Daihatsu Bicara Potensi Naikkan Harga Jual, bila Kurs Rupiah Terus Melemah

Daihatsu Bicara Potensi Naikkan Harga Jual, bila Kurs Rupiah Terus Melemah
OTOMOTIF | 7 April 2020 16:19 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Pabrikan otomotif terbesar di Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, masih mengamati nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar amerika serikat yang terus melemah sejak pandemi Covid-19.

Per hari ini (7/4), kurs rupiah melemah sekitar 1 persen ke level Rp 16.125 per dolar. Kurs rupiah terhadap dolar menjadi salah sau patokan biaya pokok produksi kendaraan, karena sebagian parts mobil yang diproduksi masih diimpor dari luar negeri.

Saat ini ADM punya dua pabrik, yakni di Sunter, Jakarta Utara dan Karawang, Jawa Barat. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 200 ribu unit per tahun dan 300 ribu unit.

Amelia Tjandra, Direktur Pemasaran ADM, menjelaskan bila kurs rupiah terus melemah seperti sekarang, di level Rp 16 ribuan per dolar, pihaknya pasti akan melakukan penyesuaian harga jual produknya. Karena biaya pokok produksi pasti terdampak.

"Baru satu bulan kurs rupiah di level 16 ribuan, sekarang kami masih mengamati. Biasanya kami mengamati kurs paling sedikit 2-3 bulan sebelum memutuskan menaikkan harga atau tidak," ujar Amelia di Jakarta, kemarin (6/4).

Menurutnya, Daihatsu Indonesia memiliki angka potakan kurs tahun ini adalah kurs rata-rata tahun lalu, yang berada di level Rp 14 ribuan. Sementara per April ini, kurs rupiah terus melemah ke level Rp 16 ribuan.

Awal Tahun Harga Naik karena Faktor BBN

Selain potensi kenaikan harga jual pada 2-3 bulan ke depan, sejatinya Daihatsu sudah menaikkan harga jual mobilnya pada awal tahun ini. Namun, kenaikan ini bukan karena kurs rupiah yang melemah, melainkan akibat kenaikan komponen bea balik nama (BBN) kendaraan bermotor terutama di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Dia mencontohkan, kenaikan harga bervariasi bagi setiap model. Misalnya Terios ada kenaikan harga jual Rp 1,5 juta, Astra Sigra Rp 1 juta, Gran Max Rp 1 juta, Luxio Rp 1 juta, dan Xenia Rp 2,1 juta.

"Kenaikan harga kemarin bukan karena dolar, tapi penyesuaian BBN," tegasnya.

Baca Selanjutnya: Riset McKinsey: Industri Otomotif Pulih...

Halaman

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami