Ini tantangan Toyota Sienta supaya sukses di Indonesia

OTOMOTIF | 5 Agustus 2016 11:40 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - All New Toyota Sienta adalah mobil terbaru ketiga yang diluncurkan PT Toyota-Astra Motor (Toyota Indonesia) di semester I 2016, setelah All New Kijang Innova dan All New Fortuner. Namun, berbeda dari dua model tadi, Sienta baru kali pertama masuk ke pasar Indonesia, tepatnya April lalu, dengan membawa konsep Jepang, yakni multi-activity vehicle (MAV). Konsep MAV ala Jepang ini berbeda dengan konsep multi-purpose vehicle (MPV), segmen mobil yang paling laris di Indonesia.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memasukkan Sienta ke segmen MPV, bersama model lain seperti All New Kijang Innova, Honda Freed, New Nissan Grand Livina, Isuzu Pathner, Hyundai Trajet, dan KIA Carens II. Menurut Gaikindo, Sienta baru tercatat penjualannya di Juni 2016 sebesar 40 unit.

Sementara penjualan mobil MPV periode Januari-Juni 2016 mencapai 35.656 unit. Naik sekitar 18 persen dari periode sama tahun lalu yang sekitar 30 ribu unit. Kenaikan itu lebih tinggi dari segmen Low MPV, yang hanya 9 persen menjadi 138.647 unit. Jika digabung, penjualan mobil MPV per semester I adalah 147.303 unit, setara 28% dari total penjualan mobil nasional yang 531.929 unit.

Toyota Indonesia memasarkan Sienta dengan 4 tipe, yakni E, G, V, dan Q, dengan 7 varian, karena setiap tipe menawarkan transmisi manual dan CVT. Kecuali tipe tertinggi, Q, yang hanya tersedia transmisi CVT. Untuk harga jual, tipe terendah, E transmisi manual, dibanderol Rp 230 juta, sedangkan termahal tipe Q Rp 295 juta.

Target penjualan Sienta di Indonesia mencapai 3.500 unit per bulan atau 42 ribu per tahun. Lumayan tinggi untuk mobil yang konsepnya masih harus dicerna oleh pasar Indonesia. Berikut catatan Otosia.com/Merdeka.com terhadap Sienta sambil mencoba menakar potensi penjualan Sienta di Indonesia.

1 dari 3 halaman

Konsep Produk

Toyota Sienta. ©2016 Merdeka.com

Seperti disebutkan, Sienta memiliki konsep unik karena mengadopsi konsep Jepang berupa mullti-activity vehicle (MAV). Konsep itu pertama kali diperkenalkan di Jepang pada September 2003.  Saat itu Sienta menawarkan minivan dengan dimensi kompak dan fungsional, serta desain dinamis. 

Generasi kedua Sienta lahir pada 9 Juli 2015 (ini yang dibawa ke Indonesia) dengan popularitas tinggi di negeri matahari terbit ini.  Volume penjualannya hingga kini sebesar 141 ribu unit dan menjadi MPV kompak tersukses di Jepang, menurut Hiroshi Kayukawa, Chief Engineer Sienta.  Per tahun ini, penjualan Sienta di Jepang mencapai 9.000 unit per bulan.

Sienta generasi kedua dikembangkan dengan konsep modern, active, dan fun. Desain eksteriornya terinspirasi sepatu trekking, sehingga ada garis hitam tebal yang mengalir dari lampu utama turun ke bemper depan. Begitu juga di bagian buritan, serta di dua sisi pintu baris kedua bagian bawah. Eksterior yang kontemporer ini tampak lucu di mata konsumen Indonesia. 

Konsep kontemporer ini juga berlanjut ke bagian interior dengan panel instrumen yang modern, tepatnya three dimensional design-dual layer dashboard. Konsep kontemporer lainnya, fitur dive-in seat. Fitur ini membuat jok kursi ketiga bisa dilipat dan 'sembunyi' di bawah jok baris kedua. Tujuannya, menciptakan bagasi luas jika konsumen membawa barang besar atau banyak. Namun, jika membutuhkan penumpang lebih banyak, jok ketiga bisa dikembalikan lagi sehingga bisa memuat 7 orang. Fleksibelitas inilah yang coba ditawarkan Sienta.

Menurut Hiroki Sunouchi, Project Manager Toyota Sienta, ide Sienta dikembangkan adalah untuk negara-negara  minivan atau MPV seperti Jepang. Bukan Eropa yang tidak mengenal mobil MPV.  Karena itu, Sienta menawarkan konsep minivan yang mengombinasikan antara kebutuhan penumpang banyak (7 orang) dan kargo besar, dengan fitur dive-in seat. Fitur dive-in seat sudah ada sejak Sienta lahir pada 2003. Dengan fitur dive-in seat, maka kemampuan kargo atau mengangkut barang Sienta akan maksimal, yang tidak dimiliki oleh small minivan.

"Sienta memang bukan Kijang Innova yang mampu membawa barang banyak, tapi berkat fitur dive-in seat, kemampuan kargo Sienta sama dengan Kijang Innova," kata Sunouchi kepada Merdeka.com, beberapa waktu lalu di Bandung.

Dengan konsep serupa, maka Sienta tidak menawarkan fitur captain seat di Indonesia. Padahal mobil berfitur pintu geser atau sliding door di Indonesia identik dengan captain seat (6 penumpang). Tengok saja, Honda Freed, Toyota Alphard, Toyota NAV1, Nissan Serena, Mazda Biante, Mitsubishi Delica, dan lain-lain. Tiadanya captain seat juga pembeda signifikan antara Sienta made in Indonesia dan made in Jepang. Selain ground clearance Sienta Indonesia lebih tinggi 25 mm.

Soal ini, Sunouchi-san berargumen, mobil berfitur pintu geser berkesan mahal di Indonesia, mengacu pada mobil Toyota Alphard. Karena itu, Toyota memiliki ide memadukan antara sliding door dan 7 penumpang, bukan captain seat yang hanya membawa 6 penumpang.  "Jadi Sienta juga kombinasi antara fitur sliding door dan 7 penumpang. Ini konsep penting lain Sienta di Indonesia. Terkait dengan itu, maka fitur dive-in seat penting."

Selain itu, Sienta juga membawa konsep global dan standar Eropa, yang notabene masih baru di Indonesia. Misalnya transmisi manual 6-speed dengan desain gigi mundur (R) berada di sisi kiri gigi 1. Biasanya di Indonesia, gigi mundur berada di bawah gigi 5.

"Konsep-konsep baru di Sienta, saya yakin berhasil di Indonesia, karena riset kami menyebutkan orang Indonesia sangat adaptif terhadap teknologi, bahkan masuk kategori advance," ujar Sunouchi-san.

Selain menawarkan konsep baru, jika dilihat secara detail Sienta diproduksi dengan stylish. Misalnya di bagian kabin, panel dasboard memiliki pola motif batik. Tidak asal krom. Kemudian pilar B bagian dalam juga mendapat aksen menarik berupa lingkaran-lingkaran kecil. Belum lagi fitur tempat rahasia di bawah jok dan lain-lain.

Ahli desain, Leo Theosabrata, berpendapat eksterior Sienta modern dengan desain kontemporer untuk memenuhi harapan orang-orang baru di zamannya. "Toyota mahir hadirkan inovasi desain dan tetap konservtatif di sisi lain. Dari sisi eksterior,  konsep Sienta akan mudah diterima konsumen Indonesia," ujar Leo.

Konsep bagus nan global dari Sienta adalah satu hal. Hal lain, lebih penting lagi,  adalah edukasi terhadap value Sienta tersebut kepada konsumen Indonesia. Inilah pekerjaan rumah dan besar Toyota di Indonesia. Karena konsep MAV masih baru, di tengah pasar yang paham benar dengan  konsep mobil MPV. Di tengah perhatian Toyota Indonesia yang terbagi karena baru saja memperkenalkan Astra-Toyota Calya, entry MPV 7 penumpang!

2 dari 3 halaman

Test Drive

Toyota Sienta. ©2016 Merdeka.com

Sienta diproduksi di pabrik Toyota Karawang, Jawa Barat, milik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Kapasitas produksinya  4.000 unit per bulan. Sienta made in Indonesia ini menjadi Sienta pertama di dunia yang diproduksi di luar Jepang.

Pada akhir Juli lalu, saya bersama puluhan jurnalis berkesempatan menjajal Sienta versi Indonesia. Dengan tujuan Bandung, tersedia 10 unit Sienta made in Indonesia dari tipe G, V, dan Q.

Bersama tiga jurnalis lain, saya berkesempatan pertama menjajal Sienta tipe Q yang termahal. Dengan rute menuju Bandung, saya mencoba posisi pengemudi dari tipe termahal yang bertransmisi CVT 7-speed dengan fitur sport sequential shiftmatic. Kualitas joknya baik meski berbahan fabric, tapi desain semi-bucket-nya  terasa lengket  di badan. Jok pengemudi juga bisa dinaik-turunkan, seperti juga setirnya. Singkatnya, Anda mudah mendapatkan posisi mengemudi yang ideal.

Sienta abu-abu tipe Q saya uji jalan dengan perhentian pertama rest area km 72 tol Cikampek dari kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Secara perlahan, saya bawa Sienta hingga kecepatan normal 80 kilometer per jam (kpj). Kesan pertama, kabin Sienta tipe Q sangat senyap. Suara mesin, apalagi bising ban di luar, sangat minim. Saat dipacu lebih dari 80 kpj, Sienta stabil dikendarai. Bisa dibilang keseimbangan mobil ini baik, karena bodi mobil minim bergerak saat dipacu. Suspensinya juga nyaman, berkat  McPherson strut dengan coil dan stabilizer di depan, serta torsion beam dengan coil dan stabilizer di belakang. Mengendarai Sienta tipe tertinggi ini sungguh menyenangkan.

Mesin baru 2NR-FE 1.5 liter dengan teknologi dual VVT-i ini mampu menyemburkan tenaga maksimal 107 ps per 6.000 rpm, dan torsi 14,3 kgm/4.200 rpm.
Saat tuas transmisi di D, mesin cenderung kalem dengan torsi flat di rpm di atas 2.000-an. Namun, di atas itu, mesin  lebih agresif mengikuti pijakan pedal gas. Wajar sih, karena mobil ini didesain sebagai mobil keluarga, termasuk  mengakomodasi karakter pengemudi perempuan.

Dengan transmisi CVT berfitur sport sequential shiftmatic, saat jalan tol Cikampek agak lengang, transmisi digeser ke  M. Beraroma manual, Sienta jadi 'galak' di level ini. Untuk menambah kecepatan, Anda cukup mendorong transmisi ke tanda plus dan tanda minus saat menurunkan kecepatan.

Saya beberapa kali berakselerasi untuk mendahului kendaraan di depan. Transmisi di level M cukup powerfull melakukan aksi overtaking, dengan perpindahan gigi mulus, nyaris tanpa hentakan. Dan melaju dengan kecepatan 120-140 kpj pun mudah dicapai. Dengan rute Gatot Subroto-Tol Cikampek km 72, saya mencatat konsumsi bensin 1 banding 13. Lumayan irit dengan kecepatan rata-rata 8o kpj.

Setelah di perhentian pertama, saya berganti posisi sebagai penumpang barisan depan. Dari sisi penumpang, harus diakui mobil berjalan dengan stabil dengan body movement minim. Terasa nyaman menjadi penumpang Sienta.

Saya juga mengeksplorasi audio system dengan layar sentuh 7 inci Sienta. Sistem audio ini menawarkan koneksi lengkap, yakni Wi-Fi, Miracast, Bluetooth, dan USB. Yang menarik, suara kualitas home theater berkat dengan tweeter di dua pintu depan.Posisi penumpang di baris kedua juga cukup nyaman. Jok bisa maju-mundur, sesuai dengan postur penumpangnya. Buat saya dengan tinggi lebih dari 170 meter, kabin Sienta memiliki head room dan knee room memadai.

Bagaimana posisi duduk di jok ketiga? Cukup lega, tapi jika ingin nyaman, sebaiknya Anda minta tolong ke penumpang baris kedua supaya memajukan joknya.

Salah satu kelemahan yang saya rasakan selama test drive Sienta versi Indonesia ini adalah tuas transmisi yang pendek. Sehingga pengemudi harus agak memanjangkan tangannya untuk meraih tuas trasnmisi tersebut. Kurang nyaman, jika mengemudi jarak jauh. Yang kedua, tiadanya arm rest di jok pengemudi.

3 dari 3 halaman

Potensi Pasar Sienta

Toyota Sienta. ©2016 Merdeka.com

Secara model, Sienta bersaing ketat dengan Honda Freed yang hadir di Indonesia sejak 2009. Karena sama-sama mobil MPV kompak dengan fitur pintu geser otomatis. Kapasitas mesinnya juga sama besar, yakni 1.500 cc dengan kemampuan angkut 6-7 penumpang.  Karena itu, potret penjualan Honda Freed selama 7 tahun terakhir mungkin bisa menjadi potret penjualan Sienta.

Lantas, bagaimana potret penjualan Honda Freed sejak 2009?

Menurut data Gaikindo, penjualan Freed di tahun pertama hanya 8.900 unit. Masih kecil, tapi ini wajar karena konsumen masih belajar "konsep" Freed sebagai mobil minivan kompak berpintu geser. Selain itu, tenaga penjualan Honda juga belum mahir menjual kelebihan Freed dari mobil lain di segmen MPV. Mulai tahun kedua (2010), penjualan Freed perlahan naik menjadi 13.500 unit. Pasar Freed tertinggi terjadi di 2012-2013 dengan penjualan 19.811 unit dan 18.595. Atau rata-rata laku 1.500-1.600 per bulan.

Setelah itu, penjualan Freed turun. Di 2014, penjualannya hanya 6.517 unit, tahun lalu tinggal 3.288 unit, dan di semester I 2016, minivan kompak Honda ini hanya laku 617 unit. Penjualan Freed terus menurun, akibat Honda mulai fokus memasarkan Mobilio di segmen low MPV yang lahir sejak 2013. Ditambah lagi model baru, yakni H-RV dan B-RV, di dua tahun terakhir. Alhasil, Freed disisihkan oleh prinsipalnya sendiri.

Jonfis Fandy, Direktur Marketing dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor,  pernah mengakui Honda sekarang lebih fokus jualan Mobilio, H-RV, dan B-RV ketimbang Freed. Alasannya, selera konsumen sudah bergeser ke mobil crossover  yang diwakili model H-RV dan B-RV. Dan mobil yang cenderung kotak di Indonesia tidak disukai. "Kami konsentrasi dengan model Mobilio dan B-RV yang sebulan terjual bisa 3.000-5.000 unit," ujar Jonfis.

Toyota Indonesia sendiri menargetkan penjualan Sienta 3.500 unit per bulan. Target ini lebih tinggi dari rata-rata penjualan tertinggi Freed yang 1.500-1.600 unit per bulan di 2012-2013. Apakah Toyota terlalu percaya diri? Bisa jadi.

Henry Tanoto, Vice President Toyota Indonesia, yakin penjualan Sienta bisa mencapai level 3.000-3.500 unit per bulan. Apalagi strategi memasukkan Sienta ke Indonesia berdasarkan riset panjang.  Contoh, lima tahun terakhir, selera konsumen otomotif berubah dari mobil yang fungsional menjadi mobil yang stylish.

"5-15 tahun lalu, 40%-50% konsumen kurang meminati mobil yang stylish. Namun kini lebih dari 50% konsumen suka dengan model mobil stylish. Karena itu, Sienta yang berkonsep MAV akan terus tumbuh dan menjadi kebutuhan konsumen Indonesia sekarang dan akan datang."

Ilustrasi menarik datang dari Anton Jimmi, Executive General Manager Toyota Indonesia. Kata dia, 10 tahun lalu, saat konsumen otomotif bicara fungsionalitas, maka konsumen sebenarnya bicara MPV, yang sudah diwakili oleh model Avanza dan Kijang.  Namun, kini selera otomotif bergeser. Selain digunakan untuk pergi ke kantor, mobil sekarang juga digunakan untuk kebutuhan gaya hidup, weekend, olahraga, dan lain-lain. Tren ini memang belum besar sekarang, tapi akan membesar di tahun-tahun mendatang. Untuk itu, Toyota harus siap dengan perubahan tren itu, sambil menjaga tren mayoritas yang diwakili model Avanza.

"Sienta didatangkan untuk perubahan tren itu. Kalau trennya sama dengan yang dahulu,  model Avanza dan Kijang Innova saja cukup. Tapi karena perubahan tren ini, kami masukkan Sienta, sekaligus untuk menjaga dominasi Toyota di segmen MPV. Kata kuncinya, mobil 7 penumpang karena pasarnya terbesar di Indonesia," ujar Jimmi.
Hasil penjualan Sienta dalam enam bulan ke depan menjadi bukti, terutama ketika Toyota Calya juga mulai dipasarkan.

(mdk/ega)