan up-skilling kemampuan digital di luar pendidikan formal. Salah satu kanal yang dimanfaatkan adalah balai pelatihan kerja yang sudah tersebar luas di Indonesia. Materi pelatihan kerja yang cenderung masih di bidang keterampilan konvensional perlu di-upgrade dengan materi keterampilan digital.

Akses pada pelatihan keterampilan digital juga perlu ditingkatkan, baik pada lembaga pelatihan pemerintah maupun lembaga pelatihan swasta. Lembaga pelatihan berbasis digital yang terjangkau akan memberikan manfaat khususnya bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, belum memiliki pekerjaan, atau yang sudah bekerja akan tetapi dengan pendapatan rendah, hingga pelaku UMKM, untuk bisa naik kelas.

Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh program kartu prakerja di mana kolaborasi pemerintah dan swasta menghasilkan materi pelatihan yang komprehensif, namun juga murah. Masyarakat yang mengikuti pelatihan seperti misalnya pelatihan kewirausahaan dan pelatihan digital marketing, dapat menggunakan keterampilan yang didapatkan untuk berjualan secara online dan bergabung dengan ekosistem e-commerce dan fintech.

Selain itu partisipasi industri atau perusahaan untuk ikut mengembangkan talenta digital melalui kanal on the job training (OJT) secara merata juga perlu didorong. Peran perusahaan sangat dibutuhkan untuk peningkatan keterampilan digital khususnya di tingkat lanjut. Tidak semata untuk mendorong produktivitas perusahaan, akan tetapi juga membangun hubungan timbal balik saling menguntungkan antara perusahaan dan karyawannya.

Untuk mengimplementasikan strategi tersebut, diperlukan kebijakan pendukung sebagai berikut. Pertama, pengembangan talenta digital harus sejalan dengan pengembangan infrastruktur digital untuk dapat mempercepat akselerasi digital kultur. Pengembangan infrastruktur yang merata juga dibutuhkan untuk meningkatkan adopsi digital, mencegah digital divide, dan mencegah potensi gap keterampilan digital yang besar antar kota metro dan non-metro.

Kedua, upaya mewujudkan pengembangan talenta digital akan lebih mudah dilakukan di tengah kondisi masyarakat yang secara digital well-literate. Untuk mencapai hal tersebut, tentu tidak dapat bergantung pada lembaga pendidikan formal ataupun lembaga pelatihan. Oleh karena itu, agenda meningkatkan literasi digital masyarakat harus terus dilanjutkan melalui kanal yang variatif.

Ketiga, perlu political will untuk mengalokasikan anggaran dan berinvestasi di bidang pengembangan talenta digital berkualitas. Kolaborasi antar lembaga dan antar sektor untuk merumuskan road-map pengembangan digital ke depan juga sangat dibutuhkan. Hal ini untuk dapat mengidentifikasi keterampilan digital yang dibutuhkan di setiap sektor, serta merumuskan agenda pengembangannya ke depan.

Jika kita mencoba membayangkan Indonesia emas 2045, kita sebenarnya sudah tidak memiliki waktu banyak. Apalagi kita sedang bersaing dengan negara-negara di kawasan yang sudah selangkah lebih maju.

Lompatan besar dalam pengembangan talenta digital yang berkualitas diperlukan. Setiap kesempatan untuk meningkatkan jumlah sumber daya manusia yang kompeten di bidang digital tidak bisa dilewatkan. Saat ini adalah periode yang krusial, yang sebaik mungkin harus dimanfaatkan untuk Indonesia berdaya saing dan maju.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini