Mengapa Toyota Calya mudah populer? Ini jawabannya!

OTOMOTIF | 21 September 2016 13:14 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Sesuai prediksi, penjualan Astra Toyota Calya meroket, sejak diluncurkan 2 Agustus silam. Saat ini jumlah pemesan (SPK) Calya mencapai 21.700 unit per 10 September lalu. Padahal pabriknya di Karawang, Jawa Barat, hanya didesain berproduksi 8.000 unit per bulan, karena harus berbagi dengan saudara kembarnya, Astra Daihatsu Sigra.

"Masa tunggu atau inden Calya antara satu dan dua bulan. Untuk mobil baru termasuk wajar. Namun, kami berkomunikasi secara intens dengan pabrikan supaya bisa memenuhi permintaan. Kami juga akan minta volume produksi ditingkatkan hingga 9.000 unit pada September ini dan 10.000 di bulan berikutnya," ujar Anton Jimmy, Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor, di sela media test drive Calya di Semarang-Solo, pekan lalu.

Mengapa Calya mudah populer?

Popularitas Calya dalam waktu singkat sejatinya mudah ditebak. Dengan segmentasi entry multipurpose vehicle (MPV) dan sebagai adiknya Avanza, Calya persis berada di posisi Avanza dan Xenia saat booming, 12 tahun silam. Data penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) per Agustus 2016 buktinya. Calya terjual 9.241 unit, jauh meninggalkan Datsun Go+, pemain pertama di segmen entry MPV 7 penumpang, yang hanya terjual 1.364 unit.

Bahkan di level dealer, ada semacam kontes adu cepat jualan Calya di antara tenaga penjual/sales.

"Jualan Calya mudah, kayak kacang goreng. Bahkan antar-sales ada kontes-kontesan segala, siapa yang jualan paling banyak. saya saja sudah jual 13 unit di September ini," ujar seorang sales Toyota yang tidak mau disebutkan namanya kepada Merdeka.com, baru-baru ini.

Melihat ke belakang sejenak, duet Avanza-Xenia diluncurkan pada November 2003, tapi distribusi ke tangan konsumen baru terjadi pada Januari-Februari 2004. Ada inden sekitar 2-3 bulan. Saat itu Avanza dibuat sebagai mobil keluarga dengan harga masuk akal, seperti harga Toyota Kijang naik hingga tiga kali lipat menjadi Rp 180 jutaan, akibat krisis moneter di 1998/1999.

Dengan positioning di bawah Toyota Kijang, Avanza yang dibanderol sekitar Rp 70 jutaan tapi dengan kemampuan 'setara' Kijang sontak menarik perhatian konsumen otomotif. Dari target hanya 2.000-5.000 unit per bulan, siapa sangka penjualan Avanza bisa tembus 15 ribu unit per bulan, tanpa pesaing satu pun. Tapi kini rata-rata penjualannya sekitar 10.000 unit per bulan dengan pesaing kian ramai.

Reputasi besar Toyota, dukungan jaringan bengkel di seluruh Indonesia, ketersediaan suku cadang dengan harga terjangkau, dilihat konsumen sebagai jaminan saat itu. Hal serupa juga dilihat konsumen sekarang, saat Calya diluncurkan. Inilah kunci sukses Avanza yang diestafetkan ke Calya.

Apalagi spesifikasi Calya, jika dibandingkan Avanza generasi pertama, jauh lebih advance, seperti sistem pengereman ABS, auto speed lock, dan auto cut headlamp. Masih dengan konsep Indonesia, Calya menawarkan ground clearance tinggi, kapasitas 7 penumpang, bagasi cukup luas, mesin anyar 1.200 cc dual VVT-i, meski berpenggerak roda depan.

Namun, ibarat musim tanam, masa panen Calya sebenarnya masih jauh, karena baru dua bulan beredar di pasar. Bisa jadi Calya akan melampaui penjualan sang kakak, Avanza, dan berhak merebut label sebagai mobil sejuta umat di Indonesia, tapi bisa juga sebaliknya. Setuju?

Jika Calya dipesan 21.700 unit, Daihatsu Sigra baru 12.414

Toyota kuasai seluruh segmen MPV selama Agustus

Toyota kian kuat dengan pangsa pasar 37,8 persen di Agustus

Fitur Auto Cut di Calya, bikin aki lebih awet

Toyota Calya rebut hati konsumen Yogyakarta

(mdk/ega)

TOPIK TERKAIT