Indonesia Masuki Era Mobil Listrik, Vendor Otomotif Global Hella Siap Pasok Komponen

OTOMOTIF | 21 September 2019 17:43 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Era mobil listrik di Indonesia merupakan keniscayaan begitu terbit Peraturan Presiden No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan pada 8 Agustus lalu. Apalagi pemerintah siap memberikan keringanan pajak.

Tak heran, pasar mobil listrik menjanjikan di masa mendatang. Para agen pemegang merek juga sudah lama ingin menjajal pasar Indonesia dengan mobil ramah lingkungan buatannya ini. Ekspansi model mobil listrik pun di Indonesia tinggal menunggu waktu tepat. Tak hanya dari pabrikan otomotif, tapi juga dari produsen produk otomotif aftermarket, seperti Hella asal Jerman.

Hella dikenal sebagai pemain suku cadang otomotif aftermarket global. Di pasar aftermarket Indonesia, produk Hella yang populer adalah lampu LED, karet wiper, klakson, dan sebagainya.

Albert Susanto, Head of Special OE Hella Asia Singapura, mengakui Hella sudah berpengalaman dengan kebutuhan produksi mobil listrik. Namun, setiap negara perlu pembelajaran terlebih dahulu dalam hal mobil listrik serta dukungan aftermarket-nya.

"Seberapa besar potensi mobil listrik di Indonesia? Ini mungkin perlu dipelajari lebih lanjut, tidak bisa langsung, karena kondisi setiap negara berbeda-beda. Namun, yang jelas perlu pembelajaran lebih lanjut," ujar Albert yang dijumpai di booth Hella dalam pameran Indonesia Mining 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin.

Namun, Hella membocorkan sasaran yang lebih cocok. Terlepas dari wacana akan bertumbuhnya pabrikan yang memproduksi kendaraan listrik di Tanah Air, Hella mengaku siap menyambut karoseri di Indonesia baik untuk kendaraan listrik penumpang maupun niaga; bus.

Kalau Indonesia sudah ada produsen atau karoseri membangun mobil listrik, kami siap memasok komponen, kata Albert.

Albert menjelaskan terkait mobil listrik, Hella sudah hadir di pasar Asia Utara; Korea Selatan dan Jepang, termasuk China.

Bagaimana dengan Indonesia? "Mungkin kita lihat 10 tahun ke depan. Tergantung situasi pasar Indonesia bagaimana," pungkasnya.

(mdk/sya)