Pemilu 2024 dan Visi Indonesia 2045

Muhammad Rahmat Yananda Ketua Iluni UI 2019-2022 7 November 2022 08:06
Pemilu 2024 dan Visi Indonesia 2045
Ilustrasi Bendera Merah Putih. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemilu 2024 akan menjadi salah satu tahapan penting mewujudkan Visi Indonesia 2045. Pemilu 2024 diharapkan dapat menata ulang kelembagaan bernegara dan berbangsa. Peluang penataan ulang tersebut datang bersama dengan kehadiran pemimpin baru hasil pemilu serentak 2024 yang memilih presiden, kepala daerah, anggota dewan perwakilan rakyat pusat dan daerah, serta anggota dewan perwakilan daerah.

Mereka adalah para aktor utama yang berperan melakukan penataan ulang kelembagaan bernegara dan berbangsa: kelembagaan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam sejarah keberhasilan dan kegagalan bangsa-bangsa, kelembagaan menentukan negara mencapai kemajuan secara berbeda yang tercermin dalam penyelenggaraan kekuasaan dan kesejahteraan.

Melalui Pemilu 2024, pemimpin terpilih memiliki misi untuk melakukan penguatan kelembagaan politik menuju model demokrasi yang lebih substansial dengan mendorong kualitas partisipasi dan keterlibatan warga untuk lebih mendekatkan yang dipilih dengan yang memilih. Misi tersebut dapat terwujud jika para calon pemimpin yang maju di 2024 mengedepankan praktik-praktik terbaik berdemokrasi yang berkualitas. Pemimpin terpilih menjanjikan terjadinya penguatan kelembagaan politik Indonesia secara menyeluruh.

Karenanya tahun ini (2022) sampai dengan 2024 menjadi periode kritikal untuk Indonesia mendapatkan pemimpin yang mampu memperkuat kelembagaan. Beberapa nama telah muncul menjadi kandidat calon presiden. Jejak rekam mereka dalam penguatan kelembagaan di organisasi publik yang mereka pimpin dapat menjadi rujukan kesungguhan dan kemampuan sang calon melakukan penguatan kelembagaan Indonesia di masa depan. Sebagian dari calon-calon tersebut adalah para menteri di kabinet Presiden Joko Widodo. Sebagian lainnya adalah para kepala daerah.

Penguatan kelembagaan secara menyeluruh (politik, ekonomi, sosial dan budaya) menjadi tantangan lima tahun pertama (2022-2027) dari dua puluh tahunan Indonesia berusia 100 tahun di 2045. Berkat penguatan kelembagaan tersebut, di lima tahun kedua (2028-2033) Indonesia dapat berfokus kepada penguatan kemampuan dinamis sektor publik, privat dan sosial yang berdampak luas kepada peningkatan produktivitas, daya saing dan ketangguhan negara.

Produktivitas, daya saing dan ketangguhan akan menggerakkan kemunculan manusia, tata Kelola, produk dan layanan yang menjadikan Indonesia sebagai juara di antara negara lainnya di lima tahun ketiga (2034-2039). Di lima tahun keempat (2040-2045) setelah melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kemampuan dinamis, dan memunculkan manusia, tata kelola, dan produk unggul, Indonesia mendekati terwujudnya Visi Indonesia 2045. Di setiap tahapan lima tahunan pemimpin dan masyarakat berkolaborasi sembari menjalankan perannya. Pemimpin mendorong pemerintahan yang efektif dan masyarakat menjadi lebih tangguh.

Visi Indonesia 2045 hanya dapat tercapai melalui pembangunan berkesinambungan selaras dengan pembangunan kemampuan untuk menjadi bangsa yang tangguh menghadapi dan mengantisipasi ketidakpastian. Ketidakpastian yang datang dari peristiwa alam seperti bencana dan peristiwa yang disebabkan oleh manusia, seperti perang dan kemajuan sains dan teknologi.

Ketidakpastian termutakhir akibat serangan Covid-19 telah menjadi batu uji negara bangsa dimana mereka yang tangguh dan berkemampuan keluar pemenang paska Covid-19. Krisis Covid-19 mengembalikan peran sentral institusi pemerintah (negara) dalam penyelenggaraan kehidupan bersama dibandingkan privat, sosial dan media. Kembali menguatnya peran negara menjelaskan pentingnya pemilu sebagai sumber rekrutmen pemimpin negara.

Sebelum serangan Covid-19, dunia telah terancam oleh perubahan iklim global yang memunculkan beragam dampak negatif. Seperti ancaman lingkungan sampai dengan ancaman pangan. Sebagian negara-negara telah mengantisipasi ancaman tersebut. Akan tetapi, lebih banyak lagi negara yang belum mempersiapkan diri atau tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya. Misalnya Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki hutan tropis luas yang hutannya terus mengalami pengurangan luas karena masih bergantung kepada kegiatan ekonomi yang merusak lingkungan, pertambangan dan perkebunan. Ketergantungan tersebut akibat rendahnya daya saing ekonomi berbasis industri dan pengetahuan.

Ancaman lain datang dari kemajuan teknologi. Revolusi Industri 4.0 telah memperlebar ketimpangan antara negara maju dan berkembang. Ekonomi berbasis teknologi dan pengetahuan menjadi basis keunggulan ekonomi suatu negara. Sementara itu, Indonesia masih tertinggal di era teknologi sebelumnya dan masih bergulat dengan deindustrialisasi.

Mengantisipasi masa depan yang penuh ketidakpastian tersebut, negara dan bangsa harus menyiapkan skenario yang diinginkan sejalan dengan kemampuan untuk mewujudkannya. Oleh karena itu Indonesia membutuhkan skenario Visi Indonesia 2045.

Studi Masa Depan

Ketidakpastian masa depan memunculkan foresight. Sebuah konsep yang menunjukkan adanya kemungkinan alternatif yang akan terjadi, dan kebutuhan untuk mempertimbangkannya. Perencanaan (berbasis) skenario (scenario planning) adalah salah satu metode yang popular dan sering dipraktikkan. Dalam Foresight: A Glossary yang dipublikasikan oleh Centre for Strategic Future Singapura (2012) dijelaskan bahwa perencanaan skenario adalah suatu proses yang menghasilkan sekelompok cerita yang masuk akal tentang masa depan.

Skenario tersebut digunakan untuk membantu perencanaan jangka panjang. Skenario yang baik, menggabungkan unsur-unsur yang ketat prakiraan dengan elemen-elemen penceritaan mendalam guna menghidupkan kemungkinan masa depan. Metode ini dipelopori oleh Royal Dutch Shell, yang menekankan bahwa skenario tidak dimaksudkan untuk menyajikan prediksi yang pasti tentang masa depan. Sebaliknya, skenario dapat membantu mengartikulasikan risiko dan peluang yang hadir dalam pelbagai masa depan yang masuk akal, dan berfungsi sebagai alat diskusi untuk merangsang perdebatan tentang strategi untuk membentuk masa depan sebagai alat manajemen perubahan.

Ketidakpastian dampak krisis Covid-19 telah mendorong organisasi global untuk merencanakan skenario guna mengantisipasi masa depan, seperti yang dilakukan Deloitte (2021), IMD (Wade, 2020), PwC (2020), EY (n.d.a) dan lain-lain.

ILUNI UI mencoba merancang buku Skenario Indonesia 2045: Pemimpin dan Masyarakat. Di Indonesia, beberapa pihak juga menyelenggarakan pembahasan mengenai Indonesia 2045 seperti peluncuran buku (Khalisa, 2021; Kasih, 2021) dan penyusunan perencanaan berbasis skenario pasca Covid-19 (Center for Strategic BPK RI, n.d.) yang mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan tentang Indonesia di tahun 2045 (BAPPENAS RI, 2019). Tentu saja kemungkinan terbaik yang lebih diharapkan. Oleh karena itu, ILUNI UI mencoba menyusun alternatif skenario masa depan yang diharapkan sejalan dengan cita-cita dan janji kemerdekaan.

Idealnya, tujuan pengembangan skenario ini adalah mengeksplorasi alternatif masa depan yang tersedia. Tetapi pengembangan skenario dapat juga bertujuan untuk menemukan dukungan-dukungan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan secara praktis. Dalam pengembangan skenario yang bertujuan mencari alternatif terbaik ternyata juga muncul alternatif yang tidak diharapkan atau alternatif yang tidak sesuai harapan, tetapi lebih mungkin untuk terjadi.

Skenario menjadi peta jalan di mana intervensi di awal dapat dilakukan. Artinya, persiapan untuk mengantisipasi keadaan yang tidak diharapkan dapat diselenggarakan dari saat ini menuju masa depan. Oleh karena itu, tujuan pengembangan Skenario Indonesia 2045 ini mencoba mengeksplorasi alternatif-alternatif yang tersedia dan kemudian menemukan dukungan (input) untuk memunculkan peran pemimpin dan masyarakat Indonesia dalam mewujudkan skenario yang diharapkan.

Pengembangan Skenario Indonesia 2045 mengumpulkan data yang meliputi analisis data sekunder, diskusi kelompok terarah (FGD) dan melakukan panel ahli. Pengembangan skenario ini memanfaatkan data kualitatif. Dalam penyusunan skenario yang sejalan dengan data, maka skenario ini disampaikan secara naratif atau berbentuk penceritaan. Beragam sumber data kualitatif tersebut disusun ke dalam analisis SWOT untuk menemukan alternatif skenario. Karena itu, beberapa isu-isu utama global (megatrend) akan menjadi pendorong dalam menentukan arah penceritaan alternatif skenario, yang dihubungkan dengan kondisi nasional. Aktor-aktor utama dalam skenario Indonesia 2045 adalah pemimpin dan masyarakat.

Pengembangan skenario berjalan cukup lama karena terganggu oleh krisis Covid-19. Sejak direncanakan pada 2019, proses pengembangan perencanaan skenario baru dapat diselenggarakan tanpa gangguan setelah serangan Covid-19 varian Delta mereda. Sepanjang serangan hebat Covid-19 sulit menemukan basis dasar skenario. Saat ini, setelah proses panjang dan bekerja dalam situasi pembatasan sosial, skenario baru dapat dituntaskan.

Berikut kerangka pemikiran perencanaan skenario Indonesia 2045: Pemimpin dan Masyarakat;

1. Penyusunan skenario merupakan pencarian Visi Indonesia 2045

2. Visi Indonesia 2045 dicapai melalui pengembangan skenario yang akan memunculkan alternatif skenario

3. Alternatif skenario yang diharapkan sejalan dengan Visi Indonesia 2045 berfokus pada dua aktor, yaitu pemimpin dan masyarakat

Bagan berikut ini menggambarkan alur kerangka pemikiran pengembangan Skenario Indonesia 2045:

opini alur kerangka pemikiran pengembangan skenario indonesia 2045

ILUNI UI mengembangkan empat skenario Visi Indonesia 2045. Keempat skenario tersebut adalah Tanah Harapan, Tanah Tak Bertuan, Tanah Tandus, dan Jurang Dalam. Dari empat skenario ini, baseline penyelesaian krisis Covid-19 adalah moderat. Kemampuan pemerintah dan masyarakat mengatasi Covid-19 memadai. Sedangkan baseline skenario Visi Indonesia 2045 dimulai dari Tanah Tandus. Di skenario menjadi tantangan untuk pemerintah dan pemimpin meningkatkan efektivitasnya. Sementara masyarakat memiliki modal resilien yang memadai. Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang efektif dan masyarakat yang resilien untuk menguatkan kelembagaan dan kapasitas dinamis guna mencapai negara yang unggul dan Visi Indonesia 2045.

Megatrend: Sebelum dan Setelah Covid-19

Perencanaan skenario sebagai bagian dari tinjauan masa depan (foresight) dapat memanfaatkan perkembangan megatrend. Megatrend mendeskripsikan fenomena makro yang membentuk fondasi masyarakat dalam skala global (Doorly, 2020). Megatrend memunculkan momentum dalam kurun waktu yang panjang. Tren memandu arah perjalanan menuju suatu destinasi. Megatrend memandu perjalanan secara umum, yang dapat saja melewati berbagai destinasi. Megatrend adalah tren jangka panjang. Kejadian hari ini bergerak menjadi tren ke dalam beragam ketidakpastian dengan kurun waktu yang juga tidak dapat ditentukan. Dalam situasi tersebut, yang dapat dilakukan adalah peramalan (Lustig & Ringland, 2018).

Apakah pandemi Covid-19 mengubah arah megatrend? Kerangka kerja megatrend EY (n.d.b.) mengidentifikasi empat kekuatan yang dapat membantu pengaruh Covid-19 terhadap megatrend.

opini megatrend

Sementara itu, kerangka kerja megatrend EY mengidentifikasi empat kekuatan, sebagai berikut:

1. Kekuatan Primer:

● Akar penyebab disrupsi: teknologi, globalisasi, demografi, dan lingkungan

● Empat penyebab itu bukanlah kekuatan baru, tetapi semuanya berkembang dalam gelombang di mana tiap-tiap gelombang disruptif muncul dengan caranya masing-masing.

● Dalam laporan EY di gelombang terakhir, ada empat kekuatan primer yaitu:

- Menambah Kekuatan Manusia (Teknologi): 5G, Edge Computing, Sensor

- Melampaui Globalisasi (Globalisasi); Populisme dan Nasionalisme, Globalisasi dengan Regionalisasi, Tantangan Kolektif Global (Pandemi)

- Kemunculan Generasi Z (Demografi)

- Dampak Perubahan Iklim secara Eksponensial (Lingkungan): Perubahan iklim lebih cepat, Cuaca ekstrim lebih sering dan berbiaya mahal, Diskusi publik terkait isu ini lebih intensif

2. Megatrend:

● Interaksi antara gelombang kekuatan primer menciptakan gelombang baru

● Daftar megatrend belum lengkap karena disrupsi yang terus terjadi memunculkan yang baru lebih cepat dari kemunculan gelombang primer. Konsekuensinya, megatrend yang sebelumnya tetap valid

● Megatrend sebagai berikut:

- Dekarbonisasi sebagai jawaban atas perubahan iklim

- Techonomic Cold War, populisme dan perang dagang, daftar hitam perusahaan dan perlombaan teknologi persenjataan, serangan siber dan perang informasi. Perang masa depan bersifat permanen, tidak tampak dan mengandung risiko tinggi bagi perusahaan multinasional

- Ekonomi Perilaku; jika data adalah minyak baru, maka perilaku adalah data baru. Dipersenjatai dengan kemampuan canggih, perusahaan dan pemerintah dapat membentuk perilaku yang tidak terjadi sebelumnya, seperti: perilaku berbasis internet, kemampuan terobosan, kesempatan dan tantangan dengan pemerintah sebagai aktor utama.

- Media Sintetik, sebagai risiko siber baru untuk bisnis. Kepastian terkait keaslian menjadi penting untuk memantapkan kepercayaan dengan pemangku kepentingan, penjaga reputasi brand dan mendorong kinerja bisnis: melawan ancaman siber terhadap korporasi, teknologi sebagai solusi, pendekatan multi perangkat, bersifat jangka panjang

- Masa Depan Berpikir: Otak hari ini adalah teknologi, human augmentation, gangguan mental 'positif' karena teknologi

- Kerja dan Hidup Tanpa Batas: Perubahan norma, masa depan tanpa batas.

- Microbiomes: Mengembangkan kemampuan mikroorganisme membantu tantangan besar dan menciptakan kesempatan inovasi di berbagai industri

- Biologi Sintetis: Kemampuan membaca dan menulis ulang kode kehidupan mengubah cara mengobati penyakit, membuat sesuatu dan memproduksi makanan

3. Dunia Kerja Masa Depan:

● Dalam jangka panjang, efek penggabungan megatrend membentuk ulang lanskap ekonomi dan politik

● Dunia kerja masa depan menjelaskan aturan baru penyelenggaraan sistem yang bervariasi:

4. Sinyal Lemah (Weak Signal):

● Sinyal Lemah adalah gelombang kekuatan primer yang berdampak sangat besar di masa depan seperti komputasi kuantum, drone penumpang

● Kemungkinan dan skala serta sifat dampaknya lebih tidak pasti

Sementara itu, sebelum serangan Covid-19, beberapa publikasi megatrend telah dilakukan. Vielmetter dan Sell (2014) memunculkan enam megatrend sebagai berikut:

● Globalisasi 2.0 sebagai kemunculan tata ekonomi baru global di mana kekuatan beralih ke pasar yang tumbuh pesat di Asia, khususnya China.

● Krisis Lingkungan menyebabkan sumber daya alam penting semakin langka dan perubahan iklim semakin mengancam akibat aktivitas manusia.

● Individualisme dan pluralisme nilai tumbuh mempengaruhi pasar berkembang yang akan mendorong perilaku individualistik di sebagian besar dunia.

● Era digital di mana orang-orang hidup dan bekerja memanfaatkan teknologi digital telah menjadi norma.

● Perubahan demografi populasi dunia yang berkembang pesat dan menua dengan cepat akan mengubah pasar dan memberikan tekanan yang sangat besar pada struktur sosial dan sistem kesejahteraan.

● Konvergensi teknologi akibat dari kemajuan teknologi nano dan biologi akan mengubah banyak area kehidupan di mana kemajuan terbesar akan dihasilkan dari kombinasi teknologi tersebut

Keenam megatrend tersebut di atas (yang mengubah pola kerja) berdampak pada lingkungan korporasi, organisasi (baik dalam tim maupun individu-individu dalam organisasi).

KPMG menurunkan laporan megatrend yang berskala global ke dalam skala negara yang berdampak kepada pemerintah dan pembuat kebijakan publik (2014). KPMG menemukan 9 (sembilan) megatrend yang berdampak kepada pemerintah dan warga pada tahun 2030, sebagai berikut:

1. Demografi. Harapan hidup lebih tinggi dan menurunnya angka kelahiran meningkatkan proporsi kelompok usia tua, mengancam kemampuan sistem jaminan sosial.

2. Menguatnya sifat individualis karena pendidikan, kesehatan dan teknologi, membantu memberdayakan individu-individu yang belum pernah terjadi sebelumnya, meningkatkan tuntutan transparansi dan partisipasi dalam pemerintahan dan pembuatan keputusan publik.

3. Kemudahan teknologi informasi dan komunikasi mengubah masyarakat dalam 30 tahun terakhir. Gelombang baru teknologi maju menciptakan kesempatan baru, sambil menguji kemampuan pemerintah dalam memanfaatkan teknologi tersebut dan melakukan pengawasan.

4. Interkoneksi ekonomi global akan terus meningkat di perdagangan internasional dan aliran modal.

5. Hutang publik beroperasi menjadi hambatan fiskal dan pilihan kebijakan menuju 2030 dan seterusnya. Kemampuan pemerintah mengontrol hutang dan menemukan cara baru dalam melakukan pelayanan publik akan mempengaruhi kapasitas mereka merespons masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan.

6. Peralihan kekuatan ekonomi di mana kemunculan ekonomi akan mengeluarkan jutaan orang dari kemiskinan.

7. Perubahan iklim disebabkan oleh efek rumah kaca dan mendorong campuran kompleksitas masalah lingkungan.

8. Tekanan kepada Sumber Daya Alam akibat pertumbuhan populasi, ekonomi dan perubahan iklim

9. Urbanisasi. Dua per tiga dari populasi akan menetap di perkotaan pada 2030

Sembilan megatrend di atas menuntut pemerintah menentukan apa perubahan yang harus dilakukan? Dan, bagaimana pemerintah melakukan perubahan? Sedangkan Lustig dan Ringland dengan publikasi yang lebih baru pada tahun 2018 dari peramalan-peramalan, menyebutkan 12 megatrend sebagai berikut:

1. Populasi. Tren yang mendeskripsikan populasi dunia dalam jumlah, distribusi geografi, asal, ukuran keluarga, umur dan pekerjaan menemukan: (a) populasi penduduk meningkat di Asia Selatan dan Afrika; (b) Akan lebih banyak penduduk dengan usia lanjut karena kesehatan meningkatkan harapan hidup dan usia.

2. Peralihan Nilai-nilai. Perbedaan generasi yang signifikan di seluruh penjuru dunia. Tingginya kecenderungan populasi usia tua yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan populasi usia yang lebih muda berkontribusi pada pecahnya pertumbuhan demokrasi, seperti Generasi X, generasi pertama yang terglobalisasi, berperilaku berbeda dengan generasi selanjutnya. Generasi X, Y, Z merupakan digital native yang bersikap yang lebih santai berbagi informasi siber dibandingkan generasi yang lebih tua.

3. Migrasi dan Urbanisasi. Orang-orang bermigrasi untuk meninggalkan situasi buruk atau untuk kehidupan yang lebih baik. Urbanisasi yang mengubah populasi rural menuju lingkungan urban dan antarnegara, akan mengubah peta di mana wilayah urban akan lebih terdampak.

4. Struktur Sosial. Struktur sosial baru muncul dari kombinasi berbagai faktor seperti struktur populasi dan keluarga, sebagian besar populasi tinggal di perkotaan, kesenjangan, dan sifat pekerjaan berubah. Keragaman budaya berbasis bahasa menurun, banyak orang memahami budaya lain melalui media, perjalanan dan kedekatan kepada beragam orang dan budaya. Kesenjangan ekonomi antarnegara akan meningkat dan berlanjut karena bentuk dari aktivitas ekonomi.

5. Aktivitas Ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan berlanjut dan rata-rata GDP negara dan region cenderung mendekat di mana dampak MNC akan meningkat pada ekonomi lokal, dan akan ada pertumbuhan kesenjangan dalam negara di mana tren pertumbuhan global didorong oleh pertumbuhan populasi yang dapat saja tidak berhubungan dengan kesempatan kerja.

6. Pandangan Dunia Multipolar. Pusat gravitasi kekuatan dan pengaruh global berpindah dari North dan West ke East dan South, yang memunculkan ketegangan dan ketidakstabilan.

7. Batasan Global. Populasi dan gaya hidup menekan sistem alam global dengan dampak yang tidak diketahui. Sementara terjaminnya produksi pangan, rantai pasokan global yang rentan terhadap kekurangan sumber daya yang kritis, serta polusi udara dan laut akan menjadi isu besar.

8. Mobilitas. Orang-orang yang bepergian terus meningkat karena semakin aksesibel dan transportasi kargo dan barang juga sedikit meningkat karena lokalisasi manufaktur dan perubahan rantai suplai.

9. Transformasi Energi. Sumber energi semakin terdesentralisasi dan terdiversifikasi pada energi terbarukan dan bukan fosil, seperti sumber energi angin, solar, geotermal, hidro, dan arus, serta biofuel. Penggunaan ekonomi terbarukan akan menurunkan biaya dan ketersediaan semakin luas. Biaya energi mengacu kepada energi listrik.

10. Dunia yang Terhubung. IoT hadir di mana-mana dan banyak industri akan direkayasa ulang. Platform-platform internasional menawarkan skala ekonomi, hadir di semua tempat dan mendorong globalisasi sektor swasta. Big Data menjadi semakin penting. Platform ICT akan mendukung aplikasi cerdas berbasis IoT di 2023. Data pribadi menjadi bernilai, tetapi kepemilikan data menjadi sumber perbedaan. Generasi baru layanan keuangan menyediakan layanan yang lebih luas kepada banyak orang.

11. Revolusi Teknologi Lanjutan, yaitu robotik, AI dan machine learning, material maju, biotek, dan genomik.

12. Biotek. teknologi ini menawarkan pendekatan teknologi untuk banyak masalah kesehatan dan masalah sumber daya yang dihadapi dunia. Aplikasi biotek untuk industri primer, kesehatan, dan industri proses, dapat mengarah kepada bioekonomi skala global pada 2023 di mana muncul masalah yang terkait dengan etika dan publikasi penelitian.

Megatrend di atas yang menjadi tren sebelum dan setelah Covid-19, ada yang sama dan ada yang berubah. Sebagai contoh, megatrend perubahan iklim dan urbanisasi tidak berubah banyak. Sementara megatrend terkait teknologi, khususnya digitalisasi, mengalami percepatan sebagai konsekuensi dari jarak sosial selama pandemi.

Ekonomi dan politik berubah karena serangan pandemi. Ekonomi dan politik mengalami perubahan karena menguatnya peran negara dibanding pasar dan masyarakat sipil akibat disrupsi Covid-19. Dalam konteks ini, megatrend perlu mendapatkan analisis yang memadai dalam konteks Indonesia. Megatrend berperan besar dalam menentukan masa depan dan tentu berpengaruh dalam penyusunan perencanaan skenario.

*bagian pertama dari dua artikel opini

*Penulis Buku Skenario Masa Depan Indonesia 2045: Pemimpin dan Masyarakat (Iluni UI, 2022) bersama Andre Rahadian, Fithra Faisal Hastiadi, Grady Nagara, Bachtiar Firdaus

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini