Gaikindo Justru Khawatir 'Wacana Berlebihan' Pajak 0 Persen Mobil Baru, Ada Apa?

Gaikindo Justru Khawatir 'Wacana Berlebihan' Pajak 0 Persen Mobil Baru, Ada Apa?
OTOMOTIF | 25 September 2020 16:53 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Industri otomotif nasional khawatir dengan pemberitaan berlebihan soal usulan pajak mobil baru 0 persen oleh Kementerian Perindustrian RI pada Kementerian Keuangan. Kekhawatiran ini disampaikan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

"Terlalu banyak dibahas atau diwacanakan usulan pajak mobil baru 0 persen. Sebenarnya usulan ini tidak diinginkan karena negara juga butuh pendanaan yang antara lain dari pajak. Usulan ini hanya stimulus, momentum perbaikan industri otomotif nasional," ujar Kukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Gaikindo pada Merdeka.com, Jumat (25/9).

Kukuh menjelaskan, penjualan mobil pada periode Juni-Agustus ada perbaikan dengan penjualan sekitar 37 ribu unit di Agustus. Namun, kami khawatir penjualan di September menurun lagi, karena konsumen menahan membeli mobil, mereka menunggu usulan pajak mobil baru 0 persen diberlakukan.

Saat ini usulan tersebut masih dibahas oleh Kementerian Keuangan.

Produk otomotif dikenai biaya pajak oleh pemerintah, seperti pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen; pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) --yang tergantung tipe dan model mobil; bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) 12,5 persen; dan pajak kendaraan bermotor (PKB) 2,5 persen. Harga jual termasuk pajak-pajak tersebut disebut harga on the road (OTR) yang dibayarkan konsumen saat membeli mobil baru.

Bila biaya pajak-pajak itu ada yang 0 persen atau diturunkan, maka konsumen akan membayar lebih murah saat membeli mobil baru.

"Menurut kami, masyarakat masih punya uang di masa pembatasan sosial berskala besar. Nah, masa pembatasan besar ini, mereka yang punya uang akan membeli mobil, menghindari kendaraan umum. Ini ibarat lokomotif yang akan menggerakkan sektor usaha lainya," ujarnya.

Baca Selanjutnya: Menggerakkan Ekonomi Nasional dari Industri...

Halaman

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami